Untuk KPK (Khilafah Pasti Kembali)


oleh Ahmad Adityawarman
Puisi Negeri Para Bedebah
Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

***

Begitu berani, namun kita tahu fakta, bahwa ini pengungkapan yang begitu jujur dari Adhie Massardi mengenai potret bangsa ini. Bukan, bukan hanya bangsa ini, namun mungkin seperti ini juga keadaan negeri-negeri lain di berbagai belahan dunia sekarang. Negeri-negeri yang dikuasai oleh pemerintahan tirani dalam balutan menarik demokrasi.

Puisi ini disampaikan di depan gedung KPK yang ditujukan kepada aparat pemerintahan terutama penegak hukum yang dianggap melakukan upaya kriminalisasi terhadap lembaga pemberantas korupsi di negeri ini. Well, saya bukannya ingin ikut-ikutan sok politis atau ngomongin isu yang super hangat akhir-akhir ini. Puisi yang begitu ’menampar’ inilah yang membuat saya terbakar.

Ya, tak peduli apakah nantinya buaya yang menelan cicak bulat-bulat, atau dengan heroiknya cicak yang bakal menaklukkan si buaya. Yang jelas, kasus ini makin membuka mata kita, bahkan mata hati dan pikiran bagi yang memilikinya, bahwa hampir tak ada lagi lembaga-lembaga negara yang bersih seutuhnya. Korupsi, suap-menyuap, memperkaya diri tanpa memikirkan nasib jutaan orang-orang yang jadi tanggung jawabnya, cih.

Media pun ribut menyoroti kata : Korupsi. Seakan-akan korupsilah aktor tunggal kesengsaraan yang dialami bangsa ini. Padahal korupsi bukanlah permasalahan utama. Ini hanyalah cabang dari akar permasalahan sesungguhnya : diterapkannya sistem aturan kapitalisme yang menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi penguasa menjadi pengusaha busuk yang menghalalkan segala cara. Jabatan adalah ladang bisnis yang prospeknya paling cerah!

Apa solusi bagi permasalahan ini? Perbaiki akhlak dan kembali kepada diri masing-masing? Itu takkan mencabut akarnya sampai ke ujungnya. Aturan bobrok yang mengenyahkan agama dari kehidupan ini dijamin ampuh memerangkap siapa pun yang berkecimpung di dalamnya, tak peduli dulunya orang itu berakhlak mulia. Keadaan akan memaksa. Hingga akan terkemuka alasan ’Anda tak tahu kondisi sebenarnya yang terjadi di dalam sana. Siapa pun akan tergoda melakukan kebusukkan yang sama!’

Diskusi, demonstrasi, dan revolusi. Solusi yang menarik, dan seharusnya kita sepakat pada kata yang terakhir. Tentu kita tak ingin melakukan sesuatu yang setengah-setengah untuk mengubah keadaan, tapi ubahlah semuanya secara komprehensif! Revolusi, bukan reformasi. Mengganti sistem aturan produk kesombongan manusia dengan sistem yang datang dari kesempurnaan Sang Maha Kuasa. Maka pantaskah kita cuma diam saja sambil menunggu siapa pemenang antara duel cicak dan buaya yang tak ada gunanya? Bersatu kawan, dan bergeraklah. Kita perjuangkan sekuat tenaga, harta dan pikiran kita untuk perubahan. Untuk tegaknya diinul Islam rahmatan lil ’alamiin, solusi semua problematika kehidupan yang akan membawa kita pada kemuliaan, dunia akhirat. Segera lakukan..

Karena revolusi ini adalah perintah dari-Nya.
Karena revolusi ini akan datang dalam waktu yang segera.
Karena revolusi ini, adalah milik kita…!

(Beberapa hari menjelang acara Dialogika yang akan diadakan Gema Pembebasan Komisariat UNLAM Banjarbaru dengan tema : KPK –Kita Perlu Khilafah-)

Wallahu’alam..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: