Aku Ingin Seperti Naruto! (sedikit berbagi tentang manajemen waktu)


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Mungkin sudah terlalu tua bagiku untuk mengatakan bahwa AKU INGIN SEPERTI NARUTO, tapi seperti itulah adanya. Bukannya aku yang belum dewasa, tapi pengalamanku selama ini yang telah membuatku ingin seperti Naruto.

Kenapa aku sangat tertarik dengan Naruto, bukan dengan karakter yang lain, seperti Sasuke, Shikamaru, Itachi, atau Kakashi? Karena ketika kulihat film Naruto yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta, aku sangat tertarik dengan kemampuan yang dimiliki Naruto. Jurus ninjanya. Bukan Rasenggan, tapi Kagebunshin No Jutsu. Apa itu Kagebunshin No Jutsu? Itu adalah jurus seribu bayangan. Bukan jurus seribu bayangan biasa, tapi jurus seribu bayangan yang apabila bayangannya telah hilang maka informasi yang telah didapatkan oleh bayangan tersebut, maka informasi itu akan berpindah kepada tubuh asli pemilik jurus.

Aku membayangkan, betapa besar potensi yang dimiliki oleh jurus ini. Seandainya saja aku hidup dalam zaman ninja seperti di film Naruto pasti ada banyak hal yang bisa ku lakukan dalam hidupku, dan tentunya bisa ku lakukan secara sekalugus tanpa mengorbankan aktivitas yang lain.

Disadari atau tidak, kehidupan sehari-hari kita penuh dengan pilihan. Sadarkah pula bahwa setiap ada pilihan yang datang menghampiri kita, kita pun harus memilih satu diantara banyak pilihan, dan menggorbankan pilihan yang lain. Disinilah letak keistimewaan dari jurus Kagebunshin No Jutsu. Bayangkan seandainya kita mampu untuk menguasai jurus tersebut, maka setiap pilihan yang datang kepada kita, kita tak perlu untuk memilih salah satu dari banyak pilihan yang ada. Kita bisa menjalankan semua pilihan yang ada. Kita hanya tinggal membuat bayangan sebanyak pilihan yang ada di hadapan kita. Sebagai contoh, aku yang sebagai mahasiswa ini dalam satu waktu mungkin dapat menghadapi banyak pilihan.

Misalnya, aku harus belajar dan mencari bahan untuk menghadapi tutorial, selain itu juga harus membuat laporan yang menumpuk, laluj belajar untuk menghadapi ujian praktikum dan ujian blok, aku juga harus mengadakan rapat kordinasi dengan kawan-kawan seperjuangan dakwah untuk mengatur strategi, aku pun harus halaqah (ngaji) diberbagai majelis yang telah aku ikuti, aku juga harus senantiasa memperhatikan berita yang berkembang dimasyarakat agar bisa mencermati fakta dan bisa memberikan solusi islam bagi berbagai masalah yang ada.

Selain itu aku juga harus menjalankan proyek bisnisku berjualan pulsa (sedikit promosi) dan tak lupa aku pun harus beristirahat, karena jika aku jatuh sakit maka tak satupun dari kegiatan yang sudah disebut bisa ku jalankan dengan baik. Satu hal yanga penting juga, aku pun harus refreshing, menyegarkan kembali pikiranku agar bisa berfikir lebih kreatif. Banyangkan, bagaimana aku bisa melakukan itu semua?

Seandainya aku bisa menggunakan jurus Kagebunshin No Jutsu  tentu itu tak jadi masalah. Aku hanya harus mengeluarkan sedikir cakra untuk membuat bayangan ebanyak pilihan yang ada, lalu ketika semua pekerjaan telah selesai, maka bayangan itu akan menghilang dan semua informasi yang telah di dapat oleh bayanganku akan masuk kedalam otakku. Tapi ini adalah dunia nyata. Jelas jurus itu tak bisa ku lakukan. Lalu bagaimana aku bisa melakukannya?

Disinilah pentingnya manajemen waktu. Memang benar firman Allah, bahwa sebenarnya manusia dalam keadaan merugi. Tak berlebihan jika Islam mengatakan bahwa waktu adalah pedang. Bagi siapa yang tak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, maka waktu itu akan menebas dirinya.

Yang penting dalam manajemen waktu adalah adanya sebuah skala prioritas. Karena tak mungkin kita mengerjakan semua pekerjaan sekaligus, maka harus ada yang lebih diprioritaskan. Dan prioritas jelas punya standar. Dan standar yang benar hanya standar yang dikeluarkan oleh Zat yang menciptakan alam semesta, Allah Azza Wa Jalla. Dalam Islam kita tentunya pernah mendengar jenis-jenis hukum perbuatan, ada 5, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. Dan tentu kawan-lawan telah mengetahui apa pengertian dari ke-5 jenis hukum tersebut.

Mari kita sedikit mengkhayal. Seandainya ada sebuah ember besar dihadapan anda, juga ada kerikil, air, batu besar, pasir dan batu kecil. Lalu anda disuruh untuk memasukkan semua benda tadi ke dalam ember. Mana yang akan anda dahulukan agar semua benda tadi bisa masuk embar dan tidak tumpah? Mau tau jawabannya? Kita tanya Gallileo..!!

Ketika kita ingin memasukkan benda-benda tadi ke dalam ember dan tidak tumpah, maka perhatikanlah besar partikel dari semua benda tersebut. Yang lebih besar dimasukkan terlebih dahulu. Pertama batu besar, batu yang lebih kecil, kerikil, pasir baru yang terakhir adalah air. Maka InsyaAllah ember itu bisa menanpung semuanya, tanpa tumoah yang banyak (kalo ga percaya coba aja di rumah/di kost).

Sama seperti percobaan di atas (percobaan..??), begitu pula yang harus kita lakukan dalam memilih setiap pilihan yang datang menghampiri kita. Kita harus melihatnya dari status hukumnya, mana yang wajib, mana yang sunnah, dan mana yang mubah. Yang wajib jelas dikerjakan terlebih dahulu, baru yang sunah, selanjutnya yang mubah. Dan perkara wajib pun ada yang harus diperhatikan, mana yang wajib mendesak dan mana yang wajib tidak mendesak. Yang mendesak jelas harus didahulukan. Perkara-perkara yang sifatnya makruh dan haram jelas harus kita tinggalkan.

Jika kita bercermin kepada para sahabat rasul, mereka ketika dalam 1 hari lebih banyak melakukan aktivitas yang mubah saja mereka merasa sangat menyesal, apalagi sampai melaksanakan hal yang makruh dan haram.

Insya Allah jika kita bisa menentukan skala prioritas yang benar maka kita akan dapat menjalani hidup di dunia dengan selamat, begitu pula dengan kehidupan di akhirat. Dan 1 hal yang harus kita ingat, bahwa setiap pilihan yang kita pilih akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt. Jadi ambillah pilihan yang tepat menurut Allah, jangan sampai kita dikalahkan oleh nafsu dan perasaan kita dalam memilih. Kita harus bisa mengedepankan akal dalam memilih, mana yang benar, mana yang salah. Mana yang lebih prioritas, mana yang penting, mana yang tidak penting.

Wallahu ‘alam

Segala kebenaran datangnya dari ALLAH dan kekhilafan dari diri saya sebagai penulis.

Banjarmasin, 28 November 2009

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: