Kayla Kara-kara (pt. 1)


By: Nafiisah FB

Kamar itu berantakan. Bantal, guling, dan selimut berserakan di atas tempat tidur dan di lantai.  Seorang gadis muda duduk terpekur, melandaskan bahunya di sisi pembaringan. Ada bekas airmata di pipinya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai masai.

“Papi … jahat …” lirih suaranya terdengar.

“Aaaah!” teriaknya sambil melempar sebuah figura foto dengan marah yang sangat. Foto dirinya bersama seorang pria setengah baya.

PRANG! Figura foto itu pecah setelah melayang menghantam kaca jendela, menghantam memorinya.

oooOooo

“Hai, Kay!”

”Halo, Kay!”

”Kay, boleh enggak main ke rumah lo?”

“Apa kabar, nih?”

“Makin cantik aja lo.”

“Kay, Si Hans anak XII D IPS mau kenalan tuh!”

”Siang Cantik. Abang boleh dong nganterin hari ini?”

Sapaan-sapaan itu … sapaan-sapaan yang sangat biasa menghampiri dirinya sejak kakinya menjejak di depan gerbang sekolah tiap pagi. Kayla, gadis yang tipikal Rachel Weitz itu biasanya menanggapi dengan senyum sambil menjawab singkat.

”Hai!”

”Halo juga!”

“Boleh. Kebetulan Satpam rumah gua lagi butuh lawan buat main catur.”

“Gua … fine.”

”Gua cantik? Terimakasih.”

“Oh ya? Gua juga senang kok bisa nambah temen.”

”Sori banget. Gua udah dianter supir angkot.”

Setelah itu, ritual Kayla adalah pergi ke perpustakaan lalu mencari tempat di pojok ruangan, untuk kemudian siap membaca bahan untuk tugasnya atau mengetik tugas di laptop merah jambunya.

Kayla yang cantik. Kayla yang sederhana walaupun anak orang kaya. Dia selalu naik kendaraan umum kalau kemana-mana. Kayla yang populer karena cerita bersambung yang dia tulis untuk sebuah majalah remaja.

oooOooo

Jam istirahat tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas , menyerbu kantin untuk  mencari pengganjal perut sementara.

“Kay!”

Kayla yang baru saja keluar dari ruang kelas menoleh ke sebuah suara. Suara milik seorang yang dia kenal. Kerudung putihnya melambai-lambai seiring langkah kakinya yang cepat.

“Eh, Luh!” Kayla sumringah menanti Gauh, saat cewek manis itu menghampiri.

“Assalamu’alaikum, Kay,” sapa Galuh setelah tiba di hadapan Kayla.

“Wa’alaikum salam. Tumben elo ke kelas gua di jam istirahat gini. Enggak ada kegiatan di mushola?”

”Hmmm …” Galuh tampak bimbang mengatakan maksudnya.

”Ada apa sih, Luh? Muka lo pucet gitu.”

”Hmm … mendingan kamu ikut aku sekarang!”

”Kemana?!”

”Ikut aja deh ya. Yuk!”

Galuh menggandeng Kayla.

oooOooo

Di sekretariat rohis, sebuah ruangan dua kali tiga meter yang terletak di sebelah mushola, Galuh dan Kayla duduk berhadapan.

”Kay ….”

Galuh memperlihatkan phone TV kepada Kayla.

”Lo punya handphone yang ada TV-nya? Hebat dong! Selamet ya.”

”Bukan punyaku, Kay. Ini punya Yasmin! Coba kamu liat ini.”

Galuh memencet sebuah tombol bertulis play record. Setelah itu tampak di layar ponsel sebuah rekaman acara berita.

Kayla membisu. Wajahnya pias.

”Tadi Tanto juga sempet liat di depan sekolah ada mobil stasiun TV dan beberapa wartawan mondar-mandir. Mereka kemungkinan nyari kamu! Lebih baik kamu  menghindar!”

”Tapi gimana caranya?” Kayla kelu.

”Pas bubaran sekolah kamu langsung pakai helm ini.” Kayla memberikan sebuah helm. Kaca helm itu gelap.

”Kamu dianter pulang ke kosan sama Yasmin pake’ motor.”

”Oke,” respon Kayla  setelah beberapa detik berpikir.

oooOooo

”… Wirya Hadibrata hari ini memenuhi panggilan KPK terkait dengan kasus penggelapan aliran dana likuidasi ke sejumlah bank. Namun, ketika dimintai keterangan usai pemeriksaan di KPK dari siang hingga sore tadi, Hadibrata enggan memberikan komentar.”

Suara  anchorwoman telah menghilang, namun ketegangan di wajah Kayla tidak. Dia terdiam menatap TV.

”Itu bukan Papi, kan, Luh?”

Akhirnya suara Kayla terdengar.. Lirih. Sedih.

Galuh menghela nafas sebentar sebelum memberikan jawaban singkat,”Itu bener Om Wirya.”

Seketika Kayla merasakan tubuhnya lemas. Wajahnya pias.

”Tapi, Om ke sana hanya sebagai saksi, Kay,” imbuh Galuh, mencoba menenangkan.

Kayla menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.

”Saat itu akan datang. Gua tahu, Luh. Pasti bakal datang.”

Galuh mengerutkan keningnya. Dia mencoba mencerna maksud perkataan Kayla.  Belum tuntas Galuh berusaha, airmata itu segera dilihatnya. Airmata milik Kayla.

”Sebentar lagi Ramadhan dan Papi di penjara.”

Setelah itu hening, hanya isak Kayla yang mengisi udara di sekeliling mereka. Galuh segera memeluknya.

oooOooo

Itu kejadian tiga hari sebelumnya. Dan, kini di kamarnya Kayla masih duduk  dikelilingi selimut, bantal, dan guling yang bertebaran, berantakan. Dia lemah, semakin lemah. Bahunya dilandaskan ke sisi pembaringan. Kepalanya rebah.

“Papi … jahat ….” Suara Kayla kembali lirih terdengar.

Kini ingatan itu menuju masa sebulan ke belakang.

oooOooo

”Kamu enggak perlu ikut campur masalah bisnis Papi, Kayla!”

”Kayla harus ikut campur karena Kayla makan dan minum dari hasil bisnis Papi! Kayla enggak mau daging dan darah tubuh ini menjadi busuk, sebusuk  uang yang Papi hasilkan!”

PLAK!

Panas. Kayla merasakan panas di pipi kirinya sangat jelas.

Merah. Kayla melihat wajah papinya yang memerah sangat jelas.

Telapak tangan papinya masih terbuka. Tangan itu bergetar, namun Kayla tidak gentar. Tangan itu … tangan yang selama tujuh belas tahun membelainya sayang, kini bergetar setelah keras menampar.

Hati Kayla perih, namun Kayla tidak mundur. Dia telah mengambil keputusan.

”Kayla akan segera menyerahkan kunci mobil yang selama ini Kayla pakai. Kayla akan serahkan tabungan Kayla ke Papi malam ini juga. Kecuali, laptop merah jambu. Itu hasil keringat Kayla sendiri. Setelah itu, dengan atau tanpa ijin Papi, Kayla keluar dari rumah ini!”

Kayla mengucap kata demi kata tanpa tertatih, seiring tatapannya matanya yang tidak sedetikpun beralih dari tatapan mata Wirya Hadibrata.

”Dan, untuk itu semua … Kayla mohon maaf. Beribu-ribu maaf.”

Usai kalimat itu dikatakan, Kayla segera beranjak pergi. Dia meninggalkan Wirya Hadibrata yang masih mematung dalam amarahnya.

oooOooo

“Kay ….”

Sebuah suara lembut memasuki ruang kamarnya, membuyarkan ingatannya tentang masa-masa sebelumnya, mengalihkan kesadarannya ke kejadian semalam.

Wirya Hadibrata resmi menjadi tersangka kasus korupsi dan telah menjadi tahanan titipan di Polda Metro Jaya.

”Kay….”

Kayla menolehkan wajah sayunya.

Galuh telah berdiri di dekat tempat tidurnya. Dia memandangi suasana kamar kos Kayla yang berantakan sebelum dia menghampirinya.

”Makan, yuk,” ajak Galuh setelah duduk di sisi Kayla. Kayla hanya diam.

”Kay, kamu belum makan dari kemarin malam.”

”Gua enggak laper.”

”Kay. …”

”Gua mau semua kebusukan di tubuh ini hilang!”

”Tapi, enggak begini caranya!” argumen Galuh dengan suara tertahan.

Kayla terdiam. Galuh terdiam. Keheningan sesaat menyebar..

“Papi kamu yang salah. Lantas kenapa kamu yang menghukum diri?” tanya Galuh.

”Karena gua pernah ikut nyicipin semua fasilitas yang berasal dari kerja dosa Papi!”

”Kamu kan enggak tahu sebelumnya.”

”Gua seharusnya tahu lebih awal!”

”Tetap itu bukan kesalahan kamu! Dan, kamu tetap harus makan.”

”Gua enggak mau bikin susah lebih banyak orang.”

“Aku enggak merasa susah. Karena, uang untuk beli makanan kamu, aku ambil dari honor kamu nulis. Aku tadi pergi ke redaksi majalah Girly, mintain langsung honor kamu. Jadi, mereka enggak usah transfer dan kamu bisa punya uang cash sekarang. Sori aku lancang. Aku cuma mau bantu. Kamu kan udah empat hari ini enggak bisa kemana-mana.”

Kayla menoleh ke arah Galuh. Galuh melihat lekat wajah Kayla yang pucat.

”Kenapa elo masih mau jadi temen gua, Luh?” tanya Kayla sungguh-sungguh.

”Karena kamu baik.”

”Hm! Baik!” Kayla mendengus sinis.

”Buktinya mereka menjauh dari gua!” teriak Kayla.

”Mereka cuma ingin bersahabat dengan tampilan fisik kamu, dengan kemewahan yang kamu dapat! Tapi, bukan dengan diri kamu yang sebenarnya!  Jadi, lupakan mereka! Dan … aku bukan mereka!”

Kayla terdiam. Dia tetap menujukan dua matanya ke dua mata Galuh.. Tajam.         ”Terimakasih, Luh. Untuk semua yang elo pernah kasih ke gua.. Sejak Mami meninggal. Sejak Papi ….”

”Kay, kamu enggak akan pernah sendirian ngadepin ini semua. Ada Alloh. Ada aku.”

Kayla kembali menangis, terisak. Galuh sekali lagi menyediakan bahunya bagi Kayla. Dia membiarkan airmata Kayla membasahi kerudungnya. Namun, tidak lama. Tiba-tiba kepala Kayla lunglai..

Galuh terkesiap. Tidak terdengar lagi isak.

”Kay! Kayla!” panggil Galuh berulang sambil menepuk pipi Kayla pelan. Kayla tetap diam.

”Kaylaaaa!” panggil Galuh dalam kepanikan.

”Bu Sriiii!” teriak Galuh memanggil ibu kos sekuat tenaga.

”Bu Sriii! Toloooong!”

oooOooo

Tubuh Wirya Hadibrata tetap tampak gagah dalam balutan baju oranye. Dia diapit dua petugas, diiringi tiga pengacaranya yang handal. Mereka menuju ruang pengadilan.

Adegan demi adegan begitu jelas tampak di layar kaca. Adegan demi adegan yang membuat beberapa orang di satu tempat berdegup kencang, karena bisa jadi sebentar lagi mereka yang mendapat giliran.

Adegan demi adegan yang memunculkan sedikit kelegaan di sebagian orang yang lain. Sedikit. Karena mereka masih digelayuti kekhawatiran besar. Uang yang seharusnya mereka rasakan manfaatnya tidak akan pernah bisa kembali kepada mereka. Dan, orang-orang besar berhati kerdil itu bisa bebas dari kesalahan lalu kembali melakukan hal keji yang sama.

Adegan demi adegan yang menambah luka di hati Kayla.

“Om butuh kamu, Kay,” ucap Galuh lirih.

“Papi bersama para pengacaranya. Dan, itu sudah cukup bagi dia! Gua enggak perlu hadir di sana!” respon Kayla ketus.

“Om butuh keluarganya, bukan pengacara!” balas Galuh, kini lebih lantang.

Kayla menatapnya tajam. Galuh menatapnya juga, menantang.

”Papi enggak pernah butuh gua, karena Papi enggak pernah nganggep gua ada buat dia!”

Galuh membuka mulutnya, akan kembali bicara. Kayla segera angkat suara.

”Gua pergi! Gua mau sendiri!”

Setelah itu Galuh hanya mampu memandangi langkah Kayla yang bergegas menuju luar. Galuh menghela nafas panjang, menunduk dalam keresahan.

(bersambung)

Iklan
  1. Part selanjutnya kok belum di posting…??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: