Memahami Realitas Omdo dan Nato


Apa boleh buat, istilah omdo (omong doang) dan nato (not action, talk only) terlanjur popular di kalangan aktivis harokah. Dua istilah tersebut akhirnya menjadi jurus pamungkas yang sangat menakjubkan. Sebenarnya apa motif dari penyebutan istilah tersebut? Kehabisan akal atau memang tidak memahami realitas? Semoga saja alasannya kemungkinan yang terakhir.

Bentuk pernyataan omdo dan Nato juga memiliki padanan dengan kalimat seperti ini, “Apa jasa yang sudah Anda berikan pada negeri ini?”. Bagi target awam, ini merupakan bentuk punishment, yang akan mematikan dan membuat mereka down sama sekali. Sebenarnya, bentuk sederhana yang mudah dipahamai dari pertanyaan (atau pernyataan) ini adalah, “Anda itu omdo”. Target seakan-akan tidak diberikan pilihan lain selain vonis omdo itu sendiri.

Dalam berbagai forum, saya sering melihat setelah ada yang mengucap istilah tersebut (apapun padanannya) diskusi berlangsung kaku, alot, dan alurnya relatif sama. Sedemikian sehingga target vonis berusaha membantah semampu mereka. Manusiawi, sebab manusia memiliki naluri untuk mempertahankan harga diri dan eksistensi.

Realitas

Cerita kehidupan membuat manusia berkelompok-kelompok mencari kebenaran dan hakikat hidup. Wajar hingga akhirnya sudut pandang (paradigma) mereka berbeda dalam memahami sesuatu, walaupun misalnya mereka mengemban satu keyakinan (agama) yang sama. Ada kalanya, bahkan sering, membedakan diri dari kelompok lain dan memisahkan diri dari entitas publik merupakan pilihan satu-satunya harus diambil. Ini dilakukan semata-mata demi idealisme dan kemurnian ide yang kuat yang diadopsi (tabanni).

Ada yang memandang bahwa jalan demokrasi merupakan struktur yang tidak boleh dimanfaatkan untuk mencapai perubahan, ada pula yang memandang menggunakannya sah-sah saja.

Ada yang memandang islam harus didakwahkan secara terang-terangan, sebaliknya ada juga yang memandang identitas islam tidak perlu terlalu ditunjukkan, sebab yang penting adalah substansinya.

Melihat fenomena ini, wajar pula jika ada yang memandang tidak masuk parlemen dan memberikan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan politik, sementara hanya sibuk berkoar di mana-mana sebagai bentuk dari kealpaan tindakan nyata (baca: omdo/nato). Mereka berpendapat meraih posisi menteri dalam kabinet pemerintahan, dan berupaya menerapkan sebagian dari syariat islam, lalu melakukan voting dalam berbagai masalah yang sudah jelas hukumnya dalam islam, adalah bentuk implementasi yang nyata sebagai jalan perubahan.

Sementara itu ada kelompok lain yang menganggap gradualisme (sistem perubahan bertahap, atau tadarruj dalam Bahasa Arab) sebagai tindakan yang keliru, berbahaya, dan justru menjadi hambatan bagi umat islam dalam mengubah kondisi dan menegakkan kembali Negara Islam Khilafah.

Gradualisme adalah pemikiran pragmatis dan justifikasi kepraktisan. Itu dikarenakan mereka menganggap Islam telah turun secara sempurna, dan menerapkannya secara setengah-setengah adalah kemakisatan.

Allah berfirman

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan untuk kalian nikmat-Ku. (TQS. Al-Maaidah [5]:3)

Perkara pertama yang harus dicamkan adalah konsep bahwa Islam mustahil diterapkan (secara menyeluruh dan semerta-merta) sama halnya dengan mengatakan bahwa Allah swt, telah menurunkan agama yang tidak praktis. Hal ini bertentangan dengan keyakinan bahwa Islam satu-satunya agama yang praktis yang telah Allah sempurnakan bagi umat manusia.

Allah berfirman;

Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya” (TQS : Al-Baqarah [2] : 286)

Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan membebani umat dengan kewajiban yang umat tidak mampu melaksanakannya dan mustahil diemban oleh umat. Artinya, mengembalikan Islam secara menyeluruh adalah perkara yang mungkin sekaligus wajib untuk dilakukan.

Lebih-lebih memvoting hukum syara’, tidak ada pilihan lain selain hukum syara’. Allah berfirman

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr : 7)

Tentang kekuasaan, mereka menganggap kekuasaan untuk menerapakn hukum kufur adalah sesuatu yang asing dalam Islam. Rasulullah sendiri ketika ditawari kekuasaan dan diminta berhenti untuk berdakwah oleh Kafir Quraisy melalui pamannya Abu Thalib, beliau dengan tegas menolaknya seraya menjelaskan bahwa perkara penegakkan Islam merupakan perkara hidup dan mati yang tidak bisa dikompromi,

Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangankanaku dan bulan di tangan kiriku agar aku berhenti dari perkara ini, niscaya aku tidak akan berhenti, hingga Allah memenangkan perkara ini atau aku mati karenanya

Demikian pandangan kelompok tersebut. Adapun kita harus jernih dalam melihat fakta, bersikap idealis terhadap ide murni yang berlandaskan hujjah yang kuat adalah termasuk bentuk ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah bukan merupakan tindakan yang not action, sebab itulah action yang sesungguhnya. Memilih jalan berbeda dengan kelompok lain dan publik pada umumnya merupakan pilihan yang amat berat, namun mereka harus yakin dibalik yang berat tersebut terdapat rahmat dan mashlahat.

Imam Syatibi dalam Al-Muwaafaqaat fi Ushl al-Ahkam menyatakan,

Tujuan dari syariat adalah membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsunya dan menjadikannya hamba Allah yang sejati, dan itulah mashlahat yang sesungguhnya”.

Inkonsistensi

Sebaliknya saya justru mempertanyakan kelompok yang sering mengatakan omdo pada kelompok lain. Sudahkah mereka hadir di tengah masyarakat dan parlemen atas nama Islam dan revolusi, ataukah Islam itu sendiri yang mereka tutup-tutupi? Seberapa sukses pendidikan politik Islam mereka di tengah masyarakat? Bukankah yang mereka bicarakan hanya sejumlah slogan yang sama sekali tidak membangun pemikiran dan kesadaran?[1]

Mungkin di banyak forum di internet mereka hadir atasnama Islam, Syariah dan bahkan Khilafah, namun sayang sekali kita tidak menemukan yang demikian dalam kehidupan nyata. Semoga saja ini bukan bentuk omdo.

Pengalaman terakhir, mereka beralasan kalau umat islam golput berarti umat islam memberikan jalan pada orang sekuler kekuasaan. Pada faktanya akhirnya mereka duduk bersama dan menyokong dan pendukung perjuangan orang sekuler neolib yang anti agama.

Mahalnya Kesadaran

Di sisi lain banyak kelompok umat islam yang berjuang mengondisikan umat ini dengan membangun dan memahamkan mereka, bahwa tidak ada pilihan lain selain Islam. Secara empiris sistem yang telah lama kita anut gagal dan telah menjerumuskan negeri kita ke jurang penderitaan. Selain itu perubahan ke arah Islam merupakan konsekuensi imani yang telah Allah wajibkan, dan bagi mereka yang sudah sadar, mereka akan berdosa jika tidak turut memperjuangkannya.

Kesadaran umat merupakan harga mahal yang mustahil kita dapatkan tanpa action kerja keras dan pengorbanan. Banyak cobaan yang mendera, namun mereka yakin pertolongan Allah segera tiba. Mereka tidak memerlukan kasih sayang penguasa boneka sebab mereka yakin kasih sayang Allah adalah segalanya. Mereka yakin merugi materi tidak apa sebab Allah telah menyiapkan surga-Nya.

Wallahualam bishawab

Pagi di sehelai bumi-Nya, Yogyakarta

=====================================================

*bahan bacaan,

“The Method to Re-Establish the Khilafah” by Syabab Hizbut Tahrir Britain,

Khilafah Publication, Britain, 2000


[1] Walhasil saya lebih memberi apresiasi pada Pak Prabowo Subianto dalam hal ini. Beliau menjadi oposisi yang terang-terangan dan berani menyuarakan visinya yang frontal meskipun masih tak jelas metodenya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: