Tobatnya seorang Nasionalis


Tobatnya seorang Nasionalis

17374389017526m

Sedikit curhatan aja nih..

Entah kenapa aku merasakan dosa yang teramat sangat apabila hari-hari sekarang semakin mendekati perayaan kemerdekaan RI 17 agustusan. Pikiran menjadi mengawang-awang mengingat 3 tahun silam dimana aku sedang merasakan kegundahan luar biasa menjadi seorang anggota Paskibraka tingkat kotamadya.

Tak kepalang tanggung, saat itu aku terpilih langsung menjadi komandan pasukan inti pengibar bendera, sekaligus menjadi pembentang si merah putih itu di depan tiang putih yang tinggi. Sebuah posisi yang diidamkan seluruh teman-teman sepasukanku, terutama laki-lakinya. Namun, aku merasa risih dengan posisi itu, karena aku sudah mengenal islam yang ternyata menentang  keras ashobiyah (fanatisme golongan).

Cerita bermula ketika masuk di SMA, dan berniat memilih ektrakulikuler yang di minatkan. Aku yang belum tahu apa-apa kepalang terkesima dengan penampilan para paskibra yang pernah beratraksi pada saat aku mengikuti MOS diawal masuk SMA. Maka kuikutilah ekskul paskibra itu dengan harapan bisa berpenampilan gagah dengan bajunya yang norak, dan berjalan tegap bersama serentak.

Kemudian akhirnya  akupun lulus seleksi menjadi paskibraka pada saat 17 agustusan di sekolah. Latihan setiap hari pulang sekolah hingga menjelang mahrib dilaksanakan. Bahkan hampir membuat kami melewatkan begitu saja salat ashar yang wajib. Dengan pengembelangan yang begitu intensif, maka tak ayal terbentuk lah jiwa ku menjadi jiwa nasionalis yang tulen.

Di lain waktu, aku juga menyempatkan diri mengikuti KSI, sebuah organisasi islami siswa yang memberkan pemahaman islam yang kaffah, dan tidak setengah-setangah. Namun, aku mulai melihat ada sedikit perbedaan yang kontras antara KSI dengan Paskibra, terutama dalam pemahaman soal ikatan persatuan.

Hal itu semula tidak begitu tergubris dalam otak ku. Namun, semakin lama pemikiran logis ku cenderung berpihak pada islam yang mengajarkan bahwa dengan nasionalismelah, umat islam terkotak-kotak. Dengan ikatan nasionalisme yang rapuh tersebut, saudara seiman kita di negri muslim yang lain di lecehkan namun kita tak mampu membelanya. Padahal terang sekali, rasul Muhammad saw mengajarkan seluruh manusia di dunia ini asalkan dia muslim, maka mereka bersaudara. Dan itu sangat bertentangan dengan ikatan nasionalisme yang ku pegang selama itu, yang mengajarkan antar Negara harus terkotak-kotak, urusan di Negara lain bukan urusan dalam negri yang harus kita turut perhatikan…

Namun, debat pemikiran itu baru terbesit dalam otak ku. Aku masih segan untuk menampakan kegundahan itu. Karena emosional ku masih cenderung pada paskibra.

Apalagi ketika aku terpilih menjadi ketua paskibra di sekolah. Dan disi lain aku juga menjadi Koordinator Syiar dan dakwah di KSI. Batinku yang dahulu tenang tiba-tiba menjadi teguncang. Disatu sisi aku menentang nasionalisme, dan anti mensakralkan bendera. Namun disisi yang lain aku menjadi ketua paskibra yang harus selalu terlihat patriotis.

Hingga puncak masalah adalah saat aku ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti seleksi untuk pemilihan paskibraka tingkat kota, provinsi, dan nasional. Saat itu, semangat pemikiran sedikit berubah. Seleksi yang didukung pula oleh keluarga membuat aku ingin berhasil dalam seleksi tersebut, namun  motivasiku sekedar membahagiakan orang tua saja. Dan untungnya hanya terpilih menjadi paskibra tingkat kota. Tidak lebih dari itu. Karena kalau lebih dari itu, mustahil mungkin pemikiran ideologis islam ku kembali muncul.

Aku selalu berdoa setiap selesai shalat agar apa yang kulakukan ini di ampuni oleh Allah. Karena ku rasakan betul selama sebulan pendidikan paskibraka, aku mendapatkan doktrin-doktrin yang melenceng dari islam. Entah itu doktrin ashobiyah (fanatisme golongan), maupun interaksi antar pria wanita yang dibebaskan. Kami selalu dikelompokan berpasang-pasangan seolah suami istri. Hal itu menjadikan perasaan jijik sekali.

Apalagi saat pengukuhan paskibraka. Saat itu kami di perkenankan bergantian mengucapkan sumpah dan juga mencium bendera. Sumpahnya tak lain adalah membela Negara dengan hidup dan mati. Namun, dari sekian banyak paskibra mungkin hanya aku saja yang tidak mengucapkan sumpah tersebut dan pancasila yang selama ini sudah hampir didewakan bahkan lebih diagungkan dibandingkan AlQur’an. Mencium benderapun tidak sampai tercium. Karena aku tahu betul hal itu bersifat musrik! Menyekutukan Allah. Mensakralkan sesuatu selain Allah. Dan kita tahu, hal tersebut adalah dosa yang sangat besar!. Apakah aku sudi melakukan itu!?

Ada perasan yang sangat berdosa ketika aku membentangkan bendera saat akhirnya upacara dilaksanakan. Aku telah membuat ratusan orang yang hadir menjadi hormat kepada benda mati tersebut! Aku telah membuat seluruh orang mensakralkan seuatu yang tidak pantas dihormati! Astaghfirullah..

Selesai sudah menjadi purna paskibraka, aku pun berniat menjauhkan diri dari hal nasionalis patriotisme. Aku mulai menentang terang-terangan. Lomba-lomba PBB antar sekolah tidak pernah aku ikuti lagi. Hingga upacara-upacara di kantor walikota aku tak pernah berpartisipasi. Sampai seluruh rekan paskibra angkatan ku menyampaikan rasa kekecewaannya, dimana aku yang berperan sebagai danton (komandan pleton) pasukan inti pada saat di pasukan dulu, malah luntur sikap patriotismenya.

Puncaknya adalah saat peringatan 17 agustus tahun berikutnya. kami purna paskibra harus hadir saat upacara kemerdekaan kembali di kantor walikota. Namun, aku malah menghilang begitu saja. Terror sms dan telepon datang bertubi-tubi. Bahkan seluruh pasukan kawan2ku pernah mendatangi kerumahku saat aku tidak ada dirumah. Dan surat-surat ancaman sering pula kuterima. Hingga akhirnya sertifikat ku sebagai paskibraka kota tidak kuterima sampai sekarang karena di sita oleh mereka.

Kusadari ini mungkin adalah ujian sampai mana aku bisa bertahan pada pemahaman ini. Sampai mana aku bisa konsisten memahami dan menyampaikan bahwa pangkalnya umat islam tidak bersatu adalah karena ikatan ashobiyah ini, seperti sukuisme, nasionalisme, patriotisme. Sehingga  umat islam terpecah belah. Mudah dihinakan seperti terjadi diPalestina kemarin saja dimana tidak ada satupun umat islam di negri yang lain mengirimkan tentara muslimnya untuk melawan Israel yang kecil tersebut.

Umat islam rapuh, lumpuh. Padahal umat islam bagaikan satu tubuh yang utuh. Dimana ketika satu organ tubuh merasakan sakit, maka organ yang lannya turut pula merasakan efeknya.

Saatnya kita berhenti dari ketertindasan ini. Saatnya umat islam bersatu, karena bersatunya umat islam lebih dashyat dari nuklir sekalipun!. Saatnya campakkan nasionalisme, sukuisme , dan ikatan golongan kita, dan ganti dengan ukhwah islamiyah yang kokoh. Dan bentuklah payung pelindung umat islam yaitu Daulah Khilafah islamiyah!

Agar islam kembali Berjaya untuk menegakkan aturan Allah swt.

(penghianatyangdiburu)

(Ya Rabb, ampunilah hambamu ini telah menyimpang begitu jauh.. semoga tulisan ini dapat menunjukan kewajiban hambamu untuk menyampaikan yang benar.. saksikanlah ya Allah!)

NB: silahkan baca artikel ‘Independence Day’ agar maksud Tulsan ini dapat lebih mudah dipahami..

Iklan
    • Amad Al-Liwa
    • Desember 8th, 2009

    Ana baca dengan seksama.. dalem dan penuh emosional penulis dalam tulisan ini..

    Yah, moga banyak nasionalis yang terbuka pikirannya seperti sang penulis..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: