Reformasi ban?


oleh Akbar Khomeini

(ter-ilhami dari kisah nyata)

Kalau ada yang mencari orang hobinya nambal ban. Maka orang yang di cari itu adalah saya. Memang,dalam akhir-akhir ini saya sering di sesalkan oleh ban sepeda motor yang sering bocor. Yang bikin sialnya lagi , saya menambal ban sepeda motor itu rata-rata seminggu sekali. Dan juga yang anehnya, ban yang bocor selalu ban bagian belakang. Sampai,sudah dua kali saya melakukan reshuffle ban dalam,tetapi toh ternyata hasilnya sama-sama saja. Selalu bocor tiap minggunya.

Semua kemungkinan penyebab bocor sudah saya selidiki. Mulai dari,apakah bocor karena jalan yang sering saya lalui?, atau apakah karena berat badan saya yang tidak kuat di tahan oleh ban belakang,hingga bocor?. Atau jangan-jangan ada orang yang sengaja membuat bocor ban belakang saya?.

Segala kemungkinan itu sudah saya selidiki,dan ternyata hasilnya bukan penyebab bocor. Seluruh jalan sudah saya telusuri dengan kaca pembesar,tetapi tidak sedikitpun menemukan beling-beling tajam. Kalau karena berat badan saya? Ah..tidak mungkin. Badan saya yang terkenal tipis ini tidak mungkin penyebabnya. Apalagi saya sangat jarang membonceng teman ketika berkendara. Atau karena ada yang usil? Ah..nggak mungkin juga kayaknya. Soalnya saya rasa, sekarang ini tidak ada orang yang benci kepada saya. Lagi pula kenapa selalu ban belakang?

Sampai akhinya tragedi itu pun berulang kembali. Tapi kali ini saya membawanya ke tukang tambal yang belum pernah saya datangi. Saya pun memberitahukan bahwa ban itu sudah berkali-kali di tambal,sambil berharap paman tukang tambal itu tahu apa masalah yang selalu dialami ban saya itu Ternyata benar, paman itu menemukan kunci permasalahannya. Ternyata ada sebuah jarum tajam kecil yang menempel di bagian dalam ban luar. Sehingga perlahan-lahan menusuk kulit ban dalam hingga bolong. Lega jadinya hati saya mengetahuinya. Ternyata kesalahan selama ini bukan karena jalan yang saya lalui, bukan karena berat badan saya, atau bukan karena ada orang usil. Tetapi karena bekas jarum yang menusuk ban saya pertama kali itu tidak di cabut-cabut,sehingga membocorkan ban dalam terus menerus.

Coba seandainya saya tahu dari dulu, pasti saya tidak akan perlu keluar duit banyak buat nambal terus-terusan perminggu, pasti saya tidak akan repot-repot men-reshuffle ban dalam saya berulang-ulang. Dan tidak akan bingung sampai-sampai abut melakukan penyelidikan. Tetapi saya baru tahu sekarang,dan itu pun karena di beritahu si ‘ahlinya’ ban,tukang tambal ban.

Mungkin kejadian yang saya alami ini mirip dengan kondisi pemerintahan sekarang. Kondisi sekarang ini memang banyak sekali masalah. Tetapi entah kenapa orang-orang malah lebih repot menyuarakan reformasi,dan meyakininya bahwa reformasi adalah cara yang tepat untuk memperbaiki kondisi pemerintahan sekarang ini. Padahal reformasi itu ibarat menambal ban. Jadi hanya menutupi kekurangan pemerintahan saja. Dan itu tidak cukup untuk menuntaskan berbagai permasalahan yang begitu banyak ini.

Sebelum melakukan reformasi,mereka memang melakukan penyelidikan. Yaitu mencari dimana kekurangan pemerintahan sekarang,atau mencari dimana lobang-lobang berada,sehingga memudahkan untuk di tambal atau di reformasi. Tetapi masalah itu akan muncul lagi,lagi dan lagi. Karena tidak akan habisnya. Atau salah satu cara yang mereka tempuh,adalah melakukan reshuffle kabinet. Yaitu mengganti orang-orang dalam yang bekerja di pemerintahan. Tetapi,apakah ‘sang pekerja’ itu permasalahannya? Kan pekerja itu juga melakukan kerja yang sama dengan orang-orang dahulu, hanya menjalankan skenario pekerjaanya sesuai dengan aturan baku.

Sebagian lagi ada yang berpendapat,masalah pemerintahan ini sebenarnya akibat jalan yang di tempuh oleh orang-orang pemerintahan dahulu. Yang maksudnya adalah jalan ‘hutang-menghutang’ yang dilakukan pemerintahan sebelumnya. Atau ada lagi yang berpendapat masalah ini sebenarnya karena kita kelebihan beban. Atau kebanyakan rakyat,sehingga pemerintahan atau negara jadi repot mengurusi rakyat yang begitu banyak. Seperti memberikan subsidi yang besar, menyediakan kesehatan untuk rakyat, menyediakan pendidikan untuk rakyat, mengurusi fakir miskin, yang jumlahnya begitu banyak. Akibatnya, perekonomian jadi carut marut.

Jadi,apakah semua itu sumber masalahnya? Kalau begitu,berarti kita sungguh-sungguh repot untuk memperbaiki sana-sini, Pusing untuk tambal sana tambal sini, Reformasi itu reformasi ini.

Lalu, apa yang sebenarnya harus di lakukan untuk memperbaiki permasalahan ini? Kita harus cari tahu dengan yang ahlinya. Ternyata, Sang ‘ahlinya’ alam semesta ini pun menjawab : “Apakah hukum (sistem) jahiliayah yang kalian inginkan?, hukum (sistem) siapakah yang lebih baik selain dari hukum (sistem) Allah,bagi orang-orang yang meyakini.”(TQS.Al Maidah50)

Nah,ternyata kita semua sudah memahami bahwa yang salah itu adalah sistem pemerintahan sekarang ini. Dan sekarang yang semestinya kita lakukan adalah mencabut sistem sekularisme yang menancap di pemerintahan sekarang. (Seperti halnya saya yang seharusnya mencabut paku kecil di ban saya tadi.) Lalu,menggantinya dengan sistem buatan ‘sang ahlinya’ tadi.

Jadi sangat salah apabila yang dilakukan sekarang ini adalah reformasi sistem. Atau men-reshufle orang-orang yang menjalankan sistem tersebut. Yang harus di lakukan sekarang adalah Revolusi sistem tersebut. Sehingga tergantikan dengan sistem yang lain yang lebih baik.

Oke deh..,sekarang, masih mau nambal-nambal terus? Sambil menolak pemecahan yang di berikan oleh Sang ‘Ahlinya’ alam semesta tadi? Teserah aja yah.. kalau saya lebih memilih pemecahan sang ahlinya tadi sebagaimana saya menerima pemecahan sang ahlinya ban, ketika ban saya bermasalah.Wallahualam bisshawab.

(bar khomeini)

obligation2

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: