Bisa !!! InsyaALLAH, Revolusi Diri !


Oleh Zayed Norwanto

* ini adalah sebuah peluru perjuangan yang mudah-mudahan menjadi saksi akan sebuah gerakan konkrit dalam proses islamisasi segala lini kehidupan.n barisan-barisan huruf ini masih dalam proses perbaikan. so, mohon masukannya ya ikhwah fillah semua.

Bismillah….

Tu, wa, ga….

Dalam proses revolusi diri untuk mengondisikan potensi yang kita miliki supaya menjadi super. Maka sudah merupakan kaidah aksiomatik (kaidah yang mutlak kebenarannya) untuk memerlukan unsure optimis di dalamnya. Tapi, perlu adanya manajemen yang syar’I agar optimis itu tidak melebihi ambang batas sewajarnya, sehingga kita semua bisa mensterilkan keoptimisan yang ada dari sifat sombong dan ingin dipuji.

Sebenarnya, optimisme, atau yang dalam bahasa Islamnya disebut tafa-ul atau roja’ memang salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Namun perlu diingat bahwa sifat tafa-ul itu harus selalu diimbangi dengan rasa ‘adamul amni min makriLlah (tidak merasa aman dari ‘makar’ Allah swt), dan roja’ itu harus selalu diiringi dengan khauf (takut), bahkan, salah satu ciri seorang mukmin yang yusari’una fil khairat wahum laha sabiqun (bercepat-cepat dalam kebaikan dan menang dalam adu cepat meraih kebaikan itu) adalah waquluubuhum wajilatun (hati mereka senantiasa takut dan ngeri kalau-kalau kebaikan yang dilakukannya tidak diterima Allah swt). (lihat QS Al Mukminun: 57 – 61
Mungkin karena ‘over optimisme’ itu pulalah yang menyebabkan sebagian kader jarang sekali mengucapkan: insya Allah setiap kali ia mengungkapkan optimismenya itu, padahal ucapan insya Allah itu sangat sangat urgen bagi seorang mukmin, bahkan bisa dikatakan dharuri, artinya: kita akan hancur kalau tidak mengucapkan kata insya Allah itu, dan bahkan pula seharusnya ucapan insya Allah itu kita jadikan sebagai karakter, budaya dan gaya berbicara yang membedakan kita dengan yang lainnya.

Ada beberapa kisah yang menggambarkan betapa urgen dan dharuri-nya ucapan insya Allah itu bagi seorang mukmin:

a. Pada suatu hari, nabi Sulaiman (as) berkata: “Malam ini akan aku setubuhi 60 atau 70 istriku, sehingga semuanya akan hamil dan masing-masingnya nanti akan melahirkan seorang anak lelaki yang akan menjadi mujahid penunggang kuda fisabilillah”. Namun nabi Sulaiman (as) lupa mengucapkan insya Allah. Memang betul malam itu nabi Sulaiman (as) berhasil mensetubuhi 60 atau 70 istrinya, akan tetapi, dari 60 atau 70 istrinya itu, yang hamil Cuma satu, dan saat melahirkan, anak yang dilahirkannya bukanlah manusia yang sempurna phisiknya, ia hanya berupa badan saja, dalam riwayat lain, ia hanya sebelah manusia saja. Rasulullah saw bersabda: “Kalau saja nabi Sulaiman (as) mengucapkan insya Allah, niscaya akan terwujud apa yang diinginkannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

b. Di tengah puncak pertarungan pemikiran antara Rasulullah saw dan kafir Quraisy, orang-orang Quraisy itu mengirimkan dua (2) orang ‘cendekiawan’-nya sebagai utusan khusus kepada orang-orang Yahudi di Madinah. Tujuannya adalah agar orang-orang Quraisy itu mendapatkan support ‘ilmu’ baru dalam menghadapi Rasulullah saw. Dua utusan itu adalah An-Nadhar bin Al Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Orang-orang Yahudi membekali dua (2) orang ‘cendekiawan’ itu dengan tiga (3) pertanyaan yang mesti mereka ajukan kepada Rasulullah saw. tiga pertanyaan itu adalah:
1. Bagaimana kisah Ash-habul Kahfi.
2. Bagaimana kisah Dzul Qarnain, dan
3. Apa itu ruh.
Mendapatkan tiga pertanyaan seperti itu Rasulullah saw bersabda: “Besok saya ceritakan dan saya jawab”. Akan tetapi beliau lupa mengucapkan insya Allah.

Karena beliau saw tidak mengucapkan insya Allah, wahyu yang biasanya turun kepada beliau setiap kali menghadapi masalah, terhenti selama 15 hari, dan pada setiap harinya orang-orang Quraisy selalu datang kepada beliau untuk menagih janji Rasulullah saw. “Mana ceritanya? Besok .. besok .. besok
..”. Begitu kira-kira ucapan orang-orang Quraisy itu.

Rasulullah saw sangat bersedih atas kejadian itu.

Barulah setelah berlalu 15 hari, Allah swt menurunkan surat Al Kahfi yang berisi jawaban atas dua pertanyaan yang diajukan kepada nabi Muhammad saw, sedangkan pertanyaan yang ketiga disebutkan Allah swt dalam surat Al Isra’ (Bani Israil).

Pada penghujung akhir kisah Ash-habul Kahfi, Allah swt berfirman: “Janganlah kamu sekali-kali mengatakan: “Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok” kecuali dengan mengatakan insya Allah”. (QS Al Kahfi: 23 – 24).

Mungkin ada orang yang berkata: “Bukankah nabi Muhammad saw telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang?! Namun mengapa kesalahan “kecil” dan “sepele” ini mendapatkan “hukuman” sedemikian rupa?! Bukankah kebaikan beliau selama ini bisa menutup “kesalahan kecil”
atau “sepele” ini?!

Jawabannya:

a. Agar hal ini menjadi durus wa ‘ibar (pelajaran dan ibroh) bagi ummatnya, kalau orang selevel Rasulullah saw saja “dihukum” sedemikian rupa, bagaimana dengan kita-kita yang penuh dosa ini?!

b. Ada ungkapan yang mengatakan: “Hasanatul Abrar, sayyiatul muqorrobiin”. Artinya: ada hal-hal tertentu yang bagi orang-orang abrar (orang baik-baik) bisa disebut sebagai hasanat (kebaikan), namun bagi orang-orang yang berkelas muqorrob (dekat dan kekasih Allah) hal itu masih dinilai sebagai sayyiiat (keburukan).
Pada suatu hari nabi Musa (as) mengajar kaumnya, lalu ada pertanyaan: “Siapakah yang paling ‘alim diantara kalian?”. Nabi Musa (as) menjawab: “Saya”. Maka Allah swt mencela nabi Musa (as) atas jawabannya itu, dan memberitahukan kepadanya bahwa ada seorang hamba Allah swt yang lebih ‘alim darinya.

Singkat cerita, nabi Musa (as) ingin berguru kepada hamba Allah itu.
Hamba Allah itu menerima ‘lamaran’ nabi Musa (as) yang hendak menjadi muridnya, tapi dengan syarat: nabi Musa (as) tidak boleh bertanya, berkomentar dan apalagi mengingkari apa yang akan dilihatnya sebelum hal itu dijelaskan kepadanya.

Nabi Musa (as) menerima persyaratan itu.

Hamba Allah yang tidak lain adalah nabi Khidhir (as) itu berkata: “Akan tetapi kamu tidak akan mampu bersabar”.

Spontan nabi Musa (as) menjawab: “Insya Allah kamu akan mendapati diriku sebagai orang yang sabar”.

Dalam jawaban ini nabi Musa (as) telah mengucapkan insya Allah, akan tetapi jawabannya itu menunjukkan bahwa nabi Musa (as) “masih kurang tawadhu’ sedikit”, sebab ia mengatakan: “ … saya sebagai orang yang sabar”. Dia (as) tidak mengatakan: “ … saya sebagai bagian dari orang-orang yang bersabar”. Artinya: jawaban nabi Musa (as) bisa dikonotasikan seakan-akan di dunia ini tidak ada orang yang sabar selain dirinya. Berbeda dengan jawaban: “ … saya sebagai bagian dari orang-orang yang bersabar”. Sebab, jawaban seperti ini berisi pengakuan bahwa di dunia ini banyak sekali orang yang sabar dan saya insya Allah termasuk salah seorang dari mereka.

Karena “kurang sedikit tawadhu’ itu”, terbuktilah bahwa nabi Musa (as) tidak bisa sabar dalam berguru kepada nabi Khidhir (as) itu, sebab, setiap kali nabi Khidhir (as) berbuat sesuatu, nabi Musa (as) selalu berkomentar, bahkan mengingkari. (kisah lengkapnya bisa dilihat di QS Al Kahfi: 60 – 82).
Rasulullah saw bersabda: “Kita sangat senang kalau saja nabi Musa bersabar, niscaya akan banyak kisah yang bisa kita dapatkan darinya”. (HR Mukhari dan Muslim).

Ini berbeda dengan kisah nabi Isma’il (as). Saat ditawari oleh nabi Ibrahim (as) untuk disembelih, dia menjawab: “Wahai bapakku! Lakukanlah apa yang engkau telah diperintahkan, engkau akan mendapati diriku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash-Shoffat: 102).
Dan terbuktilah bahwa nabi Isma’il (as) mampu bersabar.

Nah loe, sangat-sangat penting kan InsyaALLAH itu. Pokoknya jangan takut nyebut insyaALLAH itu walau dihadapan nonmuslim, apalagi sesama muslim. Bahasa sederhana dari yang di atas, insyaALLAH tadi membuktikan bahwa pada hakikatnya ALLAH lah yang menentukan segalanya. Walau sesuatu itu bisa kita prediksi hasilnya dengan ketepatan mencapai 99%, tetapi kita wajib percaya bahwa hasil akhir ALLAH azza wajalla yang menentukan..

Tetapi jangan lebaaay ikhwah. Jangan sampe deh setelah ngebaca ini kalian pada nyebut-nyebut insyaALLAH melulu. “Pengucapan” insyaALLAH sifatnya kondisional, kadang kita harus menyesuaikan waktunya, di mana saja kita perlu menyebutnya dan di mana saja cukup insyaALLAH itu ada di hati. Contoh di mana insyaALLAh itu cukup ada di hati adalah ketika menanggapi suatu sunatullah. Misalkan api itu panas, jadi terlalu lebay lah kalau kalian nyebutnya gini. “ Api itu panas, insyaALLAH…”. T E R L A L U (sorry, jadi ngopy ucapannya bang haji nich). Cukup lah menyebut “Api itu panas” karena hal tersebut adalah suatu sunatullah yang tak terbantahkan lagi, tetapi kita tetap harus meyakini di hati kita bahwa ALLAH lah yang menentukan apakah api itu memang jadi panas, atau bisa berubah rasa. Seperti pada nabi Ibrahim as dulu. Ietz, kalau menyangkut sunatullah mending ga usah di verbalkan ucapan insyaALLAH, cukup di hati ikhwah. Tetapi ketika menyangkut suatu probabilitas (kemungkinan), maka insyaALLAH itu perlu. Setuju? Ya iya lah mesti setuju.

Tetap semangat ya, revolusi diri untuk menajamkan potensi dan meraih prestasi. Yang paling penting. Revolusi lah dirimu lillah, untuk membuktikan bahwa umat islam adalah umat yang produktif dan prestatif. Bisa !!!….. eitz, insyaALLAH tentunya.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: