Lebih dari sekali tepuk 2 lalat..


oleh Akbar Khomeini

Malam itu dingin sekali. Benar-benar beku..

Ya maklum saya merasakan badan ini terasa beku. Wajar gigi ini bergemertak menggigil ngilu. Bagaimana tidak? Ditengah malam itu saya pulang mengendarai sepeda motor dalam lebatnya guyuran hujan. Walau mengenakan jas hujan yang lumayan bisa membuat tubuh saya tidak terlalu tersiram oleh limpahan air hujan yang dingin, namun dingin dan sepoinya angin malam di sela-sela jas hujan cukup membuat saya ingin menyerah melanjutkan perjalanan pulang malam itu.

Malam itu, sebenarnya saya tidak perlu pulang berhujan ria. Acara pengajian rutin mingguan yang saya hadiri sebenarnya bukan masalah. Karena sudah komitmen saya sebagai penuntut ilmu harus hadir dalam majelis ilmu malam itu, apalagi memang sudah terjadwal tetap pada malam itu.

Saya pun sebenarnya tidak perlu memaksakan harus pulang pada malam yang larut itu, dari mesjid kampus menuju kontrakan saya yang berjarak cukup jauh dan ditempuh dengan belasan menit. Bisa saja bagi saya memilih untuk tidur bermalam saja dengan para sahabat saya di mesjid kampus, yang cukup hangat dan pastinya : tidak basah.

Tapi apa celaka! Ada tiga buah laporan praktikum yang harus saya selesaikan malam itu, Dan harus dikumpul esok harinya..

Dengan gagah berani dan tekad penuh, seraya menolak saran para sahabat saya yang menganjurkan agar tidak memaksakan diri menerobos hujan, saya pun menuju sepeda motor saya.

Layaknya Batman dan jubahnya pada setiap filmnya, saya pun memakai jas hujan, menunggangi motor, memasukkan gigi, dan melesat di keheningan malam dan deru derasnya guyuran hujan….

Ada rasa dan pikiran yang berkecamuk.

Pikiran takut jatuh sakit di keesokan hari sampai rasa capeknya menjalani hidup yang dijalani sekarang.

Tapi saya hanya ingin tidak ada kesesalan dengan segala yang sudah saya rasakan. Saya tak ingin ada alasan di kemudian hari yang muncul ketika melihat hasil kuliah saya yang hancur, lantas apakah saya akan sewenang-wenang mengatakan “itu gara-gara gue ikut pengajian jadi gak bisa bikin laporan, dan kuliah gue terbengkalai deh…”

Atau ketika saya menjadi tidak bersemangat berdakwah atau mengkaji islam, apakah lantas saya akan berucap pada semuannya dengan alasan “aduh… gue lagi disibukkin ama kuliah dan laporan-laporan nih…, kayaknya nanti aja deh gue gencar-gencarin lagi..”

Yang pasti keseimbangan tadi harus terus saya pertahankan. Bukan hanya ‘sekali tepuk 2 lalat’ tapi saya ingin ‘sekali sentuh jutaan hal teratasi’. Karena saya merasa hidup saya bukan hanya diisi dengan dua hal tadi, kuliah dan dakwah. Namun masih banyak lagi hal yang akan saya tempuh sepanjang perjalanan yang misteri ini. Keluarga, urusan dengan sahabat, pekerjaan, masa depan anak, masa depan umat, dan sebagainya lagi..

Saya ingat pula malam itu ditengah kebekuan yang sangat, kebuyaran saya terpecah mengingat akan pedihnya dan beratnya kisah perjuangan Rasulullah dan para sahabat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Tiga hal besar paling tidak yang mereka terima dalam dakwah mereka, yaitu diejek, diserang secara fisik, dan diboikot sudah mereka lalui.

Atau ketegaran Bilal bin rabbah yang dijemur diterik matahari gurun sambil ditindih oleh batu besar pada perutnya, hanya karena tetap mempertahankan islam sebagai keyakinan.

Atau keseriusan dan kesungguhan Mus’ab bin umair yang harus rela berpisah dengan orang tuanya kerena dia memilih untuk memeluk islam. Dan dengan itu pula ia harus meninggalkan status orang kaya rayanya, dan ikhlas memakai pakaian butut yang kusam penuh tambalan. Namun, Mus’ab dengan prestasinya berhasil membuat kota Madinah terbebaskan dengan cahaya islam yang di dakwahkannya.

Dibandingkan berat cobaan yang diterima Rasulullah dan para sahabat tersebut, tentu guyuran hujan dan dingin yang membekukan badan saya ini tidak ada apa-apanya. Bagi Bilal yang tahan banting tersebut, malam yang saya lalui ini masih terlalu cemen.. Bagi Mus’ab yang luar biasa itu, saya ini masih manja dan mudah mengeluh. Saya ini payah dan pecundang!, yang mudah mengeluh hanya karena guyuran hujan. Bagaimana mau menegakkan daulah khilafah kalau diguyur hujan saja jiwa saya menciut? Bagaimana mau meneladani jihad fi sabilillah para sahabat kalau dengan rasa dingin saja saya mudah gemetar?

Dengan pompaan renungan tersebut, tiba-tiba jiwa saya pun terbakar. Semangatpun bergelora kembali, seolah membuat badan saya bercahaya ditengah kegelapan malam. Membuat badan dan motor saya bagai bola api yang melesat di sepanjang jalan raya yang sunyi senyap. Persis seperti sebuah iklan batrei yang membuat lampu-lampu bercahaya terang ketika di lewati orang yang menggunakan batrei tersebut. Batrei tersebut seolah adalah semangat hidup saya, dan orang tersebut seolah adalah saya!

Alhamdulillah. Malam itu semua hal saya selesaikan, mulai dari memasak makanan, hingga mengerjakan segala laporan. Walau tidur saya malam itu terhitung sedikit sekali bagi manusia normal, namun energi batrei tetap saya rasakan sepanjang hari berikutnya menjelang. Dan hingga kini tetap terasakan…

Saya pun menyadari batrei ini sebenarnya sangat kuat. Kita tak perlu mengantinya hingga ajal menghampiri kita. Hanya perlu menchargenya sesekali dengan berbagai ibrah dan muhasabbah atau hal lainnya..

Semoga selalu kita rasakan. Perbuatan kita tak hanya sekedar bisa ‘menghabisi’ 2 lalat dalam sebuah tepukan. Namun hendaknya bisa menyelesaikan berbagai hal dalam sebuah tindakan..

Karena kita semua dilahirkan untuk menjadi pejuang terbaik..

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: