Untuk Mereka yang Aku Sayangi


Sungguh indahnya bila semuanya berjalan tanpa ada duka

Tapi semuanya pasti ada problema yang terjadi pada diri kita

Anugrah yang terindah yang kini kuanggap,adalah saat diriku mulai berubah
Anugrah yang terindah yang kini kuanggap,
saat kumulai sebuah hidup yang baru

(Fatih – Anugrah Yang Terindah)

Potongan syair indah milik Fatih itu adalah salah satu kalimat favorit saya. Berubah mengawali hidup baru, dari buruk ke baik, bagi banyak orang memang dipandang tidak nyaman. Apalagi perubahan yang ekstrem. Manusiawi. Kamu sendiri pernah merasakan itu bukan? Bagi saya yang pernah pacaran, pedih rasanya harus meninggalkan pujaan hati karena tahu pacaran itu dilarang dalam agama. Tak ada lagi bonceng-boncengan. Tak ada lagi sapa, sms-an dan kata mesra. Tak ada lagi belaian dan ***sencored***. Sejak saat itu saya harus melupakan cintanya, cinta yang tidak berdasar karena saya dikenalkan dengan cinta yang lebih besar. Cinta yang terlampau agung dan lebih layak saya perjuangkan.

Bagi yang berjilbab, bagaimana rasanya kamu harus memutuskan berpanas-panas menutupi badanmu dengan ‘kelambu’, tegar digelari ‘ninja’, atau ‘istri teroris’, sabar saat mulai dijauhi sobat karib. Ya kamu tahu itu konsekuensi dari akidah yang kamu anut. Aku tahu sebelumnya kamu enjoy dengan pergaulan yang bebas ama para cowok. Aku tahu, kemarin kamu masih sering tebar pesona, main mata, sms-an ama cowok keren di kelas kuliah. Sejak saat itu kamu harus meninggalkannya karna kamu dikenalkan cara bagaimana agamamu mengatur dan menghormati wanita.

Berubah itu tidak nyaman. Kita selayaknya menyadari ketidaknyamanan adalah bagian dari perubahan, dan perubahan adalah bagian dari pengembangan diri. Dimana memang orang harus berubah ketika ia menemukan dirinya tidak berada pada kondisi yang ideal. Maka berubah adalah jalan menuju keidealan itu.

Sepotong episode berlalu saat kita berhasil melakukan lompatan-lompatan penyesuaian. Penyesuaian yang membuat kita mulai merasa nyaman dengan hidup yang baru. Dan pada akhirnya kita sadar telah melangkah sejauh ini. Langkah-langkah yang juga membuatmu tidak nyaman untuk kembali mundur. Mundur sebuah perubahan juga kan?

Tak ada yang salah apa yang dikatakan Fatih, bahwa mampu berubah adalah sebuah anugrah yang amat indah. Tapi apa cuma sampai disitu? Pertanyaannya, cukup banggakah kita hanya karena mampu merubah diri sendiri?

Perubahan yang ada pada kita itu baru titik awal dari perjuangan kawan. Layaknya sebuah lilin kita baru saja menyalakan lilin itu. Dan selaku pembawa lilin kita sudah harus siap dan bertanggungjawab menerangi lingkungan yang gelap.

Ada yang lebih indah dan lebih patut dibanggakan ketika kita tidak puas hanya mampu merubah diri kita sendiri. Demi Allah, tugas kita tidak hanya sampai disitu! Tugas kita juga merubah orang banyak. Keluarga, sahabat, tetangga, dosen, para pedagang, buruh, menteri, presiden, bahkan musuh Allah sekalipun, sebab semua orang yang memiliki hak untuk turut berubah.
Saya ingin mengeluarkan kawan-kawan dari prem egois yang terjadi selama ini bahwa da’wah bukan sekadar kewajiban kita . Tetapi da’wah pada hakikatnya juga merupakan hak mereka . Da’wah adalah jalan dan hidayah menjadi kunci emasnya. Untuk apa kita berda’wah? Agar di hari akhir nanti tak ada lagi alasan bagi mereka di hadapan Allah untuk menolak kebenaran, kita udah menyampaikan kok.

Lebih Berat – Lebih Menantang – Lebih Indah
Yang namanya merubah orang banyak itu lebih tidak nyaman dan memerlukan upaya yang lebih berat. Bayangkan, merubah diri sendiri saja susahnya minta ampun apalagi merubah orang banyak. Tapi apa kita lupa, Allah itu Maha Adil. Ingat, setiap ada perubahan maka disana ada anugrah. Jadi jika kita merubah banyak orang tunggulah anugrah yang berlipat yang jauh lebih indah pula.

Ah, aku ingat kekasih kita Rasul saw, pernah bilang,
“Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud & Tirmidzi)

Setiap kita mengajak 1 orang untuk melakukan amal, jika ia melakukan amal itu, maka kita mendapatkan pahala sebanyak amal tersebut. Luar biasa, apalagi jika seseorang tertunjuki, tobat, berubah total jadi mukmin dan punggawa da’wah sejati melalui upaya kita. Setiap ia beramal, kebaikannya tak berhenti mengalir pada kita. Sholatnya, puasanya, belajarnya, bahkan nafasnya sekalipun yang ia niatkan untuk Allah, kita dapat pahala yang sama, tenpa mengurangi pahalanya.

Setiap ia berda’wah, walaupun kita diam, kita juga dapat pahala da’wahnya. Sekarang pikirkan bagaimana jika orang yang dida’wahkannya-pun berubah, tobat dan jadi penda’wah juga, lalu penda’wah itu menda’wahkan lagi pada orang lain, dan begitu seterusnya? Hmm, pikirkan sendiri.
Itu baru kalau orang yang berubah linier, masing-masing level merubah satu orang. Bagaimana jika setiap level mengubah tiga, sepuluh, seratus, atau seribu orang? Berapa ratus, ribu, atau juta kali lipat pahala kebaikan yang kita dapat? Siap-siap saja jadi tukang tadah pahala! Betapa bahagia mereka yang mendapat anugrah seperti itu. Ini yang namanya MLP (multi level pahala), kawan. Sebuah penawaran yang sangat menggiurkan.

Diluar sana masyarakat dengan kungkungan sistem kufur mulai jenuh dengan madu berbalut racunnya. Tatanan kehidupan yang jahiliyah ini kini menunggumu untuk segera menguburnya. Disaat yang sama masyarakat semakin haus sisi relijiusitasnya. Mereka mencari dan menanti sesuatu yang baru yang akan mereka abdi. Maka untuk apa berdiam diri? Berubah, merubah, dan berbahagialah!

. . .
Akupun mulai berkhayal,
apabila semua berawal dan berakhir bahagia . . .

(lanjutan syair Fatih – Anugrah Yang Terindah)

Yogyakarta, menjelang deadline,
Saudaramu

Iklan
  1. Ust. Yusur Mansur juga menyebarkan multilevel ini.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: