Ya atau Iya?


Oleh Ridwan Taufik Kurniawan

Secara tidak sadar pertanyaan ”ya atau tidak” yang kita ajukan pada orang lain terlalu sering menjebak kita. Setelah panjang lebar berusaha memanipulasi pikiran konsumen, kita akan sampai pada satu titik yang mengharuskan kita mempertanyakan ketertarikan dan keinginan konsumen untuk lanjut mendengarkan serial dongeng kita. Akhirnya kita bertanya, “gimana, mau melanjutkan dengar dongeng saya tidak?”. Bayangin, sudah mulut berbusa ngedongeng, yang mereka bilang di akhir cerita cuma, ”kami gak mau lagi denger dongengmu”. Sakit haatiiikuuu . . .

Salah satu prinsip dalam marketing da’wah tentang “mengikat konsumen” adalah –jangan beri konsumen kesempatan untuk menghindar-. Prinsip lainnya –Jangan berikan kesempatan apa yang biasa kita sebut “kemungkinan terburuk” hadir-. Apa kemungkinan terburuk itu? Contohnya seperti di atas, konsumen menolak mendengar promosi ide kita.

Trainer muda Felix Siaw memaparkan, saat menutup ‘marketing’, hanya berikan pilihan “Ya atau Iya”.  Walaupun kelihatannya memaksa, tapi kayaknya memaksa untuk kebaikan tidak ada salahnya kok, dan pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara memaksa yang cerdas?

Perhatikan contoh percakapan di bawah:

“Gimana, Bud(*, kapan lagi ketemuannya? Hari Senin atau Kamis?”.

”Hari Rabu apa Jumat?”

Lihatlah, kira-kira jika Anda dihadapkan pada pertanyaan demikian, apa yang akan Anda jawab?

Pengalaman membuktikan cara ini sangat ampuh membuat konsumen kita konsisten hadir saat promosi. Konsumen tidak akan sempat memikirkan jawaban ’tidak’, sebab ia tersugesti oleh pertanyaan yang diajukan. Ia terikat dengan variabel atau opsi yang disediakan, ”iya atau iya”.

”Lanjut atau terus?”

====================================================

*)Budi, maksudnya . . .

Jangan paksakan diri Anda memahami makna istilah-istilah terselubung yang tidak bisa Anda pahami

(special thanks to Ustadz Felix Yanwar Siaw, the best trainer I’ve ever seen)

  1. Ya dan tidak.. memaksa seseorang untuk mengambil resiko jika menjawabnya

      • Ridwan Taufik
      • Juli 8th, 2009

      Benar, itu lah yang saya maksud. Terima kasih

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: