Independence Day


Independence Day

Tiba sudah bulan Agustus. Bulan yang dimana kawan gue si Agus muncul ke muka bumi setelah di pendam emaknya selama 9 bulan lebih.  Dibulan ini si Agus pasti lagi hepi senyum sumingrah. Soalnya kalau enggak baju baru, pasti hadiah kejutan akan di berikan si emak buat anak tersayangnya itu. Yang bertambah umur diikuti oleh meningkatnya prestasi akademiknya di sekolah. cihuy!

Tapi, kalau lagi jalan-jalan dibulan lahirnya si Agus, bukan hanya dia saja yang lagi hepi. Karena entah kenapa rakyat negri ini juga jadi ikutan hepi menyambut bulan agustus ini. Lihat aja sekeliling, pasti mata kita akan sering melihat dua warna yang kontras dimana-mana. Kalau tidak merah, ya.. warna putih. Warna bendera negri ini yang dipasang diseluruh jalanan, pohon, hinga gapura-gapura komplek perumahan yan membuat semarak. Spesial lagi pas tangal 17-nya. Konon itu adalah tanggal yang tepat dengan tanggal dimana Indonesia memploklamirkan diri dan mengaku merdeka dari penjajahan.

Dan kalau ingat tangal 17 agustus , gue jadi ingat zaman masih SMA dulu…

Saat dimana seluruh siswa sekolah diwajibkan masuk sekolah ditanggal merah, hanya sekedar berdiri tegak dilapangan. Saat itu, penaikan bendera di hari kemerdekaan pun di langsungkan, lapangan yang biasannya di gunakan kawan-kawan ku main basket kini menjadi tempat berdiri tegaknya ratusan orang. Kelompok paduan suarapun bernyanyi dengan riangnya. Sementara, di tengah lapangan ratusan orang tadi bercucuran keringat karena kepanasan. Ketika, seluruh tangan terangkat untuk menghormati selembar kain yang naik menuju ujung tiang yang tinggi, gue dengan indahnya masih ngupil dan cekikikan dengan kawan-kawan.

Pidato yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu itu pun di bacakan dengan semangat yang membara, hingga mendengung di speaker yang mungil. Sama halnya dengan di film-film
dahulu yang sering di siarkan di televisi menyambut hari kemerdekaan negara
ini, film-film diorama peperangan. Yang menggambarkan peluru bersliweran kesanakemari “tratat! Tratat! Bum!!!” di lukiskan pemuda-pemudi berlarian bertelanjang kaki memanggul
senapan dan bambu runcing, yang dengan ikhlasnya berjuang. Atau menyerahkan kambing kesayangannya demi perjuangan membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Akhirnya gue menyadari betapa bahwa gue sudah tidak nasionalis lagi. Walaupun dahulu gue adalah orang yang nasionalis, kini rasa itu telah lenyap termakan oleh waktu.
Dan gue sangat berharap, gue tidak menjadi seorang yang nasionalis kembali. Najis!

“???”

Woi! Woi! Jangan monyong dulu begitu dong… Meskipun tidak berjiwa nasionalis, gue orangnya baik loh! Gue orangnya gak tegaan membunuh sesekor nyamuk dengan pukulan mematikan, tetapi lebih suka dengan baygon. (he..he..?? garing euy!)

Okey..okey.. mari sini berkumpul, gue akan memberikan penjelasan. Seperti halnya Mush’ab bin Umair saat membawa misi dakwah dari Rasulullah. Dan dengan gagahnya gue akan berucap :

“apabila kalian menganggap, bahwa apa yang akan saya utarakan ini baik untuk kesehatan pikiran, maka silahkan di terima. Dan bila, apa yang saya sampaikan ini buruk, maka kalian boleh ,meninggalkan saya.”

Setuju??

Ya..ya.. yang pertama-tama, kalian mungkin heran mengapa gw dan kawan-kawan tidak ingin hormat terhadap bendera…

Ehmm..Coba kalian pikirkan kemerdekaan yang di peroleh Indonesia ini, apakah karena selembar bendera merah putih itu? Tentu tidak kan? Maka Dari itu buat apa kita
menghormatinya begitu khusyuk? Sehingga kita terlalu mensakralkannya. Bahkan gue
ingat,suatu ketika pernah gue menjatuhkan benda itu sampai-sampai gue di hukum
push-up!. Atau sering kita lihat banyak atlit atau pejabat yang di lantik dengan mencium bendera merah putih, yang ketika menciumnya lebih meresapi ketimbang mencium Al-qur’an atau tangan kedua orangtua kita. Jadi apa bedanya sikap kita itu dengan dinamisme???!!!

“tetapi, tidak menghormati bendera, sama saja tidak menghargai perjuangan para pejuang dahulu!!” seseorang mas-mas bertopi paskibra menyeletuk.

Okey..okey..
Namun, apakah dengan cara menghormati bendera itu kita bisa menghargai perjuangan para pendahulu kita dahulu? Tentu tidak bukan? kalau Cuma hormat terus-terusan sampe 3 hari3 malam juga gak bakal bisa bikin maslah Indonesia selesai. Yang ada juga kita malahan tambah masalah karena musti ngurut tangan ke tukang pijit.

Cara kita menanggapi kemerdekaan ini, seharusnya ya dengan cara mensyukurinya. Karena sebenarnya yang membuat Negara ini merdeka adalah pertolongan dari Sang penguasa Alam semesta ini, Allah SWT. Coba di ingat, (dengan tanpa merendahkan perjuangan para pejuang dahulu) apakah perjuangan mereka dahulu berhasil dalam mengusir penjajah dari negri ini? Kalau sesuai sejarah yang pernah gue baca, yang mengusir belanda sang penjajah kita dahulu dari Indonesia adalah Jepang.

Kemudian Indonesia di tinggal kembali oleh jepang pulang kampung ke Jepang lagi, karena Amerika mengacak-acak negri matahari dengan bom atomnya. Lalu pada saat setelah itu lah di Indonesia terkondisi dalam keadaan ‘vacuum of power’. Kemudian tanpa tunggu lama-lama lagi para pemuda berhasil memproklamasikan Indonesia untuk merdeka.

Jadi sekali lagi semua ini karena rahmat dari Allah. Sehingga penjajah itu ngacir sendiri dari Negara ini..

Dan, tidak salah pula kalau gue tidak ingin mensakralkan benda atau bendera, atau apalah namanya, selain dari Sang Pencipta kita?

“lalu, kenapa kamu nggak mau menjadi orang yang nasionalis!!??” sekarang cewek mancung berpita merah putih dirambutnya membentak gue.

ha..ha.. itu karena gue memandang ikatan nasionalisme adalah ikatan yang rusak tauk!!

Seorang syeikh Taqiyuddin an Nabhani, menulis dalam kitabnya ‘Nizhom al Islam” (peraturan hidup dalam islam) hal 34-35, bahwa ikatan nasionalisme itu;

Pertama, mutu ikatannya rendah,sehingga tidak mampu mengikat antara manusia yang satu dengan yang lainnya untuk menuju kebangkitan dan kemajuan.

Kalian tauk, gara-gara paham nasionalisme lah, kita jadi mengabaikan sodara-sodara kita yang seiman di Palestina, Irak, Cina, Ukbekistan, dan lain sebagainya. yang di permalukan, di bantai, dan diperkosa, oleh kafir-kafir yang menjajah negara mereka. Hanya karena kita dengan entengnnya beralasan, masalah negara lain bukan masalah negara kita.

Selain itu terbukti nasionalisme,tidak bisa membuat penganutnya menuju kebangkitan.
Dengan contoh, Indonesia yang sudah bebas dari penjajahan fisik, kini masih terjajah di bidang-bidang yang lain secara pemikiran. Seperti bidang pendidikan, militer, politik, ekonomi, sosial-budaya.

Kedua, ikatan nasionalisme bersifat temporal dan emosional.

Ketika piala Sudirman berlangsung kemarin, mungkin rasa nasionalisme seluruh rakyat Indonesiaini bangkit kembali. Ketika Indonesia bersitegang dengan Malaysia, maka memanaslah rasa nasionalisme di dada kita. Ketika RMS,GAM,Papua Merdeka, mencoba melepaskan diri dari negri inipun, membaralah rasa nasionalisme di dalam sanubari rakyat Indonesia.

Namun setelah Indonesia aman, tentram, tidak terguncang, maka rasa ikatan yang rusak itu menjadi pudar dan hilang. Karena emosi kita tidak mencuat kembali. Jadi rasa nasionalisme itu cuma hangat-hangat tai ayam..

Atau kita lihat kemarin, ketika Aceh di terjang tsunami, maka rakyat papua yang jauh dari aceh ikut jua bersedih, ikut juga mengirimkan bantuan. Sedangkan singapura yang jaraknya sangat dekat dengan aceh, tidak terlalu pusing memikirkannya. Itu di sebabkan, seluruh pengikut paham nasionalisme, selalu berpresepsi; urusan negara lain bukan urusannya, manusia di negara lain bukan saudaranya. Padahal ujar Rasulullah, walaupun orang itu berkulit hitam, putih, kuning, kuning langsat, ras melayu, ras negro, ras Indian, itu tidak masalah. Yang penting asal dia islam, maka dia itu adalah saudara kita.

Gue jadi ingat, ketika di masa Mu’tasim Billah menjabat sebagai khalifah, dan ketika itu, ada sebuah kabar mengenai seorang muslimah yang di zhalimi. Di katakan bahwa mulimah tersebut di tarik kerudungnya oleh penduduk amuriyah dan di perkosa kehormatannya..

Mendengar pelecehan tersebut, Khalifah Mu’tasim Billah lalu mengirimkan suratyang mengancam akan mengirimkan pasukan yang kepalanya ada di Amuriyah, sedangkan ekornya ada di Baghdad. Ancaman itupun di buktikan!. Muslimah yang di zhalimi di bebaskan, dan amuriyah pun di tundukan dalam keKhilafahan islam!.

Untuk menjaga kehormatan seorang muslimah saja khalifah mengomandoi penyerangan yang besar seperti itu. Sedangkan sekarang, apa yang bisa di lakukan oleh penguasa negri-negri muslim ketika jutaan rakyat berteriak terzhalimi?

Sekali lagi itu karena paham nasionalisme yang membuat umat muslim di seluruh dunia tidak bersatu kembali.

Paham nasionalisme tidak hanya merugikan umat islam, tetapi paham nasionalisme juga merugikan bagi umat manusia. Nasionalisme adalah paham chauvinistic terselubung, yang secara gamblang, di pertontonkan oleh negara fasis : jerman, jepang, Italia, pada perang dunia ke-II.

“Interupsi! tapi, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang bermartabat kan ??”

“bermartabat embahmu!!”

Dalam kemartabatan atau dalam martabak telor pun! Tidak ada negara bangsa yang mau pemerataan sumber daya alam. Dengan kemartabatannya, Negara miskin seperti Ethopia, Zimbawe, tetaplah miskin. Sedangkan Negara kaya sumber daya alam seperti Brunei tetap makmur sejahtera.

Dimana letak nasionalisme yang bermartabat, ketika paham tersebut membuat tidak meratanya pembagian distribusi kekayaan alam yang merata?. Padahal tidak ada seorang pun yang ingin hidup dan dapat memilih ingin di lahirkan di negara yang memiliki SDA miskin atau SDA kaya. Padahal kalau paham nasionalisme ini masih terus-terusan, maka negara miskin tidak akan bisa sekalipun makmur karena mereka tidak kebagian SDA yang sebenarnya di berikan Allah untuk seluruh menusia. Bagi gue nasionalisme bukan ide yang fair!

Yep!
Semoga dari penjelasan yang panjang dan rumit ini, kalian yang membaca sudah mendapatkan pencerahan seperti halnya Saad bin Muadz ketika mendapatkan pencerahan oleh Mus’ab bin Umair di kebun kurma.

Terakhir silahkan memilih, setiap pilihan tentu akan ada pertanggung jawabannya nanti. Kalau saya tetap pada konsekuensi saya. Dan demi Allah saya siap mempertahankannya!. Amin. (penghianatyangdiburu & thanks to DivanSemesta)

“Ya Allah, saksikanlah hambamu yang hina ini telah menyampaikannya”

  1. keren

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: