Tukang Bakso dan Pemilu


Oleh Fajar Gemilang Ramadani

Angin siang hari itu terasa panas, namun begitu deras. Mungkin karena kecepatan mobil L300 yang kunaiki mencapai 60 km/jam. Kilo demi kilo ku lewati. Aku duduk di depan di samping pak kusir yang sedang bekerja (eh salah maksudnya pak supir…), setelah sebelumnya aku duduk di barisan ketiga. karena saat di km 19 ada penumpang yang turun.
Kutengok kanan dan kiriku ada area kosong yang luas, dan tidak ada yang menggarap, dalam hati ku berkata, “seandainya semua area tanah yang ada ini diproduktifkan pasti tidak ada pengangguran.” Lalu ku lemparkan pandangan ku kedepan, tak terasa aku sudah hampir tiba di banjarmasin, di terminal Km 6. Kota tempat aku dilahirkan 18 tahun yang lalu (sudah tua ya) dan tempat aku dibesarkan.

Akhirnya dalam sekejap mata ku sampai di Banjarmasin, aku turun di depan POM bensin si seberang perpustakaan daerah. Aku tidak masuk ke terminal karena aku akan di jemput di mesjid Nurul Huda di samping pintu masuk terminal. Aku turun dan menyerahkan uang 10 ribu rupiah, lalu pak supir pun memberikan kembalian seribu rupiah, sambil berkata, “Saya ngga punya uang seribuan lagi nih“, dan aku pun menjawab,”Udah ngga apa-apa, Pak“.

Akhirnya ongkos ku pulang ke Banjarmasin pun jadi lebih mahal, padahal harga normalnya cuma 8 ribu rupiah. Tanpa basa-basi pun ku langsung pergi meninggalkan mikrolet menuju mesjid Nurul Huda yang ada di seberang jalan. Aku mungkin berjalan kaki sekitar 200 meter kesana. Hari ini begitu panas, angin yang bertiup terasa begitu gersang ketika berpapasan dengan kulitku.

Tapi aku terus melangkah, setelah berhasil menyeberang jalan, aku melihat ada tukang bakso. Karena perut ini terasa lapar, aku pun mendatanginya. Tuakng bakso itu sedang melayani pelanggan lain. Aku pun tanpa banyak cing-cong lamsung “mencucuk“(mengambil) baksonya. Nikmat, terasa begitu nikmat, karena aku memang sedang lapar.

Lalu ada pelanggan wanita, yang berbincang dengan pelanggan lain. Dia berkata, “BBM tuh naik mulai zaman Mega, SBY itu cuma kena getahnya aja, di cuma ngelanjutin Mega.”, lalu pelanggan lain pun menjawab,”iya, benar sekali, kasihan juga SBY ini, melanjutkan yang gak baik, udah enak di jaman SBY ini, sekolah gratis.”.

Pelanggan lain datang dan menanyakan kepada pelanggan lainnya (baksonya laku banget!), “Kamu milih siapa kemarin?” .yang ditanya menjawab, tapi hanya dengan isyarat tangan, seperti mengatakan “PEACE” kepada yang menanyainya.

Aku hanya diam, menghabiskan pentol yang ada dalam mulutku. Tak lama setelah itu aku dikejutkan dengan bunyi HP ku. Ternyata sms dari abah ku yang mengatakan, bahwa abahku sudah ada di mesjid. Hampir aku lupa bahwa aku akan dijemput, mungkin karena pentolnya nyaman..(hehe..keasyikan..). Kurogoh sakuku dan mengambil uang 3 ribu dan menyerahkannya kepada paman pentol, sambil berkata,

tukar man lah!” (beli ya, Pak), , paman pun menjawab,”ya, jual.” (Ya, saya jual)

(Di ambil dari kisah nyata, seorang pemuda yang sedang berusaha menuntut ilmu disalah satu perguruan tinggi di Banjarbaru….)

***

Dari kisah di atas, ternyata masih banyak masyarakat (khususnya lapisan graceroot…bener ga tulisannya…?) yang belum memahami masalah negeri ini secara benar, bahkan mereka masih berharap dengan DEMOKRASI ini, mereka beranggapan bahwa hukum toghut ini bisa membawa mereka ke arah yang lebih baik. Saya rasa ini adalah PR besar bagi para aktivis dakwah, agar bisa memahamkan masyarakat tentang masalah yang sebenarnya. Jangan menganggap masyarakat kita bagaikan anak TK yang terus di ajari 1+1=2. Masyarakat kita harus mulai kita ajari kuadrat, logaritma dan sejenisnya. Sudah selayaknya para aktivis dakwah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar masyarakat bisa memahami masalah negerinya.

Wallahua’lam

*)Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan pasangan capres dan cawapres. Tulisan ini hanya ingin menggambarkan realita yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dan bisa menjadi cambuk semangat bagi para aktivis dakwah)
Fajar Gemilang
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: