Mengubah Ideologi Bangsa = Pengkhianat Bangsa


oleh Muhammad Amda Magyasa

(tulisan ini bermula dari sedikit konflik pemikiran dari beberapa teman di jejaring facebook, awalnya artikel ini di posting di facebook, tapi admin mempostnya di web ini. Semoga bermanfaat)

Jangan jadi orang yang mudah tercuci otak, tercuci otak = lemah mental, seperti kerupuk yang akan disantap dengan gurihnya. Mencoba mengubah ideologi bangsa = PENGKHIANAT BANGSA. Dan terakhir, ingin merubah akhlak seseorang tentunya harus BERKACA pada akhlak diri sendiri.

***
Potongan kalimat ini saya kutip dari catatan seorang sahabat. Kebetulan saya membacanya ketika melihat nama salah seorang guru yang sangat berjasa bagi saya tercantum di sana. Catatannya cukup singkat. Namun kelihatannya paragraf ke-4 dari tulisan itu yang saya kutipkan di atas, melatar belakangi saya menulis catatan ini. Bacanya pelan pelan aja.

***
Pengkhianat bangsa. Sebuah labeling yang dalam tulisan di atas ditujukan bagi siapa saja yang ingin merubah ideologi negeri ini. Ngomong ngomong masalah labeling, saya teringat kembali pada tulisan saya yang telah lewat tentang sebutan ”kaum penghujat”. Sebutan yang ditujukan pada aktivis dakwah oleh pihak tertentu hanya karena ”sang aktivis” bersuara di pihak rakyat dengan mengatakan sesuatu yang telah tampak di hadapan umum: Kezaliman Penguasa. Okelah kita gak perlu membahasnya dulu di sini. Bisa di baca aja sendiri:
http://www.facebook.com/profile.php?v=box_3&ref=profile&id=1454391449#/note.php?note_id=172417486668

Kita ngomong tentang pengkhianat aja kali ini. Pengkhianat, sebuah status yang cukup bikin panas hati siapa saja yang di labeli dengan sebutan ini. Ya wajar, kata kata ini kesannya memang cenderung negatif. Sebutan pengkhianat bisa kita dengar pada setiap tindakan yang melanggar sesuatu yang sudah menjadi kesepakatan, sebuah perjanjian, ataupun hal yang sudah baku.

Misalnya saja, jika kita nonton film action. Dalam sebuah pertempuran antara dua pihak, kedua kubu bersepakat tidak akan saling serang sebelum musim dingin berakhir. Siapa saja yang melakukan penyerangan sebelum musim dingin berakhir, maka tidak salah jika tindakan itu di sebut berkhianat. Atau sederhananya seperti orang yang tidak menepati janjinya. Maka sejatinya ia telah berkhianat atas janji yang telah di buat. Pendeknya, pengkhianatan adalah sebuah tindakan pelanggaran. Jadi tampaknya sampai di sini tidak ada salahnya, jika saya pribadi atau mungkin sang penulis kata mutiara, maupun teman teman sekalian untuk tetap mempertahankan sebutan tadi: Mengubah ideologi bangsa = Pengkhianat Bangsa.

Kita kembali ke masa 88 tahun silam, ketika sebuah pengkhianatan yang luar biasa besar dan tertata rapi terjadi, tanpa masuk kurikulum pada bab manapun dalam pelajaran sejarah di sekolah. Saat itu, seorang agen Inggris yang dalam buku sejarah disebut sebagai tokoh yang mendirikan negara Turki Modern, Mustafa Kemal Attaturk. Telah meruntuhkan, mengganti dan menghapus sebuah negara yang menjadikan Islam sebagai ideologi negaranya. Meruntuhkan, mengganti dan menghapus sebuah negara yang telah berdiri selama lebih dari 1300 tahun sejak Rasulullah SAW mendirikannya pertama kali di Madinah Al Munawaroh. Kaum muslimin yang mencintai Allah dan Rasul-Nya akan terus mencapnya sebagai pengkhianat besar. Dan para penjajah dengan ”buku sejarahnya” bahkan ”pembebeknya” akan terus mengenangnya sebagai bapak Turki Muda yang berjuang untuk Demokrasi dan HAM-nya

BELAJAR DARI KEJUJURAN

Jujur itu baik.
Bohong itu buruk.

Kalimat yang sederhana memang. Mayoritas dari kita mungkin langsung setuju dengan pernyataan di atas. Secara naluri atau perasaan, setiap orang tentu ingin kejujuran dan tidak suka di bohongi. Maka muncul sebuah label bagi tindakan ini: Jujur adalah perbuatan baik, dan berbohong adalah perbuatan buruk.

Jujur, dalam keadaan biasa memang baik. Dan benar. Biasa bagaimana? Misalkan saat menjadi saksi dalam peradilan.. ataupun misalkan saat bersumpah. Dan berbohong, dalam keadaan biasa juga adalah tindakan buruk. Misalkan melakukan fitnah, ataupun berlaku curang saat berdagang.

Sayangnya, kejujuran yang menurut pikiran manusia baik, belum tentu tuh baik. Dan, kebohongan yang menurut akal dan perasaan manusia adalah buruk, belum tentu tuh buruk.

“Rasulullah Saw membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan pembicaraan suami kepada isterinya” (HR. Ahmad)

Bayangkan ketika seorang Isteri bertanya kepada suaminya “Mas, cantik mana sih aku sama isterinya tetangga kita?”. Apa yang terjadi kalo suaminya bilang “O.. jujurkan sesuatu yang baik ya, jadi Mas harus jujur. Menurut Mas, tetangga kita jauh lebih cantik, kamu itu ga ada apa-apanya” apa yang akan terjadi?

Atau dalam perang, apakah harus jujur ketika ada musuh yang nanya ke kita,

“Komandan pasukan kalian siapa? Orangnya yang mana? Jumlah kalian berapa? Stok pangan dimana? Trus gimana cara ngancurin benteng kalian?”
karena merasa Muslim harus jujur, lalu kitapun menjawab sejujurnya,
“Komandan kami Abdullah, itu orangnya yang lagi mengasah pedang, jumlah kami cuma tiga ribu Mas, stok pangan kami disimpan di samping gunung itu, kalo mau ngancurin benteng kami gampang aja kok Mas, tinggal didobrak aja, soalnya benteng kami itu palsu, cuma buat nakut-nakutin kalian doang”
(Di sadur dari tulisan ka Abay)

Ah, bisa kita simpulkan ternyata sebuah tindakan ataupun kata kata, tidak memiliki standar baik buruk ataupun salah dan benar. Yang membuatnya baik dan buruk ataupun benar dan salah, hanyalah Aturan Syariah Islam. Baik itu Al Qur’an maupun Sunnah Rasulullah…

FLASHBACK TO PENGKHIANAT

Pengkhianat adalah pelanggar. Meskipun begitu, istilah pengkhianat tidak akan digunakan untuk pelanggaran terhadap sesuatu yang salah. Tolong garis bawahi kalimat ini: Istilah pengkhianat tidak akan digunakan untuk pelanggaran terhadap sesuatu yang salah.

Rasulullah SAW tidak pernah mendapat titel pengkhianat atas tindakan pemberontakannya terhadap hukum dan kehidupan jahiliyyah. Bapak Soekarno dan para pemudanya tidak akan mendapatkan gelar pengkhianat atas perlawanannya terhadap penjajahan Belanda, Inggris maupun Jepang.

***

Sahabat…. Tuhan kita. Allah SWT. Tuhan yang menguasai alam semesta bahkan diri kita semua ini telah berfirman:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” [TQS. Al-Maidah : 49]

Maka jika peletak benar dan salah itu adalah Allah SWT dan Dia memerintahkan agar manusia hanya berhukum berdasar apa yang diturunkan Allah (Al-Quran),

Salahkah mereka yang ingin mengembalikan hukum-Nya di muka bumi ini?
Salahkah mereka yang ingin membuang aturan dan ideologi selain aturan dan ideologi yang diturunkan sang Pencipta?

Apakah jawab kalian adalah aturan selain aturan Allah yang lebih baik ketika mendengar ayat ini?:

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” [TQS. Al-Maidah : 50]

*

Pengkhianat bukanlah ia yang memberontak terhadap sesuatu yang salah. Mengubah ideologi negara yang salah=Pengkhianat?
Maaf saja. Mereka bukan pengkhianat.

Banjarmasin, November 2009

Iklan
  1. hidup mahasiswa…kami bersamamu kaum tertindas

    • Ilham
    • Juni 22nd, 2012

    ALLAHU AKBAR.. tegakkan Deen ALLAH SWT di bumi..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: