Lakukanlah Revolusi jangan sekedar Reformasi!


Lakukanlah Revolusi jangan sekedar Reformasi!549122094l

Justru tujuanlah yang membedakan setiap gerakan

Maka pernyataan : Revolusi atau reformasi..

adalah sama dengan pernyataan jadi atau tidak jadi!!!

(Rosa Luxemburg)

Reformasi telah gagal!.

Berikut tema besar yang diusung pada aksi damai turun kejalan oleh GEMA Pembebasan PW Kalsel pada hari Selasa,19 Mei 2009 kemarin. Wajar saja demikian mereka mengusungnya. Itu didasarkan fakta yang ada, dengan melihat secara konkrit dan obyektif hasil reformasi sebelas tahun terakhir ini (Mei 1998- Mei 2009). Dan apa saja yang terjadi sejak Presiden soeharto di tumbangkan hingga kini. Yang terlihat sekarang capaian-capaian ekonomi, sosial politik, pertahanan dan keamanan selalu dilaporkan serba meningkat dan maju oleh pemerintah. Namun benarkan demikian?

Padahal fakta yang berlaku sebenarnya justru terbalik 180 derajat. Kemajuan ekonomi yang selalu dilaporkan pemerintah membaik, padahal yang terjadi kini bangsa Indonesia justru mengalami puncak krisis ekonomi. Angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat. Harga-harga kebutuhan pokok terus melejit tak terkendali. Bahkan sekarang, membeli barang-barang sembako (sembilan bahan pokok) rumah tangga saja layaknya membali barang mewah. Belum lagi pemandangan antre minyak goreng, minyak tanah, dan beras yang mewarnai sudut-sudut kota di Indonesia sekarang ini. Inikah hasil reformasi? Yang ada suasana yang terjadi, bagaikan seperti kembali setengah abad lalu di zaman orde lama yang segalanya serba susah.

Prof. Ryas Rasyid yang ikut mendesain birokrasi orde reformasipun turut merasakan kegagalan pemerintah 11 tahun belakangan ini. Ia mengatakan reformasi mengalami distorsi. Reformasi mengalami kerancuan, penyimpangan dan kegagalan dalam berbagai bentuk. Lihat saja, penegakan hukum masih tetap saja terkesan tebang pilih, sektor ekonomi gagal, birokrasi amburadul. Dan menurut Prof Ryas, reformasi ongkosnya terlalu mahal.

Reformasi bisa dimaknai melakukan perbaikan terhadap sistem yang ada. Jadi reformasi itu bisa dianalogikan ibarat menambal ban yang bocor. Menambal ban yang bocor, itu merupakan cara yang benar. Namun sayangnya, kalau yang di tambal adalah ban yang sudah usang dan mudah bolong, maka usaha penambalan tersebut tentunya sia-sia belaka. Yang akhirnya nanti juga akan bocor-bocor terus. Kemudian apakah yang mesti dilakukan juga tambal terus-terusan? Pastinya akan lebih baik yang dilakukan adalah mengganti ban tersebut dengan yang lebih kuat dan bagus.

Begitu pula dengan sistem politik dan sistem pemerintahan sekarang. Diyakini sudah usang dan tidak layak lagi digunakan. Sistem perekonomian yang liberalis-kapitalis, sampai sistem kenegaraan yang sekuralis sekarang hanya menghasilkan keterpurukan yang tiada habis-habisnya. Maka tidak layak pula yang dilakukan adalah reformasi sistem terus-terusan. Karena hasilnya akan sama-sama juga dan mengikuti alur sistem yang memang sudah rusak dari asalnya walaupun sebagus dan secermat apapun kita mereformasinya.

Apa kemudian yang sebaiknya di lakukan untuk memperbaiki keadaan tersebut selain reformasi? Yang semestinya dan seharusnya dilakukan adalah revolusi. Revolusi terhadap sistem, maksudnya mengganti secara keseutuhan sistem yang rusak tersebut dan menggantinya dengan yang lebih baik dan proporsional. Sama seperti mengganti ban yang usang dari pada menambalnya, maka revolusi adalah jalan yang benar dan tepat.

Arbi sanit, pengamat politik Universitas Indonesia juga berpendapat hal yang sama. Menurutnya reformasi tak akan menghasilkan apa-apa jika pondasi sistem kenegaraan kita tidak berubah. Jadi harus ada perubahan yang mendasar dan menyeluruh dalam sistem kenegaraan kita. Jadi perlu sebuah revolusi damai. Dan itu jika kita ingin perubahan. Dan pastinya, kita ingin perubahan kearah yang lebih baik bukan?

Ada pula yang berpendapat lain dan sedikit tidak setuju dengan ide revolusi. Mereka berpendapat asalkan pemimpin negri ini berkualitas maka negri ini akan pula bangkit dan maju. Menurut mereka yang memiliki pemikiran demikian, kemajuan dan keberhasilan Negara ditentukan oleh kinerja pemimpin yang menjalankan tugasnya baik-atau tidak. Dan benar pulakah pemikiran demikian? Mungkin masuk diakal, seorang pemimpin yang berkualitas akan pula menghasilkan atau membuat Negara yang dipimpinnya maju dan berkembang baik. Saya tidak mengatakan bahwa pemimpin dinegri ini tidak berkualitas bukan?

Seorang kawan pernah membuat analogi lain untuk membantah pendapat tersebut. Ujarnya : “coba bayangkan apabila seorang supir mobil butut mengendarai mobilnya sepanjang perjalanan dan mogok. Lalu kemudian, posisinya digantikan dengan supir yang handal sehebat Mc.Schumacer sang juara dunia F1, apakah bisa dipastikan mobil tidak akan mogok lagi? Ya tentu saja akan mogok lagi. Mau tidak mau yang salah itu mobilnya, bukan supirnya. Sama seperti sistem bobrok sekarang. Yang salah itu bukan presiden yang kita cari terus menerus melalui pemilu, tapi sekali lagi sistemnya!” . Dan menurut saya, pendapat kawan saya tersebut lebih masuk logika. Mau tidak mau seorang kepala pemerintahan juga tetap akan memainkan skernario pementasan yang dipatok di sistem yang dia jalankan. Layaknya seorang aktor, sebaik apapun kenyataannya dia, namun apabila harus memerankan peran jahat dia harus beraksi layaknya penjahat.

Masalah di negri ini sudah semakin banyak dan di berbagai bidang. Entah di sektor pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan. Lantas, untuk mengentaskan berbagai masalah tersebut, apakah kita mesti membereskannya satu persatu? Reformasi sistem pendidikan, reformasi sistem perekonomian, dan lain lain. Apabila langkah tersebut yang dilaksanakan, maka masalah akan selesai dalam waktu yang lama. Tak lain karena masalah-masalah tersebut hanya cabang, atau bahkan ranting-ranting masalah yang dihasilkan dari pohon sistem yang sudah rapuh.

Kemudian untuk menyelesaikan masalah besar tersebut sebaiknya selesaikan akar permaslahannya terlebih dahulu. Yaitu sistem yang rapuh dan tak layak guna. Sebagaimana pohon jeruk yang penuh duri dan menyakitkan orang yang melewatinya, apakah kita potong satu persatu duri di pohon tersebut? Yang pasti, duri itu akan muncul kembali lagi. Jadi, tentu saja yang lebih tepat dilakukan adalah mengganti secara keseluruhan pohon tersebut sampai keakarnya. Dengan pohon yang lebih berguna dan lebih baik.

Ganti dengan apa?

Perubahan Indonesia tak cukup hanya dengan perubahan rezim dan penguasa. Sudah enam kali terjadi perubahan rezim pasca kemerdekaan Indonesia. Namun para penguasa tersebut tidak berhasil pula membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Maka revolusi sudah sepantasnya bahkan memang harus di lakukan untuk mengganti sistem yang ada sekarang.

Sistem sosialis-kominis pernah diterapkan di rezim soekarno selama Orde lama, dan gagal. Selanjutnya pada Orde Baru, Soeharto melaksanakan sistem kapitalis sekuler, dan juga gagal. Empat presiden sesudahnya pun (B.J. Habibie, Gusdur, Megawati, SBY), melanjutkan sistem Soeharto tersebut dengan berbagai reformasi dan modofikasi, namun tidak juga berhasil.

Maka agar kesalahan tidak terulang lagi, pilihan berikutnya ialah kembali pada sistem Islam. Yang pernah diterapkan selama lebih 13 abad (622-1924M) dan memberikan kesejahteraan. Namun, runtuh pada tahun 1924 oleh tangan-tangan penghianat agen barat.

Meyakini sistem yang datang dari Yang Maha Baik akan menghasilkan masyarakat dan Negara yang baik. Dengan sistem/aturan islam Indonesia akan menjadi negri yang di gambarlkan sebagai : Baldatun toyyibatun wa rabbun ghoffur.

Apakah hukum (sistem) jahiliyah yang kalian inginkan. Maka hukum (sistem) manakah yang lebih baik daripada hukum (stisem) dari Allah bagi mereka yang meyakini” (TQS. Al Maidah 50)

Maka marilah melakukan revolusi. Karena solusi sistem yang pasti telah disiapkan. Mari segera bangkit dari keterpurukan! Reformasi telah gagal, Saatnya Revolusi Islam!(akb)

Iklan
    • akal pikiran
    • Mei 11th, 2010

    wah kangen dengan denga aksi t5ahun kemaren, apakah tahun ini akan terulang kembali……………………?????????????

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: