Renungan 18 tahun


Oleh Ardiannur Ar-royya

Hmm, mungkin hanya bermacam-macam huruf yang menyatu membentuk berbagai macam kata dan akhirnya dengan indahnya membentuk berbaris-baris kalimat yang bisa jadi bagi orang yang membacanya hanya untaian kata yang tergantung tak bernyawa di sudut hati yang kosong! Mungkin saja bagaikan barisan tentara berbentuk kata-kata yang melewati sel-sel otak tanpa meninggalkan bekas dan perasaan yang mengesankan bak bintang yang terlihat jelas dari atas tanah tempat kaki berpijak, bintang indah yang tergantung dengan tenang di atap langit Sang Pencipta! Mungkin kalimat-kalimat ini tidaklahseindah bintang, secantik bidadari yang berada di atasnya ataupun semanis senyuman sang rembulan yang mengintip malu-malu dari balik awan hitam yang menutupi rupanya.

Namun, kalimat-kalimat ini adalah sang diplomat yang mewakili diri yang kini beranjak, berjalan pelan menuju sebuah jurang yang bernama kematian. Didorong oleh waktu yang tak hentinya memperlihatkan kekejamannya dalam melahap usia seseorang tanpa terasa sedikitpun. Jika waktu telah selesai melaksanakan tugasnya maka tibalah saatnya jatuh ke jurang kematian atas keputusan Sang Pemilik Kehidupan. Tak ada yang bisa menawar, memperlambat, mempercepat bahkan menangguhkan keputusan-Nya. Tidak pula para malaikat suci abdi setianya, tidak pula para bidadari langit yang kecantikannya tidak akan pernah terlintas di hati dan pikiran manusia, tidak pula rembulan dengan cahayanya yang bisa memberikan setetes cahaya pada mereka yang berada dalam kegelapan, ataupun matahari dengan reaksi fusi nuklirnya yang mampu menghancurkan dan melahap planet-planet di sekitarnya, tidak akan ada yang bisa!

Ketika sudah tiba waktunya maka pedang ajal akan ditusukkan di seluruh tubuh manusia tanpa bisa menghindar sedikitpun. Bagaimana rasanya ajal itu? Sakitkah, tapi sesakit apa? Sesaat ku sadar bahwa itu adalah pertanyaan bodoh yang tidak bisa dijawab karena berhadapan dengan ajal tentu tidak ada waktu lagi barang sedetik untuk menceritakannya!

Kapan aku meninggal? Pertanyaan yang menarik sekaligus mengerikan bagai gelapnya liang lahat yang menantiku. Pertanyaan yang tidak akan pernah diketahui siapapun jawabnya! Aku, engkau, kalian, mereka pun tidak ada yang tahu bagaimana jawabannya! Semuanya telah tertulis dan tertata rapi dalam Lauh Mahfudz milik-Nya! Semua takdir, cerita kehidupan, skenarionya, kehidupan, kematian, jodoh, rezeki semua tertulis lengkap bagai ensiklopedia dunia yang sangat tebal isinya! Dan kenyataannya, yang bisa membuka ensiklopedia hidup itu hanyalah Sang Pemilik Hidup, tiada yang lain bahkan abdi setiaNya pun tidak mampu.

Mengingat kematian yang semakin mendekat ini, mengingat diri yang semakin melangkah menuju jurang yang bernama kematian, mendadak membuat slide-slide kehidupan masa laluku diputar dan ditampilkan di berbagai bagian neuron otakku. Bergerak cepat dari satu slide ke slide lain, menampilkan berbagai peristiwa yang telahku jalani dan ku lewati selama 18 tahun terakhir ini.

Aku menyaksikan, mengingat walau tak semua slide bisa mewakilkan seluruh perjalanan hidupku. Keingintahuan membuatku membawa pikiran ini melayang masuk ke dalam urutan slide masa laluku dan meninggalkan raga yang terbaring diam tak berdaya seraya menutup kedua matanya.

Pikiranku berusaha keras menyelami samudera ingatan akan kehidupanku yang sangat luas dan dalam. Berusaha keras layaknya memecahkan algoritma apa yang harus digunakan untuk membuat sebuah program komputer yang rumit. Layaknya sebuah flowchart, pikiranku pun menyusun-nyusun berbagai kejadian paling awal yang diingat hingga sekarang. Kesadaran hadir bak flowchart yang memasuki proses looping terakhir bahwa Allah ternyata masih belum memutuskan diri ini terjun ke jurang kematian.

Kemudian slide-slide sejenak berhenti dan berganti dengan deretan film yang menayangkan dosa-dosa yang pernah ada, film yang terangkai dalam beberapa episode dan tidak tahu kapan berakhirnya. Karena film ini akan terus berlanjut episodenya karena dosa yang jelas diperbuat tanpa tahu kapan berakhirnya, ku sadar bahwa manusia tidak sempurna tentu mampu berbuat salah. Manusia hanya mampu berusaha untuk mendekati kesempurnaan tak akan pernah sempurna seperti layaknya tidak akan pernah bisa mengenggam api dengan tangannya, hanya mampu mendekatinya.

Kemudian tak terasa tanpa sadar buliran air bening suci tak berdosa mencari celah di pelupuk mataku perlahan-lahan, turun perlahan membasahi wajahku yang bagaikan gurun sahara yang tandus, tandus karena lamanya tidak bertemu dengan sang buliran air bening! Mungkin keegoisan dan kesombonganlah yang membuat tidak berjodohnya mereka berdua.

Kembali ku tatap film itu dan tanpa ku komando, buliran air bening itu ternyata membawa lebih banyak pasukan untuk menyeruak keluar dari kawalan kedua pelupuk mataku.

Betapa banyak kesalahan yang ada dalam kehidupanku, membuat diri ini bagaikan ditutupi lumpur kotor dan berbau yang hanya bisa dibersihkan dengan tobat dan memohon ampun kepada Ar Rahman Ar Rahim.

Waktu semakin melahap usia tanpa kenal lelah, adakah ia menyisakan kesempatan untuk bertobat sebelum akhirnya Sang Pemilik Nyawa memutuskan diri ini untuk terjun ke jurang kematian.

Sudah genap 18 tahun berenang di samudra kehidupan dan sampai sekarang pun, Sang Penguasa Alam masih berkenan memberikan kesempatan untuk bertobat dan membersihkan lumpur diri ini.

Tidak lagi akan tersiakan waktu yang tersisa, tak tau kapan akhirnya selain untuk bertobat dan berjuang demi Engkau wahai Sang Pemilik Segalanya! Maka terimalah permohonan ampun atas film-film kesalahan yang pernah dimainkan dahulu dan bantulah mendekat pada zat termulia dan teragung. Syukur tak terhingga dariku walau tidak cukup bagiku menjadikan samudera sebagai tinta dan pohon-pohon sebagai pena untuk menuliskan seluruh nikmat pemberianMu. Maka, saksikanlah bahwa hidup dan matiku akan kujual kepadaMu untuk mendapatkan ridha dan surgaMu, Saksikanlah Tuhan Seluruh Alam, Allah!

Malang, 14 February 2010

Pukul 12.00 AM wib

*Sebenarnya ini sekedar nulis iseng-iseng saja, membiarkan pikiran ini mengalir memerintahkan jari-jemari untuk mengetikkan kata-kata di keyboard hp. Akhirnya jadilah untaian kata-kata seperti ini. Tapi, sepertinya menarik untuk bisa mendengar pendapat dari teman-teman. So, mohon kritik dan sarannya atas karya tidak sengaja ini. Syukron

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: