Andaikan Kita Mau Melihat Lebih Dalam


Belakangan kita semua disuguhi oleh cara “unik” para kandidat capres dan cawapres untuk berkampanye alias berusaha meyakinkan masyarakat akan kapabilitas dan kemampuan dirinya agar kelak dipilih pada tanggal 8 Juli 2009. Bukan lagi sekedar adu hiruk pikuk jumlah massa. Lebih dari itu, sebuah sarana baru untuk kampanye yang lebih “berbobot” itulah yang akhir-akhir ini kita saksikan.

Ya, sebuah acara debat, baik presiden maupun wakil presiden. Cara ini tentu lebih baik dari sekedar dangdutan berjamaah atau cuma tebar janji kepada massa dengan bagi-bagi kaos ataupun materi lainnya. Diharapkan melalui acara ini, masyarakat luas akan semakin lebih memahami bagaimana dan apa yang akan dibawa para kandidat untuk membawa negeri ini keluar dari keterpurukan yang ada menuju Indonesia yang lebih baik. Angka golput juga diharapkan mengalami penurunan dengan program yang menyajikan visi dan misi para kandidat secara terbuka ini.

TIDAK ADA PERUBAHAN

Baik debat capres maupun cawapres, semua telah berlalu, dan sayangnya 100% ketiga pasangan itu sejak debat pertama menyatakan : Akan tetap memerintah berdasarkan pancasila dan UUD 1945..

Itu adalah poin pertama yang bisa dipastikan akan dilakukan ketiga pasangan capres-cawapres. SIAPAPUN YANG TERPILIH. Dengan kata lain, tidak ada satu pasanganpun yang akan menerapkan dan menjadikan Islam sebagai landasannya dalam memerintah. Pernyataan ini adalah sebuah pengakuan yang tak dapat dibantah lagi. Dan dapat dipastikan, lagi-lagi Islam akan dibuang dari masalah pengaturan terhadap masyarakat. Ini bukanlah hal yang sederhana, sebab Allah SWT mengecam keras siapa saja yang tidak menjadikan aturanNYA sebagai aturan kehidupan dengan status yang buruk: dzalim, fasik, bahkan kafir jika terang-terangan menolak syariah Islam sebagai aturan yang sempurna !

Dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.[Al-Maidah: 44]

Dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang dzalim.[Al-Maidah: 45]

Dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.“[Al-Maidah: 47]

Bahkan mengabaikan syariah Islam sebagai aturan kehidupan, itulah pangkal masalah Indonesia pada khususnya dan Dunia pada umumnya.

***

Itu dari segi aturan yang akan mereka terapkan. Lebih parahnya lagi, ketiga pasangan capres dan cawapres tidak terlihat mengajukan sebuah langkah baru. Ketiganya hanya saling kritik terhadap kebijakan masing-masing saat memerintah, tapi menawarkan solusi yang tak jauh beda dengan apa yang dilakukan orang yang dikritiknya.

Contohnya, pada debat presiden pertama, kita bisa lihat ibu Megawati yang mengkritik kebijakan BLT SBY yang disebutnya menyuap rakyat dengan 100.000-an seperti menyuap anak kecil dengan permen agar tidak menangis. Padahal faktanya, itulah yang dulu pernah dilakukannya ketika masih menjabat sebagai presiden. Bahkan dalam sebuah orasinya sebelum pil-leg, BLT yang “lebih baik” adalah salah satu programnya.

Saya bukanlah orang yang pro SBY maupun JK dengan mengatakan hal ini. Pasangan SBY-Budiono juga tidaklah terlihat menawarkan sebuah gebrakan baru. Jika alasannya adalah “apa yang telah dicapai, hanya tinggal dilanjutkan”, apakah maksudnya melanjutkan kemiskinan, pendidikan mahal, kerusakan moral dan penistaan Islam? Faktanya prestasi tentang lunasnya hutang luar negeri Indonesia juga hanya permainan kata-kata dari sang kepala Negara. Yang lunas cuma bunganya doang, namun perihal menambah hutang Indonesia untuk melunasi bunga tersebut dari 1400 triliun hingga menjadi 1600 triliun tak pernah disinggung.

Hingga terbuktilah bahwa pasangan SBY-Budiono juga tak membawa platform baru, ketika debat cawapres kedua beberapa waktu yang lalu, budiono secara terang-terangan menyatakan bahwa wajar jika memang harus terjadi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan berjalan lambat sebab kita menanggung “kerjasama” dengan IMF, Bank Dunia, kemudian sumber daya alam kita yang tak sepenuhnya kita pegang lagi dst. Hingga kita tak bisa semena-mena mengeluarkan anggaran.

Itu semua ia akui dengan sangat nyata dan seolah-olah itulah yang harus Indonesia hadapi ! Dan itu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa platform yang dibawa SBY-Budiono tetaplah sama seperti dulu: Bergantung pada asing dan sistem kapitalisme !

Menarik sanggahan yang diberikan pak Prabowo terhadap pernyataan pak Budiono: “Maaf dengan segala hormat, jawaban pak Budiono menurut saya seperti jawaban anak sekolah. Yang kita perlukan sekarang adalah perubahan paradigma ! Perubahan sistem ! Kekayaan kita memang telah jatuh ke tangan asing, dan yang harus kita lakukan bukan pasrah (maksudnya seperti apa yang dikatakan pak budiono), tapi kita rebut kembali kekayaan itu untuk kesejahteraan rakyat !” begitulah kira-kira.

JALAN PERUBAHAN ITU ADALAH ISLAM DENGAN SYARIAHNYA

Sayang, perubahan sistem seperti apa yang dimaksud oleh sang capres masihlah sangat mengambang. Jika ingin perubahan sistem secara keseluruhan, ingin perubahan seperti apa? Toh nyatanya hukum sekuler dan sistem kapitalisme lah yang mereka nyatakan akan diterapkan.

Perubahan parsial (sebagian) hanya akan membawa siapa saja, termasuk tiga pasangan capres dan cawapres yang ada untuk mengikuti jejak para pemimpin terdahulu. Ya, bukan hanya kesulitan ekonomi, namun juga kerusakan pada aspek moral, sosial, pendidikan, akhlak, kesehatan, dsb.

Indonesia adalah sebuah negeri yang teramat kaya, negeri yang tidak selayaknya hidup terbelakang seperti saat ini. Sungguh aneh pernyataan Pak Budiono: negeri ini wajar(?) jika harus lambat pertumbuhan ekonominya? Satu fakta berikut cukuplah menggambarkan keanehan itu:

Dari potensi laut, menurut S, Damanhuri diperkirakan potensi pendapatan dari sektor kelautan adalah sebesar $ 82 miliar (dengan asumsi $1 sebesar Rp. 10.000). Artinya, dari potensi laut dapat dihasilkan pendapatan sebesar Rp. 820 triliun ! (1.5 kali lipat lebih dari RAPBN 2006).

Bagaimana dengan kekayaan alam Indonesia lainnya?

Benarlah apa yang dikatakan Bapak Prabowo, Indonesia membutuhkan paradigma baru, sebuah tuntunan dan petunjuk baru untuk mengatur jalannya pemerintahan dan negara. Namun paradigma itu bukannya tetap berpegang pada kapitalisme dan anak cucunya. Melainkan dengan sebuah ideologi dan aturan hidup yang berasal dari pencipta bumi dan segala isinya yang tentu lebih mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaannya.

Aturan tersebut ialah aturan Allah yang tertuang dalam Syariah Islam yang hanya bisa terwujud oleh pelaksanaan sebuah negara. Yakni Daulah Khilafah Islamiyyah..

Inilah jalan baru untuk membawa Indonesia menuju kehidupan yang lebih baik !

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya : 107]

–REVolusi itu pASTi–

(Muhammad Amda Magyasa)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: