Lafazh-Lafazh Cinta (Upil Tak Selalu Hina)


oleh Ferry Irawan KS

Hari ini rasanya hari paling bete sedunia. Sampai-sampai saya telah mencap tanggal 15 September sebagai hari libur nasional. Tapi itu tidak begitu lama sampai ada pesan masuk dalam handphone saya yang isinya :

“Aww, ingat ya hari ini ada halaqoh jam tiga di MJP (Mesjid Jami Pelajar)”.

Dan di MJP inilah, saya sepertinya menghabiskan setengah hidup saya disini, menurut majas hiperbola. Isi pesan singkat yang dikirim oleh ustadz  yang saya segani dan hormati membuat hari ini berubah dari hari yang ngebetein menjadi hari yang paling indah buat bunuh diri. Siang ini, cuaca di Banjarmasin sepertinya lagi tersenyum lebar, sampai giginya keluar men, silau…!

Tapi iming-iming pahala yang telah dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berjuang di jalan-Nya membuat saya luluh. Setelah mandi kurang lebih 5 menit saya langsung memakai baju dan beranjak dari kamar yang ber-AC dan membuat saya merasa bersalah meninggalkan kamar yang nyaman ini sendirian. Akan tetapi rasanya ada yang kurang dalam hidup saya. Lalu saya ingat-ingat lagi perlengkapan yang wajib saya bawa; dari kunci, kitab, sandal, HP, dompet, oh ya saya lupa bawa salah satu kebutuhan primer saya. Kolor dan Boxer. Tak disangka kedua hal itu telah saya lupakan, karena merekalah yang selama ini telah setia menemani kehidupan saya.

Setelah saya tampil perfect, langsung saja saya berangkat menuju MJP. Naik motor?  Ya naik motor lah, Masa keliling Banjarmasin naik kereta bayi?!

Walaupun sumpek, gerah, bising lagi! Belum lagi debu-debu yang beterbangan kian kemari menghiasi indahnya kota Banjarmasin. Suara serak makelar-pun ikut memeriahkan suasana ‘duka’ di waktu itu. Ditambah lagi dengan aroma sejuta rasa yang keluar dari lipatan tangan kiri dan kanan orang-orang (nyebut ketek aja susah amat!), apalagi di dalam bus! Tangan bergelantungan ke atas seperti tawanan Iraq yang tangannya di ikat. Terkadang ada yang sungguh ikhlas mengeluarkan angin busuk dari lubang bagian belakang tubuhnya, akibatnya tangan yang tadinya digunakan untuk bergelantungan, kini dialih fungsikan untuk menutup hidung. Sungguh menyenangkan!

Di saat yang sama, suara para pengamen kecil sungguh mengikuti irama (irama deru motor, sama-sama fales). Terik matahari yang seakan membakar otak pun tak mau ketinggalan berpartisipasi di kesempatan ini. Termasuk copet, dia pun tak mau ketinggalan untuk memberikan kontribusi kemeriahan di siang itu. Semuanya saya lalui dengan penuh senyum, soalnya dibanding perjuangan yang dilakukan oleh para sahabat Rasul maka sungguh yang saya alami ini merupakan sebuah kenikmatan.

Akhirnya, setelah kurang lebih 10 menit, saya sudah sampai di MJP. Rumah ketiga bagi saya setelah rumah saya dan sekolah.

“Keliatanya terlambat lagi nih”, gumam saya dalam hati. Dan menurut ketentuan majelis yang telah disepakati, bila ada seorang yang terlambat maka…maka…nggak bakal disuruh lari kok! Tapi kami harus duduk dibelakang tanpa melakukan sesuatu apapun. Tidak boleh tidur, apalagi dengarin musik, dan hanya mendengarkan ceramah tanpa harus memberi komentar. Dan tepat sekali, hari ini adalah hari keberuntungan saya. Hari ini  saya terlambat lagi. Kebayang nggak tuh bagaimana betenya saya hari ini  duduk selama dua jam tanpa ada yang harus dikerjakan. Dan satu hal yang paling saya paling suka kalau mengikuti halaqoh disini adalah saya menemukan sebuah obat. Bukan, bukan obat hati, tapi obat insomnia (susah tidur) yang selama ini menemani hidup saya. Memang benar – benar obat ini manjur banget, baru 10 menit duduk saya sudah mimpi bertemu bidadari di surga. Tapi beberapa menit kemudian saya mendapat teguran dari malaikat Malik kalau gue dapat tiket VIP untuk melihat teater Broadaway di neraka. Lalu saya pun berteriak sekeras-kerasnya.

“Tidaaak!” Dan tanpa sadar seluruh manusia dan jin di mesjid ini telah memicingkan  matanya  kearah saya. “Aduh, lagi-lagi saya jadi terkenal nih”. Gumam saya dalam hati.

“Ferry Irawan, Antum tidur lagi, ya?” Tanya Ustadz Abu Ahmad”.

“He….he….he, habis ngantuk sih, Ustadz!” Jawab saya seenaknya.

Astaghfirullah! Ya sudah sana wudhu dulu biar segar.” Kata ustadz sambil mengucapkan istighfar. Baginya cobaan yang sangat besar menghadapi sikap konyol saya dibanding hanya melihat miss universe saat sesi swim suit. Lalu sayapun beranjak ke tempat wudhu. Sebenarnya saya sih bukanya tanpa usaha menghilangkan penyakit keren saya ini, tapi entah kenapa saya selalu nggak percaya sama obat yang diberikan nyokap, soalnya nyokap saya yang terobsesi menjadi dokter ini memberikan obat tetes mata. Kebayang nggak tuh, betapa manjurnya tuh obat.

“Sudah wudhunya?” Tanya ustadz setelah melihat wajah saya dengan seksama yang katanya mirip Afghan.

“Sudah.” Jawab saya simpel.

“Ya sudah, kamu masuk dalam majelis saja, timbang-timbang tidur dibelakang.”

Antara senang dan sedih rasanya perasaan saya kali ini. Senang karena saya bisa berbaur dan tidak dikucilkan lagi. Sedih karena saya belum sempat kenalan sama itu bidadari.

Setelah hampir satu setengah jam, Ustadz memberikan penjelasan tentang thoriqul iman. Langsung saja beliau memberikan kesempatan kepada kami untuk menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan tema tersebut ataupun tentang sesuatu yang berhubungan dengan pergaulan kami sehari-hari. Dan kali ini bisa ditebak, siapa yang akan mendominasi pertanyaan-pertanyaan.

“Ya, Dicky silahkan”. Kata ustadznya sambil tersenyum bangga. Namun setelah melihat ke arah saya mimik wajahnya langsung berubah.

“Begini nih, Ustadz.” Tanya Dicky Pamungkas panjang lebar.

“Gila nih Dicky lima pertanyaan sekaligus. Dasar nih anak haus ilmu banget.” Cerca saya dalam hati.

Ini nih salah satu sifat dari Dicky yang paling disenangi ustadz tapi paling saya benci. Bagaimana nggak? Kalau satu pertanyaan saja membutuhkan waktu 15 menit untuk dijawab, apalagi lima pertanyaan. Ini sih lebih lama dari waktu yang diperlukan untuk membangun kembali Irak. Memang, Dicky salah satu remaja yang benar-benar kaffah dalam menjalankan perintah agama. Seorang remaja yang sangat sholeh dan taat beribadah. Tapi menurut saya Dicky tidak sesempurna seperti yang dibayangkan teman-teman.

Bagi saya sih Dicky pasti memiliki kekurangan, entah itu kurang normal atau kurang gizi dan Allhamdulilah lima pertanyaan yang ditanyakan Dicky itu dijawab hanya dalam waktu satu jam dua puluh menit. Oh iya diulang sekali lagi hanya dalam waktu satu jam dua puluh menit. Dan Allhamdulilah lagi janji saya sama ibu saya untuk ngejenguk Om saya yang sakit gara-gara keinjak duri kaktus terpaksa diundur. Dengan kata lain dibatalkan, karena ibu saya pergi sendiri ke Banjarbaru seorang diri.

Dan diawalilah warna baru dalam hari paling bete dalam hidup saya, disuruh jaga rumah dimalam minggu. Menurut saya hal ini tidak pernah terlupakan, lebih mengesankan dibandingkan ketika saya disuruh maju kedepan kelas untuk nyanyi lagu yang disenangi guru ter-killer di sekolah “Anggur merah”. Dan saat-saat inilah saya langsung teringat tentang thesis Aristoteles dan Archimedes.

“Bila sesuatu hal yang tidak menyenangkan itu memuncak, niscaya hal-hal yang besar akan tercipta.” Ini dibuktikan oleh Thomas Alfa Eddison, hampir ribuan kali Alfa eddison membuat lampu tapi nggak nyala-nyala juga, tapi setelah kebete-annya memuncak akhirnya lampunya bisa menyala. Entah mungkin itu lampu takut kalau dipecahin kepalanya, jadi terpaksa menyalakan dirinya sendiri.

Menurut dua pendapat ilmuwan besar yang belum dipastikan kebenaran pernyataannya itu. Setelah teringat hal itu saya langsung mendapat ide.

“Ahaaa, saya dapat ide pengusir  BT. Oh tidak, bukan dengan racun tikus. Tapi dengan..?” Saya pun langsung melihat HP, yang secara kasat mata HP itu sudah ngeluarin cahaya putih.

Saya langsung menekan-nekan keypad handphone saya dengan semangat reformasi buat ngerjain Dicky. Cowok yang selama ini membuat saya selalu dibandingkan-bandingkan  sama Ustadz Abu Ahmad. Saya pun langsung mengirimkan pesan kematian ke nomor handphonenya Dicky. Yang isinya;

“Ini apa benar nomor handphonenya kak Dicky?, saya Aya Nurmaulida sekolah di SMA 1 juga, sama seperti kakak, kelas X1. Dan kebetulan saya juga anggota Muslim Drenalin.”

Dicky pun langsung membalas sms saya,

“Iya benar… Aya Nurmaulida ya? Maaf  kelihataannya saya belum kenal sama kamu.”

Merasa mendapat tanggapan, saya pun langsung meneruskan misi membasmi terorisme. Eh salah misi keisengan orang tampan yang nggak ada kerjaan.

“Nggak kenal ya kak, hehe jadi  malu nih.” Jawab Aya yang secara gaib itu adalah hasil reinkarnasi dari cowok keren yang berkacamata.

“Nggak papa kok, mungkin saya belum kenal sama bukan berarti saya nggak kenal sama kamu kan ?”

Membaca pesan yang dikirim oleh Dicky, saya merasa menjadi orang dungu sesaat. Gimana nggak! Belum kenal sama nggak kenal apa bedanya? Tapi saya nggak mau berpikiran buruk tentang Dicky. Mungkin saja Dicky sedang menahan kentut supaya wudhunya nggak batal. Saya pun langsung membalas smsnya Dicky.

“Kak, Aya boleh nanya nggak?” Tanya saya dengan tampang sok imut.

“Nanya apa? Asal jangan pelajaran kimia ya, soalnya saya nggak bisa. Hehe…!”

“Anjrit nih anak, sok imut banget. Biasanya kalau dihadapan anak-anak sok nundukin pandangan kalau ada akhwat lewat. Sekarang sok becanda lagi, iya kalau lucu, ini jayus banget. Andai saja Ustadz Abu Ahmad tahu soal ini, beeeh habis sudah itu anak ditraining motivasi sampai dua hari dua malam.” Gumam saya emosi.

“Jabatan kakak di Muslim Drenalin sebagai apa kak?”

“Sebagai apa ya? Kalau nggak salah sih jadi juru bicara.”

“Benar-benar parah ini anak. Jadi anggota doang sok-sok jadi Jubir.” Gumam saya makin emosi.

Kemudian saya pun langsung membalas sms.

“Kak, boleh nanya lagi nggak?”

“Boleh dong…! Apa sih yang nggak buat kamu?”

Setelah saya membaca pesan yang dikirimkan Dicky, rasanya isi perut saya benar-benar mau keluar dari garis edarnya. Gimana nggak cowok yang selama ini saya anggap sebagai titisan dari Sunan Ampel, ternyata lebih hancur dari saya. Mendapat tanggapan superhangat dari Dicky pikiran jahat saya pun kembali kejalan yang benar. Kemudian saya menulis pesan dengan keisengan yang tidak bisa dikendalikan oleh nalar lagi.

“Kakak punya hati sama akhwat  di Muslim Drenalin?, sebelumnya saya mohon maaf kalau pertanyaan saya membuat kakak marah.”

Disaat membaca pesan yang saya kirimkan ini, sepertinya reaksi mukanya Dicky seperti anak autis yang belum pernah melihat manusia.

“Nggak, hatiku hanya untuk Allah dan Sahabat-sahabatku.” Jawab Dicky simple

Ternyata isi pesan yang dikirimkan Dicky, telah membuat saya salah menilai dia, hal ini membuat saya sadar bahwa berprasangka buruk itu adalah salah satu sifat tercela. Kenapa saya baru sadar sih.

“Saya harus meminta maaf, kerena saya telah mengerjai Dicky keterlaluan.” Gumam  saya.

Akan tetapi sebelum niat mulia itu terwujud, ternyata setan yang ada didalam diri saya membujuk untuk meneruskan misi sosial ini, sambil membawa lollipop rasa vanilla. Mendapat godaan yang sangat berat, saya pun mengiakan keinginan setan itu.

“Berarti kakak telah menutup perasaan dengan seorang akhwat?” Tanya saya dengan penuh harap.

“Nggak juga.” Jawab Dicky dengan gaya  sok coolnya.

“Ahaaa……!!! Akhirnya saya berhasil, berhasil merubah paradigma dunia pendidikan. Teman-teman banyak mengatakan bahwa Dicky adalah salah satu figur remaja yang dapat dicontoh, tapi bagi saya Dicky  tak ubahnya seperti remaja-remaja lain, yang  bisa merasakan cinta. Yang jelas sih cinta dengan lawan jenis.” Gumam saya.

Sebenarnya sih saya mau mengakhiri semua keisengan saya ini. Soalnya mata saya sudah mengantuk berat. Ini terlihat dari lapisan katarak dimata saya sudah mulai menghilang. Sekarang sudah jam dua, seharusnya  saya sudah mengganti shift kerja mata saya sama kelelawar yang ada disamping rumah. Dan saya pun sempat bingung dengan Dicky sudah jam segini dia masih semangat-semangatnya membalas sms saya. Saya sempat berfikir kalau jam segini dia sudah terbiasa bangun tengan malam buat sholaat tahajjud ataukah Dicky sedang tidur pulas, akan tetapi tangan Dicky  tanpa sadar gerak-gerak sendiri menekan-nekan keypad di HP, dan Allhamdulillah terbentuklah suatu kalimat yang dapat dibaca manusia. Sudahlah saya tidak mau berfikir macam-macam tentang Dicky. Dan saya pun langsung membalas sms Dicky.

“Berarti saya masih memiliki kesempatan untuk mengisi hati kakak?” Tanya saya

Setelah mengirim pesan untuk Dicky, tiba–tiba Dicky menelpon saya.

Kali ini saya benar-benar gugup, karena Dicky menelpon saya. Saya benar-benar bingung apakah saya harus menerima panggilan dari Dicky. Tapi gak lucu banget kalau saya harus memulai pembicaraan dengan suara cewek yang cempreng tapi  menggairahkan. Apakah saya harus memukul jakun saya, biar pita suara saya bergeser?  Atau saya pura-pura terinfeksi komplikasi penyakit tumor dan gondok sekaligus? Dari pada penyamaran saya sebagai intel terbongkar begitu saja, lebih baik, ini telpon saya biarin begitu saja. Lalu Dicky pun mengirim sms ke Hp saya.

” Kenapa tadi aku telpon tidak diangkaat ? Saya kan mau mendengar suara kamu !”

Dan saya langsung membalas dengan wajah yang tak berdosa.

“ Saya tidak dibolehkan Abi angkat telpon malam-malam, apalagi itu dari seorang cowok. Jadi saya tidak bisa ngangkat telpon kakak ditambah lagi sekarang udah jam 2 malam. Eh ka Dick, smsnya udah dulu ya . Saya sudah ngantuk !”

Saya pun mengakhiri kejahilan saya tuk malam ini…keesokan harinya saya berencana untuk pergi kerumah Ustdz Abu Ahmad untuk melaporkan investigasi singkat ini.

Keesokan harinya saya kerumah Ustadz  Abu Ahmad. Dengan senyum yang sangat mengembang. Saya menjemput teman saya yang bernama Riduan. Berhubung rumahnya tidak terlalu jauh dengan rumah ustadz. Sesampainya dirumah ustadz saya menceritakan hasil dari jerih payah saya selama satu malam. Dan sangat antusias pula ustadz mendengarkannya. Tapi yang membuat saya bingung , sepertinya tidak ada tanda-tanda ustadz melakukan persiapan untuk pingsan. Karena Dicky yang menjadi anak mas beliau melakukan perbuatan yang seperti ini. Mungkin sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi bila seorang remaja yang mengkaji Islam merasakan cinta dengan lawan jenis.

“Fer, coba kamu telpon Dicky sekarang. Pakai nomor yang kamu gunakan untuk mengerjai Dicky malam tadi. Pakai loundspeaker ya.” Pinta ustadz

“Iya tadz…!!!” langsung saja saya menghubungi Dicky. Dengan sangat semangat saya mencari nama Dicky di phonebook saya. Setelah beberapa saat kemudian suara operator yang cempreng mengingatkan bahwa pulsa saya tidak dapat untuk melakukan panggilan.

“Anjrit neh pulsa, didepan ustadz pakai acara kehabisan segala lagi. Benar-benar merusak reputasi saya neh.” Bentak saya dengan penuh kebencian dalam hati.

Saya pun dengan menahan rasa malu meminta izin untuk mengisi pulsa didepan gang. Setelah pulsa saya terisi, langsung saja menghubungi Dicky.

“Halo, Assalamualaikum. Ada apa Aya ? lagi kangen ya…?” Sapa Dicky dengan PDnya.

Dengan kata-kata yang baru diungkapkan Dicky, sepertinya Bumi sudah mengeluarkan tanda-tanda kiamat kecil.

“Iya dick, saya kangen sama kamu! Bisa datang kerumah saya nggak?” Jawab Ustadz dengan suara yang dibuat-buat seperti banci Taman Lawang.

“E…e…ee  ini ustadz Abu Ahmad ya?” Tanya Dicky dengan gugup yang luar biasa.

“Iya cepat kerumah ada yang saya mau bicarakan.” Jawab ustadz.

Setelah dua jam menunggu Dicky pun tak kunjung datang. Dengan rasa BT yang memuncak, saya berpikiran kalau sekarang Dicky salah naik angkot dan terdampar di Papua. Tapi itu pendapat yang masih logis. Karena pendapat teman saya Riduan benar-benar gila dan susah diobati dengan vaksin polio dosis tinggi.

“Jangan-jangan kalau Dicky itu sebenarnya nggak ada, jadi yang selama ini berteman dengan kita selama tiga tahun itu hanya halusinasi kita saja.” Ujar Riduan dengan mantap tanpa ada keraguan dimatanya.

Mendengar pengakuan Riduan bulu kuduk saya langsung berdiri. Karena baru mendengarkan kata-kata yang polos dari Riduan.

Akhirnya setelah hampir satu abad, kami menyerah. Ternyata dicky yang biasa kalau kami ada halaqoh dia datangnya paling cepat, selalu amanah. Kali ini benar-benar kami telah rontok dibuatnya. Maka hasil dari diskusi yang cukup panjang, ustadz Abu Ahmad memutuskan untuk tidak usah menunggunya lagi.

Hari ini merupakan hari pertama kali saya pergi sekolah dengan semangat empat lima.

“Saya penasaran, bagaimana wajah yang anggap seperti Sunan Ampel melihat saya, saya yakin dia bakalan minder abis dan saya pasti menjadi orang paling keren di SMA 1 Banjarmasin. Soalnya satu-satunya pesaing saya di SMA 1 Banjarmasin, nggak ada apa-apanya.” Bisik saya dalam hati.

Palu godam tepat mengenai hidung saya yang sudah temek ini,

“Dicky, dia bergabung dengan orang-orang yang dia sendiri sering menyebutnya ahli maksiat, ternyata dia ikut nyemplung disana.”

Sekarang saya merasa, saya menjadi makhluk paling kejam, bahkan raja setan sekalipun saya kira tidak akan bisa menyesatkan Dicky. Tapi gara-gara perbuatan  saya, dia yang dulunya tidak pernah absen untuk sholat dhuha, sekarang dia tidak pernah lagi terlihat di hadapan saya. Semangat juangnya yang selalu membuat saya yang malas ini menjadi semangat, kini justru tidak terdengar lagi. Lebih parah lagi, kini dia menjadi sangat kacau seperti orang kehilangan jati diri dan tujuan hidupnya. Padahal ada satu kalimat yang pernah dia ucapkan dan tidak pernah saya lupakan dalam benak saya:

“Ferry saya berharap kita berdua nantinya akan menjadi muslim sejati, yang tidak akan pernah beristirahat berjuang sebelum kedua kaki kita berada di surganya Allah SWT”.

“Dicky, saya katakan dengan sejujurnya. Walaupun mungkin engkau tidak mendengarnya, seandainya taubatmu untuk kembali dijalan Allah dapat saya tebus dengan nyawa saya, niscaya akan saya lakukan.”Gumam saya

“Sungguh kali ini benar-benar saya sadari ternyata bila menggunakan cinta tidak sesuai dengan peraturan Allah, bukan kebahagiaan yang malah didapat tapi justru penderitaan yang sangat dalam. Maka dengan memohon ridha dan pertolongan Allah saya tulis surat ini dengan sepenuh hati untukmu:”

Dicky, sahabat saya yang tidak akan pernah mati

Dicky sahabat terbaiku,

Bibir seringkali berdusta,

Entah telah jemu atau gundah,

Dengan kejam ia lakukan itu,

Waktu demi waktu berlalu,

Jalinan cinta pun terbingkai,

Tak lama itu terjadi,

Satu teriakan mengakhiri segalanya.

Saudaramu,

Yang tidak pernah rela, engkau begitu

by : Ferry

Sungguh, kukatakan semua itu dengan tulus. Walaupun aku tau, bibirku ini tidak pantas untuk dipercaya. Aku pun tau, bagaimana yg kau rasakan, bagaimana tidak sakit, lafazh  cinta yang cukup lama terukir, yang dikira dari seorang wanita yg bakal jadi pendamping hidup, ternyata hanyalah ulah mahluk hina yg tidak punya hati nurani, lebih kejam lagi itu adalah ulah sahabatnya.

Sungguh, apakah aku pantas mengatakan ini pada engkau,

“ Saya sangat merindukan perjuangan-Mu” dan satu kalimat yang tidak pernah kulupakan padamu:

“  Saya bersumpah Fery, kita tidak akan pernah berhenti berjuang, sebelum kaki kita telah berada disurganya Allah”.

Dengan penuh harap, keesokan harinya surat ini kuantar, satu kali lagi palu godam menghantam wajahku, “Dicky telah pindah kepulau jawa” , kata seorang temanya dikelas. Sungguh, tubuh ini remuk dibuatnya.

“Maka dengan penuh harap ku memohon, Ya Allah, jangan cabut nyawa saya  yang berada digenggaman engkau, sebelum semua harapan saya ini terlaksana”.

SEKIAN

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: