Api Unggun


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Malam yang gelap, karena ketika ku tatap atap dunia rembulan tertutup oleh awan mendung. Malam itu tak seperti malam minggu biasanya. Karena aku jarang malam mingguan di kota tempat ku menimba ilmu. Biasanya aku malam mingguan di kampung halaman. Kecuali ada agenda-agenda khusus yang harus ku lakukan di Banjarbaru, hinggu aku harus malam mingguan di sini.

Malam Keakraban yang membuatku harus bermalam di Banjarbaru kali ini. Acara yang katanya di adakan agar terjalin rasa persatuan di kalangan akademika kampusku. Walaupun sebenarnya aku kurang sependapat. Bagiku manusia hanya bisa disatukan jika memiliki peraturan, pemahaman, dan perasaan yang sama. Dan itu semua hanya bisa diwujudkan ketika manusia diikat dalam ikatan akidah. Tapi ya sudahlah. Tapi perlu diingat, apa yang ku katakan ini nantinya pasti akan terwujud, hanya maslah waktu.

Tak ada yang luar biasa dalam acara tersebut pikirku. Dan di penghujung kegiatan tersebut kami di kumpulkan di lapangan basket yang lumayan gelap, karena tidak ada penerangan. Kami duduk melingkar, mengelilingi tumpukan kayu yang tersusun seperti gunung. Laki-laki dan perempuan dalam formsi yang terpisah. Aku duduk di perbatasan antara laki-laki dan perempuan. Karena aku salah satu panitia yang ditugaskan untuk mengamankan peserta agar tidak terjadi “hal-hal yang diinginkan”.

Rangkaian kegiatan terakhir itu adalah renungan. Setelah tumpukan kayu tersebut dinyalakan oleh masing-masing perwakilan dari 5 prodi di kampusku, seorang kakak tingkat ku maju ketengah lingkaran untuk menyampaikan materi renungan. Awalnya materi itu ku dengarkan baik-baik. Tapi lama-kelamaan aku lebih tertarik melamun sambil memperhatikan kobaran api unggun di tengah lingkaran itu. Kuperhatikan baik-baik tiap letupan kecil yang terjadi, tiap jalaran api yang semakin besar melahapkayu bakar, itu lebih menarik perhatianku. Pikiranku terus melayang tanpa ada arah yang jelas. Hingga akhirnya aku berfikir, seandainya api itu padam Pasti lapangan akan jadi sangat gelap, sama seperti sebelum dinyalakan tadi.

Jika difikir-fikir ternyata ada hikmah yang bisa ku ambil dari lamunanku tadi. Seandainya tak ada Islam pasti dunia ini menjadi sangat gelap. Bahkan lebih gelap dari malam tanpa bintang dan rembulan. Layaknya api unggun yang memberikan penerangan malam itu. Yang juga memberikan keindahan tersendiri bagiku.

Kalau difikirkan lebih lanjut, api unggun tersebut tidak akan menyala tanpa ada kayu bakarnya. Sama seperti Islam, Islam tak akan memberikan sinarnya dan menerangi manusia jika tidak di amalkan, diterapkan dan di emban. Al-Quran hanya akan berdebu jika hanya dijadikan pajangan di lemari, dibaca ketika pengajian, atau bahkan ada yang mebuat Al-Quran menjadi mantra-mantra pengusir syetan. Al-Quran akan jadi penyelamat dan membawa kemaslahatan jika di amalkan dan diterapkan. Selain itu Islam dan Al-Quran harus di emban ke seluruh penjuru dunia, oleh orang-orang yang telah “mewakafkan” harta, jiwa, raga, bahkan nyawanya. Karena ketika api unggun di bahan bakari oleh kayu yang basah niscaya takkan terbentuk api unggun tersebut. Maka Islam harus di emban oleh manusia-manusia super, yang memiliki ide yang super dan aksi yang super pula.

Lalu bagaimanakah dengan kita? Apakah kita sudah menjadi manusia-manusia super itu? Kalau belum mari kita bersama-sama belajar menjadi salah satu manusia-manusia super itu. Kita pantaskan diri kita disebut sebagai para pengemban dakwah ideologis, penerus risalah Rasulullah. Dan jadilah penjaga Islam yang setia. Karena kita yang memerlukan Islam, bukan Islam yang memerlukan kita. Kita jadikan hidup kita sebagai bahan bakar bagi berkobarnya Api Islam yang akan menerangi seluruh penjuru dunia.

Kayu bakar yang tak dipakai hanya akan lapuk terkena panas dan hujan dan akhirnya akan hancur sia-sia. Mau kah kita jadi kayu bakar yang tak berguna?

***
***

Ditulis untuk jadi renungan pribadi, dan mudah-mudahan bisa jadi renungan bersama.

“Aku yakin KHILAFAH yang akan menerapkan SYARIAT ISLAM secara kaffah dan akan memuliakan manusia akan segera tegak, sama seperti aku yakin bahwa ALLAH adalah Rab yang menciptakan langit dan bumi.”

Banjarbaru, 27 April 2010
Tepat pukul 00.00 selesai ditulis.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: