Beginilah jalan dakwah mengajarkan kepada kami apa arti sebuah kematian dalam perjuangan


Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. (QS at-Taubah [9]: 111).

Ayat ini turun kepada Rasulullah saw. pada saat baiat Aqabah II. Saat itu 70 orang Anshar berkumpul di sekitar Rasul. Abdullah bin Rawahah ketika itu berkata kepada beliau, “Silakan engkau meminta syarat apa saja untuk Tuhanmu dan dirimu.”
Nabi saw. lalu bersabda, “Untuk Tuhanku, aku meminta syarat agar kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Untuk diriku. aku meminta syarat agar kalian menjaga diriku sebagaimana kalian menjaga diri dan harta kalian.”
Orang-orang Anshar bertanya, “Jika kami melakukannya, apa balasannya?”
Rasul menjawab, “Surga..
Mendengar itu, mereka berkata, “Sungguh, ini adalah perniagaan yang sangat menguntungkan! Kami tidak akan tingga! diam dan membatalkan jual-beli ini.”
Kemudian turunlah ayat di atas. (Ath-Thabari, 1405: XI/36).

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang (jujur) menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur (syahid). Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya). (Qs. 33:23)

masih teringat ana dengan saudara seperjungan yang telah melakukan perniagaan dengan Allah yakni menjual dirinya kepadaNya. tak terasa air mata mengalir di pipi jika mengingat mereka, bukan karena sedih, namun karena merindukan juga akan hal itu. merindukan kesyahidan dalam perjuangan ini.

masih ingatkah kita akan Ukhti “Masmu’ah” pada saat mengemban amanah untuk kebutuhan KKI. Sekitar jam 19.30, terjadi kecelakaan yang menimpa almarhumah, ketika perjalanan pulang seusai menyelesaikan amanahnya. Almarhumah saat itu terpilih menjadi tim medis bagi rombongan peserta KKI Pasuruan.

Subhanallah… pengabdian dan perhatiannya begitu besar terhadap dakwah. Hari-hari semasa hidupnya dipenuhi dengan amal kebaikan dan perjuangan demi tegaknya Syariah dan Khilafah. Bahkan sebelum kepergiannya, almarhumah berada dalam kebaikan amal dari pagi hingga malam. Sehabis isya’ menjelang kepergiannya, almarhumah mempersiapkan keperluan medis utk perjalanan KKI, juga menyiapkan kebutuhan orangtua selama ditinggal KKI, juga sempat mengambil ArRoya dan AlLiwa utk KKI, dan Subhanallah… akhirnya beliau meninggal dengan indah karena bendera ArRoya menyelimuti tubuhnya tepat saat terjadi kecelakaan tersebut.

Orang-orang yang lewatpun memandang dengan takjub dengan kejadian tersebut. Mereka yakin bahwa Ukhti Masmu’ah telah syahid, karena dua kalimat toyyibah telah mendekap jasadnya. Sungguh, kami iri dengan kebaikan amal perjuangannya, sehingga Allah memanggilnya dalam keadaan yang mulia. Selamat jalan duhai ukhti…engkau telah berjuang utk menyambut Bisyaroh dari Rasul. saw; “Khilafah Rosyidah Kedua”.

masih ingatkah kita dengan Baghdady ? Sosok muda yang sholeh, santun dan berakhlaq menawan ini, sempat dekat dengan jamaah Salafiyah di Pekanbaru. Namun tidak berapa lama dia bergabung dengan jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin). Rupanya anak muda ini begitu aktif dan terus mencari dan mencari. Setelah lama bergelut dengan Ikhwanul Muslimin, akhirnya tahun 2001 dia bertemu dengan para aktifis Hizbut Tahrir. Mulailah dia mengikuti kajian-kajian umum, membaca buletin Al-Islam dan jurnal Al-Wa’ie. Pertama-tama dia dibina oleh Ustadz Jabir Ardiansyah, MAg. Tidak lama kemudian diapun ikut kajian intensif sebagai daris dibina oleh Ustadz Muhammadun dan Ustadz Muhammad Farhan, hingga tahun 2003, Pemuda yang rajin shalat tahajjud dan jarang meninggalkan shaum senin kamis ini memutuskan bergabung menjadi anggota Hizbut tahrir. Ternyata dia merasa puas. “Inilah harokah yang benar-benar sesuai dengan garis perjuangan Rasulullah, …” inilah pernyataan dia berkali-kali pada penulis dan teman-temannya. Hatinya merasa tenang, akalnya terpuaskan. Api semangat dakwah pada suami Amirah Nur Azizah ini semakin menyala-nyala. Puluhan pemuda dia rekrut. Hari-harinya hanya sibuk dengan dakwah dan perjuangan Islam. Bahkan tak jarang dia kurang perhatian terhadap kesehatannya. Dia yakin betul Daulah Khilafah akan segera tegak. Ketia saya sodorkan hasil analisa NIC, tentang scenario dunia tahun 2020, pejuang muda yang juga ketua umum Gerakan Mahasiswa Pembebasan Riau dengan penuh keyakinan menjawab, “ Pertolongan Allah sudah dekat Ustadz, …Allahu Akbar, ana yakin sebelum 2020 Khilafah Islamiyah sudah tegak”.

Aktifitas yang sangat mencengangkan para mahasiswa di Pekanbaru adalah dakwah keliling secara terbuka dengan mengibar-ngibarkan Arroya dan Al-Liwa. Dengan mengajak 8 orang teman-nya menggunakan sepeda motor hampir tiap hari sabtu, para aktifis muda ini berkeliling kampus IAIN, UNRI dan UIR. Kamudian mereka duduk melingkar, saling bertausiyah, bendera-bendera itupun mereka tancapkan mengelilingi halaqah terbuka mereka.

Cita-cita utama baghdady adalah tegaknya syari’ah dan Khilafah. Bagi dia solusi ini tidak bias ditawar-tawar. Darah dangingnya telah menyatu dengan tujuan mulia ini. Segala potensi dia kerahkan untuk perjuangan ini.

Namun, Allah mungkin begitu menyayangi sang pejuang Khilafah ini. Disaat semangatnya berada di Puncak. Setelah letih mengisi daurah, menyiapkan Acara Seminar Khilafah di Masjid Agung tanggal 27 maret 2005,dll. Ditengah-tengah perbincangan bersama teman-temannya tentang perjuangan umat Islam, Allah SWT memanggilnya. Jam 21.45 hari Sabtu tanggal 26 Maret 2005. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Semua tersentak, anak-anak, jamaah ibu-ibu di beberapa masjid di Pekanbaru menangis, tokoh-tokoh Islam yang sering almarhum kontak pun terisak. Umat telah kehilangan salah seorang pejuang terbaiknya.

Beberapa keajaiban dapat disaksikan oleh beberapa orang pada jasad almarhum. Saya merasakan bau bunga yang sangat harum, di bekas tempat dia ditidurkan. Jamaah masjid Firdaus malihat muka almarhum begtu bercahaya, dan begitu ringan jasadnya. Selanjutnya almarhum dimakamkan di Kompleks Pemakaman Syekh Abdul Wahab Rokan, Langkat, Sumatera utara.

Semoga Allah SWT menempatkan Almarhum sejajar dengan para syuhada, sholihin dan shiddiqien. Dan semoga Allah menggantikannya dengan para pejuang lain. Amin.

Mereka adalah sedikit diantara pejuang khilafah dan syariah yang telah memenuhi janji kepada TuhanNya akan keikhlasan dalam berjuang demi kemuliaan ini.
tidakkah kita hanya menjadi penonton saja?
tidakkah kita ingin menjadi bagian dalam perjuangan ini?
apa yang kita cari? uang? harta? wanita? atau tahta?
ingatlah kematian akan selalu menyertai kita, dimanapun kita berada.
tidakkah kita ingin kematian yang mulia?
bukan kematian pada saat bermaksiat kepada Allah? na’udzubillahi mindzalik
namun kematian pada saat memperjuangkan hukum-hukumnya…

saudaraku, kita hanya mampir sejenak di bumi ini.
kematian adalah hal yang pasti dan tidak bisa ditunda ataupun dimajukan.

…Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak bisa meminta ditunda sesaatpun, dan tidak bisa (pula) meminta dimajukan” (Al-A’raf:34)

Saudaramu,

Adi Victoria

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: