Bedah Film KCB (Ketika Cinta Bertasbih)


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bisa juga menonton filem yang satu ini. Filem yang lumayan menggemparkan dunia persilatan…(haha). Bukan tanpa alasan, karena filem ini dianggap sebagai penawar kekecewaan filem sebelumnya, yaitu AAC yang dianggap terlalu melenceng dariapa yang diharapakan masyarakat luas, alias sangat banyak perbedaan dengan novelnya.

Walaupun sebenarnya filem yang di sutradarai Chaerul Umam ini ini telah lama tayang di bioskop ada beberapa alasan mengapa saya tidak menontonnya saat lagi hot-hotnya di bioskop. Alasan pertama adalah masalah materialistis, alias lagi kere…(wah buka rahasia nih…). Yang kedua, kalau ga salah saat itu lagi lumayan sibuk. Dan yang terakhir yaitu alasan ideologis, alasan-alasan sebelumnya hanya alasan penunjang. Alasan yang ketiga ini adalah, tidak ada bioskop di Banjarmasin (karena di bjm cuma ada 1 bioskop, kalaupun banyak belum tentu juga) yang bebas dari ikhtilat, alias campur baur antara laki-laki dan wanita. Nah lo… Emang ga boleh…??? Ya iyalah lah, our prophet Muhammad Rasulullah udah ngelarang kita buat ikhtilat. Dalilnya kebetulan saya lupa, dan ga sempat buka literaturnya, tapi yakin deh, sumpeh gua ga bohong…!!!

Oke kita langsung az balik ke laptop, kita bedah n kita kupas (tapi jangan kaya ngupas buah ketapi, coz ngupas ketapi biasanya di gapit di lawang…hahaha).

Oke, LETS CUKIDOT…!!!

Sebelumnya seperti yang udah kalian tahu (coz kemungkinan kalian udah pernah liat filemnya atau paling ga baca novelnya) Novelnya terdiri dari 2 bagian bahasa kerennya DWILOGI. KCB 1 settingnya di Mesir, dan KCB 2 di Indonesia, Solo, Wangen, de el el – lah pokoknya.

Novel dan film ini bercerita tentang seorang anak manusia yang lahir di Indonesia, dan melanjutkan pendidikan di luar negeri, di Universitas Tertua di DUNIA, universitas kebanggaan umat Islam. Ya itu lah Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir (kapan ya bisa ngelanjutin pendidkan disana, sebuah cita-cita tuh…!!!). Anak itu bernama Abdullah Khairul Azzam. Pada awal-awal perjalanan karirnya di Al-Azhar dia adalah seorang mahasiswa yang berprestasi. Pada semester satu dia dapat predikat Jayyid Ziddan (mun kada salah…lawas dah baca novelnya). Tapi semua berubah ketika negara api menyerang…(wew…salah cuy, ne kisah avatar ….) Semua berubah ketika ayahnya di Indonesia meninggal dunia. Akhirnya semua beban kehidupan keluarganyanya di Indonesia harus dia yang menanggungnya. Akhirnya dia banting setir dar mahasiswa yang rajin belajar menjadi seorang penjual bakso dan tempe, untuk membiayai semua kebutuhan hidup keluarganya di Indonesia. Dan hasilnya memag dia bisa menghidupi keluarganya termasuk menyekolahkan ketiga adik perempuannya. Tapi konsekuensinya kuliahnya jadi terbengkalai. Hingga dia harus 9 tahun kuliah hanya untuk menyelesaikan S1 nya.

Cerita berlanjut ketika dia merasa mulai ingin menyempurnakan separuh agama. Dan seterusnya lah….hingga bertemu dengan seorang perempuan berjilbab dan kerudung, Anna Althafunnisa. Pokoknya begitulah panjang banar kena ne note, mun ku kisahkan sampai habis, novelnya za panjang. Intinya yag handak q tulis sama kaya di novel.

PERBEDAAN ANTARA NOVEL DAN FILM

Sebenarnya apa yang di alami KCB tidak jauh berbeda denga AAC, yaitu mengalami penyesuaian, hingga terjadi perbedaan antara Novel dan Filemnya, walaupun ga separah AAC.

Seingat saya, ada beberapa cerita yang berbeda antara novel dan filemnya. Ada beberapa bagian dari cerita di novel yang tidak di ilustrasikan di filemnya, salah satunya adalah cerita tentang teman dari Husna adiknya Azzam yang bernama Zumrah. Selain itu juga ending dari cerita juga berbeda. Di novel, ceritanya selesai ketika Azzam da Anna telah menikah dan berbulan madu dipesantren milik kyai Luthfi ayah Anna. Dan disana Anna dan Azza mendapat e-mail dari Furqon bahwa Furqon ternyata tidak jadi menderita HIV, dan ingin rujuk dengan Anna. Tetapi Anna telah menemukan jodohnya, hingga dia menolak dan menyarankan agar Furqon melamar Elliana saja. Sedang di film, endingnya Furqon langsung mendatangi pesantren kyai Luthfi tetapi Anna dan Azzam beserta ketiga adik Azzam pergi entah kemana dengan hati yang gembira. Dan di sana Furqon menelpon Anna, dan megatakan keingingannya untuk rujuk dengan Anna. Tapi ya Anna menolak karena udah ketemu sama jodohnya. Dan secara mengejutkan datang lah Elliana ke pesantren kyai Luthfi untuk memberikan ucapan selamat kepada Anna. Dari situlah pertemuan kembali Furqon dengan Elliana. Dan cerita pun berakhir ketika mobil tyang ditumpangi Azzam, Anna dan ketiga adik Azzam melaju melewati sebuah jembatan. THE END

Sebenarnya ada beberapa perbedaan lagi, tapi menurut saya inilah yang paling mencolok.

KOMENTAR PRIBADI TERHADAP FILM INI

Sebagai penikmat film yang awam, terkesan filmnya tidak mampu mengilustrasikan setiap konflik yang ada dala cerita dengan mantap. Seakan konfliknya ya seperti itu saja. berbeda ketika saya membaca novelnya, terasa begitu bisa merasakan konflik yang ada di cerita, baik konflik fisik maupun konflik bathin. Sebagai contoh di KCB 1, konflik antara Fadhil dan Kumala, terasa hambar ketika melihat filemnya. Begitu pula konflik ketika Anna minta cerai dari Furqon, terkesan seperti biasa-biasa saja.

Yang menarik dari cerita KCB juga adalah sebuah pengilustrasian kehidupan yang lumayan Islami (dari segi akhlak, pakaian, dll. ga termasuk kehidupan tatanan pemerintahan yang Islami). Dalam filem ini divisualisasikan bagaimana seharusnya seorang muslimah harus menutup auratnya secara benar. Aurat wanita adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. DAn bagi seorang muslimah menutup aurat haruslah mmenggunakan JILBAB dan KERUDUNG. JILBAB adalah baju kurung yang terulur panjang hingga ujung kaki, sebagaimana yang ada dalam Al-Quran bahwa wanita harus “mengulurkan” bajunya hingga kaki (ayat Qurannya silahkan tanya akhwat, karena saya tidak ingat detilnya). Kerudung adalah penutup kepala yang lebar yang menutupi sampai dada. Ddan sosok penutup aurat yang benar sesuai standar tersebut ada pada tokoh Anna.

Tapi lebih dari itu, saya rasa film ini sudah lumayan bagus, karena memang memiliki persiapan yang jauh lebih matang dari AAC, dan ceritanya sudah sangat mendekati dengan Novel karangan HABIB.

IBROH DARI FILM DAN NOVEL KCB

Setiap cerita pasti ada ibroh yang bisa diambil untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari para penikmatnya. Diantaranya yang ingin saya uraikan adalah:

1. Semangat kerja keras yang Luar biasa. Berbeda dengan AAC, tokoh utama di KCB lebih merasakan suka dukanya kehidupan sebagai Mahasiswa Al-Azhar yang pas-pasan.

2. Semangat silaturrahmi. Setelah membaca novel ini terasa pentingnya silaturrahmi bagi kita sesama saudara muslim. Hal yang sering terlupakan oleh kita.

3. Semangat dan ikhtiar yang luar biasa untuk menjemput jodoh dari tangan Allah. Sampai-sampai si Azzam hampir melamar seorang wanita yang “idiot”.

4. Ini yang paling saya suka dari KCB. Bahwa pasti ada sebuah keindahan yang luar biasa di setiap rahasia Allah. Terbayang, seandainya Furqon tidak salah dalam mendapatkan informasi tentang HIV yang dideritanta, seandainya Azzam dan ibunya tidak mengalami kecelakaan, pasti Azzam dan Anna tidak akan menikah. Bahwa memang benar, bahwa ALLAh selalu memberikan yang terbaik bagi kita, walaupun sering kita tak menyadarinya.

Sebenarnya masih banyak ibroh yang bisa diambil, dan banyak yang ingin saya komentari, tapi notenya sudah panjang sekali. so udah dulu ya…

Wallahu ‘alam

***

Banjarmasin, 17 Januari 2009

Tulisan ini cuma iseng-iseng di tulis, semoga bermanfaat bagi yang membaca. N gabermaksud untuk terlalu mengometari filem orang, karena aku juga asal ngomen. Semoga yang ada di dalamnya, bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca.

    • firda
    • Februari 9th, 2010

    sy udah nonton pilem KCB1&2bukan dibioskop, tp kebetulan sedang silahturahmi ke kosan temen eh malah ditawari nonton KCB mau ga mau harus nonton –‘) kesimpulannya adalah Lebay -_-

    sy lebh apreciate dengan Novelnya ketimbang filemnya.. yah, secara literatur novel dijadiin pilem tdk mungkin akan sesempurna seperti di novel..

  1. saya lbih ska bca novel na dri pada nonton film na…
    ak ingin t? ap art nama ABDULLAH KHOIRUL AZZAM

    • Abdullah = hamba Allah
      Khoirul = Kebaikan
      Azzam = Tekad

      kira2 artinya Hamba Allah yang memiliki tekad yang baik

    • sugiarto
    • Oktober 17th, 2012

    kalo mau bedah film ini brp ya CP nya???

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: