Tarik Nafas Dalam, Mumpung Masih Bisa


oleh Ahmad Adityawarman

Uhh, entah kenapa pagi ini badanku terasa kaku. Pagi? Tidak, aku tak melihat secercah cahaya pun dari celah jendela kamarku. Masih belum muncul sang surya, bahkan juga tak kurasakan sinar putih lembut dari lampu kamarku. Oh iya, akhir-akhir ini aku punya kebiasaan mematikan si hemat energi sebelum tidur. Jam berapa sekarang, aku tak tahu sebab tak dapat ku lihat jam dinding dalam kegelapan begini. Ku pikir ini masih tengah malam atau sudah dini hari.
Aku pun sadar, aku terjaga dan tak bisa melanjutkan kembali mimpiku yang tadi masih samar. Terjaga dalam keadaan seperti ini memang menyiksa. Apalagi badanku yang terasa sakit sekujur tubuh dengan sensasi kaku yang aneh sangat enggan dibawa kompromi untuk bangkit dari ranjang. Hmm, ini pasti karena tadi pagi ku forsir seluruh ekstrimitas dalam permainan futsal dengan para sahabatku.

Hening kurasakan entah dalam waktu yang berapa lama. Daripada begini terus, lebih baik ku cari sedikit hiburan saja, pikirku. Tanganku berusaha meraih sesuatu di bawah lantai tepat di samping tempat tidurku, habitat remote tivi kamarku biasa berada. Biasanya sih ada saja stasiun televisi yang setia 24 jam selalu tayang, entah acara yang ditampilkan itu mutu rendahan seperti sinetron atau nyanyi bareng emak yang dilombakan. Heh, makanya akhir-akhir ini aku jarang nonton tivi. Tapi biarlah kali ini lumayan buat pengantar tidur, siapa tahu aku beruntung masih sempat menyaksikan ’opera van banjar’ acara lawak favoritku. Atau mungkin sedang jam tayangnya pertandingan Liga Champion?

Tapi mana sih remote tiviku? Tanganku rasanya sudah menggerayangi hampir ke bawah tempat tidurku namun tetap saja ia tak ku temukan. Eh, apa ini, rasanya lantai kamarku yang terbuat dari ulin permukaannya tidak kasar seperti ini. Bahkan indera perabaku menemukan sesuatu mirip akar-akar kecil yang menyembul dari tanah. Ah, aku pasti mengigau. Sudahlah, aku menyerah saja, lebih baik kulakukan hal yang lain.

Maka aku teringat dengan MP3 ku yang setia nangkring di bawah bantalku. Daripada sepi, mendingan nyetel lagu Linkin Park yang baru ku download di warnet tadi siang dengan volume 99 persen lewat headset. Wahaha, pasti ajip men!

Tapi lagi-lagi aku harus kecewa, karena tak ku dapati si MP3 di penjuru kasur ku. Huh, pasti aku lupa menaruhnya di ruang tamu sebelum tidur tadi.
Lalu otakku ternyata mensugestikan kali ini aku harus menemukan hape ku. Biasanya ketika tidur ada sms yang masuk tapi tak sempat ku baca, mungkin saja hal itu terjadi lagi. Atau aku mainkan saja game yang tak tamat-tamat pada aplikasi hape ku. Atau ku buka facebook lewat hape lalu ganti status dengan face ngantuk? Atau ku teror saja kawan-kawanku dengan misscall sembunyi nomor, hahaha, pasti mereka ketakutan, minimal kesal karena terganggu. Namun, aku hanya tersenyum kecut sebab handphone ku yang biasanya tergeletak di samping tubuhku kali ini ‘pergi’ entah kemana. Oke, ku miscall saja kan, gitu aja kok repot. Eh, tapi pakai apa, pakai dengkul?
Aku bingung kali ini apa yang harus ku lakukan. Entah untuk yang ke berapa kalinya ku coba lagi melabuhkan diriku ke alam dimana kucing pun bisa ngomong (maksudnya alam mimpi).

Tak bisa. Aku gelisah, ku bolak-balikkan tubuhku menghadap kanan dan kiri, telungkup dan terlentang. Ku coba getarkan pita suaraku, memanggil adikku yang biasanya tidur di kamar sebelahku. Tak bisa. Sudah jam berapa ini? Rasanya sudah sangat lama aku terjaga. Mungkin sudah dekat waktu subuh. Tapi mana ibuku yang biasanya setia membangunkanku, namun selalu tak kuhiraukan? Suaraku tercekat tak mampu bahkan untuk berkata ’ibu..!’.

Terlintas juga akhirnya di benakku untuk bertahajjud. Ku coba bangun, tapi kembali aku dikalahkan oleh kemauan kuat janggal tubuhku yang menolak keinginanku. Ku coba betulkan posisi bantalku, meraih selimut hangat, dan memeluk guling. Semoga dengan posisi yang nyaman aku bisa tertidur lagi. Tapi seketika itu akan ku lakukan, aku merasakan hal yang membingungkan.
Aku baru sadar kalau tempatku merebahkan kepala bukanlah di atas bantal, tetapi gundukan-gundukan keras dan lembab. Selimut yang kucari bukanlah kain tebal berwarna-warni tetapi kain putih tipis dan panjang seukuran tubuhku. Kamarku seketika tak lagi seperti kamarku. Gelap yang kukira tadi karena lampu yang mati ternyata memang karena mustahil tempat macam ini terjangkau oleh cahaya. Inikah aku? Ini mimpi?

Aku ingat saat terakhir aku di kamarku ketika keluargaku menatapku dengan pandangan nanar bahkan ibuku tersedu. Aku tak berdaya saat itu dan ayahku membisikkan dua kalimat jaminan hidup seorang yang Muslim. La ila ha ilallah, Muhammadurrasulullah.

Air mata penyesalan tak tahu apakah bisa mengalir dalam keadaanku yang begini. Baru ku rasakan semut-semut hitam dengan belang putih di bagian abdomennya berbaris di sepanjang kakiku. Sesuatu yang merayap, mungkin kalajengking hinggap di pipiku. Seharusnya aku bergidik, tapi mau bagaimana lagi. Merekalah yang bakal jadi pendampingku dikala ku sendirian selama beberapa saat ke depan. Bukan lagi televisi di kamar, MP3, maupun handphone.

Sayup-sayup terdengar gemuruh diiringi, akhirnya, secercah cahaya lalu aku pun terbangun. Sosok yang mendatangiku itu bertanya, tenang tapi tegas menggentarkan, ”Ma rabbuka..?”

***

Daun-daun kering yang gugur ditiup angin bergantian menerpa wajahku, menyadarkanku dari ketermanguan yang dalam. Hehehe, persis seperti di film-film ya, ketika sebuah cerita mencapai klimaksnya, tanpa disangka ternyata itu hanyalah khayalan sang tokoh utama.

Mataku tertuju pada buku berisi surah Yaasin yang ku pegang dan sudah selesai ku baca, lalu ke arah nisan kakekku yang meninggal ketika aku masih SD dulu. Ku lihat ayah dan ibuku masih khusuk menyelesaikan ayat 83 surah Yaasin. ”Fasubhaanalladzii biyadihi malakuutu kulli syay in wa ilayhi turja’uun”. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Daun-daun kering tadi sebagian jatuh di atas kubur. Tidak,dari yang sebagian itu ternyata bukan semuanya daun kering. Secara seksama ku temukan bahwa terselip selembar daun yang masih hijau dan muda.

Tak seperti para ’senior’nya yang rapuh dan keriput, yang satu ini jelas masih segar. Kasihan sekali, seharusnya tempat untuk si ’daun muda’ adalah bergantung di dahan yang rimbun nan hijau, bercengkerama dengan kawan-kawannya yang lain, bukannya terbuang dan terpinggirkan seperti ini. Mungkin si ’daun muda’ tadi juga sebenarnya masih asyik menikmati hembusan angin yang lembut, namun tak menyadari lama-lama angin itu jugalah yang tanpa permisi mencabutnya dari sang ranting. Nikmatnya semilir angin langsung hilang seketika tergantikan angin kencang nan menyakitkan.

Sepertinya begitu juga dengan kematian. Ia memang penuh dengan kemisteriusan. Akrab dengan mereka yang tua namun tak berarti renggang dengan yang muda. Semuanya sama saja. Kita takkan tahu kapan bos maut akan menjemput, dan tentu kita takkan sempat protes begitu nyawa kita direnggut. Takkan bisa protes, walaupun saat itu datang kita masih dalam keadaan hijau begini. Walaupun saat itu indahnya dunia sedang asyik-asyiknya kita nikmati, tiba-tiba kematian datang sebelum tanda-tandanya diketahui. Dengan tak terduga, seketika semuanya langsung sirna. Siapa yang tahu? Bahkan ketika memejamkan mata selama tidur, adakah yang berani menjamin kelopak mata bisa membuka kembali keesokan paginya?
Takut? Kenapa harus? Ia adalah sesuatu yang pasti datang. Takkan bisa ditolak dan juga ditunda. Seperti halnya hari Senin, hari upacara bendera, kegiatan paling membosankan di sekolah. Namun mau tak mau kita juga tetap menghadapinya.

Oke, ada hal yang harus kita khawatirkan memang tentang kematian. Persiapan. Apa bekal yang kita bawa tentu harus sepadan jika ingin selamat dalam perjalanan yang panjang. Kemudian seperti apa kematian yang kita inginkan? Itupun bisa dimasukkan ke dalam proposal yang kita ajukan kepada Sang Pemilik Hidup & Mati.

Sebagaimana seorang sahabat Rasulullah yang protes ketika ia masih hidup sehabis peperangan. Ketika ditawarkan ghanimah (hasil rampasan perang), ia berujar, ”Bukan itu yang aku inginkan, tapi ini!” ia menunjuk pada pergelangan tangannya tepat di urat nadi. Artinya, mati syahid. Maka pada perang selanjutnya tertegunlah Rasul beserta para sahabat, sebab sang sahabat itu tewas tertusuk tombak tepat di tempat yang pernah ia tunjuk!
Lalu bagaimana keadaan kita setelah mati? Jangan pernah membayangkannya sama dengan paparan saya di atas tadi. Itu jelas cuma fiktif, bohong belaka, hehe (mana mungkin dalam kubur masih sempat mikirin facebook). Sekali lagi, siapa yang tahu, mungkin keadaannya jauh lebih mengerikan dan menakutkan. Itu juga tergantung dari ‘bekal’ kita tadi kan?

”Kullu nafsin dzaa iqatulmawti..
(tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati)”
-Firman Allah Qur’an al-Anbiyaa ayat 35

Setiap langkah dalam kehidupan dapat mengantarkan kita pada kematian. Lalu untuk apa kita melakukan kesalahan?”
Budi Saputera, konseptor minimagz ’BadaiOtak

Jika tak ingin dikuasai oleh kehidupan dunia, bagaimana kalau dunia yang ada di bawah kendali kita?

1 Syawal 1430 Hijriyah,
sepulang ziarah ke makam kakek & keluarga lain juga seorang guru yang dirahmati Allah SWT.

oleh : saudaramu, dengan maksud mengingatkan.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: