My Immoral


oleh Mohamad Al-Ajiiib the Dragonheart

Aku tak peduli dikatakan bermoral atau tidak.
Aku lebih memilih disebut tak bermoral dari pada tak berakhlak.
Dan aku bukan pejuang moral dan tak pantas mempertanyakannya kepadaku.
Karena aku memang tak bermoral.

Moral, moral dan molar (EH… moral) itu wacana yang saat ini bergulir dipertanyakan oleh banyak orang. Dipertanyakan ditengah banyak permasalahan ketidakadilan sehingga masing-masing saling aku dialah yang bermoral. Tetapi itu semua ditinggalkan begitu saja setelah semuanya berakhir. Yang jelas moral menjadi pembicaraan yang menarik dari percaturan tingkat kampus hingga nasional.

Mungkin kita masih mengingat sewaktu masih dibangku sekolah dulu, Di mata pelajaran tertentu dia menarik dibahas hingga sang guru hingga berbusa-busa dijelaskan bahwa moral adalah sesuatu yang oleh hati merupakan kebaikan, sehingga para murid pun mengiyakannya menandakan paham. Tetapi saat murid mencoba mengaplikasikannya ternyata si murid tidak semudah itu. Bahwa standar nilai moral tidak memiiki standard kode etik yang sama. Katakanlah sesuatu yang kamu anggap benar belum tentu aku anggap benar. Dan itu juga didapat dari mata pelajaran yang sama yang dikemas saat pembahasan pluralism dan demokrasi.

Di amerika seorang gadis remaja yang umurnya telah menginjak 17 tahun, dia telah mendapatkan hak bebas untuk berbuat. Tidak bisa kemudian orang tuannya menayakan, “apakah mamu masih virgin atau sudah janda?” bisa-bisa oertu tersebut malah diseret anak gadisnya di meja hijau karena mempertanyakan hal yang bersifat privacy bagi gadis tersebut. Nah ini moral di Amerika. Di Indonesia saat ini tidak akan orang tua sampai diseret hingga pengedilan hanya karena mempertanyakan kevirginan anak gadisnya. Disisi lain Indonesia yang banyak ragam suku bangsa dan segala kekayaan pulaunya memiliki kode etik yang tidak sama satu sama lainnya. Di Jawa orang yang memakai koteka ya dianggap sebagai orang gila yang tidak punya moral, sebaliknya kalau kamu dipapua kamu mau telanjang sekalian sambil main-mainkan anu mu ya kamu ga akan dianggap yang tak bermoral.

Bagi aku hal itu kemudian menjadi tidak mengherankan ketika dikemudian hari aku menjumpai kalangan yang mengaku aktivis bermoral mengumpulkan laporan berupa fotocopy. Atau mungkin selama ini aku yang salah menganggap laporan itu merupakan tanggung jawab pribadi dan harus dikerjakan sendiri ternyata laporan itu boleh berupa fotocopyan. Aku juga tidak heran ketika kemudian hari aku menjumpai kalangan yang untuk mendapatkan dukungan calonnya tidak berterus terang melainkan dengan mengatakan untuk mengaktivasi hak pilih. Atau mungkin selama ini aku yang salah untuk terlalu polos dalam menghadapi situasi.

Ayolah kawan, janganlah kalian menjadi buta dengan memenutup mata dan hati kalian. Aku akui memang aku ini takbermoral tetapi Jangan hanya karena ketidaksukaan kalian dengan surat cintaku ini lantas kalian melepasnya di berbagai tempelan yang tersebar di penjuru dunia dan membuangnya di tempat sampah. Kita sama-sama tahukok kalau membuang sampah ditempat sampah adalah akhlak yang terpuji.

Tetapi aku juga sudah siap kok menghadapi kemungkinan-kemingkinan itu. Jadi kalau kawan-kawan melihat yang seperti itu sudah dibiarkan saja, jangan di sadarkan, dibiarkan sajalah, dan jangan dipaksa untuk berubah. Mungkin akunya juga yang salah.

Yang jelas pembebasan palestina dari cengkraman Israel tidak bisa dilakukan hanya dengan moral serta perjanjian damai, tetapi dengan menggempurnya. Karena aku GEMPUR ISRAEL.

Sleman, 12 December 2009, 02:46:41

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: