Pantaskah…???


Dakwah merupakan denyut nadi Islam karena dengan dakwah itu lah Islam berkembang, dengan dakwah itu Islam dikenal dan tentunya tanpa dakwah itu, Islam akan mati dan menghilang dari dunia ini. Dakwah dilakukan oleh para muslim dan muslimah yang telah menyadari bahwa dakwah adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi seorang umat muslim yang beriman. Seorang pendakwah dituntut untuk menjadi orang yang mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai syariat Islam itu sendiri bahkan mampu menyelesaikan semua permasalahan kehidupan yang ada sesuai tuntunan Al Quran dan Hadits. Tidak lepas dari itu, seorang pendakwah juga harus bisa menjadi sebuah figur dan personal baik dihadapan masyarakat yang mana dia berdakwah di dalamnya. Ia harus memiliki solusi real yang sesuai dengan syariat Islam akan permasalahan yang ada dan berkembang di masyarakat. Dia juga harus mempunyai spirit dan jiwa pejuang Islam sejati yang tidak akan pernah menyerah dalam berdakwah walau kematian yang menantangnya untuk berhenti berdakwah maka pejuang sejati tidak akan pernah berhenti dari dakwah ini. Bahkan walaupun dia digoda oleh harta, tahta dan wanita maka ia tidak akan pernah keluar dari barisan dakwah serta terjerumus kepada hal-hal yang tidak syar’i.

Seorang pendakwah juga adalah manusia yang punya hawa nafsu yang selalu menggoda. Mereka juga bisa jatuh dalam lubang kemaksiatan dan ketidaksyar’ian. Memang adalah satu hal yang wajar apabila seorang pendakwah mengalami kefuturan karena mereka juga adalah manusia yang tidak pernah sempurna dan tentunya mempunyai rasa penat dalam berdakwah, namun seorang pejuang sejati pasti mampu menyadari hal ini. Disaat ia berbuat kemaksiatan dan ketidaksyar’ian maka seharusnya seorang pendakwah yang tentunya mengetahui dan memahami hukum halal dan haram suatu perbuatan pasti berpikir dan bisa sadar dengan cepat bahwa apa yang dilakukannya adalah salah, apalagi ketika temannya yang lain juga memperingatkannya tentang kesalahannya.

Di tengah-tengah masyarakat, seorang pendakwah juga dituntut untuk menjadi figur yang baik serta berwibawa dan tidak suka membuat masalah. Hal ini sangat diperlukan karena masyarakat kita sekarang yang masih memandang sebuah kebenaran dari orang yang menyampaikannya bukan dari apa yang disampaikan. Figur yang baik dan tentunya syar’I sangat efektif dalam menyampaikan sebuah hukum syariah dan Islam karena masyarakat akan berpikir dua kali dan tidak langsung menolaknya mentah-mentah. Pendakwah tentunya harus benar-benar menjaga iffah ( harga diri ) serta sikapnya di tengah-tengah masyarakat, apa pantas seorang pendakwah yang meneriakkan hukum syariah, menyampaikan hal-hal berbau Islam tapi sikapnya seolah-olah tidak mencerminkan ketaatan kepada hukum syara yang disampaikannya itu.

Apa pantas seorang pendakwah tidak rajin belajar padahal menuntut ilmu juga hal yang wajib dan tidak kalah pentingnya dengan mengkaji Islam?

Apa pantas seorang pendakwah melaksanakan ibadah mahdah hanya sekedarnya saja padahal diperlukan keseimbangan antara ibadah mahdah dan dakwah?

Apa pantas seorang pendakwah berinteraksi yang tidak penting, khusus dengan lawan jenis bahkan sampai bercanda ria dengan lawan jenis, apalagi dengan akhwat/ikhwan yang juga sama-sama pendakwah, lantas kalau sama-sama pendakwah apa menjadi boleh? Bukankah interaksi dengan lawan jenis hanya hal-hal yang bersifat umum dan saat berinteraksi pun satu sama lain harus benar-benar menjaga pandangan, sikap serta iffah?

Apa pantas seorang pendakwah membagikan kepingan tentang dirinya di media umum ( eq: facebook, friendster, blog, chatting, dls ), memberitahukan dia sedang apa, mau apa, dimana, dengan siapa, dls. Jika seperti itu dia seolah-olah meminta perhatian dan menjual serta menjajakan iffahnya kepada orang lain karena dia membiarkan kepingan dirinya diketahui orang lain? Apalagi menulis sesuatu yang sepantasnya sangat tidak perlu ditulis dan diexpos di media umum atau perbincangan dengan teman lain yang bersifat pribadi dan apabila orang lain membacanya maka bisa menimbulkan fitnah dan anggapan tidak baik terhadap personel dakwah itu sendiri ?

Apa pantas seorang pendakwah yang mengetahui bahwa temannya salah justru tidak memperingatkannya malah membiarkannya saja terlebih lagi justru membuat semakin berapi-api? Lalu dimanakah rasa sayang dan cinta sebagai sesama pejuang Islam(konteks sesama jenis)? Bukankah adanya kita di barisan dakwah adalah untuk selalu menjaga satu sama lain?

Mungkin itu hanyalah sedikit masalah yang tentunya menjadi PR kita bersama untuk saling menjaga agar bisa menghindari hal seperti di atas. Insya Allah kita semua bisa apabila disana ada keikhlasan dan selalu memuhasabahi diri kita sendiri agar kita sadar dan tidak mengulanginya kembali. Penulis juga bukan berarti sempurna sehingga berani menuliskan hal di atas, namun penulis berharap agar ini menjadi bahan introspeksi diri, bahan bermuhasabah serta nasehat untuk kita semua terlebih lagi untuk penulis sendiri. Insya Allah dengan dakwah yang sungguh-sungguh dan didukung pribadi yang syar’i maka tegaknya Syariat Islam dan Khilafah di dunia ini akan semakin dekat. Allahu Akbar!

“Teruslah Berjuang Kawanku Dimanapun Kita Berada karena Kita Semua Ada Dalam Satu Ikatan Terkuat yang Tidak Akan Pernah Hilang dan Pasti Tetap Abadi yaitu Aqidah Islam yang Murni Ini”

“Keep Revolt n’ Spirit for Revolution of Islam”

  1. Subhanallah…
    bolehkah saya copy ..?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: