Ruangan Tanpa Kuasa Tuhan?


“Nak, sekarang bukan pelajaran agama, jadi jangan bawa-bawa Tuhan di sini.”, kata seorang guru. Saya pun bertanya dalam hati, “Apakah Tuhan ada saat pelajaran agama saja? Ini Bumi siapa? Bumi Tuhan, kan? Di mana tempat di bumi ini yang bukan milik Tuhan? Jadi, salahkah jika kita membawa-bawa agama di buminya Tuhan? Bahkan aneh sekali jika di bumi dan segala tempat yang Ia menguasainya kita lupa dengan keagungan dan kekuasaan Tuhan.

Hal serupa yang lebih frontal pernah terjadi. Saya ingat dalam sebuah tabloid islam dituliskan, seorang liberal dalam forumnya mengucapkan ”Selamat Datang Dalam Ruangan Tanpa Tuhan”. Ia mengajak para peserta untuk melepaskan atribut-atribut agama dan takwanya, sebab mereka telah berada di wilayah ”tanpa kuasa Tuhan”. Di sanalah kebebasan dapat dilakukan tanpa takut diawasi oleh Yang Mahakuasa. Tempat orang-orang dapat meninggalkan ketaatannya pada Tuhan, bebas tanpa batas.

Sebenarnya, ia terlampau sombong hingga menyatakan ia berkuasa penuh atas dirinya sendiri tanpa otoritas Sang Khaliq, ia pikir ialah yang mengendalikan dan berkehendak atas dirinya. Bahkan lebih dari itu, ia terlalu yakin tempat ia menggelar forumnya bebas dari kuasa Tuhan.

Cobalah sekali-kali tanyakan pada orang tersebut. ”Mampukah Anda menghentikan detak jantung Anda saat ini juga dengan kuasa keinginan Anda (tanpa alat bantu tangan, senjata dll)?”, atau, ”Mampukah Anda menegakkan semua rambut kepala yang Anda miliki sekarang juga dengan kekuasaan keinginan Anda (sekali lagi tanpa menggunakan bantuan tangan dan alat bantu lain)?”. Jawabnya tentu saja tidak. Itu merupakan bukti bahwa ternyata ia sendiri tak mampu mengendalikan hal kecil dari dirinya bahkan hal besar seperti menghentikan detak jantung. Artinya ia tidak pernah memiliki kekuasaan penuh atas dirinya sendiri. Ia terikat dengan ketentuan-ketentuan yang Tuhan tetapkan.

Bumi langit dan seisinya adalah cerminan dari ketaatan kepada Tuhan, begitu pula tumbuh-tumbuhan dan hewan. Semua berjalan sinergi dan harmonis, namun manusialah yang berbuat fasad karena melanggar ketentuan Tuhan, seakan-akan ia lebih mengetahui dirinya, alam semesta dan kehidupan daripada Tuhan. Hingga berani membuat seperangkat ”Hukum Tanpa Tuhan”.

Sungguh tidak beruntung orang-orang yang meniadakan nilai-nilai ketuhanan dalam diri dan kehidupannya. Merekalah orang-orang sombong yang senantiasa zalim dan melupakan Tuhan. Padahal sezalim-zalim dan selupa-lupanya mereka, Tuhan tetap memberi rizki dan kebahagiaan pada mereka. Maka mulai saat ini jangan lupakan Tuhan, penuhilah kewajiban, hiasa hidup dengan sunnahnya, bingkai keseharian dengan sikap istiqamah dan wara’, karena ini bumi milik Tuhan. Ini rumahnya Tuhan! Tidak malukah kita melakukan kegiatan yang tidak disukai Sang Tuan Rumah (Tuhan)? Harusnya kita malu, dan Tuan Rumah tersebut tentu saja berhak memberi hukuman pada kita.

Inilah alam semesta milik-Nya, dimana segalanya wajib tunduk pada ketentuan yang telah ditetapkan, hingga layaklah kita berucap ”di mana bumi kupijak, di situ Tuhan kujunjung!”

Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya?
Kalau kami kehendaki, niscaya kami jadikan dia asin, Maka mengapakah kamu tidak bersyukur?
Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu).
Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya?

(TQS. Al-Waqi’ah [56]:68-72)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: