Kongres Mahasiswa untuk Sebuah Perubahan


Kita pasti tahu dari sejarah di negeri ini. Beberapa tahap perubahan di negeri ini tak luput dari peran para pemuda. Sejak Runtuhnya orde lama dan orde baru adalah bukti nyata andil dari para pemuda dan mahasiswa.

Tentunya berbagai peristiwa tersebut tidaklah berlangsung tiba-tiba (bahasa jawanya ‘ujug-ujug’). Sebuah penyamaan visi yang menghasilkan berbagai momentum perubahan. Melalui sebuah pertemuan, kongres, konsolidasi, konferensi dan sebagainya merupakan sebagai titik awal momentum tersebut.

Konsolidasi yang tak Berbuah

Setahun yang lalu, tepatnya 24 April 2008 saya menghadiri sebuah acara “Konsolidasi Nasional Pemuda, Mahasiswa, dan Aktivis Pergerakan”. Acara yang digagas oleh KBI (Komite Bangkit Indonesia) ini berlangsung di Jakarta selama 2 hari dan dihadiri sekitar 100 perwakilan OKP dari seluruh daerah di Indonesia.

Brainstorming dari berbagai perwakilan OKP mengawali acara ini setelah penyampaian “Jalan Baru” oleh Rizal Ramli. Yang menarik dari brainstorming tersebut, walaupun semua mempunyai latar belakang organisasi dan platform yang berbeda-beda, mereka semua berpandangan yang sama bahwa Kapitalisme merupakan penyebab terpuruknya negeri Indonesia ini.

Namun, yang disayangkan adalah pertemuan tersebut tidak bisa menjadi awal perubahan bagi negeri ini. Kebangkitan yang diharapkan pun tak kunjung muncul (dimana pertemuan ini dalam rangka menyambut 100 tahun kebangkitan Indonesia). Malahan, sebulan setelahnya kita dihadiahi penguasa dengan keputusan “kenaikan BBM”. Rizal Ramli pun akhirnya terkena tuduhan membuat makar. Walhasil, pertemuan tersebut tidak membuahkan apa-apa. Dan terlihat jelas ketika rezim neolib masih bercokol di negeri ini.

Hanya Berkutat di Teknis

Ya benar, pertemuan itu tak membuahkan apa-apa, sekalipun mereka seiya sekata bahwa kapitalisme dan juga neoliberal sebagai penyebab keterpurukan di negeri ini. Beberapa hal yang perlu dikritisi sehingga konsolidasi tersebut tak membuahkan apa-apa, diantaranya:

Walaupun mereka semua menyadari sistem di negeri ini adalah sistem yang salah, dan kapitalisme adalah musuh utama tetapi dari mereka tidak ada yang berani keluar dari pakem, yaitu mengganti sistem terrsebut. Rizal Ramli/ KBI lebih memilih untuk memperbaiki sistem yang ada, bukan menggantinya. Memperbaiki demokrasi yang di negeri ini yang menurut dia belum sesuai dengan demokrasi yang seharusnya. Demikian juga Ihsanudin Noorsyi yang hadir kala itu juga mengungkapkan “permasalahan ini bukan permasalahan ideologi”.

Solusi-solusi teknis yg diajukan oleh KBI tidak memuat solusi bagaimana untuk keluar dari kapitalisme global, mereka hanya memberikan solusi parsial di bidang ekonomi untuk keluar dari dominasi swasta. Mereka tidak berpikir bahwa kapitalisme global merupakan sebuah sistem yang hanya bisa dilenyapkan dengan sistem lain selain demokrasi (yang notabene anak kapitalisme pula). Mereka masih memandang bahwa demokrasi dan kapitalisme merupakan mahluk yang berbeda.

Bagaimana mereka bisa melepaskan diri dari kapitalisme global bila hanya mengandalkan Indonesia saja yang lemah. Melawan kapitalisme global tentunya dengan menyatukan kekuatan dengan negeri lain yang memusuhi kapitalisme global. Jika Jalan Baru yang diusung Rizal Ramli dengan cara memperbaiki sistem demokrasi (memakai sistem lama) maka solusi yang akan dirasakan hanyalah permasalahan ekonomi saja (bidang lain mau tidak mau harus dikorbankan) bidang lain seperti sosial akan tetap carut marut, sebab sistem demokrasi merupakan sistem yang sekuler dan tidak cocok di Indonesia yang religius. Dan akhirnya Jalan Baru itu akan terjebak lagi dalam kapitalisme global.

Satu-satunya cara jika kita sudah memahami bahwa sistem di negeri ini adalah sistem yg rusak maka kita harus keluar dari pakem yaitu menggantinya dengan sistem lain, yaitu Sosialisme ataukah Islam. Sosialisme telah terbukti keruntuhannya Uni Soviet, sistem ini tidak dengan sesuai dengan fitrah manusia karena sistem ini anti agama. Hanyalah Islam satu-satunya sistem yang sesuai fitrah manusia, karena Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin (Rahmat bagi seluruh alam) bukan hanya bagi muslim ataupun Indonesia saja.

Langkah Awal Menuju Perubahan

Bagi Anda yang menyadari semakin kacaunya negeri ini. Semakin maraknya privatisasi, yang membuat kekayaan negeri ini dinikmati sebagian kecil orang saja. Arogannya aparat yang saling pamer kekuatan dan keuasaannya. Congkaknya para penguasa dan wakil rakyat yang suka foya-foya. Rakyatpun menjadi sengsara akibat ketidakadilan. Yups, Anda bisa berkata : “negeri ini butuh langkah perubahan”. Belajar dari pengalaman diatas, tentunya langkah kita tak lagi berpijak pada ‘Jalan lama’ kapitalisme. Langkah di jalan baru inilah yang harus dilakukan mahasiswa. Jalan Islam.

Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) akan menjadi awal langkah menuju perubahan itu. Awal langkah yang akan membawa kita ke jalan baru. Jalan baru yang akan membuat Indonesia menjadi lebih baik. JADILAH ANDA SEBAGAI PESERTA ACARA AKBAR INI pada 18 oktober nanti. Jadilah pelaku sejarah dalam langkah menuju perubahan itu. Allahu Akbar! []

Kafi Hidonis (Mantan PP Gema P ’07)
30/9/2009, 01:00 WIB @Jombang

www.dakwahkampus.com

  1. Sekedar search nama saya di google ternyata tulisan saya bs nyampe ke blog ini…😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: