Cinta Merah Muda


Oleh Chio

Cinta itu rona merah pada pipi gadis muda yang tersipu malu-malu mau dalam gerimis romantis di kaki bukit. Syahdu syahdan, bukan? Aku belum pernah menyaksikan maupun mengalaminya. firasatku berkata, mungkin adegan seperti ini ada dan pernah terjadi di dunia nyata. Cuma entah di mana, dan entah siapa yang menjadi pelakunya. Dan semoga itu sebuah lamaran seorang pemuda didampingi orangtuanya kepada seorang gadis, dan keadaan itu bukan keterpaksaan. Seminggu kemudian nikah, baru romantis abis namanya.

Slalu romantis, begitu cerita cinta berulang. Tak pernah berubah. Mau berakhir ‘..dan mereka bahagia selamanya…’ ataupun yang tragedi konyol setia sampai matinya shakespeare.

Ha… cukup lah kita berbicara cinta ala novel roman begitu. Cinta yang akan kita bicarakan bukan cinta hangat melenakan. Bukan pula cinta buta tanpa pandang bulu. Apalagi cinta yang bermahkota pikiran ‘kasih sayang nomor satu, jenis kelamin nomor dua!’ puah! Mari kita masuki lorong cinta ala beda.

Cinta yang tak pernah melarang adalah sebuah cinta palsu! Cinta yang hanya mengatakan apa yang ingin kamu dengar dan bukan apa yang seharusnya kamu dengar juga palsu!

Seperti meraka yang baru-baru nikah, semua yang ada pada diri pasangannya dipandang serba baik. Apapun yang dikenakannya dibilang bagus. Semua tingkah lakunya dikatakan manis.

Ada dua sebab orang tak pernah melarang. Pertama dia sekedar menikmati untuk tak peduli dengan hasil akhir hubungannya nanti. Kedua, tak tahu apa yang benar, sehingga tidak mampu membedakan antara yang salah dan benar.

Ceweknya berpakaian minimales dibiarin aja. Yang kalau dia sendiri disuruh untuk berpakaian dengan jumlah bahan seadanya itu, cowok itu akan malu untuk keluar rumah. -Cowok aja punya malu!… tapi kalain para cewek?!? Argh….! gampang banget sih didoktrin kalau tubuh bagus itu ada buat dipamer-pamerin? Doktrin tolol! Ups, maaf darksidenya keluar. Kalem…kalem.. belum saatnya.- Inilah kelakuan para cowok dengan status : pacar seseorang cewek. Dengan pemahamnnya yang begitu dalam bahwa, pacaran itu untuk main-main dan ngisi waktu luang, maka biarkan sajalah teman perempuannya bisa dinikmati semua orang. Sok berjiwa sosial. Mungkin maksudn[a]ya berbagi daging ceweknya untuk para pengamen yang tak butuh, mereka yang sudah bosan, mata yang menatap jijik, mereka yang jalan nunduk-nunduk sambil ngucap, para pedagang yang tak peduli, para pemuda yang mencari bahan untuk cerita ringan kotor sesama tongkrongannya. Karena dia sendiri sebenarnya tak punya niat untuk serius denganmu! Sesungguhnya tak punya peduli selain dengan daging mudamu! Sekedar gengsi! Sekedar ada! Sekedar alasan untuk jalan-jalan!

Kebodohan cowok ini ditambahi sempurna pula oleh ketidakpahaman para cewek dalam memandang hidup. Tidak perlu kita berbicara sampai tingkatan dosa yang akan membautmu merasa lebih baik untuk tidak pernah dilahirkan. Karena kehidupan adalah sebuah anugerah jika kita menjalaninya dengan baik.

Ini sebuah analogi, untukmu yang masih teguh memegang agamamu, meski untuk mengetahuinya kamu perlu melihat dulu ktp-mu. Seorang cewek dengan dandanan minimales berjalan di depan barisan pemuda. Anggap aja satu barisan itu beranggotakan 20 orang, dan ada dua barisan. Para pemuda yang yang menatap sekali, langsung pada ngalihin pandangan dan ngucap permohonan ampun. Setiap pemuda begitu. Dan kewajiban mereka untuk ngucapinnya ya sekali. Sedangkan bagi perempuan minimales tadi, kewajibannya untuk ngucap adalah sebanyak angggota seluruh barisan! Dengan analogi ini, bayangkan berapa banyak permohonan ampun yang seharusnya diucapkan seorang cewek dandanan minimales setiap hari? Mulai dari berangakat sekolah, kuliah, kerja, sampai pulang ke rumah. Manusia yang ditemui tidak sekedar sepuluh dua puluh orang lagi.

Pikiran para cewek kadang begitu dangkalnya. ‘Huh, dasar mata keranjang, baru liat gini aja nafsunya’ Sebuah koment atas seorang yang terikat pandangannya kepada bagian tubuh dari cewek tersebut. Yang dengan kesadaran cewek itu, dipamerkan. Sesuatu yang sudah sering dilakukan akan menjadi suatu hal yang terasa biasa saja. Dimulai dari para orang tua yang mendandani anak ceweknya dengan pakaian centil ala anak kecil. Lalu pendidikan pakaianmu dilanjutkan majalah-majalah yang lupa menjelaskan kalau pakaian yang mereka pamerkan itu cuma boleh dipakai di dalam rumah, dengan pasanganmu setelah aqad nikah, dan di dalam kamar privasi.

Kamu tumbuh tanpa informasi bandingan, maka pikiran yang bisa lahir dari akalmu ya terbatas pada kemampuan merasa tidak ada yang salah ketika kamu memamerkan apa yang membuat terangsang para cowok. Tahan dulu senyummu, senyuman yang lahir dari pikran ‘berarti yang salah orang tuaku! Bukan aku…hehe..’. benar adanya kesalahan itu lahir atas andil orangtuamu, tapi kemana kesombonganmu dalam pesat kepongahan jati diri pada angka 17 tahun? Yang membuatmu merasa dewasa, padahal masih berjiwa anak kecil yang manja. Saatnya kamu mulai berani berpikir tentang apa kebanaran dan kesalahan. Luaskan pemikiranmu dari sekedar tetek bengek ilmu untuk mencari kerja semacam matematika, fisika, kimia, akuntansi dan sebangsanya. Hidup jelas bukan hitung-hitungan matematis! Perasaan tak terukur rumus! Cinta bukan paduan ramuan! Dan kebenaran dan kejahatan bukan untuk distabilkan, kawan! Jangan cuma bisa goresin lipstik, baru bisa pakai bedak sendiri aja udah ngaku dewasa. Ahaha… malu euy.

Komentarmu yang mengatakan, ‘baru lihat gini aja nafsu!’ basi! Karena sesungguhnya naluri itu memang sudah include di dalam diri setiap laki-laki. Dengan adanya naluri itulah manusia bisa lestari hingga sekarang ini. Naluri reproduksi, berpasangan. Naluri yang membuat ketertarikan diantara dua jenis manusia. Kamu pun lahir ke dunia ini salah satu prosesnya karena adanya naluri itu! Tidak berarti naluri itulah Tuhan, ya. Cerdas dikit dong. Naluri jenis ini kemunculannya memerlukan rangsangan, nah disinilah letak kesalahanmu mengatakan komentarmu. Kamu yang memancing naluri mereka timbul! Seperti orang yang berkata ‘hei, lihatlah aku!’. Setelah orang melihat, dia malah mengatakan ‘apa liat-liat?!’ sambil marah-marah.

Cowok juga jangan sok suci dan merasa menang membaca yang barusan. Hakmu itu hanya ada pada pandangan pertama, yang tak sengaja. Jangan sok ngakalin dengan ngeliat nggak berkedip, basi tahu. Segera aja berpaling, sekalian bikin tersinggung dan hancur tu cewek, ini kalua kamu cowok baik-baik. Kalau bejad mah biasanya bakalan terus mandang, makin lama mandang, makin ngaco khayalannya! Cowok yang nggak risih kalau dihadapannya ada cewek dengan dandanan minimales, curigai dan bisa menjadi indikasi kalau dia udah biasa ngeliat gituan. Karena sesuatu yang baru atau jarang kita temui, terlebih sesuatu itu kesukaan kita, pasti akan membuat kita beraeksi yang tidak biasa. Kemungkinan lain, jika cowok itu berkesan biasa aja, bisa jadi dia penganut ‘sesama lelaki bisa berkeluarga’. Puah!

Cinta tak kenal kritik adalah cinta palsu!
Kebanyakan manusia, lebih senang dipu[j]i daripada dikritik. Memuji itu gampang. Ulang saja kata pertama atau kedua terakhir dari pertanyaannya. Misalnya ‘aku cantik nggak?’ jawab aja, ‘cantik’. Udah. Mudah, kan? Memberikan kritik lebih berat. Jika sekedar kritik tak berdasar, dan tak mendalam lebih mudah. Kita tak perlu tahu kebenarannya seperti apa, cukup berkomentar tentang tentang suatu hal yang ditanyakan kepada kita, ada titik kurangnya, kasih saran. Seperti halnya artis yang ditanya tentang sebuah film yang bari ditontonnya. ‘Wah filmnya bagus, cuma satu kurangnya, saya nggak main di sana!’ Misalnya seperti itu.

Krtik berdasar itu berat di mental, berat di pikiran. Orang yang mengkritik mesti punya idealisnya seperti apa. Dan mereka yang mempunyai idealisme akan berusaha un[t]uk menyebarkan idealismenya itu. Maka maafkanlah ketika kamu membaca tulisan-tulisanku yang penuh kritik sayang. Udah bawaan mereka yang punya idealis sih.

Ada mereka yang dikritik melontarkan senjata andalannya, ‘yaudah kamu aja yang jadi ketuanya…’ dan semacamnya. Sayangnya untuk kritik yang ku tulis ini, tidak bisa kamu berikan jawaban itu. ‘Yaudah, kamu aja yang jadi aku!’, itu tidak berlaku di sini. Karena aku bukan dirimu, dan kamu bukan aku. Selamanya kita tidak akan bertukar.

Pilihan untuk menjadi manusia berguna itu cuma satu : bersedia berubah.

Kukutipkan untuk mu sebuah sajak sederhana dari seorang teman :

Kumasuki sebuah kota
Cinta, begitu namanya
Ragam pesona, warni warnanya
Aku diam sebentar untuk menuliskan
Maka cinta tak slalu merah muda
-sastrawan dilembah duka-

Kapan-kapan kita sambung lagi diskusinya.

Catatan punya kaki.
-Mulai ditulis 9 dzulhijah 1430/ 26 november 2009
-tulisan ini rencananya kan dikembangkan menjadi buku tersendiri. Yang ditampilin di sini semacam ringaksan kecilnya.
-minimales terinspirasi dari nickname seorang desainer, minimalez. Mungkin dari kata minimalis, sebuah gaya desain yang tidak rumit tapi asyik.
-masih saja banyak pemandangan yang bikin lapar tapi nggak ngasi makan.
-selesai di rental jam 12.45

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: