Sepiring (Nampan) Berlima


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Hari jumat yang super sibuk. Hari yang kurasakan begitu melelahkan, tapi juga hari yang luar biasa. Kurasakan tiap detiknya yangf ku jalani seakan begitu bermakna. Di mulai dengan perjalanan ke kampus yang di iringi oleh gerimis air dari langit, sedikit rapat dadakan di al-baytar, hingga kuliah yang tak jadi karena sang dosen sedang berhalangann. Hingga matahari pun tergelincir dari ufuk timur, menandakan hari sudah siang dan hampir masuk waktu shalat jumat.

Seusai shalat jumat, aku pun langsung pergi lagi ke kampus. Hari ini aku tak makan siang di rumah, karena memang nasi “ente” alias habis. Ga sempat lagi kalau mesti menunggu masak nasi dulu, sedang jam 2 aku sudah harus kuliah lagi. Akhirnya ku putuskan untuk makan di kantin kampus. Walaupun biaya hidup jadi lebih mahal, tapi ku pikir ya biarlah, cuma sekali-kali.

Jam 2 kuliah di mulai. Dan alhamdulillah kali ini dosennya datang. Kalau bisa di bilang dosen yang satu ini sangat menarik untuk diperhatikan. Ya, minimal penjelasannya mudah dimengerti, walaupun ujung-ujungnya aku juga bingung sendiri karena materi kuliahnya yang luar biasa “ngejelimet”. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Jam 3.30 kuliah berakhir, tapi aku tak langsung pulang karena harus mengerjakan tugas kelompok dulu. Saat itu aku benar-benar mau cepat menyelesaikan tugasku. Karen a ada amanah lain yang harus ku jalankan. Aku harus melaju secepat mungkin ke sisi lain dari kota Banjarbaru, menuju sebuah sekolah untuk berbagi ilmu, dan menjalankan kewajiban. Setelah selesai ku tinggalkan kawan kelompokku, dan langsung bergegas pulang ke kos buat mengambil laptop. Dan langsung tancap gas ke TKP.

Kali ini aku benar-benar merasa blank. Karena jujur, persiapanku benar benar NOL. Tak sempat bikin PPT, karena memang dalam minggu ini sangat padat. Tapi ternyata pertolongan Allah itu datang. Ku “colok” FD ku ke laptop, ku lihat-lihat, dan alhamdulillah ada materi (PPT) dari seorang pengarang buku “Menggenggam Bara Islam, dan “Melawan Dengan Cinta” yang dulu ku minta dari kawanku di Banjarmasin. Ku buka PPT itu, ku scan secepat mungkin, ku pahami dari tiap alur slide yang ada, akhirnya ku temukan benang merahnya. Tanpa buang waktu langsung ku bagi peserta jadi 2 kelompok, 1 kelompok di pimpin oleh seorang kawan sepejuangan. Kami sama-sama tak ada persiapan. Tapi ya itu tadi ada saja pertolongan Allah. Kajian itu pun di mulai.

6.15 sore kajian berakhir. aku bergegas pulang, karena hari sudah mulai senja. 10 menit sebelum magrib tiba di kos. Tak sempat mandi, adzan magrib sudah berkumandang, sebelum ke mushala ku sempatkan me-sms, kawanku yang lain untuk mengingatkan bahwa kami punya janji jam 7.10. Selesai shalat, lagi-lagi aku harus tancap gas ke al-baytar. Alhamdulillah ternyata 2 orang kawanku sudah tiba dahulu. Langsung ku mulai kajian itu. Setengah jam berlalu perutku mulai terasa perih. Ternyata cacing-cacing di perutku lagi demo. Tapi apa boleh buat, karena sedang dalam forum aku takbisa makan dulu. Isya pun tiba, forum itu ku tunda dulu dan kulanjutkan setelah shalat isya.

Setelah shalat, rupanya masa cacing yang demo di perutku makin banyak, tapi ku tahan saja. Ku lanjutkan forum yang sempat tertunda tadi. Jam 8.30 malam akhirnya forum itu selesai, setelah materi yang ku sampaikan berakhir di penutup Bab I.

Rezeki Allah itu tak disangka-sangka datangnya. Senyumku berkembang ketika ada seorangh saudara Muslim dari Jamaah Tabligh mengajakku untuk makan malam. “Kebetulan, makan gratis!” Kesukaan mahasiswa yang jadi anak kost seperti ku ini. Tanpa banyak cincong langsung ku ajak 2 temanku untuk menghampiri mereka. Mereka sudah mempersiapkan makanannya. sebuah mampan besar yang sudah terisi nasi lengkap dengan lauk AYAM KARIH. ‘Wah, mantap. Udah lama ga makan karih, biasanya makan mie instan, telor ceplok, atau ayam goreng biasa. Kami duduk melingkari mampan itu. 1 mampan di kelilingi oleh 5 orang. Kami pun makan bersama dari mampan itu.

sedap rasanya masakannya. Suasananya juga penuh kekerabatan. Karena ini kali pertama bagiku, ikut makan bersama dengan saudara-saudara dari Jamaah Tabligh. Walaupun beberapa pesantren katanya juga seperti ini kalau makan.

Sambil makan, kami berbincang-bincang. “Tadi muthalaah apa dik?” Tanya seorang dari dari mereka, yang di dagunya di tumbuhi janggut yang lumayan lebat. “Wah janggut ku ga ada apa-apanya nih.” Pikirku dalam hati. Kujawab pertanyaan tadi, “belajar aqidah pak.” “Wah bagus itu, aqidah itu penting, bagaimana kita percaya tentang keberadaan Allah, bagaimana kita yakin akan pertolongan Allah.”

Perbincangan terus berjalan, di iringi tiap suapan nasi ke mulut kami. Intinya adalah bagaimana kita menyerahkan semua perkara kepada Allah, menyerahkan semua masalah kepada Allah, dan mengadu kepada allah ketika mendapat masalah, tentu yang di iringi ikhtiar setelahnya. Teringat lagi ku kepada materi yang baru saja ku sampaikan ke kedua temanku tadi. Bahwa keimanan terhadap syariat Islam tidak cukup dilandasi akal semata, tetapi juga harus disertai penyerahan total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala yang datang dari Allah.

“Maka demi Rabbmu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An-Nisa:65)

Ternyata dalam ke-beriman-an perlu disertai kepasrahan terhadap semua keputusan yang di berikan oleh Allah melalui RasulNya. Mulai dari masalah pribadi, masalah pegaulan, masalah ekonomi, masalah politik, hingga masalah pemerintahan.

Perut ini penuh sudah rasanya. Dan aku pun menyudahi makan ku, dan sisa nasi yang masih ada di santap oleh bapak dari Jamaah Tabligh tadi yang akhirnya ku kenal beliau bernama Abdul Gawie‘.

Selesai makan dan mencuci tangan, aku bepamitan dengan mereka dan tak lupa mengucapka terima kasih. Ku nyalakan kendaraanku dan meluncur pulang ke kost dengan perut yang alhamdulillah kenyang, dan rasa lelah yang lumayan. Pikirku ku ingin langsung istirahat sesampainya di kost. Setelah sampai di kost, aku tak mau langsung tidur, karena perutku masih terasa penuh. Dari pada membuang waktu tak jelas, ku tuangkan pengalamanku hari ini melalui tarian jemariku di atas papan keyboard laptopku. Dan akhirnya tulisan ini berhasil ku selesaikan dalam waktu kurang lebih 1 jam. Mata ini sudah tak bisa di ajak kompromi. Ya sudah lah ku tutup tulisanku ini dengan hartapan tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang membaca.

Wallau ‘alam

    • yaya
    • Juli 26th, 2010

    ppt-x mana???!! ana mau donk

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: