Jakarta,Kota Metropolitan yang Menangis


jakarta2Jakarta yang dikenal sebagai kota di indonesia yang memiliki kemajuan tekhnologi,dinamika ekonomi,politik paling besar ternyata juga memiliki banyak sisi menyedihkan. Lihat saja,dibalik gedung-gedung tinggi yang menjulang tinggi ke langit atau jalan layang yang begitu banyaknya ternyata kemiskinan juga tidak kalah banyaknya. Para pengemis dan peminta-minta di perempatan jalan,lampu merah,tempat-tempat makan dan lain-lain juga sangat banyak. Khususnya sebuah pemandangan menyedihkan yang tidak ada di kota asal penulis, yaitu pemukiman kumuh yang sangat banyak dan sering ditemukan di bawah jalan-jalan layang atau di pinggiran pusat kota. Pengalaman berkunjung ke Jakarta ini membuat penulis mendapatkan lebih banyak gambaran kehidupan mengenai betapa menyedihkannya kondisi manusia sekarang khususnya Indonesia. Aneh memang, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam ternyata kondisi masyarakatnya sangat menyedihkan seperti ini. Indonesia yang memiliki tambang emas yang sangat besar di Irian Jaya sana, batu bara di Kalimantan, dls ternyata masih sangat kesulitan untuk menciptakan sebuah kesejahteraan baik itu dari sisi politik, budaya, sosial dan khususnya ekonomi  bagi masyarakatnya.

Itu baru dari segi ekonomi dimana banyak sekali kecacatan yang ada dan memang tidak bisa kita pungkiri bahwa orang kaya dan orang miskin terlihat sekali bedanya bagaikan gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan tanah yang berada di bawahnya. Lain lagi dengan segi pergaulannya, ternyata pergaulan di kota-kota besar dan metropolitan lebih parah “rusak” nya dibandingkan misalnya dengan kota tempat penulis berasal. Memang penulis pernah mendengar bahwa pergaulan di kota-kota metropolitan itu lebih parah daripada kota-kota lain pada umumnya. Namun, setelah pergi dan melihat realita yang ada di salah satu kota metropolitan seperti di Jakarta bahkan mungkin kota metropolitan lainnya, maka penulis pun semakin percaya dengan apa yang pernah diberitakan oleh orang-orang di sekitar penulis. Mengerikan memang bagaimana pergaulan yang ada di sana, seolah-olah tidak ada batasan lagi antara laki-laki dan perempuan. Lihat saja, di tempat-tempat umum sekalipun tindakan yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang suami-istri pun wajar dilakukan oleh sepasang muda-mudi yang tidak jelas statusnya. Anehnya yang membuat penulis terkejut adalah ketika melihat orang-orang di sekitarnya yang seolah-olah biasa saja melihat hal tersebut dan tidak ada satu pun yang menegur mereka. Ini lebih parah daripada di kota tempat penulis berasal dimana apabila hal serupa terjadi setidaknya masih ada yang menegurnya. Sungguh menyedihkan hal seperti ini.

Yah, itu tadi hanyalah sedikit realita rusaknya kehidupan kita saat ini dimana kerusakan akhlak, kemiskinan, kerusakan pemikiran dapat kita lihat secara nyata bahkan sangat dekat dengan kita. Yah, kita semua sebenanya adalah korban dari gagalnya atuiran kehidupan sekarang untuk melaksanakan tugasnya dengan benar. Akhlak yang bobrok, kemiskinan, kesejahteraan semu, pendidikan yang mahal, dll adalah dampak dari aturan yang “rusak” ini. Karena aturan kehidupan yang  memberikan suguhan berupa budaya-budaya, film, gambar, cerita, pemahaman, pornographi dan pornoaksi, dls justru semakin memberikan jalan bagi terciptanya sebuah ketidakseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Memang adalah satu hal yang wajar apabila dalam kehidupan masyarakat itu terdapat sebuah aturan yang tujuannya untuk mengatur kehidupan masyarakat itu sendiri. Disamping sebagai sebuah peraturan, juga sebagai acuan bagi masyarakat itu sendiri untuk membentuk kerangka berpikirnya. Aturan berasal dari sebuah fikrah ( pemikiran ) yang melahirkan berbagai macam persepsi dan paradigma yang berbeda-beda untuk berbagai macam hal. Pemikiran ini nantinya akan menentukan bagaimana pola sikap, metode untuk menghadapi suatu masalah, bertindak, dan tujuannya. Nyatanya memang tiap metode ( thariqah ) itu tercermin dari seperti apa pemikirannya ( fikrah ).

Nah, masalahnya sekarang adalah pemikiran, metode serta aturan apa yang dipakai oleh masyarakat baik dalam tataran individu maupun kelompok untuk mengarungi kehidupannya. Ketiga hal itu tadi akan menentukan bagaimana respon masyarakat dalam menghadapi berbagai macam masalah yang berdatangan dari berbagai aspek.

Apabila kita bercermin pada realitas yang ada, masyarakat sekarang memang sudah memiliki suatu pemikiran, metode serta aturan dalam kehidupannya. Namun, sayangnya aturan kehidupan tersebut belum mampu memenuhi tugasnya sebagai pengatur dalam kehidupan manusia dan pemberi solusi untuk semua masalah manusia. Hal ini bisa kita lihat faktanya apabila kita mau menyadari bahwa keadaan kehidupan manusia sekarang sudah dipenuhi dengan berbagai macam masalah yang tidak ada habisnya. Berbagai macam aspek mendapat efek dari gagalnya aturan kehidupan manusia sekarang untuk mengatur masyarakat misalnya aspek politik.

Politik sekarang sudah sangat jauh dari hakikatnya sebagai aktifitas politik itu sendiri. Politik sebenarnya adalah sebuah aktifitas untuk mengurusi masyarakat dan tujuannya adalah untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, di zaman sekarang politik justru menjadi suatu alat yang digunakan untuk memperoleh jabatan serta kekayaan semata. Alasan berpolitik itu pun berdasarkan pada alasan materi dan asas manfaat saja tanpa ada kesadaran dari mereka-mereka ( para pelaku politik ) bahwa apa yang mereka emban adalah sebuah amanah. Sungguh menyedihkan!

Lain lagi bila kita lihat dari aspek ekonomi. Aturan hidup sekarang justru semakin membuat selisih antara yang kaya dengan yang miskin semakin jauh, artinya yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Aturan ekonomi yang ada mengatur bahwa yang berhak mendapat kesejahteraan dan kekayaan hanya lah orang-orang yang mempunyai pekerjaan dengan jabatan tinggi. Di Indonesia pun yang sebenarnya sangat kaya dengan sumber daya alamnya justru menjadi negeri yang tingkat kemiskinannya sangat tinggi, keadaan yang sangat aneh sekali untuk negeri yang mempunyai sumber daya alam sebanyak ini. Masalahnya adalah sumber daya alam yang ada ini dikelola oleh swasta dan hasil dari eksploitasi sumber daya alam tersebut lebih banyak masuk kas perusahaan swasta yang mengelola daripada kepada pemerintah. Faktanya, pembagian hasil dari PT. Freeport adalah 90 % untuk perusahaan swasta tersebut dan 10 % untuk Indonesia. Ditambah lagi yang menanggung biaya produksi, kerusakan alat-alat produksi, dls adalah Indonesia. Aneh sekali, pemilik sumber daya alam yang ada justru yang paling sedikit mendapat keuntungan.

Memang pemerintah juga mendapat penghasilan dari sumber lain seperti pajak, pengelolaan SDA yang lain, ekspor, dls. Namun, sayangnya distribusi hasilnya tidak merata ke seluruh masyarakat. Bahkan ada yang “tersangkut” di kantong orang-orang tertentu saja. Jadilah ada yang kaya dan yang miskin, salah satu contohnya bisa kita lihat di kota Jakarta. Bagaimana kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin semakin jauh layaknya gedung pencakar langit dengan tanahnya.

Itu tadi hanyalah contoh kecil dari dampak akan gagalnya aturan kehidupan manusia untuk mengatur kehidupan dan memberikan solusi bagi masalah-masalah dalam kehidupan manusia. Segala aspek kehidupan manusia pasti akan terkena dampak akan gagalnya aturan kehidupan manusia tersebut. Sudah jelas dan banyak sekali fakta yang membuktikan bahwa aturan hidup sekarang telah gagal melaksanakan tugasnya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita tetap mengambil aturan kehidupan yang tidak sempurna ini sebagai aturan hidup? Apakah kita ingin menjadi orang yang terjebak kepada lubang yang sama dua kali? Apabila aturan ini tetap dipertahankan maka  Jakarta akan selalu penuh dengan tangisan dan akan diikuti dengan tangisan kota-kota lainnya. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya kita lah yang akan menangis bersama dengan kota-kota itu tadi. Berpikirlah kawan..

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: