Agents of Change


oleh Ahmad Adityawarman

Pemuda. Sosok yang sering kali orang bilang sebagai calon-calon pemimpin masa depan, penentu kehidupan suatu bangsa di waktu yang akan datang. Kehadirannya acap kali membawa harapan besar bahwa ialah yang akan menjadi agen-agen perubahan.

Lihatlah.. Berbagai peristiwa besar pada bangsa ini tak lepas dari peran pemuda. Kemerdekaan dan reformasi. Ini contoh nyata bahwa memang generasi muda tak bisa diremehkan ketika mereka unjuk gigi. Tak terlalu berlebihan jika Bung Karno pernah mengatakan : ”Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka aku akan mengguncang dunia!”

Pada masa muda seseorang akan dibawa pada kematangan berpikir yang akan melahirkan sikap kritis, yang selanjutnya juga berpengaruh pada tingkah laku. Masa ini seharusnya adalah ketika seseorang takkan tenang kalau cuma diam, minimal ia akan berupaya untuk mencari perhatian. Masa ini seharusnya membuat seseorang ingin menunjukkan esksistensinya, bahkan kalau bisa akan membuatnya berteriak, ”Lihatlah, kalau aku ada!”.

Tapi tentu kita tak butuh hanya sekedar eksistensi. Jika hanya itu, tengok saja begitu banyak akhirnya yang malah tersesat dalam upaya pencarian jalan jati dirinya. Membentuk suatu komunitas dengan gaya yang khas, dengan maksud menyalurkan kreativitas, namun malah menjadi tak ada gunanya sama sekali, tak memberikan kontribusi pada lingkungannya. Malahan, fakta bahwa mereka ada merupakan masalah, menjadi beban bahkan sebagian orang berpikir bahwa mereka hanya kumpulan pengganggu tengik dan sebaiknya disingkirkan.

Mencari jati diri, memikirkan apa tujuan hidup, apa yang ingin dicapai. Mengkritisi kenyataan yang ada saat ini, apakah keadaan sekarang persis seperti yang diharapkan? Apakah sudah sesuai dengan tujuan dari segala tujuan hidup di dunia? Hal-hal ini sepatutnya cukup untuk menggelitik dan menggertak seseorang, khususnya pemuda untuk bangun dan berpikir lalu melakukan sesuatu yang bernilai.

Tapi, sudahkah pemikiran itu terlintas dalam benak? Fakta lagi, sekarang mereka yang mempunyai pemikiran seperti itu adalah minoritas. Mengutip perkataan seorang penulis sebuah mini magz, kebanyakan pemuda menganggap permasalahan terbesar yang mereka hadapi adalah masalah percintaaan! Dan tentu saja, percintaan ala hedonisme bukan cinta yang berdasarkan pada Sang Maha Pencinta. Hah, dikemanakan permasalahan-permasalahan besar yang menyangkut kehidupan, jika yang mereka pikirkan dengan keras adalah bagaimana bermaksiat dengan pacarnya besok hari? Sadar bung, ini dunia bukan cuma kita yang berpijak di atasnya. Masih tak peduli, silakan aja buat dunia sendiri. Bumi sendiri, jauh-jauh sana ke luar angkasa, hahaha.

Benar kan? Dunia yang kita tinggali ini pasti punya aturan mainnya. Yang paling tahu aturan apa yang paling baik dan sempurna tentu Yang Menciptakan dunia ini, kan? Kita juga, umat manusia pastinya harus melaksanakan aturan itu, karena kita juga adalah produk hasil karya-Nya. Yah, kecuali jika yang membaca tulisan ini ngakunya bukan manusia, silakan aja berhukum dengan hukum yang bukan untuk manusia. Berhukumlah dengan hukum anjing, misalnya, yang buang air dimana pun di tempat yang dia mau. Atau berhukum dengan hukum ayam, yang jika ingin memuaskan syahwatnya langsung aja nguber-nguber lawan jenisnya tanpa ampun dan permisi. Atau hukum kambing, yang bebas semaunya makan tanaman orang yang bukan haknya.

Sudah tahu kalau kita manusia punya aturan tapi tetap tak mau menjalankannya? Contohlah sebuah perusahaan, direktur perusahaan itu pasti punya seperangkat aturan yang harus ditaati karyawannya. Bagaimana jika si karyawan ngotot tak mau mengikuti aturan itu? Jelas si direktur wajib marah, karena pasti perusahaannya bakal tak berjalan sebagaimana mestinya, bahkan bisa jadi akan bangkrut. Jadi, pecat saja karyawan itu, beres kan? Nah, bagaimana, mau dipecat jadi manusia? Paling tidak, predikat yang kita sandang sebagai manusia harusnya dilepas karena dengan sombongnya menolak diatur dengan aturan manusia yang dibuat oleh Pencipta manusia.

Nah, kalau kita sudah bisa berpikir, tentunya dengan pemikiran cemerlang (al fikr al mustanir), maka sudah pasti akan menimbulkan kesadaran. Kesadaran bahwa dirinya manusia, makhluk yang seharusnya memiliki tujuan untuk apa dirinya hidup. Jelaslah bahwa hidup kita semata-mata hanya untuk mengabdi pada-Nya, menjalankan segala perintah-Nya. Karena kita berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Jika sadar bahwa segala sesuatu saat ini tak berjalan sebagaimana mestinya, maka pergerakkan sudah seharusnyalah dilakukan. Pergerakkan itulah yang pada akhirnya bakal menghasilkan perubahan.

Dan sekarang, saatnya memfungsikan predikat agent of change yang dengan penuh asa dilabelkan pada kita, kawan. Saatnya menyadari bahwa lingkungan sekitar bahkan dunia sedang perlu turun tangan kita. Fakta-fakta yang menuntut kita untuk melakukan perubahan. Terakhir, sebelum melakukan perubahan pahami dulu: apa yang ingin kita ubah, bagaimana cara mengubahnya, dan mau mengubahnya menjadi apa. Jika tidak, maka perubahan hanyalah suatu omong kosong.

Sesungguhnya Allah takkan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum tersebut mengubah keadaannya.” (QS Ar-Ra’d : 11)

1 Januari 2010,
baru sadar udah hampir satu semester jadi mahasiswa!
(Saatnya jadi lebih sedikit dewasa, hehe)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: