PETUNJUK JALAN


oleh Thufail AlGhifari

Kita yang pernah terjatuh, terperosok jauh, bahkan hancur dan tak lagi utuh

Letih yang merangsang rasio dan nalar, pecahkan sadar di antara jelantah fitnah

Sedikit demi sedikit kalbu terselimuti pahit

Sekejap membutakan hati dan kian menyempit, lalu mati sesudah sakit

Bertanya tentang batas tipis pada kenyataan yang mengiris

Saat-saat di mana Kaab bin Malik sadari batas definisi nurani dan munafik

Lalu kembali belajar berdiri dan coba menampik

Jalan ini selapang dadamu, jawaban itu bersemi dalam ikhlas jiwamu, bukan kualitas lidah

Tapi ketulusan adalah inti permata nurani

Apakah memang kita mampu mengerti tentang empat mata jiwa yang kita miliki

Dua untuk dunia, dua untuk akhirat

Untuk berpikir kembali dengan hati dan selalu belajar keluar dari pergulatan hakiki

Antara nurani dan bisikan manusiawi sebagai juara sejati

Karena diperlukan suatu hentakan yakin, yang akan melahirkan keberanian, keteguhan dan kesabaran

Bertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk, bagi mereka yang tak pernah lupa akan hakikat hidup yang hanya sekali

Yang tak pernah ragu memilih keabadian di sisi Ilahi Robbi, dan terus menggaungkan kebenaran yang diyakininya

Tak ada nyawa cadangan, tak ada umur reserve, karena pertarungan ini hanyalah tentang hidup dan mati

Patahkan semua kecewamu, semua kekalutan dan gelisah

Patahkan semua kesedihan, semua kepedihan jiwa.

Turunkanlah jelantah ke dalam liang lahat

Lepas kerabat di akhir napas ketika kau terlambat memahat

Berpiduk di gelombang yang ganas, bila hati belum juga nikmati rasa yang memanas, takbirkanlah empat kali akan kematian hati dan nurani kita bersama

Untuk para pewaris Muhammad, penerus janji-janji Allah yang pasti

Inilah cahaya terang dan jalan lurus yang selalu siap mengantar

pada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat

Berjalanlah, berjalanlah, percayalah, kau tidak sendiri

Hey, hey yo

Perhatikanlah beribu-ribu pengecut yang keluar rumah mereka dengan perasaan takut mati

Yang membuat rangka menjadi berat, dalam gambar heri esok yang kian berwarna hitam pekat

Dalam deru nurani dan angan-angan yang panjang,

Ketika kematian tidak membuat jalanmu gemetar

Amal yang retak dan degradasi kebajikan yang kehilangan letak

Terjebak dalam kerugian jiwa, dalam padamnya hati yang mulia

Masalah tidak selesai bersama fenomena dan fatamorgana

Tapi hakikat jiwa, selalu bersemi dalam rangkaian cinta dua pusaka

Ia adalah gerak yang tak kenal henti, dan keteguhan yang tak kenal menyerah

Ia adalah pengakuan bagi siapapun yang men-Tauhidkan Allah

Pikiran besar yang tercairkan di setiap lembar

Yang membunuh keresahan hati yang kaku, dan tak pandai kau cairkan

Atau biarkan senandung nasyid terintihkan bagi zaman sesudahmu dan menjadi pupuk khazanah doa, yang kau panen untuk hari esok generasimu

Berjalanlah, berjalanlah, percayalah, kau tidak sendiri

Berjalanlah, berjalanlah, percayalah, kau tidak sendiri

Inilah kisah kita kawan

Kisah kau dan aku

Kisah kita semua

Bersabarlah, karena tidak ada masalah di luar kemampuan

Karena sabar pada orang lain adalah kasih sayang

Sabar pada diri sendiri adalah harapan

Bersabar pada orang yang kita cintai adalah ibadah

Bersabar pada Allah adalah taqwa

Bersabarlah

    • tforce2009
    • Juli 4th, 2009

    PertamaX
    salam kenal
    http://tforce2009.wordpress.com/

      • Ridwan Taufik
      • Juli 4th, 2009

      sama-sama, saudaraku. Sering-sering berkunjung ya. Jazakallah khayran.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: