Untuk Adik Kelasku


oleh Ardiannur Ar-Royya

*Tulisan ini aku dedikasikan untuk adik-adik kelasku yang sebentar lagi akan menempuh UAN dan memasuki dunia perkuliahan serta sebagai renungan ulang bagi kawan-kawanku yang sekarang sedang menjalani dunia perkuliahan.

~Tidak lulus UAN adalah sebuah kiamat dan kematian~

Ini mungkin yang menjadi filosofi kebanyakan siswa kelas XII SMA yang akan menghadapi UAN. Bagi mereka, UAN ini yang nantinya akan sangat menentukan nasib mereka. Karena, jika mereka tidak lulus maka akan banyak masalah yang akan mereka dapatkan dan hadapi. Bahkan tertanam dalam pikiran mereka bahwa, “Ga lulus UAN, dunia bakal kiamat deh!”, “Ga lulus UAN artinya kematian bagiku, aku ga sanggup hidup deh!”, “Mending ku mati deh daripada ga lulus UAN, ga sanggup aku nahan malunya!”, dan anggapan lainnya. Anggapan ini ternyata memberikan implikasi yang buruk dalam diri mereka, akibat pola pikir bahwa tidak lulus UAN = Kematian maka muncullah budaya ”Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.”

Yap, budaya ini kerap kali berkembang di kalangan remaja-remaja SMA yang akan menghadapi UAN. Pola pikir yang ada adalah mereka takut akan kengerian jika tidak lulus dalam UAN. Sehingga, otomatis mereka dituntut harus lulus dalam UAN yang nantinya akan mereka hadapi dan atas alasan ini akhirnya membuat mereka menempuh segala macam cara, mekanisme untuk bisa lulus UAN ini. Termasuk cara-cara dan mekanisme yang tidak fair, terlebih lagi tidak dibolehkan oleh Islam.

Kenyataannya, memang wajar adanya semacam rasa takut dalam diri mereka akan kemungkinan tidak lulusnya mereka dalam UAN nanti. Namun, bukan berarti perasaan semacam ini dibiarkan membesar tanpa bisa dikendalikan. Sehingga, membuat kita melakukan segala macam cara untuk bisa mencapai tujuan kita tadi. Islam khususnya dalam hal ini adalah Allah, lebih menilai dan memperhatikan proses yang dilakukan daripada hasil yang akan didapat. Masalah hasil tentu akan diberikan Allah sesuai dengan proses atau usaha yang sudah kita lakukan, dan sudah tentu berbicara tentang hasil hanya Allah yang tahu bagaimana nantinya.

Islam melarang kita dalam proses menempuh sesuatu ataupun untuk mendapatkan dan meraih suatu tujuan itu, dengan cara menghalalkan segala macam cara tanpa memperhatikan lagi boleh atau tidaknya serta keharamannya. Jika dalam usaha mendapatkan suatu tujuan kita menghalalkan segala macam cara termasuk dalam perkara untuk bisa lulus UAN ini maka kita tentu sudah melanggar sesuatu yang tidak dibolehkan oleh Islam dan pastinya kita akan menerima dosa sebagai konsekuensi atas perbuatan kita tadi.

Lagipula, apa baiknya kita melakukan sesuatu yang menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. Jika seperti itu tentu kita layak disebut sebagai seorang ”Pengecut”. Apa mau kita disebut sebagai seorang pengecut? Dan pantaskah setelah kita menghalalkan segala cara untuk lulus UAN dan akhirnya mungkin kita lulus, kita akui kelulusan itu sebagai jerih payah kita sendiri? Berapa orang yang kita sia-siakan pengorbanannya untuk mengajari kita? Berapa orang yang kita bohongi? Dan sadarkah kita bahwa kita telah membohongi diri kita sendiri bahkan cenderung menzalimi diri kita sendiri?

Kemudian ketika kita sudah lulus dan mulai belajar di perguruan tinggi, ternyata kita mendapat kesulitan yang sangat ketika berhadapan dengan pelajaran-pelajaran semester awal di perguruan tinggi itu yang notabene masih berhubungan dengan pelajaran kita sewaktu SMA. Jelaslah kita merasa kesulitan karena kita tidak mau jujur pada diri kita sendiri bahwa kita memang belum menguasai pelajaran yang ada dan mungkin saja seharusnya pada waktu UAN itu kita belum pantas lulus. Hanya saja kita memaksa untuk lulus dengan alasan pola pikir yang ada pada diri kita tadi.

Memang kita semua ingin tujuan kita tercapai, termasuk untuk bisa lulus UAN tapi tidaklah pantas kita menghalalkan segala macam cara untuk berhasil mencapai tujuan kita itu. Sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana proses yang kita lakukan dan kita usahakan, masalah hasilnya nanti adalah urusan Allah. Yang pasti, Allah tentu akan memberikan hasil yang sepantasnya sesuai dengan usaha dan proses yang sudah kita lakukan. Jika kita percaya pada Allah, maka yakinlah Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Apapun hasilnya, kita harus menerima dan bersabar serta bersyukur dan jangan sekali-kali beranggapan bahwa Allah tidak adil, Allah kejam dan berbagai macam pikiran negatif lainnya. Tentu Allah Maha Adil, dan Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Namun, jika kita tidak percaya pada Allah dan tetap menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan maka tanyakanlah keimanan kita pada diri kita masing-masing, apakah kita beriman atau tidak!

Di waktu yang tersisa ini, persiapkanlah diri sebaik mungkin dan fokus untuk menghadapi pertempuran besar nanti dan yakinlah bahwa Allah pasti akan membantu mereka yang membantu agama Allah dan berdoa kepada Allah. Jangan pernah meninggalkan aktivitas berdoa karena bagaimanapun doa juga menentukan keberhasilan kita. Tetap relax dan santai, jangan terlalu gugup karena keadaan yang seperti ini justru akan membuat keadaan menjadi tambah buruk. Intinya, fokuslah untuk melakukan proses yang terbaik, jangan fokus kepada hasil dan jangan sampai tergoda untuk melakukan segala macam cara untuk mencapai tujuan karena sedikitpun itu tidak ada gunanya.

~Tentukan Pilihanmu dengan Hati-hati agar Tidak Menyesal ke Depannya~

Oke, setelah kita tadi berbicara mengenai UAN, sekarang kita akan membicarakan mengenai masalah-masalah pasca UAN. Setelah lulus SMA, umumnya pasti ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Banyak pilihan yang disediakan dan ditawarkan berbagai universitas yang ada di Indonesia dengan berbagai keanekaragaman fakultas dan jurusan yang ada. Sebelum UAN pun sudah banyak dibuka pendaftaran dan tes untuk masuk ke perguruan tinggi ini.

Kemudian, masalah yang muncul adalah pilihan universitas dan fakultas serta jurusan yang akan dipilih dan diambil. Yap, ini sangat menentukan karena menyangkut masa depan kita sendiri. Kita harus benar-benar mengenal kemauan diri kita, hati kita ingin yang mana, ingin masuk fakultas yang mana. Intinya adalah yang mana hati kita senangi untuk nanti menerima pelajaran yang ada. Karena jika hati terasa ikhlas dan senang untuk menerima suatu pelajaran maka akan terasa mudah dan nikmat menjalaninya.

Namun, seringkali ada beberapa dari mereka yang dipaksa orang tua untuk memilih universitas bahkan sampai memilih fakultas dan jurusan sesuai dengan keinginan orang tua. Wajar memang terjadi hal seperti ini, karena orang tua ingin kita menjadi seseorang yang sesuai dengan harapan mereka. Tentu akan menjadi dilema bagi mereka yang ternyata pilihannya berbeda dengan pilihan orang tua. Jika menghadapi hal seperti ini, yang harus kita lakukan adalah mendiskusikan pilihan kita dengan orang tua sehingga ada jembatan penghubung antara keinginan orang tua dengan keinginan kita. Hanya saja, jika hal ini pun tidak berhasil dan orang tua tetap bersikeras agar kita memilih sesuai dengan pilihan mereka maka lebih baik kita mengikuti apa yang menjadi keinginan mereka. Karena, dalam hal ini ridha orang tua lebih penting daripada apapun. Jika kita menjalani sesuatu tanpa ridha dan doa dari orang tua maka pasti akan sangat sulit untuk menjalaninya.

Perlu dipahami, pilihan apapun akan tetap mengantarkan kita kepada satu kondisi khas dan akan menentukan bagaimana keadaan kita ke depannya nanti. Karenanya, sangat penting jika kita punya target hidup yang ingin dicapai sehingga akan membantu kita dalam menentukan perihal pilihan kuliah ini dan kita punya kejelasan dalam menentukan alur hidup dan cita-cita yang ingin dicapai.

~Jangan Menyesal dan Mengeluh jika Sudah Memilih dan Menjalaninya~

Untuk bagian ini, mungkin tidak hanya sekedar bisa menjadi masihat bagi mereka yang akan menapaki dunia perkuliahan. Namun, juga bisa menjadi renungan bagi mereka yang sudah menapaki dunia perkuliahan. Yah, memang jika kita sudah memilih mengenai perkuliahan ini dan sesuai dengan keinginan kita maka tentu kita akan menikmati menjalaninya. Namun, ternyata juga tidak sedikit mereka yang menyesal setelah menjalani perkuliahan yang dahulu mereka pilih. Ini hal yang wajar tapi juga tidak baik karena ini menunjukkan ketidaksiapan mereka dalam menghadapi dunia perkuliahan.

Sering terdengar berbagai keluhan dari mereka yang baru menjalani semester awal dalam dunia perkuliahan seperti, ”Aduh, banyaknya tugas!”, ”Kalau tahu belajarnya gini, mending dulu ga usah masuh jurusan ini!”, ”Terlalu benar kuliah gini, nyesal dah aku kuliah kalo gini namanya!”, dan keluhan lainnya. Inilah contoh ketidaksiapan seseorang menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan bayangannya. Mungkin mereka masih berpikir dan membayangkan bahwa kuliah itu layaknya seperti SMA dimana pekerjaan rumah masih bisa terlambat ngumpulnya, tugas masih bisa dikerjakan di sekolah, guru masih bisa dilobi untuk mendapat nilai, dan lain sebagainya. Padahal pada kenyataanya kuliah jauh berbeda dengan sewaktu di SMA.

Saat di kuliah tidak ada lagi yang namanya toleransi keterlambatan mengumpul tugas, jika telat maka akan diberi nilai nol. Tidak bisa lagi melobi dosen jika memang kita tidak punya pembelaan yang kuat agar dosen memberikan nilai yang bagus untuk kita. Tugas akan sangat banyak, kita dituntut untuk aktif dihadapan dosen jika ingin memperoleh nilai bagus dan tentu dalam dunia perkuliahan kita harus mempunyai manajemen waktu dan diri yang super teratur kalau tidak maka akan berlakulah pepatah bahwa waktu itu bisa menjadi pedang.

Jika sudah menghadapi dunia perkuliahan, tidak ada gunanya kita mengeluh apalagi menyesali pilihan yang kita buat dan ternyata Allah mengabulkan pilihan kita itu. Tidak pantas kita mengeluhkan sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah, apalagi berasal dari pilihan kita sendiri. Mengeluh dan menyesal hanya akan membuat kita semakin hancur dan tidak berdaya menghadapi berbagai permasalahan yang ada dan disatu sisi juga bisa diartikan sebagai sikap tidak bersyukurnya kita terhadap qada dan qadar yang ditentukan dan diberikan oleh Allah. Banyak mengeluh juga merupakan bentuk dari kelemahan kita dalam menghadapi persoalan yang ada di dunia ini.

Jadi, ingatlah bahwa apa yang kita pilih sekarang akan menentukan masalah-masalah yang nantinya akan kita hadapi. Tidak ada satupun pilihan yang tidak menyediakan masalah karena tiap pilihan yang kita pilih tentu ada tujuan di dalamnya dan untuk menuju tujuan itu pasti akan ada banyak sekali tantangan dan masalah. Pertanyaannya adalah apakah kita bisa menghadapinya dengan terus berusaha, berjuang melewati segala macam tantangan dan masalah yang ada atau kita hanya bisa menjadi seorang pengeluh yang hanya diam tanpa melakukan apapun bahkan cenderung tenggelam dalam masalah yang ada? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing!

By : Ardiannur Ar-Royya (Amirul jihad yang menerangi bumi)

Malang, 08 Februari 2010

Pukul 05.44 wib

“Membuat Sesuatu yang Biasa menjadi Luar Biasa dengan Tindakan yang Luar Biasa pula”

  1. tp katanya untuk UN kali ini ada ujian gelombang kedua buat yg ga lulus ya?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: