Ketika Karya Tidak Seimbang



Oleh Ardiannur Ar-Royya

“Pilihan kita di masa lalu merefleksikan bagaimana keadaan diri kita sekarang.”

Kata-kata ini tidak hanya sekedar kata-kata yang disusun dan digabungkan sehingga membuat sebuah kalimat, atau sekedar kata-kata biasa yang tidak punya arti, namun kata-kata ini adalah kalimat yang menggambarkan salah satu aspek kecil dari kehidupan manusia mengenai perjalanan manusia itu sendiri.

Di masa lalu, kita diberikan berbagai macam pilihan yang harus kita pilih. Setiap pilihan yang kita pilih, pasti akan memberikan dampak masing-masing terhadap kehidupan kita di masa depan nanti. Namun setidaknya, kita harus menyadari bahwa keadaan diri kita sekarang adalah hasil pilihan kita di masa lalu, seperti apa dan menjadi apa diri kita sekarang adalah hasil dari pilihan kita di masa lalu. Pertanyaan yang timbul adalah “Apakah kita senang dengan keadaan diri kita sekarang?” jawabannya, tentu kita semua punya namun yang harus dipahami dan diingat adalah bahwa ketika kita senang dengan keadaan kita sekarang maka pertahankan, jika tidak maka harus dirubah. Sama seperti mereka yang memutuskan di masa lalu untuk turut dalam perjuangan memperjuangkan agama Allah beserta syariatNya, mereka di masa sekarang tentu harus menanggung dan menghadapi berbagai resiko yang pasti mereka dapat ketika mereka memilih untuk menjadi seorang pejuang Islam. Mereka harus lebih banyak menyumbangkan tenaga, pikiran, harta bahkan kalau perlu nyawa untuk berjuang di jalan Allah.

Banyak hal tentunya berubah dalam kehidupan mereka ketika menjalani kehidupan di masa sekarang akibat keputusannya di kehidupan yang telah lalu. Termasuk ketika mereka dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang lain dalam menyampaikan ide-ide keislaman yang ada. Banyak cara tergantung dari pribadi masing-masing orang untuk bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang lain dan salah satunya adalah lewat karya-karya berupa tulisan.

Dewasa ini, memang banyak para pejuang Islam yang menggunakan sarana ini sebagai salah satu media untuk penyampaian opini serta ide-ide keislaman. Bahkan perkembangannya pun tidak bisa dikatakan statis, namun sangat dinamis jika melihat bagaimana besarnya pengaruh yang ditimbulkan di tengah-tengah masyarakat dari penggunaan media ini sebagai penyebaran opini keislaman dan ide-ide syariat Islam.

Sejatinya, tulisan-tulisan yang menjadi media penyebaran opini dan ide-ide syariat Islam ini hanya salah satu uslub atau cara. Namun, walaupun begitu tulisan-tulisan itu pun harus mengemban dan membawa substansi akan ide keislaman itu sendiri dan di sisi lain mengemban ide keislaman itu pun tidak bisa hanya setengah atau sebagian saja. Masalahnya, ketika kita menyampaikan ide keislaman hanya setengahnya saja artinya sama saja kita telah menipu masyarakat umum bahwa memang Islam hanya mempunyai konsep tentang kehidupan ini setengahnya saja. Setengah di sini maksudnya adalah ketika penyampainnya hanya berupa masalah ibadah mahdah saja atau masalah ijtima saja kepada masyarakat dan ternyata hanya ini yang terus menerus kita sampaikan sedangkan aspek lain seperti kritik terhadap kebijakan penguasa, urgensi Syariat dan Khilafah Islamiyah, sistem politik, ekonomi, sosial dalam Islam, dls ternyata tidak kita sampaikan atau bisa juga sebaliknya. Inilah yang disebut ketika kita menyampaikan ide keislaman itu hanya setengah atau sebagiannya saja.

Tentunya hal ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah karena Rasulullah pun menyampaikan Islam secara kaffah, menyeluruh dan menyentuh segala aspek kehidupan manusia tanpa terkecuali. Dan memang bisa kita lihat bahwa ketika Islam itu hanya disampaikan sebagiannya saja maka Islam tidak akan pernah bisa dilihat sebagai sebuah agama yang Rahmatan Lil Alamin karena ternyata Islam tidak bisa menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang ada dan sangat luas dikarenakan disampaikannya Islam hanya sebagian saja. Dan tentunya, sikap menyampaikan Islam hanya sebagian seperti ini tidak layak dan tidak pantas dimiliki oleh seseorang yang mengaku sebagai Pejuang Islam, anak rohis, anak pengajian, dls.

Namun, kenyataan berbicara lain. Fakta di lapangan berbicara kepada kita bahwa banyak aktivis keislaman atau yang mengaku dirinya sebagai anak rohis sepertinya tidak memiliki keberanian untuk memegang bara api Islam ini secara menyeluruh dan kaffah. Kebanyakan mereka hanya menyampaikan ide keislaman hanya sebagian saja misalkan hanya masalah ibadah mahdah, ijtima, pernikahan islami, dls dan ketika menyangkut masalah politik, ekonomi, sosial Islam, kritik terhadap kebijakan penguasa, urgensi penerapan Syariat Islam dan Khilafah, dls ternyata mereka justru diam seribu kata seolah-olah menutup mata dan telinga mereka akan sesuatu yang seharusnya juga menjadi bagian dalam pembahasan mengenai ide-ide keislaman.

Sebaliknya, ada juga aktivis dakwah yang hanya berbicara masalah politik, ekonomi, sosial Islam, mengerti akan urgensi Syariat Islam dan Khilafah, dls namun ternyata ia pun tidak mencermati aspek lain yang dibahas Islam seperti misalnya mengenai ibadah mahdah, ijtima, fikih, dls.Sebenarnya, yang harus didapatkan itu adalah keseimbangan kita dalam menyampaikan ide-ide keislaman tanpa mendominankan satu aspek keislaman saja namun dengan seimbang kita menyampaikan seluruh ide Islam secara kaffah dan menyeluruh. Begitu pula dalam tulisan kita, sangat tidak pantas jika tulisan yang kita buat ternyata hanya membahas ide keislaman sebagian saja. Tentunya tulisan-tulisan kita pun harus menyampaikan ide keislaman secara menyeluruh dari seluruh aspek kehidupan apakah itu tentang hablumminallah dan hablumminannas.

Sayangnya, kenyataan yang sering dilihat sekarang adalah banyaknya tulisan aktivis dakwah remaja yang ternyata hanya membahas masalah ijtimai, bahkan lebih menjurus kepada masalah percintaan islami saja. Begitu banyak mereka yang mempunyai kemampuan yang hebat dalam bersyair, berpuisi dan berkata-kata romantis mengenai percintaan yang dalam kasus ini adalah percintaan antara ikhwan dan akhwat atau antara sesama aktivis dakwah. Lihat, begitu banyak tulisan-tulisan yang isi dan substansinya adalah masalah , kisah, pergaulan tentang percintaan, dls atau bisa juga syair-syair, puisi, dls itu merupakan ungkapan hati sang aktivis dakwah yang membuat karya itu sendiri. Memang tidak ada yang melarang jika ingin berkarya seperti itu namun masalahnya adalah intensitas untuk berbicara masalah aspek-aspek lain dalam Islam seperti halnya isu-isu politik yang saat itu sedang berkembang justru tidak ada.

Kita sadar bahwa tulisan juga adalah media dakwah untuk menyebarkan pemikiran dan ide-ide Islam kepada masyarakat. Selain itu, juga sebagai media untuk penyadaran masyarakat tentang keadaan kehidupan mereka sekarang ini ketika ternyata kebijakan-kebijakan politik sekarang sudah tidak berpihak kepada masyarakat lagi justru membuat masyarakat itu sendiri terzalimi. Seharusnya tulisan-tulisan yang dibuat oleh para aktivis dakwah juga membahas masalah yang berhubungan dengan masyarakat bukan hanya masalah yang justru hanya berhubungan dengan dirinya sendiri.

Seperti yang sudah dikatakan, tidak ada yang melarang para aktivis dakwah untuk bersyair, berpuisi, bercerita percintaan islam, dls namun pertanyaannya adalah “Apa masyarakat sangat membutuhkan syair-syair, puisi-puisi, dan lain sebagainya yang notabenenya adalah tentang diri kita dan masalah percintaan?”

atau

“Sebenarnya yang mana yang lebih diperlukan masyarakat? Sebuah tulisan yang menganalisis permasalahan yang ada beserta kesalahan-kesalahannya dan terakhir memberikan solusi atau tulisan yang hanya bertemakan percintaan bahkan bisa jadi mengenai keadaan diri pribadi?”

Sekali lagi, tidak ada yang melarang jika seorang aktivis dakwah ingin berpuisi, bersyair, berkarya, dls mengenai masalah percintaan, ijtima, dls. Itu semua adalah haknya untuk berkarya asalkan tetap berada dalam batasan ke-syar’i-an. Namun yang menjadi masalah besar adalah ketika hanya aspek ini yang disentuh, ketika para aktivis dakwah hanya berbicara masalah ini saja secara terus menerus sedangkan melupakan aspek lain yang lebih penting seperti misalnya tulisan-tulisan yang membongkar ketidakberpihakannya keadaan politik saat ini kepada masyarakat beserta solusi akan masalah itu. Alangkah bergunanya jika kemampuan menulis para aktivis dakwah yang hanya berbicara sebagian dari aspek keislaman seperti masalah ijtima tadi digunakan untuk melahirkan karya-karya yang menyadarkan dan membangun masyarakat, tentu ini akan memperkuat perjuangan dan insya Allah akan semakin mempercepat datangnya Nasrullah serta Khilafah Islamiyah.

Ibarat aktivis dakwah yang misalnya hanya berbicara mengenai ijtima atau percintaan saja sedangkan tidak berbicara mengenai masalah dan isu-isu mengenai masyarakat yang sedang berkembang dan menjadi pembicaraan hangat, entah itu karena tidak berani atau tidak mau adalah seperti seekor singa yang berani dan bisa bersikap romantis pada kelompoknya umunya dan pada pasangannya khususnya sedangkan ketika dihadapkan pada kelompok hewan buas lain yang menganggu dirinya, kelompok serta pasangannya maka ia ternyata hanya diam dan tidak berani bahkan mungkin akan lari untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja.

Intinya bukan melarang seorang aktivis dakwah membuat tulisan dan karya-karya yang berbau hal-hal ijtima, percintaan, dls namun alangkah baiknya jika seorang aktivis dakwah atau minimal mereka yang telah memahami hakikat dakwah Islam seperti apa tidak hanya berbicara aspek itu saja tapi juga berbicara aspek lain dan tentu mampu menyeimbangkan antara keduanya. Artinya, seorang aktivis dakwah dalam berkarya dituntut untuk bisa menyeimbangkan penyampaiannya mengenai ide-ide Islam dari berbagai aspek kehidupan manusia yang juga dibahas oleh Islam sehingga tidak terlihat dominasi oleh satu aspek dominan yang terus menerus dibicarakan dan dianalisis sedangkan ternyata aspek itu adalah suatu aspek yang jika dibicarakan tidak aka ada habisnya dikarenakan aspek lain yang harus diselesaikan sebelum bisa menyelesaikan permasalahan aspek tadi secara tuntas.

Di sisi lain, seorang aktivis dakwah juga harus cerdas dan cermat dalam hal menentukan skala prioritas mengenai masalah dari aspek mana yang nantinya akan dibahas dalam tulisan atau media opini lainnya. Hal ini berkolerasi dengan kebutuhan masyarakat pada saat itu ketika ternyata ada satu isu yang mana masyarakat membutuhkan kebenaran fakta akan isu tersebut dan bagaimana Islam memandang isu tersebut serta memberikan solusinya. Aneh, jika orang-orang berbicara tentang hal “A” kita justru membicarakan hal “B” yang bahkan hal “B” ini tidak begitu penting dan tidak terlalu urgen untuk dibahas. Dan tentunya sikap seperti ini bukanlah sikap seorang aktivis dakwah! So, berusahalah untuk menyeimbangkan karya-karya kita di media opini baik itu berupa tulisan, seminar, pengajian, siaran radio dls.

Jangan hanya berbicara masalah ijtima dan percintaan Islami, dls saja namun juga berbicara masalah muhasabah kepada penguasa negeri muslim, politik, dls karena jika misalnya ada aktivis-aktivis dakwah yang takut, tidak berani atau malah tidak mau untuk berbicara masalah muhasabah penguasa negeri-negeri muslim, politik Islam, dls sedangkan ia sering sekali dengan lantangnya berbicara masalah ijtimai dan percintaan Islami maka sesungguhnya perlu dipertanyakan keideologisannya dan pemahamannya terhadap Islam karena Islam berbicara seluruh aspek kehidupan manusia karenanya Islam disebut Rahmatan Lil Alamin ataupun juga sebaliknya.

Mari sama-sama berjuang untuk melahirkan karya-karya yang merefleksikan dan membuktikan bahwa Islam itu berbicara tentang seluruh aspek kehidupan dan tentu saja Islam punya aturan menyeluruh dan lengkap mengenai kehidupan manusia dan pembuktian ini ditunjukkan dengan karya-karya aktivis dakwah yang isinya membahas seluruh aspek kehidupan manusia dalam pandangan Islam dan tidak dominan pada satu aspek saja. Keep Ideologist n’ Revolt with Islam!

*Tulisan ini dibuat bukan untuk menjatuhkan atau menjudge pihak tertentu namun diharapkan dari tulisan ini baik itu teman-teman seperjuangan dan terutama diri penulis sendiri bisa mengambil hikmahnya. Kalau memang benar apa yang disampaikan tulisan ini maka hendaknya diambil dan dipikirkan serta direnungkan, jika salah maka mohon dikoreksi dan dibenarkan. Intinya kita semua perlu keikhlasan dalam diri kita masing-masing untuk menerima sebuah kebenaran karena ketika kebenaran datang kepada kita hanya satu yang terus-menerus menghalanginya untuk menyatu dengan diri kita yaitu keegoisan dan ketidakikhlasan diri kita sendiri. Semoga kita mempunyai keikhlasan itu. Amien

By : Ardiannur Ar-Royya _ The Knight of Islam Ideologis

Malang, 14 Januari 2010, 06.24 PM

“Membuat sesuatu yang “Biasa” menjadi “Luar Biasa” dengan tindakan yang “Luar Biasa” pula!”

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: