Menulislah untuk Perubahan


oleh Ahmad Adityawarman

Umat Islam saat ini tengah berada dalam keadaan yang menjadi titik nadirnya: mengalami keterpurukan yang amat sangat. Padahal Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam dan umatnya pun berlabel predikat umat terbaik. Itu jika Islam diterapkan secara keseluruhan dalam berbagai aspek, bukan seperti sekarang dimana lebih dari setengah ajaran Islam disingkirkan dan sebagai gantinya umat Islam dipaksa oleh penguasanya yang zalim untuk menerapkan aturan bobrok buatan manusia semacam demokrasi.

Dan kebanyakan dari kita telah mengetahui hal ini, permasalahan umat beserta solusi konkrit atas itu. Kita yang telah menerima dengan ikhlas ajaran Islam, menjadikannya sebagai landasan mendasar dalam segala hal, melaksanakan aturannya sepenuh hati karena kesadaran akan hubungan kita kepada Sang Khalik, pastinya sepakat bahwa Islam bukan sekedar agama pemuas kebutuhan spiritual saja namun jauh lebih dari itu: Islam adalah sebuah ideologi. Ini bukan sebuah doktrin yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, tapi pernyataan ini lahir dari hasil pemikiran yang cemerlang terhadap fakta bahwa ajaran Islam itu komprehensif, mengatur hal yang paling kecil sekalipun hingga masalah bernegara (baca penjelasan lengkapnya dalam kitab Nizham al-Islam karangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani). Tentunya setiap ideologi bersifat solutif dan praktis, tak sekedar teoritis. Kita yang meyakini kebenaran Islam memahami bahwa ideologi ini lah satu-satunya yang mampu mengatasi segala problematika umat dengan benar pula.

Gelisah. Mungkin itulah yang sering dirasakan mereka yang mengemban suatu ideologi, tapi tak berupaya menyebarkan ajaran ideologi yang diadopsinya itu. Wajar, karena memang itulah ciri manusia ideologis. Mungkin sama seperti sebuah teko penuh berisi air yang dipanaskan, ketika mendidih airnya mulai menggelegak berupaya menumpahkan dirinya keluar dari teko itu.

Dan tak cuma masalah ideologi, ide apapun, kebenaran, ilmu dan kebaikan apapun jika kita tak berupaya menyampaikannya kepada yang lain semua itu tiada gunanya. Analogi yang sering digunakan, ilmu itu bagaikan air: jika ia mengalir akan memberi manfaat bagi kehidupan sekitarnya, jika ia hanya tergenang maka air itu hanya akan menjadi tempat bersarangnya berbagai parasit dan menjadi sarang penyakit. Tak bermanfaat sama sekali bahkan merugikan.

Berhentilah memendam segala ide kita yang semula cemerlang membusuk tak berguna sehingga membuat otak dan hati kita ikut membusuk karenanya. Sampaikan dengan metode dan cara apapun. Apakah itu dengan lisan maupun tulisan. Dan kali ini, kita coba sedikit memahami tentang menulis.

Menulis itu membagikan seluruh gagasan kita entah itu melalui tinta yang tertuang pada lembaran-lembaran kertas maupun gesitnya jari tangan yang mengetikkan kata pada keyboard alat canggih abad 21 itu. Memang tak semua hal yang bisa diungkapkan secara lisan mampu dikemukakan melalui tulisan. Tapi sama juga bahwa banyak sesuatu yang tak dapat dikomunikasikan dengan lisan karena rasa sungkan bisa disampaikan bahkan dengan ekspresif oleh tulisan.

Di dunia menulis, kita bebas menyeleksi dari banyaknya kata-kata untuk disusun menjadi kalimat dan paragraf-paragraf yang berisi makna dari apa yang ingin kita sampaikan. Di sini kita juga bebas menyuarakan aspirasi kita, selama itu masih bersesuaian dengan etika hukum syara’. Dan sebagai seorang Muslim, kita tahu bahwa sebaik-baik perkataan adalah menyeru kepada jalan Allah dan mengajak kepada kebaikan. Dengan memanfaatkan media tulisan, tak terbayang berapa pahala yang bisa kita panen tiap saat orang membaca dan terpengaruh oleh tulisan kita, tentunya dalam hal ini tulisan yang menyerukan amar ma’ruf nahi munkar.

Terkhusus untuk yang memahami pentingnya perubahan, media tulisan akan menjadi amunisi yang ampuh. Kita tahu tak semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan kita, atau malahan bertentangan. Ada yang peduli terhadap nasib umat, ada yang tidak. Bait demi bait revolusi tulisan kita semoga berkontribusi untuk membangunkan mereka yang tak peduli karena tak sadar itu.

Maka, apalagi yang kalian tunggu, kawan. Segera luapkan pemikiran-pemikiran cemerlangmu yang sudah tak sabar untuk ditumpahkan. Asah kemampuan kita mulai sekarang, coba dan terus coba. Pada waktunya, rasakan indahnya tarian jemarimu yang menghasilkan kata-kata penuh makna. Saatnya menghujamkan peluru tajam pemikiran tepat ke otak mereka yang tak paham pentingnya perubahan. Hingga mereka tahu, apa arti sebuah revolusi itu.

– Tulisan di atas cuma hasil kerjaan iseng orang yang masih perlu banyak belajar nulis. Ada beberapa istilah dari rekan seperjuangan yang dikutip-

(prajurit intifada)

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: