Sepatu Baru


oleh Fajar Gemilang Ramadani

editor Ridwan Taufik Kurniawan

Riuh suasana siang itu. Suara teriakan manusia sahut-menyahut, bagai letusan mercon di malam takbiran. Manusia berhamburan lalu lalang, di depan, belakang, samping kiri dan kanan ku. Siang itu pasar benar-benar sesak. Ditambah lagi dengan efek global warming yang semakin ngompor-ngompori bumi ini, jadilah pasar itu makin panas.

Setelah berkeliling menyusuri setiap sudut pasar yang setiap jengkalnya ku basahi dengan derasnya peluh yang keluar dari tubuhku (lebay), akhirnya kutemukan seonggok ruang yang lumayan besar, yang didalamnya ada ratusan pasang benda yang rela untuk melindungi bagian tubuh kita paling bawah, alat kita berpijak, alat kita melangkah, kaki… ya akhirnya ku temukan “Toko Sepatu”

Dengan susah payah akhirnya kutemukan juga, sebuah toko sepatu di tengah pasar ikan (mana ada?). Tanpa membuang waktu dan banyak komentar aku langsung masuk kedalamnya. Ternyata kondisi dalam toko tak jauh beda dengan yang ada di luarnya. Sama-sama panas! Peluhku tak henti-hentinya mengucur kaya habis kena bacokan tepat di pembuluh darah. Kupandangi tiap sudut toko tersebut.

Sejauh mata memandang hanya ada sepatu dan sandal. Mulai dari yang nempel di dinding, tertaruh di lantai, ada juga yang di dalam lemari. Dengan harga yang bervariasi. Intinya, ada uang abang sayang, ga ada uang abang ku tendang, (maksudnya ada uang ada barang, harga berbanding lurus dengan kualitas).

Setelah melihat-lihat koleksi yang ada, akhirnya mataku terfokus pada sepasang sepatu yang . . . lumayan lah. Kuambil, kupegang, kuraba dan kuterawang (kaya melihat duit aja), ternyata memang lumayan bagus. untuk lebih memastikan cocok tidaknya, langsung saja kucoba pasang. Tapi tenyata sayang sekali sepatunya kekecilan.

Hati ini remuk rasanya setelah tahu bahwa sepatu itu terlalu kecil di kakiku yang atletis ini (hiperbola). Tapi aku tak habis akal, ku panggil petugas yang ada di dekatku. Kutanyakan apakah ada sepatu serupa dengan ukuran yang lebih besar. Petugas itu pun dengan sigap, cepat dan tangkas langsung mencoba mencarikannya.

Setelah lima menit menunggu, akhirnya petugas itu kembali. Tapi apa yang ku dapat? Petugas itu datang dengan tangan hampa. Lagi-lagi aku kecewa. Aku sudah ‘jatuh cinta’ dengan sepatu itu.

Lalu petugas itu bilang padaku, “kalau sepatunya ga muat, kakinya aja Mas  yang dikecilin!, nanti pasti muat.” Dalam hati kubilang,”gila kali ni orang, masa kaki ku yang di kecilin, kan kakiku udah diberikan Allah yang seperti ini, masa harus di kecilin, buat nyesuai’in sama sepatunya“. Perkataan jayus dari petugas itu hanya ku balas dengan senyum kekecewaan.

Karena aku tak mendapatkan yang ku inginkan akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja dan mencarinya lain hari.

****

Hayo apa coba yang bisa kita ambil hikmahnya dari cerita di atas…??

Apa ya….

Pertama, jangan cepat menyerah dalam menggapai apa yang kita inginkan, dan jangan mudah kecewa (nyambung ga ya?). Pokoknya begitu lah.

Kedua, (yang paling penting) ternyata kalau kita beli sepatu dan sepatunya ga pas, jangan mau kaki kita yang disuruh nyesuaiin ma tuh sepatu. Maka batis kita udah diciptakan Allah ya kaitu pang sudah, seharusnya sepatunya yang diganali, (maksudnya cari sepatu yang ukurannya lebih ganal, ato halus yang pas lawan batis kita).

Sebenarnya, cerita di atas cuma sebuah analogi, untuk fakta yang ada sekarang. Cobalah kawan-kawan perhatikan keadaan sekitar kita, ternyata sekarang Islam yang seharusnya menjadi standar malah distandarkan. Islam yang seharusnya menghukumi malah dihukumi. Fakta yang seharunya menyesuaikan dengan hukum islam, malah hukum Islam yang menyesuaikan fakta.

Ga percaya?

Coba aja perhatikan, dengan alasan mengikuti perkembangan zaman, sekarang kerudung wanita udah dimodifikasi yang seharusnya lebar dan menutupi sampai dada, sekarang jadi lebih pendek dan sampai mencekik leher pemakainya, supaya terlihat modis.

Itu cuma contoh sederhana Bung, yang lebih parah lagi, lebih dari separuh isi Al-Quran udah dicampakkan dan ditinggalkan oleh umatnya sendiri. Dengan dalih “Al-Quran udah ga relevan lagi bagi zaman yang serba internet ini“. Mereka meninggalkan hukum-hukum Allah. Bukankah Islam itu rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi sekalian alam? Bukan Islam atau Al-Quran yang harus menyesuaikan fakta agar menjadi rahmat. Karena rahmat yang sebenarnya (bukan menurut perasaan dan hawa nafsu manusia) turun hanya jika Islam dan isi dari Al-Quran diterapkan secara keseluruhan? Ya ngga?

Islam itu up to date, cuy! Islam mampu memecahkan semua permasalahan kehidupan, dengan adanya pintu ijtihad. Islam gak anti-modernisasi (asal sesuai syara’). Islam itu anti-fundamentalisme (menolak pembaharuan). ISLAM tidak mengharamkan komputer, laptop, internet, pesawat, hp, dan benda-benda lain hasil industri modern asal sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunah.

So, kawan-kawan, maukah kalian hidup dalam aturan yang mampu menjawab semua problematika kehidupan kalian. Yang insya Allah jawabannya akan diridhoi oleh Allah?

Maukah kaliah menjadikan Islam sebagai standar hidup kalian, sebagai pedoman hidup kalian, sebagai penuntun yang akan menentun kalian kepada kenikmatan dunia dan akhirat?

****

Cerita di atas adalah sesungguhnya adalah fiktif, bukan kejadian yang sebenarnya. Cerita di atas terinspirasi dari pengajian yang saya ikuti di Banjarbaru. Semoga bermanfaat, dan bisa memberikan sedikit kesegaran, ditengah gersangnya kehidupan dibawah naungan kapitalisme yang bentar lagi akan menyusul sosialis ke dalam lembah kehancuran ideologi sesat.

ALLAHU AKBAR….!!!

Wallahu alam

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: