Tuan Yang Terhormat


Oleh Muhammad Saiful Amri

Agaknya semakin hari perang urat syaraf yang terjadi di sekitar kita semakin ramai saja. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menjatuhkan siapa pun. Tapi merupakan ungkapan perasaan yang terpendam. Untuk itu izinkanlah bagi diri saya untuk mengungkapkan perasaan saya ini.

Bukanlah salah tuan-tuan yang terhormat atau saya, sehingga perang ini harus terjadi. Tuan dan saya adalah orang-orang yang dibesarkan ditengah-tengah rimba yang tidak ramah, yang membelenggu pikiran dan menutup hati kita dari kebenaran. Tuan dan saya telah dibesarkan dalam asuhan sekularisme. Sehingga wajar pula jika tuan dan saya pada awalnya sama-sama menganggungkan demokrasi. Karena sejak kita orok kita telah dijejali dengan santapan sekularisme. Dari kecil kita telah dididik untuk menjadikan demokrasi sebagai jalan hidup kita. Kita diajarkan pula supaya menjadikan demokrasi sebagai majikan yang harus diikuti apapun perkataanya.Lebih jauh lagi saya dan tuan telah dilatih utnuk menghambakan diri terhadap demokrasi.

Tapi pada suatu saat tuan dan saya harus berselisih jalan, suatu hal yang sangat menyakitkan bagi saya tentunya. Kenapa? Karena saya harus berselisih jalan, bahkan dalam hal-hal tertentu saya “harus berhadap-hadapan dalam sebuah perang” dengan tuan, suatu hal yang sangat menyayat bagi saya harus berlaku demikian dengan saudara sependeritaan saya. Kenapa bisa terjadi ?. sebab dengan segala keterbatasan, kebodohan, dan kelemahan pada diri saya, saya telah ditunjukan wajah asli godfather yang menjadi junjungan kita sejak awal. Wajah yang dilihat sepintas tampak rupawan dan menawan, ternyata adalah monster yang sangat mengerikan. Menebarkan aroma busuk, berwatak culas, licik, kejam, dan buas. Dia juga telah menjadikan pengikut-pengikutnya sebuas dirinya, sebejat dirinya.

Dia adalah iblis, dia adalah setan-setan yang telah merasuki jiwa setiap orang, sehingga orang yang dirasukinya menjadi linglung dan lupa diri. Orang yang dirasukinya tidak bisa berfikir dengan benar. Begitulah saya ditunjukan, wajah siapa sebenarnya majikan tuan itu. Karena itulah pada akhirnya saya memilih jalan untuk menentangnya dan kalau perlu menyingkirkannya dari medan kehidupan manusia.

Mengingat persahabatan saya dan tuan yang dilahirkan sebagai pelayan dan penjaga, saya memohon kepada tuan untuk kemudian tidak memusuhi saya karena jalan saya menjadi penentang monster itu. Saya tidak menyalahkan tuan yang kemudian berseberangan dengan saya, karena tuan telah ditipu oleh monster demokrasi. Dan tuan telah diperalatnya untuk memusuhi saya. Untuk itu sebenarnya walaupun berat dan penuh rasa pesimis akan berhasil untuk menyadarkan tuan, saya mengajak tuan untuk sadar dan memilih jalan yang benar. Bukan karena kebencian saya katakan hal ini, tapi karena saya dan tuan adalah saudara. Sadarlah wahai tuan yang terhormat ! Sadarlah bahwa suatu ketika tuan pasti akan dimangsa oleh monster itu jika dipandang tuan sudah tidak berguna. Sadarlah tuan marilah kita tempuh jalan yang benar, meski jalan kita itu akan menimbulkan kemurkaan monster sekuler, menimbulkan murka setan-setan demokrasi, serta menimbulkan pula kemurkaan drakula-drakula kapitalisme.

Janganlan tuan menjadi pembela mereka, karena mereka tidak layak untuk dibela, yang layak bagi mereka adalah disapu bersih dan jangan pernah diberi kesempatan sedikitpun untuk hidup dalam kehidupan manusia seperti kita. Marilah tuan kita bergandengan tangan seperti dulu, sama-sama suka, sama-sama duka kita rasakan bersama. Marilah kita bersama-sama mengabdi kepada majikan saya yang baru, majikan yang baik, majikan yang memberi kita kehormatan dan ketinggian, majikan yang menjadikan kita bermartabat. Yaitu ideologi Islam yang tinggi. Marilah kita sama-sama berjuang menghabisi hidup monster demokrasi sekuler itu.

Demikianlah ungkapan perasaan saya yang saya tujukan kepada tuan yang terhormat, saudara saya, sahabat saya, teman saya, adik saya, kakak saya dan siapa saja yang merasa saudara seaqidah dengan saya, Aqidah Islam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: