Reformasi Sudah Gagal, Bung!!!


Mei 1998. Sudah 11 tahun yang lalu, ketika para pemuda turun ke jalan, meneriakkan perubahan karena sudah bosan dipimpin oleh rezim yang otoriter, mengekang kebebasan, plus sarat korupsi yang membuat negara makin miskin dan terjerat hutang. Saatnya reformasi!!! Dengan aksi heroik mereka yang sempat menguasai gedung DPR/MPR, maka sang diktator pun akhirnya meletakkan jabatannya sebagai penguasa negeri ini. Walaupun harus dibayar mahal dengan beberapa nyawa mahasiswa yang gugur dalam Tragedi Trisakti, berakhirlah rezim orde baru yang digantikan dengan masa reformasi hingga sekarang.

Tapi sayangnya, seperti yang kita semua ketahui, hingga sekarang reformasi yang diinginkan membawa perubahan hakiki sama sekali tak menghasilkan apa-apa. Yang ada, keadaan negeri ini malah semakin terpuruk. Lihatlah hutang luar negeri Indonesia yang jumlahnya terus membengkak tiap tahun. Kalau jumlah hutang tersebut dibagi dengan 230 juta penduduk Indonesia, maka untuk melunasi hutang ini setiap orang harus membayar sebesar 100 juta rupiah lebih! Pada tahun ini, sekitar 10,24 juta rakyat masih menganggur dan 33 juta lebih hidup di bawah garis kemiskinan. Lalu, 90% kekayaan migas kita sudah dikuasai oleh asing, belum lagi sumber daya yang lain. Padahal, kekayaan alam kita yang melimpah ini seharusnya lebih dari cukup untuk memakmurkan seluruh rakyat. Ini baru kenyataan di bidang ekonomi, yang menunjukkan bahwa kita sebenarnya makin menjauh dari kata ’bangkit’ setelah 100 tahun kebangkitan nasional.

Setelah 11 tahun reformasi! Reformasi yang diyakini akan mengganti pemimpin dengan yang lebih baik, nyatanya juga hanya pepesan kosong belaka. Penguasa yang ada sekarang ini justru sama saja membebeknya kepada pihak asing (Barat). Mereka tunduk pada kepentingan-kepentingan Barat, tak beda dengan budak yang mau disuruh apa saja oleh sang majikan. Undang-undang yang mereka hasilkan semuanya sarat dengan intervensi asing seperti UU yang membolehkan asing menguras SDA kita. Sedangkan kepentingan rakyat tak mereka pikirkan lagi. Seperti masalah pendidikan, yang digratiskan hanya sampai SMP, namun tetap saja mahal ketika kita memasuki SMA dan kuliah sehingga masih banyak yang putus sekolah.

Biaya kesehatan yang diluar akal sehat, membuat orang tak mampu berobat ke rumah sakit. Maka benarlah pepatah terkenal yang berbunyi : Orang miskin tidak boleh pintar dan juga dilarang sakit. Inilah hasil reformasi. Adakah lagi yang tak berani meneriakkan bahwa reformasi telah gagal???

***

Kenapa reformasi bisa gagal? Ini karena perubahan yang dilakukan reformasi adalah perubahan yang bersifat parsial atau sebagian saja, bukan perubahan yang komprehensif. Ketika reformasi terjadi, yang diganti adalah pemimpinnya saja, tapi sistem yang diterapkan tetap saja sama yaitu sistem bobrok demokrasi. Padahal sebagus apapun pemimpinnya tetap saja kita takkan bangkit jika sistemnya terbukti sudah karatan dan buruk. Diibaratkan sebuah mobil, pemimpin adalah sopirnya sedangkan sistem adalah mobil yang digunakan. Misalnya mobil yang digunakan adalah bajaj butut, siapapun yang mengendarainya tetap saja tidak dapat memacu sang bajaj dengan kencang, walau sang sopir adalah Fernando Alonso atau Michael Scumaccher sang juara F1 sekali pun! Begitu juga Indonesia, yang tengah mengendarai mobil butut bernama demokrasi, sehingga Indonesia bukannya makin cepat menuju kebangkitan namun jalannya malah mundur ketika seharusnya menanjak. Namun kendaraan bobrok demokrasi ini tetap saja tak diganti.

Makanya berapa kali pun mengadakan reformasi untuk mengganti pemimpin pasti tetap akan sia-sia. Berapa kali pun mengadakan pemilu untuk mengganti pemimpin, juga takkan ada perubahan. Yah, bicara soal pemilu kalaupun ada perubahan paling hutang kita yang jumlahnya terus menumpuk, kemiskinan terus bertambah, mati karena kelaparan makin meningkat, atau perubahan caleg waras menjadi stres dan gila seperti pemilu tadi.

***

Tentu kita tak butuh reformasi lagi. Apa yang kita butuhkan sekarang adalah revolusi. Ya, perlukah kami teriakkan sekali lagi ke lubang telinga kalian, bahwa kita butuh revolusi, bung! Revolusi jelas berbeda dengan reformasi. Revolusi dan reformasi memang sama-sama mengharuskan perubahan terjadi secara cepat, namun perbedaan yang mendasar antara keduanya adalah, revolusi menginginkan perubahan secara radikal dan menyeluruh. Bukan perubahan yang setengah-setengah seperti reformasi. Hanya dengan revolusi kita bisa bangkit karena revolusi akan mengubah tak hanya rezim kepemimpinan yang payah namun juga sistem rusak yang diterapkan saat ini. Sistem demokrasi kufur ini akan diganti dengan sistem Islam yang jauh lebih baik dan sudah terbukti mampu mensejahterakan rakyat.

Sistem demokrasi yang mengharuskan kita menggunakan aturan buatan manusia ini memang mesti diganti dengan sistem Islam yang menerapkan hukum-hukum Allah semata sebagai pemenuhan kewajiban kita untuk taat pada seluruh aturan-Nya. Maha benar firman-Nya dalam Qur’an :

“Apakah hukum-hukum jahiliyyah yang kalian kehendaki? Adakah hukum yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(Al-Maidah ayat 50)

Jadi, tema besar revolusi ini, adalah revolusi Islam. Yakinlah hanya ini satu-satunya solusi agar kita mampu berubah dan bangkit dari keterpurukan, menuju kegemilangan seperti 14 abad khilafah pernah ditegakkan. Lalu bagaimana caranya? Yang jelas, revolusi Islam adalah revolusi damai, tak harus terjadi adegan kekerasan yang biasa terjadi di film-film hollywood. Caranya, tentu kita harus mencontoh revolusioner terhebat yang pernah ada, yaitu Muhammad SAW. Beliau memulai revolusi Islam dengan melakukan dakwah tanpa menyerah untuk merevolusi pemikiran penduduk Mekkah, walaupun saat itu beliau kesulitan dan beralih melakukan revolusi itu tadi kepada penduduk Madinah.

Tentu kita tahu Mush’ab bin Umair, orang Mekkah yang berhasil direvolusi pemikirannya diutus untuk merevolusi pemikiran suku-suku di Madinah yang sebelumnya terpecah belah sehingga mau bersatu dan bersedia menyambut rombongan hijrah kaum Muslimin. Ketahuilah, saat itu terbentuk awal dari kekuatan yang sangat besar, yaitu kekuatan umat Islam. Maka saksikanlah ketika Nabi Muhammad memegang tampuk pimpinan sebagai kepala negara, yang diserahkan dengan rela dan suka hati oleh seluruh penduduk Madinah. Dan simaklah saat beliau dan kaum Muslimin menaklukkan Mekkah tanpa ada tetes darah sedikitpun. Sehingga lihatlah bagaimana beliau akhirnya mampu merevolusi masyarakat Arab yang jahiliyah menjadi masyarakat berperadaban tinggi. Jadi, revolusi pemikiran, itulah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu. Kita ganti pemikiran-pemikiran rusak seperti nasionalisme, pluralisme, liberalisme, hedonisme, atau bahkan komunis menjadi pemikiran yang berlandaskan iman dan taqwa kepada Allah saja.

Pemikiran Islam yang telah kukuh tentu akan menuntut kita agar selalu menaati semua perintah-Nya, sehingga kita akan gelisah jika tak bergerak untuk berjuang supaya syari’ah Islam bisa diterapkan sepenuhnya pada seluruh aspek kehidupan. Ideologi Islam yang tertanam pada kita akan membuat kita tak bisa tenang sampai kita berhasil melakukan revolusi Islam! Jadi, tunggu apalagi kalau sudah begini???

***

Kami menulis ini bukan berarti tak menghormati para pahlawan reformasi. Tentu saja kami salut akan keberanian mereka yang rela mempertaruhkan nyawa demi mewujudkan perubahan pada bangsa ini. Walaupun pada kenyataannya perubahan itu tak kunjung datang. Orang dengan semangat sangat besar untuk berubah seperti mereka harusnya akan sadar seandainya tahu reformasi yang mereka lakukan telah gagal, maka revolusilah satu-satunya pilihan tersisa. Yang jelas tak menghormati mereka bukankah justru kebanyakan pemuda sekarang ini? Lihatlah, generasi muda, sempoyongan karena mabuk-mabukkan, terbuai dalam hawa nafsu pacaran sampai menjurus perzinahan, sakit-sakitan karena obat-obatan, sering bolos dan mengabaikan pelajaran sehingga jadi tak berpendidikan. Mungkinkah ini terjadi karena ada yang berpikiran, ”Ah, sekarang kan masa reformasi, jangan sia-siakan pengorbanan pejuang reformasi mari kita nikmati kebebasan sekarang sepuas-puasnya.” Heh, ini artinya mengkhianati harapan pahlawan, disamping menantang agar kita mendapat azab pedih karena senang-senang saja bermaksiat.

Atau, ada juga yang berkata : ”Nikmatilah masa muda kita ini dengan senang-senang, mumpung masih segar.” Haha, sungguh pemikiran bodoh! Apakah kita lupa kalau dulu yang berada pada garis terdepan dalam menggaungkan reformasi justru hanyalah pemuda yang tak jauh beda umurnya dengan kita? Berpikirlah! Bukan hal yang mustahil saatnya giliran kita melakukan hal yang lebih besar dari itu, yaitu revolusi. Maka, berpikirlah dengan pemikiran Islam, lakukan revolusi Islam. Wallahu’alam bishshawab.

Justru tujuanlah yang membedakan setiap gerakan.
Maka pernyataan : Revolusi atau Reformasi
Adalah sama dengan pernyataan : Jadi atau tidak jadi!

(Rosa Luxemburg)

(Ahmad Adityawarman)

Iklan
  1. hmmm..

      • Ridwan Taufik
      • Juli 5th, 2009

      awas ketiduran mas. hihi, jazakallah khayran

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: