Ahlan wa Sahlan!


artikel ringan . download . liputan

analisis politik-ekonomi

tentang mafahim center . redaksi mafahim center

guestbook room . our testimonials

Karena kami yakin, Islam tegak dengan tinta para ulama dan darah para syuhada

Belajar Tentang Pengukuran Dari Kelvin, dan Islam Sebagai ”Alat Ukur”


Lord Kelvin PhotoSeratusan tahun lalu, hiduplah seorang fisikawan berkebangsaan Inggris, William Thomson Kelvin namanya. Dunia lebih mengenalnya dengan panggilan Lord Kelvin. Beliau menggunakan nama belakangnya sebagai satuan temperatur yang ia temukan. Satuan yang pada akhirnya ditetapkan sebagai standar satuan internasional (SI) untuk mengukur suhu, pada tahun 1950. Kita ingat setidaknya ada 4 macam jenis termometer dengan satuannya masing-masing. Ada Celcius, Reamur, Fahrenheit, dan yang terakhir Kelvin.

Kenapa termometer harus bermacam-macam? Kenapa tidak satu jenis saja? Ternyata perbedaannya terletak pada masalah ketelitian. Termometer kelvin diakui memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi. Selain itu, ada penemuan berharga kelvin yang diabadikan dalam termometernya. Kelvin menemukan bahwa titik -273,15 derajat celcius adalah suhu terendah yang mungkin terjadi. Pada suhu tersebut seluruh molekul atom tidak dapat bergerak. Pada suhu normal mereka dinamis, jika dipertemukan molekul satu dengan yang lain, dapat dengan mudah terjadi reaksi. Namun pada suhu tersebut ia diam saja. Titik ini kemudian diberi nama nol mutlak atau nol absolut (absolute zero). Kelvin menjadikan titik -273,15 derajat celcius pada titik 0 skala termometernya. Otomatis titik 0 derajat celcius berada pada skala 273,15 derajat kelvin, dan titik 100 derajat celcius ada di titik 373,15 derajat kelvin.

tempscalessmall

Nah, apa yang dikatakan Kelvin? Kelvin pernah mengucapkan kalimat legendaris yang tertulis di banyak handbook fisika, di sekolah-sekolah kita:

“Anda dikatakan telah memahami sesuatu, hanya bila anda dapat mengukurnya, dan mengekspresikannya dalam angka. Bila tidak berarti pengetahuan anda belum lengkap.”

Dalam bahasa yang lain bisa dikatakan, kita dikatakan belum memiliki ilmu tentang sesuatu, sampai kita sudah bisa mengukurnya. Lebih jauh lagi ucapan Kelvin juga bisa ditafsirkan, kalau kita, dan bangsa kita ingin unggul dalam satu bidang, maka kita harus pintar melakukan pengukuran dalam bidang tersebut.

Apa yang diukur? Ya, apa saja.

Segala benda dan materi yang kita lihat di alam semesta ini tak lepas dari ukuran-ukuran. Celcius adalah ukuran untuk mengukur temperatur ruangan. Meter, digunakan untuk mengukur lebar rumah dan luas halaman. Liter (dm3) untuk mengukur volume cairan. Kilogram untuk mengukur berat. Dan jika kita perhatikan, semua memiliki alat ukurnya masing-masing. Untuk mengukur tinggi lemari, digunakan meteran kayu yang bisa diselipkan di pinggang. Namun bagaimana jika yang ingin diukur adalah tinggi gunung? Perlukah kita mengukur tinggi gunung, dengan cara apa mengukurnya? Apa bisa dengan meteran kayu?

Ketinggian gunung perlu diukur. Kita bisa bayangkan, bagaimana jika pesawat yang sedang melintasi batas utara wilayah DIY dan Jateng tidak mengetahui tinggi gunung Merapi secara pasti? Pastinya sangat beresiko. Pesawat bisa menabrak gunung seperti yang terjadi di Gn.Salak beberapa tahun lalu. Sementara ketika berada diatas, sudah tidak mungkin lagi melihat ke bawah. Gunung memiliki ukuran ketinggian, dan konsep cara mengukurnya berbeda dengan cara mengukur tinggi lemari.

Tanpa satuan desibel kita tidak bisa mendengarkan suara dari speaker seperti sekarang. Tanpa satuan volt, ampere, watt, ohm, dan tesla, kita mungkin masih terselimut gelap karena tiadanya listrik yang menyalakan lampu-lampu. Tanpa satuan Hertz, kita tidak bisa menikmati siaran TV dan Radio. Tanpa satuan informasi : byte, kilobyte, megabyte, gigabyte, terrabyte, jelas kita tak akan berada pada era komputer seperti hari ini.

Pertanyaannya, siapakah yang mengukur dan membuat istilah-istilah ukuran tadi? Apakah orang Bantul? Apakah orang Sunda? Apa ia Indonesia? Jelas bukan. Mereka orang-orang yang jauh tinggal di Jepang, Eropa, Amerika, dan negara-negara yang sekarang kita gelari “maju”. Benarlah yang dikatakan Kelvin. Ia yang maju dalam satu bidang, adalah ia yang pandai membuat pengukuran pada bidang itu.

Sebenarnya pengukuran juga bukan melulu dominasi para saintis. Harus diingat bahwa sifat ukuran juga bisa kualitatif, bukan kuantitatif (dengan angka-angka). Ukuran kualitatif bicara banyak-sedikit, baik buruk, keren-cupu, sopan-amoral, dan sebagainya. Jika kita tarik ke bidang seni dan budaya, budaya bangsa mana yang hari ini menjadi trendsetter dan kiblat dunia? Tak lain dan tak bukan adalah bangsa yang pandai menentukan ukuran keren, gaul, dan modis, untuk kemudian diekspor ke bangsa-bangsa lain yang rendah nilai tawarnya.

ISLAM SEBAGAI ALAT UKUR

Sahabat sekalian, semua yang penulis utarakan diatas terkait dengan sains, iptek dan kebudayaan. Dan jika kita bicara tentang Islam, maka Islam juga punya ukuran-ukuran. Ukuran-ukuran inilah yang menjamin bahwa Islam adalah agama yang dibutuhkan manusia akhir zaman. Ukuran ini juga yang menjamin ketentraman dan kebahagiaan manusia. Ukuran tersebut adalah ukuran tentang amal perbuatan kita.

Seluruh perbuatan manusia termasuk status benda, bisa ditimbang dengan timbangan Islam. Kita mengenal hukum yang lima (ahkamul khomsah), “wajib, sunah, mubah, makruh, haram”. Islam bisa mengukur, apa hukumnya makan? Apa hukumnya makan nasi? Apa hukumnya makan nasi milik tetangga? Apa hukumnya makan nasi milik sendiri jam 12 siang di bulan Ramadhan? Pasti bisa diukur. Apa hukumnya mengorek hidung? Apa hukumnya mengorek hidung saat puasa? Apa hukumnya terkorek hidung? Apa hukumnya mengorek hidung sampai berdarah? Apa hukumnya mengorekkan hidung presiden? Hiii, ga usah dibayangin ya, hukumnya ‘njijiki’. 😀

Ternyata segala perbuatan secara mendetil dapat diukur dengan Islam. Begitu juga dengan benda. Bedanya, jika hukum perbuatan ada lima, maka hukum benda hanya ada dua, yakni halal, dan haram.

Ukuran-ukuran inilah yang disebut hukum syara’. Inilah ukuran yang menjadi keunggulan umat Islam yang tidak dimiliki bangsa, dan umat lain di seluruh dunia. Bangsa-bangsa lain di dunia, paling banter hanya memiliki ukuran baik dan buruk untuk perbuatan. Masing-masing dari bangsa tadi juga memiliki padanan kata yang berbeda dalam bahasanya. “Baik” dalam Bahasa Indonesia, adalah good, fine, well, nice, dalam Bahasa Inggris. Apik, sae, becik, dalam Bahasa Jawa. Khoir, atau hasan, dalam Bahasa Arabnya. Sedangkan buruk dalam bahasa Indonesia, sepadan dengan bad (Inggris), elek/olo (Jawa), syarr/qobih (Arab). Ukuran dan istilah baik-buruk, dimiliki banyak bangsa, dengan definisinya masing-masing.

Berbeda dengan istilah Islam untuk kata “haram”. Apa bahasa Jawanya “haram”? Haram. Bahasa Inggrisnya, China-nya, Koreanya? Haram juga. Sama dengan kata halal. Tidak kita temukan, kecuali pasti kembali ke istilah asalnya dalam Bahasa Arab, halal.

Selain itu, ukuran hukum syara’ (lima hukum perbuatan + dua hukum benda) juga terbukti unggul dibanding statusisasi (jadi inget siapa ya (:  ) baik buruk-nya standar buatan bangsa-bangsa. Jika syara’ mengatakan satu hal itu buruk, maka pasti ia akan buruk selamanya. Jika syara’ mengatakan sesuatu itu baik, niscaya ia baik selamanya. Tidak seperti ukuran-ukuran nisbi yang dibuat manusia. “Esuk dele, sore tempe”, adagium bagi orang yang sering berpindah pendirian, karena sadar, apa yang ia anggap baik pada suatu saat, ternyata buruk pada waktu berikutnya. Hukum syara’ menjamin ketentraman seorang mukmin bahwa, pilihan ia dalam berbuat adalah pilihan yang baik bagi dunianya sekaligus akhiratnya.

Keunggulan inilah yang tidak banyak disadari dan dipahami kaum muslimin. Alih-alih dipandang sebagai keunggulan, hukum syara’ justru dipandang sebagai sesuatu yang mengekang dan memasung kebebasan. Sering kita dengar celetukan,

kalau lagi bisnis ngga usah bicara halal dan haram deh. Cari yang haram aja susah, apalagi yang haram. Tau gak? Sekarang itu udah ga ada lagi halal-haram, yang ada ‘HALAM’.” (:

Kalau lagi ngomongin politik, ga usah bawa-bawa agama bro, emangnya Indonesia negara Islam? Ngomong Islam itu di masjid aja kali.

Orang-orang risih kalau kita bicara dikaitkan dengan Islam. Tidak masalah jika mereka bukan muslim. Nyesek itu kalau kita tahu ia muslim, bahkan pernah mondok atau kuliah di kampus Islam. Gelarnya LC, ustadz, atau kiai haji, tapi bicaranya sekulerisasi. Na’udzubillah min dzalik.

***

Umat Islam jauh dari standar dan ukuran yang harusnya mereka pegang dan emban. Padahal hal inilah yang membuat mereka mundur dan jatuh di neraka krisis ekonomi, tidak berwibawa, terbelakang di segala bidang, dan berpuas dengan title ‘negara berkembang’. Kaum muslimin juga tertindas dan terjajah dimana-mana, di Pattani dan Rohingya, Damaskus hingga Jalur Gaza. Disadari atau tidak, semua ini adalah akibat ulah mereka sendiri yang mengabaikan ukuran-ukuran dalam akidahnya.

Dengan ukuran apa para penguasa kita menentukan, gunung emas di Papua harus dikelola mandiri atau diserahkan hak kelolanya pada Freeport McMoran? Apakah ukuran halal dan haram? Mereka mengatakan keran investasi harus dibuka selebarnya. Swasta dan asing diperkenankan bermain sebebasnya. Hingga yang pribumi tetap sengsara, mengais residu berton-ton bijih emas yang mereka produksi tiap harinya.

Dengan ukuran apa, sistem ekonomi ribawi hingga hari ini terus kita pertahankan? Apakah halal dan haram? Hingga kita harus menanggung krisis finansial yang datang secara berkala, dan kesenjangan kaya dan miskin yang makin menganga, akibat diterapkannya sistem riba?

Dengan ukuran apa, sistem politik demokrasi ujug-ujug dikatakan wajib untuk diterapkan di negeri mayoritas muslim ini? Halal dan haramkah? Alih-alih mencari kebenaran, sejak lama kita telah dididik mencari pembenaran dan pembenaran atas kesalahan memilih sistem yang kita lakukan sejak awal.

…saat ini pemilu tengah berlangsung, dan pakar ekonomi telah membuat hitung-hitungan. Jika Indonesia ingin ekonominya maju dan berkembang, subsidi harus terus dikurangi sampai benar-benar tercabut. Naiknya harga dasar listrik, BBM, dan harga-harga barang adalah konsekuensi dari pencabutan subsidi ini. Rakyat bukan lagi dipandang sebagai gembalaan yang dipelihara urusan-urusannya, sebagaimana Islam memandang mereka. Mereka justru dipandang sebagai konsumen dari perusahaan besar bernama negara.

Sahabat yang mulia, radhiyallahu ‘anhu, Umar Ibnul Khattab, pernah berpesan kepada kita:

Sesungguhnya, dulu kita adalah kaum yang terhina. Lalu Allah meninggikan kemuliaan kita dengan Islam. Demi Allah, andai saja kita mencari kemuliaan selain darinya (Islam), pastilah Allah akan kembali menghinakan kita.

Masihkah kita mencari kemuliaan dengan ukuran yang kita buat-buat dengan hawa nafsu sendiri? Atau bahkan ukuran yang ditentukan kaum kuffar di barat yang terbukti gagal mengatur dunia ini? Sesungguhnya kemuliaan dan ketinggian hanya ada pada Islam, maka tidak pantas seorang muslim merasa rendah diri dengan ukuran yang datang dari Rabbnya, seraya berbangga diri dan mengambil ukuran-ukuran selain darinya.

Allah SWT berfirman:

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)

Wallahu a’lam bishowab

Aqabah Menyejarah


Oleh Muhammad F Romadhoni “Dhoni D’Kashinoda”

“Siapakah kalian ini?” tanya Rasul setelah saling bertatap muka.

“Kami orang-orang dari Khazraj,” jawab mereka.pedang

“Sekutu orang-orang Yahudi?” tanya Rasul.

“Benar,”

“Maukah kalian duduk-duduk agar bisa berbincang-bincang dengan kalian?”

“Baiklah.”

Sehingga terdapat tujuh orang dalam perbincangan tersebut termasuk Rasulullah di Aqabah, Mina. Diantaranya ada As’ad bin Zurarah, Auf bin Al Harits, Rafi’ bin Malik, Quthbah bin Amir, Uqbah bin Amir, Jabir bin Abdullah. Mereka menikmati perbincangan yang cukup indah dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah. Menjelaskan hakikat Islam, dakwah dan mengajak mereka mendekat kepada Allah dan tidak menyekutukan apapun denganNya.

Langit meyaksikan mereka, bebatuan, dan bukit Aqabah jadi saksi di tengah heningnya malam. Memang keadaan ketika itu Rasulullah mengalami tekanan yang begitu kuat dari penduduk Mekkah terhadap dakwahnya sehingga beliau membuat strategi berdakwah kepada kabilah-kabilah pada malam hari. Di malam tersebut juga Rasul sempat pergi bersama Abu Bakar dan Ali untuk berdakwah ke perkampunang Dzuhl dan Syaiban.

“Demi Allah, kalian tahu sendiri bahwa memang dia benar-benar seorang nabi seperti apa yang dikatakan orang-orang Yahudi. Jangalah mereka mendahului kalian. Oleh karena itu segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam!” itulah kalimat yang terucap dari mulut keenam orang yang berasal dari Yastrib setelah lama berdiskusi dengan Rasulullah.

“Kami tidak akan Baca lebih lanjut

Lagu Rap Dakwah Banjar – Ayat-ayat Zina (Khusus B+) – Amirasta


::: DOWNLOAD 5MB MP3 :::

Lirik asli :: disini ::

Lirik terjemah Indonesia :: disini ::

Ayat-ayat Zina (Indonesian Translate) – Raper Dakwah Bahasa Banjar


oleh Amirasta Marasa Marista

translated by Ridwan Taufik Kurniawan

 

AYAT AYAT ZINA

Intro : *syair tashrif Zana, Yazni, Zina

 

Assalamualaikum. Amirasta from Rantau & Alabio

Inkisaria production. Ayat-ayat Zina. Khusus baligh keatas, B+ dengarkan!!!

 

Melihat anak-anak sekarang ini nggak kaya jaman dulu

Mereka sekarang ini tidak punya malu lagi

Berteman aja udah kaya suami istri

Susur sana susur sini pegang itu pegang ini

Aduh, geli, tapi enak

Emang dasar anak-anak sekarang itu

Disekolahkan aja udah, masih ga tahu sopan santun

Cukup sudah minta kawin sama papah mama

Tapi ga dipedulikan juga kalau belum berbadan dua

Kalau sudah tebrojol baru ribut menaruh muka

Wajar aja anak daerah sekarang pada kacau

Wajar juga air tape laku sama ‘gajah mada’ *

Mau pil KB ga bisa dapat juga kalau surat nikah ga ada

Itu yang bisa pacaran katanya

Ada juga yang ngga laku tapi mau juga merasa

Rela HP terjual supaya bisa mencoba

Kalau enak  besok datang lagi aja bisa

Itu maksiat namanya, orang ada yang ngga maksiat tapi terasa juga, ini nih, nih, nih

Kalau mau juga terasa nikahlah solusinya

Halal ibadah nilainya, nikah dulu syaratnya

Ada juga manusia yang bangga berzina

Mawar bunga kembang itu katanya udah pegangannya

Kalau kita ni apa sih yang ada

Depan rumah punya pohon papari sama lombok aja

Bukan itu, kubilang

 

Bukan sok suci atau mau mengejeki

Ibarat roti bakpau tu anak-anak perempuan ni

Satu pegang satu pegang, ih dasar njijiki

Siapa juga yang mau ngambil buat jadi istri

Yang  laki-laki pada ga tahu malu juga

Asal senang biarlah air matamu berlinang

Nah, merasa kan beginilah olah gawe binatang

Belum ber-akad udah bisa langsung –tunggang

Coba diingat neraka dimana, surga dimana

Kalau surga dunia cepat aja bisa dituju

Mengingat akhirat nanti aja katanya kalo dah tua

Iya, panjang umur dia, mungkin…

 

Kalau mau juga terasa nikahlah solusinya

Halal ibadah nilainya, nikah dulu syaratnya

Mama, Mama, malam ini malam minggu. Besok nggak sekolah. PR nggak ada, tugas nggak ada. Kebetulan, mama, pacar saya orang tuanya pergi ke luar kota. Kalau dibolehin mama saya nginep di rumah pacar saya aja ma ya malam ini. Kasian dia sendirian, boleh nggak ma? Boleh ya ma ya?

Ya udaah tapi sbelum kesana kamu sholat isya dulu.  Gunakan kesempatan ini untuk belajar bersama. Kalau kamu bangun malam ajak aja dia sholat tahajud, ya. Yeaaa. Konyol!

 

Bingung juga sama orang tua sekarang ini

Itulah yang kata orang bilang parsialty

Asal sholat ga apa-apa maksiat sekarang ini

Itulah yang jadi masalah di negara ini

Pemerintah sekarang ini kacau juga

Kalau ga bisa nahan mereka suruh pakai getah karet aja

PSK dilestarikan di wadah terbuka

Katanya biar aja buat tambah-tambah bayar utang negara

Kalau pernah ‘membunuh Yahudi’** terus dia berzina

Katanya dirajam sampai mati hukumannya

Kalau belum pernah ‘membunuh Yahudi’ tapi berzina

Dicambuk 100 kali hukumannya

Nah kalau begitu hukum kita di Indonesia

Pada mati deh kalau masih terpikir berzina

Enakan membunuh Yahudi kalau malam jum’at habis isya

Nikah dulu syaratnya

Kalau mau juga terasa nikahlah solusinya

Halal ibadah nilainya, nikah dulu syaratnya

Kalau udah gitu, satu aja lagi masalahnya, mas kawin mahal kata orang…

This song is requested by Amie Lankar, Pahrul al-fatih, Fuad Aozora, Abdul Mahad, Jali Body Inside, Avathur As-Shadow, Zulkifli At-Tukif, Anas Faqat & Arif Rahman AU. Thank you. Wassalam.

———————————————

*Gajah Mada: Alkohol Cap Gajah untuk aborsi

*Membunuh Yahudi: maksudnya, pahala yang  –katanya- diberikan pada sepasang suami istri yang berhubungan badan pada malam Jum’at, meskipun setelah saya searching hampir semua ulasan di internet bilang tidak menemukan riwayat dari nabi tentang ucapan ini.

Note : Ada beberapa perubahan kosakata untuk mempermudah pemahaman orang non-banjar.

———————————————

MP3 Lagu Ayat-ayat Zina bisa di download di link ini > :: http://goo.gl/zPNwe ::

Ayat-ayat Zina – Rap Banjar


oleh Amirasta Marasa Marista

Assalamualaikum. Amirasta from Rantau & Alabio

Inkisaria production_, ayat-ayat zina_, khusus baligh keatas_, B+ dangarakan_!!

Malihat kakanakan wahini kada kaya bahari

Buhannya wahini kada tapi tahu supan lagi

Bakawanan haja hudah kaya dua laki bini

Susur sana susur sini japai ngitu japai ngini

ayunah galianan_, tapi nyaman ujah_,

Dasar jua utuh aluh nang iya

Disakulahakan haja hudah masih kada tahu basa Baca lebih lanjut

Manajemen Dakwah


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Gambar

Sering ketika kita melaksanakan suatu agenda dakwah, sebut saja sebuah training. Tapi ternyata, hasil dari training tersebut tidak sesuai harapan kita. Entah karena acara berjalan tidak sesuai scenario, sampai peserta yang hadir minim (mungkin ini yang paling sering). Lalu diadakan lah rapat evaluasi. Setelah evaluasi di sana sini, cap cip cus, cup cup waw waw, dst, diakhir evaluasi biasanya selalu ada kata-kata “pamungkas pelipur lara” bagi para panitia. “Yang penting upaya yang kita lakukan sudah optimal. Allah menilai kita bukan dari hasil yang kita dapatkan, tapi dari proses yang kita jalani.” Setelah mendengar kata-kata seperti ini, biasanya semangat mulai berkobar kembali, beban stress dan rasa bersalah serasa rontok dari otak ini.

Tapi entah kenapa otak ku serasa sangat usil kali ini. Mencoba berfikir dari sisi berbeda dan melihat dari sisi yang lain. Mencoba memutar balikkan logika.

Seandainya agenda dakwah yang kita laksanakan berjalan dengan lancar, acara sip, peserta sesuai target, tapi ternyata upaya yang kita lakukan untuk menuju acara tersebut terkesan sembrono, asal-asalan, dan ala kadarnya. Entah planning nya yang sebenarnya tidak matang, organizing yang tidak beres, action nya “galai”, atau controlling nya ga jalan. Lantas apakah acara yang sukses dari segi hasil ini lebih bernilai di hadapan Allah jika dibandingkan dengan acara yang hasilnya kurang maksimal tadi??

Wallahu ‘alam

Sudah jadi pemahaman kita bersama bahwa benar, Allah menilai kita dari usaha yang kita lakukan dan proses yang kita jalani. Perkara hasil itu ada di “zona yang menguasai kita”. Zona yang kita tak punya andil untuk menentukannya. Zona yang merupakan hak preogatif (bener ya tulisannya?) Allah. Mutlak Allah yang menentukan.

Yang menjadi kavlingan kita adanya di “zona yang kita kuasai”. Inilah zona ikhtiar. Zona yang Allah nilai, zona yang bernilai dosa atau pahala. Seberapa besar dosa dan pahala yang kita peroleh juga tergantung dari apa yang kita perbuat di zona ini. Sehingga logikanya, pasti kita akan lebih mengkhawatirkan proses dibandingkan hasilnya nanti

***

Sering mungkin rasakan, agenda-agenda dakwah yang kita laksanakan, training-training yang kita selenggarakan, persiapannya sangat jauh dari yang seharusnya. Manajemennya mengecewakan, atau waktunya terlalu mepet, dll. Mungkin perlu kita renungkan bersama kembali, akan maksimal kah Allah mengganjar ikhtiar kita nanti? Bukan kah yang kita cari dari dakwah ini pahala dan ridho-Nya? Wallahu ‘alam.

Memang benar, jika Allah memberi pertolongan, semuanya tidak ada yang mustahil. Walaupun dengan waktu yang mepet dan persiapan yang minim, jika Allah berkehendak acara tersebut sukses, pasti acara tersebut sukses. Tidak ada yang meragukan hal itu. Tapi jangan lupa, Allah meminta kita untuk berusaha menyempurnakan kaidah kausalitas, hukum sebab akibatnya. Kaidah kausalitasnya adalah, acaranya sukses kalau di manajemen dengan baik. Mulai dari planning, organizing, action, sampai controlling nya. Inilah “zona yang kita kuasai”. Dan logikanya inilah yang menjadi focus perhatian kita.

Walau tak bisa di pungkiri, kadang ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat kita memang terpaksa untuk tidak bisa optimal dalam manajemen dakwah ini. Tapi saya rasa itu jarang terjadi. Semuanya bisa kita persiapkan. Kita bisa buat kalender kegiatan per bulan, per enam bulan, per tahun, dst. Sehingga kita punya acuan untuk mempersiapkan suatu agenda dakwah. Oh sudah dekat dengan moment tertentu, satu atau dua bulan sebelumnya sudah bisa kita rencanakan teknis acanya. Kapan rapat, kapan bikin konsep acara,kapan promosi, kapan pendaftaran, kapan nyari perlengkapan sampai bagaimana follow up nya nanti bisa kita persiapkan dengan matang. Semuanya jadi lebih teraur dan terencana. Harapan kita, dengan begini acara kita sukses, dan Allah akan memberikan ganjaran yang sesuai dengan upaya kita.

***

Sekedar untuk introspeksi diri sendiri. Semoga bermanfaat untuk kesuksesan dakwah ini.

***

Setiap orang mungkin punya cara uniknya masing-masing untuk melepaskan kejenuhan dan “kepusangannya.” Cara ku dengan jalan-jalan ga jelas seorang diri. Menaiki kuda besi bermerk “Jupiter Z” (nyebut merk nih ye), keliling kota, walau kesannya hanya menghabiskan bensin tanpa tujuan yang jelas. Tapi bagiku, ini lumayan berhasil mengurangi segala “kepusangan” yang ada dan sering memberikan inspirasi-inspirasi tak terduga. Kalau di tanya kapan punya kebiasaan ga jelas seperti ini? Jawabnya adalah sejak aku kuliah di Banjarbaru. Dulu sering “fugu” sampai ke martapura,,hehe

Inspirasi tulisan kali ini ku dapatkan ketika sedang ga jelas, jalan-jalan ke rumah sohib yang baru aja nikah. Ya siapa tahu aja bisa minta wejangan-wejangan nya..hahay

Banjarmasin, 20 Juni 2013

Selesai Pukul 22.56 WITA

Mungkin hampir satu tahun tak menulis, tergesa-gesa menulisnya karena baterai laptop mau habis, dan charger ketinggalan di ruang DM Forensik,,,wkwkwk

Makanlah Upil Jika Wajib


oleh Akbar K Laksana

Ah.. entah sudah berapa lama saya tidak menulis apalagi mengedarkan selebaran seperti dahulu kala. Ya dahulu kala, namun bukan dahulu banged. Karena kalau dahulu banged saya rasa sayapun belum lahir. Tapi bisa pula yang dimaksud dahulu banged bagi kamu adalah dahulu dalam rentang waktu sepuluh tahun. Atau dahulu banged bagi dia dalam rentang dua puluh tahun. Kalaupun memang yang dimaksud dahulu banged adalah seperti yang kamu dan dia maksud. Tentulah saya telah lahir. Namun dahulu ternyata relatif. Dan terserah sajalah mau pakai yang mana. Gak usah dibahas panjang lebar kali ini. Ok

Ya jadinya gara-gara siangan tadilah. Saat berkendara sendirian yang membosankan menuju Banjarmasin.. Mengapa membosankan? Karena dari Banjarbaru, menuju Banjarmasin hanya ditempuh dengan bekendara dengan jalur lurus lurus saja. Palingan hanya sedikitan beloknya. Itupun kalau ketemu bundaran simpang empat diperjalanan. Lantas kenapa jalan menuju Banjarmasin dari banjarbaru hanya lurus? Tidaklah juga kita bahas disini. Cukuplah itu menjadi teka-teki yang tak terpecahkan. Mungkin itu disengajakan nenek moyang kita dulu agar cucunya bertanya-tanya seperti diparagraf tulisan ini.(1) 

 Jadi siangan itu tiba-tiba saya kangen dengan menulis. Saya kangen berhadapan dengan laptop, sambil mengawang-ngawang memikirkan apa yang hendak dicurahkan. Kemudian jari menari menjitak-jitak lembut keyboard hingga tersusun rapi barisan kata yang bisa ditafsir oleh sebangsa manusia. Saya kangen garuk-garuk kepala saat stuck bingung apalagi yang mau dicurahkan untuk menjadi serangkaian tulisan. Seperti saat ini, saya bingung sebenarnya mau tulis apaan agar kali ini juga bisa menjadi tulisan. Namun lebihnya, kali ini saya tidak hanya garuk-garuk kepala, tapi juga ditambah ngupil dan sesekali garuk-garuk pantat. Oh mungkin karena lupa mandi lagi.

Aha! Saya ingat.

Saya ingat beberapa milyar detik yang lalu saya pernah bertanya kepada seseorang teman yang kuliah di program studi kedokteran. Tak usahlah saya ceritakan kalau namannya Fajar. Soalnya kalau saya ceritakan nanti dia malah akan meneror saya. Dituduh mencemarkan nama baik katanya. Jadi saya nanya sama fajar, yang ternyata membuat dia tersentak. “Jar.. apa hukumnya makan upil?”

 Tidak hanya itu, sebelum dijawab saya tambah pertanyaannya karena tanya sekali gratis dua pertanyaan. “Apa hukumnya makan upil, termakan upil, dan memakankan upil..???”

 Harapannya karena dia mahasiswa kedokteran seharusnya paling tau kalau ditanya mengenai organ tubuh manusia. Walau itu hanya organ tubuh kasta sudra sederajat upil. Sayangnya fajar bukannya segera menjawab ia malah tertawa. Mengapa? Saya juga tidak tahu. Mungkin karena muka saya lucu kalau sedang serius.

“Ayo..! apa hukumnya..?”

 “Ngg… apa?! Upilkan najis.. tapi..” Fajar terhenti bingung , mungkin bisa jadi dia sudah terlanjur lebih dahulu menjadikan upil sebagi pengganti abon sapi. Dan itu membuatnya berat untuk menyampaikan yang haq.

“Ayo.. cari hukum perbuatannya. Haramkah, makruhkah, mubahkah, atau sunnah kah?” Tapi saya pikir ini bukan sunnah, soalnya kalau sunnah oh begitu menganehkannya.

“Ya harus ditelusuri dulu tuh..!” Kata kawan saya yang namanya Fajar dan awalnya tidak mau saya kasih tahu tadi.

“Yap harus dicari tau, nanti gimana seandainya ada anak TK menanyakan hukum tersebut sedangkan kita tidak tau?? Hancurlah kekaguman anak TK terhadap dikau jar.. Walaupun sebelumnya mungkin dikau telah hebat menjelaskan hukum islam potong tangan, telah retoris memaparkan hukum rajamnya penzina, telah runut menjelaskan betapa jijiknya memakan riba, telah bombastis menjelaskannya fardhu kifayah-nya daulah khilafah..”

  “Haha.. iya juga..” Jawab beberapa teman lainnya di waktu yang berbeda dengan pertanyaan yang sama ditanyakan ke Fajar.

Mungkin kamu menganggap saya iseng atau kurang kerjaan. Tapi tahukah pertanyaan tadi bukan tanpa sebab musabab. Tapi setelah menbrowsing di internet, banyak terdapat berita bahwa upil itu dianjurkan untuk dimakan. Sehat kata sebuah teori.

Ya. Adalah seorang dokter spesialis paru-paru dari Austria, Prof. Dr. Friederich Bischinger menyarankan untuk makan upil kita sediri, karena diklaim bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Prof Bischinger mengatakan, “ Makan upil kering adalah cara yang bagus untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Secara medis itu masuk akal dan hal yang wajar untuk dilakukan. Dalam sistem kekebalan, hidung adalah filter yang menyaring banyak bakteri menjadi satu dan ketika campuran ini tiba diusus akan bekerja seperti obat.”

  Oooo… kata saya setelah membaca pemaparan itu dengan takjub. Jadi..jadi..ja..dii.. yang selama ini kita buang-buang itu adalah obat!. Betapa mubazirnya kita kalau begitu. Asik sekali jika kita menjadikan upil kering yang mirip udang papai sebagi pengganti abon sapi sebagai lauk makan nasi. Kemudia apa yang saya lakukan setelah membaca itu artikel? Ya pasti kamu sudah bisa menebak. Saya mengupil dan kemudian……… Oh tak usahlah saya ceritakan disini..!

Karena itu rahasia pribadi. Lagipula kalau saya ceritakan nanti malahan menyebar kemana-mana. Ke tetangga-tetangga, kekomplek-komplek sebelah, hingga sampai berkilo-kilo jauhnya, sampai-sampai bisa jadi nanti cerita pokoknya terlah berubah. Kacau pula kalau ceritanya bakalan berubah jadi saya memperkosa kambing tetangga..

Pokoknya cukup satu klarifikasi deh. Saya meragukan teori tersebut. Dan sumpah belum pernah saya seumur hidup seganteng ini dengan sengaja memakan upil. Apalagi menikmatinya.

Ketika pertanyaan ini saya umbar lagi di twitter, ternyata lumayan banyak mendapatkan respon. Entahlah, mungkin kawan-kawan saya ditwitter itu tipe orang-orang yang memang memiliki mimpi dan yang bangga  menjadi orang sukses yang bisa makan dari karya kerja keras sendiri. Tapi begitu konyolnya kalau karya kerja keras itu adalah sebuah, eh sebutir, eh seonggok.. eh apa yang pasnya ya? Ya pokoknya upil lah..! Walaupun dalam mengoreknya kadang diperlukan kerja keras dan kesabaran,.. please deh. Mendingan ngisep kuaci dari pada makan upil. Toh sama-sama asin.. (Loh kok tau upil rasanya asin??)

Ya jadi macam-macam responnya saat saya nyeletuk tentang makan upil tadi ditwitter. Biasalah namanya mereka juga manusia. Jadi saya kalem saja. Gak sampai panik.

Ada seorang kawan yang bertanya, “Emang ada hukumnya gitu makan upil..?”

 “Eh iya dong, kan setiap perbuatan kita sebagai manusia selalu ada hukumnya..”

 “Bahkan untuk makan upilpun..?”

 “Yoa! kan hukum asal perbuatan manusia terikat dengan hukum syara’.. jadi kita mesti cari hukumnya dulu sebelum mengerjakan sesuatu apapun itu.” 

 Hukum syariat yang lima itu yang jadi pedoman untuk menentukan hukum sebuah perbuatan. Apakah perbuatan itu termasuk wajibkah, sunnahkah, mubahkah, makruhkah, atau haramkah.. Islam itu lengkap.(2) Dari mulai urusan masuk WC sampai sistem ekonomi ada didalam islam, mulai dari urusan kaderisasi malam pertama dua insan sampai urusan tata Negara, mulai dari urusan bersin hachie-hachiee.. sampai gimana mengelola sumber daya alam. Begitu pula urusan makan, termakan, memakankan upil juga pasti ada didalam islam.

Tinggal saya, kamu, dan dia kalau diringkas jadi kita, yang mesti mencari tahu apa hukum perbuatan tersebut. Kalau mencari sendiri bisa dengan cara berijtihad. Kalau gak mampu berijtihad bisa bertaqlid (mengikuti) mujtahid yang telah mengijtihad hukum tersebut. Dengan begitu kitapun bisa menjelaskan apa hukumnya kentut. Karena kentut dibeda momen bedapula hukumnya. Kalau kentut saat sholat, dan kentut saat manjat tebing aja ternyata berbeda. Apalagi  hukum poligami, poliandri, dan polipantai masing-masing bisa dijelaskan dengan hokum syariat islam.

Jadi kalau hukumnya sudah ditemukan, maka mudahlah kita berkspresi terhadap perbuatan tersebut. Kalau ternyata hukum sholat subuh itu wajib, maka mengerjakannya mendapat pahala dan meninggalkannya mendapatkan pula dosa. Maka berbahagialah saat sholat subuh.  Sedangkan ketika kita tahu haramnya mencoret muka teman.. mencoret dengan silet maksudnya. Tentu dikerjakan akan berdosa, maka takutlah kita akan dosa. Bukan pada muka teman kita.

Begitupula kalau makan upil nanti setelah digali ditemukan hukumnya adalah wajib.. Maka makanlah upil dengan riang gembira.(3) Toh setiap kali memakannya berbuah pahala. Namun makan upil belum tentu wajib. Dan sayapun belum mengetahuinya secara pasti bagaimana hukum makan upil, jika untuk obat, jika untuk mengenyangkan perut, atau jika untuk camilan. Bagaimana hukumnya memakankan upil kepada kawan, bagaimana hukumnya termakan upil gajah misalnya saat kita sedang mangap kemudian gajah bersin dan upilnya sampai kemulut kita..

Maka mari bersama-sama mencari tahu nasib upil dan yang lain-lain sebelum saya bikin tulisan seperti ini lagi.(4) Tentu kamu jijik kan..? Kalau tidak jijik ya Alhamdulillah deh.. 

  

(Banjarbaru, 27 Oktober 2012)

 

Catatan Jempol :

  1. Ciyuus miapahh..?!
  2. Jelas ustadz saya islam itu datang membawa seperangkat hukum yang konfrehensif untuk menjawab setiap persoalan yang terjadi pada manusia, apapun, kapanpun dan dimanapun itu. (Al Maidah ayat 3, An Nahl ayat 89)
  3. Ketika hokum syara’ menunjukan sebuah perbuatan adalah wajib. Maka seorang hamba harus yakin bahwa pasti ada mashalat dibalik Allah mewajibkan sebuah perbuatan. Begitupula pasti ada mudharat dibalik dilarangnya sebuah perbuatan. Walau kadang presepsi kita merasa berat dan kebanyakan orang tidak suka. Contohnya penggorokan sapi qurban yang dianggap kaum vegetarian tidak manusiawi, eh.. tidak hewani karena terlihat barbar sekali, sedangkan orang barat sudah menggunakan teknik pemotongan Captive Blot Pistol yang lebih elegan. Namun akhirnya terbuktikan, daging sapi yang sehat ternyata hanya bisa didapatkan dari penggorokan leher hewan qurban. Sedangkan dengan cara pemingsanan ala barat tersebut malah dihasilkan daging yang penuh antrax.

Saya menggunakan contoh extreme (Makanlah upil kalau wajib) begini untuk menjelaskan bahwa manusia tidak layak membenci sebuah hukum apabila memang mutlak adanya. Walaupun itu seperti memakan upil. Kalaupun ingin menndalami lebih lanjut silahkan berijtihad, yang tentunya dengan ijtihad yang benar.

Dan saya jadi ingat status facebook Si Doni yang –kurang lebih- katanya “Seandainya jilbab itu diwajibkan bagi laki-laki maka saya (Si Doni) bakalan siap memakainya dengan penuh ketaatan..” Kereenn..! tapi mungkin dibalik sami’na wa ata’na-nya Doni ada keinginan terpendam yang dari dulu memang ingin ia lakukukan kali ya.. ?😀

Kebanyakan orang sekarangpun masih memilih-milih hukum islam sesuai dengan yang disukainya saja, kemudian membuang yang tidak ia suka. Contohnya didalam surah Al Baqarah ada seruan wajibnya puasa (ayat 183), yang padahal di surah yang sama ada seruan wajibnya qishas (ayat 178). Namun sekarang qishas tidak dijalanni bahkan seolah-olah hukumnya mubah.

4. Tulisan ini sengaja memang tidak menjelaskan apa dan bagaimana hukum makan upil. Karena kalau menjelaskan itu mesti runut dan dengan dalil yang mendukung, dan saya sendiri pun belum bisa menjelaskan secara runut dan jelas. Maka silahkan deh kalau aja ada yang sudi mencarikan/membuatkan penjelasannya.. Kalau kamu gak puas dengan tulisan saya. Biarin, karena saya memang bukan mamalia yang hidup dilaut. (Itumah paus! Bukan puas..!)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya