Ya Allah.. Aku Jatuh Cinta


MANUSIA PASTI AKAN BERUSAHA MEMENUHI NALURINYA

Rasa cinta, rasa sayang, dan peduli kepada orang lain adalah sesuatu yang fitrah dimiliki oleh seorang manusia sebagai makhluk ciptaanNYA yang mulia. Begitu juga sebaliknya, ingin dicintai, ingin diperhatikan, ingin disayangi oleh orang lain, semua adalah suatu fitrah yang merupakan wujud dari gharizah an-na’u.

Gharizah atau naluri, merupakan ”sesuatu” yang diciptakan Allah dengan sangat unik. Ia adalah sebuah fitrah atau kebutuhan primer bagi manusia. Layaknya makanan kita sehari-hari. Namun ia berbeda dengan makanan, dimana jika kita tidak memenuhinya kita akan mati.

Ya, tidak terpenuhinya gharizah atau naluri tidak akan membuat kita mati, ia hanya akan membuat manusia tersiksa ataupun tidak terpuaskan secara batin. Gelisah, tidak tentram, merasa ada yang kurang dalam hidup, itu adalah sebagian dari dampak tidak terpenuhinya naluri manusia. Bahkan pengekangan terhadap naluri, dapat membuat manusia melakukan ”penyimpangan”, agar ia tetap bisa memenuhinya.

Naluri bertuhan (gharizah tadayyun) misalnya, secara fitrah manusia pasti memerlukan ”sesuatu” yang ia puja, ia agungkan, yang ia anggap lebih hebat, ia anggap sempurna, mampu melindungi dan menolongnya dikala terjepit. ”Sesuatu” tempat manusia bergantung padanya karena merasa dirinya adalah makhluk lemah dan terbatas. Untuk itulah manusia menyembah Tuhan. Untuk itulah manusia beragama. Komunis sekalipun yang notabane menolak keberadaan Tuhan, melakukan ”penyimpangan” dengan memuja tokohnya seperti Lenin yang diibaratkan seperti dewa.

Begitu pula dengan gharizah an-na’u (naluri melestarikan jenis), dimana menjadi fitrah bagi manusia untuk tertarik pada lawan jenis, menyalurkan keinginan seksualnya, dan sejenisnya. Pengekangan terhadap naluri ini akan ”memaksa” manusia untuk melakukan penyimpangan. Pelecehan seksual yang dilakukan pastur terhadap biarawatinya yang marak terjadi di Eropa adalah fakta umum yang bisa kita temukan terkait pengekangan terhadap naluri ini.

Dengan demikian menjadi hal yang wajar jika tidak terpenuhinya naluri, akan membuat manusia melakukan penyimpangan. Sebab, naluri adalah fitrah bagi manusia. Dan manusia akan cenderung menyesuaikan diri dengan fitrahnya.

ISLAM SESUAI FITRAH MANUSIA

Tertarik pada lawan jenis (baca: jatuh cinta) adalah hal yang wajar terjadi pada manusia. Sebab ia adalah bagian dari gharizah an-na’u. Ia bisa ”menular” pada laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, orang miskin maupun orang kaya, siapapun berpotensi terjangkit ”wabah” ini. Banyak sekali tanda-tanda atau gejala yang menunjukkan seseorang telah dinyatakan positif terkena wabah ini. Sering melamun, mendadak puitis atau romantis, bahkan hingga penampilan dan berkelakuan berbeda dari biasanya.

Jatuh cinta adalah wajar. Ia memang sesuatu yang abstrak dan sulit didefinisikan. Tapi siapapun yang telah merasakannya, entah kenapa ia akan menjadi seorang pujangga yang mampu menafsirkannya begitu mudahnya. Jatuh cinta juga tidak mengenal waktu dan keadaan. Ia bisa datang kapan saja, dimana saja bahkan dalam kondisi apapun. Love is like wind, we can’t see it but we can feel it….

Ya, jatuh cinta atau tertarik pada lawan jenis adalah sesuatu yang tak bisa ditolak. Sehingga sangat tidak masuk akal dan tidak logis jika sesuatu yang fitrah ini dilarang hadir pada diri manusia, seperti kasus biarawati tadi.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam sangat memahami hal ini. Bahwa cinta dan kasih sayang adalah sesuatu yang fitrah ada pada diri manusia yang merupakan karunia dari Allah:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum : 21)

Sehingga jelaslah sudah, bahwa Islam tidak melarang cinta dan kasih sayang. Islam tidak melarang seorang laki-laki tertarik pada perempuan, begitu juga sebaliknya. Ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang sesuai fitrah manusia.

ISLAM MENGATUR DAN MEMULIAKAN MANUSIA

Pernahkah anda melihat kucing (yang ingin kawin)? Sang jantan akan coba mendekati betina, menunjukkan ”kegarangan”nya, kemudian tanpa ”permisi” langsung ”nyosor” aje.. Tidak peduli mereka sedang berada dimana. Di teras rumah orang, di warung, juga di jalan. Tidak peduli kucing betina siapa, kalau sudah suka maka sang kucing jantan tidak akan malu-malu lagi. Inilah dunia hewan. Dunia makhluk yang tidak mempunyai akal.

Manusia adalah makhluk yang terbatas. Ia tidak akan mengetahui apa yang baik bagi dirinya, dan apa yang buruk bagi dirinya. Oleh karenanya sudah menjadi fitrah bagi manusia bahwa ia memerlukan seperangkat aturan dari Dzat yang maha sempurna untuk mengatur kehidupannya. Maha suci Allah yang tidak membiarkan manusia terkatung-katung menjalani kehidupan. Betapa Maha pemurah dan penyayang Allah SWT yang tidak membiarkan manusia hidup liar tanpa aturan seperti hewan :

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raaf : 52)

Sayangnya, kini aturan Allah itu telah dibuang dari kehidupan bermasyarakat. Aturan Allah hanya digunakan ketika mengatur permasalahan ibadah. Seperti tatacara shalat, tatacara berhaji, masalah kejujuran, dan sejenisnya. Sedangkan untuk tatacara mengemban negara, pendidikan, ekonomi, serta masalah sosial lainnya, Islam dibuang. Termasuk untuk mengatur masalah pergaulan.

Inilah sekelumit kerusakan akibat dibuangnya Islam sebagai aturan dalam masalah pergaulan :

Di Indonesia, seks bebas mencapai 22,6%. Ironisnya, sebagian besar dilakukan anak-anak remaja. Seks bebas tentu menaikkan angka kehamilan di luar nikah. Di Indonesia kehamilan remaja di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3,2%, karena sama-sama suka sebanyak 12,9% dan ‘tidak terduga’ sebanyak 45% (Indofamily.net, 1/8/2008).

Akibat langsung dari hamil di luar nikah di kalangan remaja adalah maraknya kejahatan aborsi (pengguguran kandungan). Saat ini di Jawa Barat saja, angka aborsi remaja mencapai 200.000 kasus pertahun. Secara nasional, jumlah remaja yang melakukan praktik aborsi mencapai 700-800 ribu remaja dari total 2 juta kasus aborsi (Detik.com, 9/4/2009).

Secara nasional, berdasarkan data ILO, pada 2002-2006 saja ditemukan sebanyak 165.000 pelacur. Sekitar 30 %nya atau 49 ribu jiwa adalah anak di bawah usia 18 tahun (Tempointeraktif, 8/2/2007).

Astaghfirullah, benarlah bahwasanya Islam diturunkan sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia. Islam diturunkan untuk mengatur manusia agar tidak hidup seperti hewan yang liar dan bebas tanpa aturan. Manusia adalah makhluk yang mulia juga berakal, dan Allah tidak membiarkan makhluk berakal ini hidup seperti makhluk tidak berakal. Anda bisa bayangkan, bagaimana hewan tidak berakal seperti kambing jika diseru untuk hidup mulia dengan aturan Islam. Ia tidak akan pernah peduli, dan hanya akan menjawab, ”mbeeeeee…”. Oleh karenanya Allah sangat mengecam makhluk berakal seperti manusia yang tidak mau tunduk pada aturan-Nya, dengan sebutan lebih sesat dari pada hewan ternak ! Ya, hewan tidak punya akal untuk berfikir. Sedangkan manusia?

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf : 179)

PENUTUP

Cinta dan kasih sayang adalah fitrah. Islam tidak melarang ataupun mengekang akan hal itu. Islam hanya mengatur serta menata sesuatu yang fitrah dan suci itu, sesuai kodrat manusia sebagai makhluk yang berakal dan mulia. Konsep aturan tersebut telah sangat rinci tertuang dalam Al-Qur’an dan As-sunnah.

Yang gambaran umumnya adalah menjaga interaksi antara laki-laki dan perempuan agar selalu sesuai koridor syariah. Sebab hubungan yang halal hanya ada pada ikatan pernikahan. Jika mampu, maka laksanakanlah, dan jika masih belum mampu maka Rasulullah memerintahkan agar kita berpuasa. Terkadang kita ragu terhadap pernikahan tanpa embel-embel ”pacaran”. Namun Islam menjawab keraguan ini dengan sangat lugas :

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An-Nuur : 26)

Kini telah jelas, pilihan ada pada kita. Mau taat atau tidak pada aturan-Nya, hayoo ??

Wallahu ’alam bi ash-shawab

(Muhammad Amda Magyasa)

  1. i like this…berusaha untuk menjadi insan yang bertakwa meski dg sgl kekurangan yang ada..

  2. makasih mbak.🙂

  3. bos gna sih cara kta untuk menggurangi sex bebas itu

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: