Kasih judul sendiri aja … bingung mau nge-judulin apa…??


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Hari yang cerah, anginnya begitu sejuk, langitnya juga begitu biru. Benar-benar hari yang indah. Tersebutlah 2 onggok manusia berstatus ayah dan anak. Berjalan bersama menikmati indahnya pemandangan, menikmati hembusan angin segar, dan teduhnya sinar matahari. Langkah mereka begitu kegembiraan dari wajah mereka berdua. Karena memang mereka sudah lama tak berjalan bersama. Sang ayah adalah seorang pedagang yang sangat sibuk, sehingga terkadang sangat sulit untuk meluangkan waktu bagi anaknya yang baru berusia 7 tahun.

Jalan demi jalan mereka lewati, hingga mereka berjalan di pinggir jalan raya yang saat itu lumayan padat lalu lintasnya. Mobil, motor, bajaj, becak, taksi kuning, dan lai-lain berseliweran lalu lalang di dekat mereka. Jalan itu pun memang lumayan sempit, jika dibandingkan dengan arus lalu lintas yang ada disana.

Sang anak hari itu sangat bahagia, dia berlari-lari kecil, melompat-lompat, menunjukkan bahwa memang dia masih anak-anak. Tingkah polahnya yang begitu menggemaskan juga terkadang membuat sedikit kesal. Sang ayah pun terus mengingatkan agar anaknya jangan berlari-lari di jalan raya, tapi sang anak tak mau menghiraukan. Hingga saat sang anak dengan riangnya berlari-lari sambil bernyanyi tak sengaja sang anak keluar dari trotoar dan terjatuh ke jalan raya. Hampir saja sang anak tertabrak oleh paman becak yang sedang on the road di lintasannya. Tapi ternyata lindungan Allah masih bersama anak itu, sehingga dia cuma hampir tertabrak oleh becak yang sedang “narik” tadi. Sang Ayah pun langsung menarik anaknya tadi, lalu memarahi anaknya. ” Maka tadi sudah abah padahi jangan bukah-bukah, masih haja lagi….!!!!” Sang anak hanya bisa terisak menahan tangis. Tapi ternyata ayahnya adalah ayah yang bijaksana, di peluknya anaknya dan berkata, “jangan lagi nak lah, kena mun dipadahi abah tuh measi-asi” Sang anak hanya mengangguk.

Dengan digendong sang ayah, mereka pun pulang bersama. Menuju kediaman, tak sabar ingin bertemu dengan istri dan ibu tercinta.

***

Sebuah pengantar, kira-kira apa yang bisa kita ambil kesimpulan dari cerita di atas. Pertama, jangan membawai kanakan bejalan di jalan raya. Kedua, Bahapa bejalan batis, mun bisi kendaraan. (wew..kada nyambung)

Tolong diperhatikan baik-baik, dibaca dengan tenang, diresapi maknanya, setelah ini kalimatnya “dalem”. Sebuah kasih sayang pun kadang bisa berupa rasa marah. Lihat aja tuh contoh cerita di atas. Seandainya sang ayah tak sayang pada anaknya buat apa sang ayah mengeluarkan liur dengan sia-sia buat memarahi anaknya. Kalo sang ayah ga sayang mungkin dia akan tertawa, begitu bodohnya sang anak hingga bisa terjatuh dan hampir tertabrak becak.

Rasa “marah” tadi adalah salah satu wujud kasih sayang sang ayah. Sang ayah tak mau anaknya mengalami hal-hal yang bisa menyakiti anaknya. Tapi terkadang memang yang namanya anak, ya kita ga bisa memahami masalah ini. Anak terkadang cuek dengan perkataan orang tua.

***

gambaran di atas hanya sebuah ilustrasi. Sang mau gue sampein adalah, ternyata status dakwah pun terkadang bisa mirip seperti skenario di atas. Dakwah itu adalah sebuah wujud kasih sayang kita kepada saudara kita kepada saudara sesama muslim kita. Kita tidak rela jika saudara kita mengalami hal yang buruk di dunia apalagi di akhirat. Kita tak rela jika saudara kita bergelimang dalam lembah kemaksiatan, yang tentunya akan menggiringnya ke dalam azab neraka. Naudzubillah.

Kalo di ibaratkan, aktivitas dakwah adalah aktivitas pengobatan. Dokternya adalah pengemban dakwah, dan pasiennya adalah umat ekarang, saudara kita. Walaupun erkadang obat yang diberikan itu pahit di lidah, tapi tentu seorang dokter memberikan obat yang pahit di lidah itu untuk kesembuhan pasien. ya kurang lebih begitu lah.

Pada dasarnya sih gue bilang dakwah itu bukan cuma sekedar wujud kasih sayang. Tapui lebih dari itu dakwah adalah ebuah keperluan dan kewajiban. Dalam sebuah hadits yang saya lupa isi lengkapnya sepeti apa, dan siapa periwayatnya, tapi yakin eh ne beneran hadits, karena kebetulan saya ge sempat buat buka kitab referensinya. Dikatakan bahwa sebenarnya kita diberikan dua pilihan. Berdakwah atau tidak. Jika kita memilih berdakwah maka insyaAllah rahmat Allah bersama kita. Dan jika kita memilih untuk meninggalkan dakwah, maka sesungguhnya oran itu akan mendapat 2 ganjuaran sekaligus. Pertama mendapatkan azab dan yang kedua doanya ga akan di kabulkan. Pilih mana coba…??

So, lagi-lagi ini adalah, masalah pilihan. Dan tiap pilihan yang kita ambil ada konsekuensi yang harus kita terima, plus dengan pertanggung jawaban yang akan kita laporkan kepada Dzat yang jiwa kita berada di genggamannya.

Pilih mana, hidup mulia atau hidup terhina..??Silahkan pilih masing-masing. Yang jelas jalan dakwah adalah jalan yang mulia, dan memuliakan. Karena aktivitas dakwah adalah aktivitas yang pernah dilakukan oleh para nabi. Dan insya Allah akan senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan berkah dari Allah, sehingga bisa menjadi hujjah bagi kita untuk berhadapan denganNya kelak.

Wallahu ‘alam

Banjarbaru, 24 Februari 2010
Pukul 00.10

    • akbar belum mujahid
    • April 2nd, 2010

    ane pertamax nya gan.

    ana dan teman2 kayaknya perlu obat pahit dari antum. . . .

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: