I Believe with Something That can’t Seen by Eyes


oleh Ardiannur Ar-Royya

Siang itu, aku diajak pergi oleh keluargaku ke sebuah Mall terbesar di kota dimana dahulu aku pernah berdomisili disana untuk berdakwah. Aku diajak pergi kesana untuk menemani adik sepupuku yang ingin membeli sebuah sepatu basket untuk dipakai dalam sebuah pertandingan basket minggu depan. Kebetulan hari itu adalah hari minggu sehingga Mall itu penuh dengan banyak orang daripada hari-hari biasanya. Untuk masuk ke area parkir saja, yang mungkin dibutuhkan waktu sekitar 15 menit, justru menjadi 45 menit. Kurasa ini pun cukup menjadi bukti betapa penuhnya mall itu. Masuk mall, kami pun berkeliling memasuki toko-toko sepatu satu persatu sampai akhirnya adik sepupuku itu menemukan apa yang dia mau.

Sejatinya, aku punya sifat dan kebiasaan kalau aku kurang suka dan merasa kurang nyaman jika berada di tempat yang begitu ramai dan banyak orang seperti di mall ini. Hal ini juga disebabkan jika berada di keramaian seperti di mall tadi pasti pemandangan yang berada di depan mata adalah pemandangan yang sangat tidak mengenakkan dan menyiksa diri. Bagaimana tidak?

Di tempat keramaian seperti itu yang terlihat adalah aurat yang berhamburan dan terbang kemana-mana, perempuan-perempuan yang mengaku berpakaian padahal sejatinya ia telanjang, para laki-laki yang memakai celana yang melorot atau celana yang sudah tidak layak pakai karena robek dimana-mana, kehidupan hedonis yang kental sekali dengan budaya kaum kafir barat, pasangan muda-mudi yang mungkin ketika ditanya surat kehalalannya (surat nikah) pasti tidak ada, makanan-makanan barat yang bahkan dipertanyakan kehalalannya, dls.

Inilah realita kehidupan masyarakat kita ketika ajaran dan aturan agama yang sejatinya untuk membuat manusia punya yang namanya harga diri justru ditinggalkan sehingga manusia sekarang banyak yang kehilangan harga dirinya.

Saat itu, aku pun berpikir, bagaimana bisa menyadarkan orang sebanyak ini dengan berbagai macam pikiran, karakter dan kebiasaan mereka yang membebek kepada barat sehingga akhlaknya pun tidak jauh beda dengan akhlak-akhlak orang barat? Ingin sekali menolong mereka semua dan mengajak masuk kepada islam secara kaffah serta memperbaiki akhlaknya yang terlampau jauh dari akhlak seorang muslim.

Ingin rasanya menyadarkan mereka satu persatu agar akhlaknya baik, tentu ini adalah hal yang mungkin dilakukan. Namun, kemudian terjadi perdebatan dalam diriku, mungkin dengan memperbaiki akhlak mereka satu persatu adalah hal yang mungkin tapi mau sampai kapan? Pasalnya begitu banyak manusia di muka bumi ini yang mengaku islam namun perilakunya tidak mencerminkan seorang muslim, pasti membutuhkan tenaga yang super ekstra besar dan waktu yang sangat lama untuk berhasil melakukannya.

Kemudian, aku pun teringat kata-kata dari seseorang bahwa akhlak umat islam menjadi buruk seperti sekarang ini sebenarnya disebabkan karena adanya paksaan dan permainan sistem kehidupan yang pada dasarnya memang jauh dari nilai-nilai keislaman. Sistem kehidupan sekarang telah membuat segala macam hal yang berada di sekitar umat islam menjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan islam. Akibat interaksi yang terus-menerus dengan keadaan seperti ini maka umat islam pun secara otomatis terbentuk pola pikir dan pola sikap yang membebek kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan islam tadi sehingga akhlaknya pun menjadi rusak. Karenanya harus ada seperangkat sistem dan aturan yang diterapkan dari islam untuk ”memaksa” umat islam kembali kepada islam secara kaffah yang diterapkan dalam satu bingkai negara islam bernama Khilafah Islamiyah dimana aturan islam yang diterapkan akan ”memaksa” umat islam secara kolektif.

Akhirnya setelah dipikir-pikir, ini adalah solusi yang mendasar dan akan menyelesaikan masalah secara tuntas yaitu dengan memperjuangkan kembalinya aturan islam yang nantinya akan mengatur umat islam secara kolektif dengan aturan dan gaya hidup yang berasal dari islam sendiri namun tentunya dalam prosesnya juga tidak melupakan pemantapan dan perbaikan akhlak.

Namun, pikiranku kembali bertanya, ”Bagaimana mungkin bisa menerapkan sebuah aturan islam dalam bingkai kekhilafahan jika faktanya umat islam sekarang justru tidak tahu Syariat Islam dan Khilafah itu apa?”, “Bagaimana mungkin umat islam bisa melindungi Negara Islam yang nantinya akan berdiri jika sekarang dilihat kondisinya sangat lemah seperti ini?”, “Bagaimana mungkin islam bisa bangkit sedangkan keadaannya sangat lemah dan menyedihkan seperti sekarang ini?”, ”Dan seandainya Negara Islam pun berdiri, bagaimana mungkin bisa menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan yang ruang lingkupnya adalah dunia bukan hanya sebatas dari Malang ke Surabaya, atau Banjarmasin ke Martapura, ataupun dari Sabang ke Merauke?”, dls.

Kemudian aku sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat para pejuang islam berguguran dan mundur dari barisan perjuangan. Ketika mereka kehilangan pijakan untuk menjawab pertanyaan seperti itu sehingga pada akhirnya mereka berpikir bahwa kebangkitan islam, it’s impossible.

Bagaimana denganku? Aku Insya Allah tentu punya jawaban namun sayangnya, jawaban ini hanya bisa dimengerti, dipahami dan dipercayai oleh beberapa orang saja karena jawaban ini terdengar irrasional dan tidak logis bahkan bisa dianggap orang gila oleh sebagian orang. Jawabanku adalah,

”I believe with something that can’t seen by eyes!”

Mungkin terdengar irasional, namun bagiku sangat rasional mengingat diriku adalah seorang muslim.

Mungkin terdengar seperti angan-angan tapi bagiku ini adalah cita-cita besar hanya karena Allah.

Mungkin terdengar impossible tapi bagiku it’s absolutely possible dan merupakan sebuah tantangan, lagipula tidak ada yang mustahil di dunia ini kecuali yang dimustahilkan Allah.

Mungkin dipertanyakan dasar yang macam-macam namun bagiku cukup hanya dengan berdasar pada kebenaran Allah, dan Rasulullah serta janji-janji Allah. Dan itu cukup membuatku tidak akan lari dari barisan dakwah ini.

Mungkin sangat sulit dimengerti, wajar karena hanya mereka yang percaya pada Allah dan janjiNya lah yang mampu mengerti.

Ya, bagi mereka para pejuang islam sejati, para Hamilud Dakwah Ideologis tidak ada yang namanya ketidakpercayaan kepada kebenaran Allah termasuk juga janji-janjiNya. Jika Allah sudah berjanji bahwa Khilafah pasti kembali maka itu pasti terjadi suatu saat walau bagi mereka, atau sekalipun kita hal itu sangat-sangat mustahil tapi Allah pasti akan menepati janjiNya dan mengembalikan Khilafah dengan suatu cara yang kita pun bisa jadi tidak pernah memikirkan dan terlintas dalam benak kita.

So, sungguh memalukan jika ada yang mengaku pejuang islam namun ia tunduk pada fakta yang ada sehingga ia mempunyai aqliyah yang pragmatis dan terlebih lagi ia keluar dari barisan dakwah.

“Just Trust to Allah and It Will Give Us a Very Powerful Power to Fight for Islam”

Rabu, 27 Januari 2010

Pukul 08.50 wita in My Memoriam House

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: