Satgas Antimafia Hukum Temui Fasilitas Wah Penjara Ayin


NILAH.COM, Jakarta – Road show Satuan Petugas Antimafia hukum kembali dilakukan. Kali ini kunjungan ke Rutan Pondok Bambu. Namun apa yang ditemukan fasilitas mewah Artalita Suryani. Wow!Berdasarkan informasi yang dihimpun INILAH.COM, Minggu (10/1), Sekretaris Satgas Denny Indrayana menemukan beberapa penyimpangan di Rumah Tahanan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur. Penyimpangan tersebut adalah diberikannya fasilitas yang wah kepada beberapa tahanan.

“Kami menerima laporan dari publik mengenai penyimpagan yang terdapat di Rutan Pondok Bambu, kami berkoordinasi dengan Pak Patrialis (Menteri Hukum dan HAM) dan dia memberi izin sidak,” ujar Denny.

Beberapa narapidana adalah terpidana kasus suap jaksa Urip Tri Gunawan, Artalita Suryani (Ayin). Artalita memperoleh ruangan terpisah dengan tahanan lain dengan fasilitas wah. Seperti ruangan yang diperolehnya lebih besar dari lainnya. Dalam ruangannya terdapat fasilitas, televisi, kulkas, dan meja kantor.

“Saat kami datang, dia sedang mendapat perawatan gigi,” tutur Denny yang juga staf khusus presiden bidang hukum ini.

Ia menjelaskan, Ayin memperoleh ruangan yang luas itu di lantai 3. Setelah mengunjungi ruangan Ayin, Satgas pun melanjutkan ruangan tahanan lain yang berada di blok lain. Seperti, di lantai 2 Satgas menemukan ruangan Aling, yang merupakan tahanan kasus narkotika, memperoleh fasilitas karauke, televisi, dan ruang lebih besar.

Kondisi yang kurang lebih sama juga diperoleh tahanan lain, Darmawati, Ines dan Ery. “Ke depannya kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk penertiban ini. pelanggaran-pelanggaran yang terjadi akan kami proses,” tandas Denny.

KALAU miskin, janganlah macam-macam. Kalau kaya, baru boleh seribu, bahkan sejuta macam. Gambaran semacam ini dapat kita lihat di sel Artalyta Suryani alias Ayin di Rumah Tahanan (Rutan), Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sel Ayin yang foto pernikahan anaknya sempat menghebohkan, karena ada gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ani Yudhoyono, nampak sangat mewah. Sel tersebut kabarnya lebih menyerupai kamar hotel berbintang lima dibanding sebagai ruang tahanan. Dan lebih hebatnya lagi, Ayin dapat senantiasa melakukan perawatan kecantikan dengan mendatangkan ahli kosmetik ternama di Indonesia, seolah-olah dia berada di rumah sendiri.

Kondisi inilah yang membuat tim Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum saat mengunjungi Rutan khusus perempuan, Minggu (10/1) sempat geleng-geleng kepala. Mereka nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya bahwa di dalam Rutan ada kamar super mewah untuk tahanan orang kaya semacam Ayin. Seperti kita ketahui, Ayin dijebloskan ke dalam sel Rutan Pondok Bambu, setelah tertangkap basah menyuap Rp6 milyar kepada Jaksa Urip Tri Gunawan. Selain Ayin, Jaksa Urip juga tengah menjalani hukuman. Disamping dipenjara, Jaksa Urip dikenakan sanksi dicopot dari jabatannya dengan tidak hormat.

Karena kasus inilah kabarnya yang menjadi pemicu munculnya ketegangan antara pihak Kejaksaan Agung dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lepas dari apa pun sebabnya, temuan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum ini telah membuktikan kepada masyarakat bahwa hukum di Indonesia benar-benar tidak adil. Reformasi hukum yang didengung-dengungkan selama ini tidak lebih sekedar retorika untuk menyenangkan masyarakat. Selebihnya, hukum tetap dan selalu menguntungkan bagi orang kaya dan berkuasa. Dan itu tidak hanya terjadi di luar penjara. Di dalam penjara pun keistimewaan masih terjadi, seperti yang diterima Ayin.

Dan kita sangat yakin tidak hanya Ayin saja yang mendapatkan perlakuan istimewa. Para orang kaya lainnya, dan mereka yang berkuasa, hampir pasti mendapat perlakuan seperti yang diterima Ayin. Hal ini kabarnya tidak hanya terjadi di Jakarta atau Rutan tertentu saja. Namun hampir semua rutan melakukan kebijakan semacam itu. Artinya, kalau ada tahanan yang mau membayar mahal, dia akan mendapat ruangan istimewa dan kelebihan lainnya. Bahkan ada yang menyebut, mereka pun—para tahanan itu—dapat keluar masuk penjara seenaknya sendiri. Artinya, manakala ada peninjauan mereka siaga di penjara atau Rutan. Begitu pemeriksaan selesai, mereka dapat memilih, apakah tetap di Rutan atau kembali ke rumah.

Kondisi semacam itu tidak hanya terjadi sekarang saja. Namun sudah berlangsung sejak lama. Hanya selama ini, media nyaris tidak peduli, dan juga aparat yang berwenang meskipun tahu tetapi lebih suka menutup mata. Mengapa? Karena orang-orang yang dipenjara dan mendapat perlakuan semacam itu adalah orang kaya dan berkuasa. Mereka punya jaringan yang cukup luas. Sehingga bilamana ada aparat atau petugas yang mencoba mengusik keberadaan mereka. Maka siap-siap saja, aparat atau petugas tadi bisa terkena sanksi. Sanksi yang diberikan bisa bermacam-macam, bisa dimutasikan, atau ditunda kenaikan pangkatnya. Gurita persoalan inilah yang menyebabkan orang semacam Ayin dan lainnya bisa hidup mewah di dalam penjara. Dan inilah cerminan dari pemerintah kita yang belum melaksanakan azas adil untuk semua orang.

Sudah sangat jelas di depan mata kita, kebobrokan dari sistem demokrasi kapitalis sekarang. Tidak ada yang namanya keadilan. Apalagi berharap semua kasus korupsi, mafia hukum, makelar kasus dan semua permasalahan bangsa dengan sistem bobrok seperti ini. Inilah ilusi negara demokrasi, tidak ada yang namanya bagi rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Yang ada dari rakyat, oleh pemerintah, untuk pengusaha. Saatnya bagi kita membuang jauh-jauh demokrasi, ganti dengan sistem Illahi. Sistem yang mampu menyelesaikan semua permasalahan bangsa ini. Syariah dan Khilafah, jadi tunggu apa lagi?

  1. Ayin kembali membuat berita heboh, dengan ditemukannya fasilitas mewah di sel yang dihuni olehnya dalam infeksi mendadak SatGas pemberantasan mafia hukum. Sebenarnya bukan hal yang aneh bagi seorang ayin untuk bisa memperoleh fasilitas yang demikian mewah. Mengingat kapasitas dan kemampuan dia sebagai ratu lobi.

    Namun, siapapun orangnya yang menjadi tahanan. Sudah seharusnya diperlakukan sama. Sebab semua orang sama di depan hukum tanpa memandang status.
    Membuat Blog

    • Itulah tatkala hukum bisa dibeli oleh orang berpunya. Sistem demokrasi pada hakikatnya hanyalah baju karena yg lebih dominan adalah bukan demokrasinya tetapi Kapitalis-nya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: