Silakan Hapus Saya Sebagai Teman Anda di Facebook


Oleh Ahmad Adityawarman

Kawan, kisah ini sungguh tak bisa dibandingkan dengan cobaan-cobaan pahit yang dialami Rasulullah ketika memperjuangkan kebenaran yang dibawanya, yang ketika itu beliau dilempari dengan kotoran, dihina, difitnah, bahkan diperangi. Kisah ini juga jauh tak seheroik pengalaman mereka di Timur Tengah sana yang ditangkapi, dipenjara, disiksa bahkan dibunuh juga karena kebenaran yang diemban mereka. Dan kisah ini tak ada apa-apanya dengan perjuangan seorang remaja 16 tahun bernama Muhammad di Palestina yang diinterogasi dan disiksa diluar batas kemanusiaan ketika ia menyebarkan selebaran-selebaran yang juga berisi kebenaran.

Kawan, aku hanya tergerak menuliskan pengalaman sepele ini, yang merupakan sedikit bumbu perjuangan yang mewarnai lukisan indah jalan hidup yang ku pilih ini. Tentang salah satu jejaring sosial dunia maya yang ku tahu kalian juga pasti mengenalnya, yang ku anggap bisa dijadikan salah satu jalan untuk setiap tapak langkah perjuangan, kawan.

Tiap kali ku coba menuangkan ide, pemikiran, dan kebenaran yang pernah ku kenal dan ku pahami. Karena itu telah nyata kebenarannya. Bukan untuk kesenangan semata, atau bahkan mencari sensasi. Karena apa yang ku tulis di status itu memang selalu beda dengan apa yang mereka tulis kebanyakan, namun sama dengan apa yang kawan seperjuanganku kemukakan.

Suatu ketika ku tulis tentang penegasan bahwa kita wajib menolak kedatangan seorang pemimpin negara imperialis yang tangannya telah berlumuran darah saudara-saudara kita. Dan reaksi kontra salah seorang kawan kumaklumi saja pada awalnya karena ku yakin ia masih belum paham kebenaran. Ia mengomentari statusku, sungguh kasian diriku yang tak tahu bagaimana caranya menunjukkan budaya Timur kepada tamu kita ’yang terhormat’. Dan dengan santai ku jawab bahwa sang tamu tersebut bahkan tak punya budaya selayaknya manusia saat ia membantai umat Muslim yang negaranya mereka jajah. Lama tak ada jawaban dan reaksi darinya, padahal ku harap ia mau berdiskusi di ruang terbuka ini, bukan untuk maksud mencari pembenaran namun jelas untuk saling memahami kebenaran. Maka ku buka wall kawan ku itu dengan niat melanjutkan diskusi ini, tapi ketika kulihat ’wall’nya kutahu bahwa aku telah dihapus sebagai teman dari akun facebooknya.

Hehe, sungguh cerita yang sangat remeh temeh sekali kan? Tapi kawan bagiku ini adalah suatu hal yang memberikan arti tersendiri karena akulah yang mengalaminya. Yang ku sesalkan, adalah kenapa kawan ku tersebut tak mau mengkonfirmasi lebih lanjut apa yang ku coba sampaikan tersebut.

Ini tentang penyampaian kebenaran kawan. Aku sadar mungkin akulah yang salah, entah caraku dalam menyampaikan sehingga kawan baikku tadi bersikap seperti itu. Namun bukan kebenaran yang ku embanlah yang patut disalahkan. Maka meniru ucapan seorang motivator yang dikecam karena telah menyampaikan kebenaran, ”Saya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang Anda rasakan, tapi saya tak meminta maaf atas kebenaran yang saya sampaikan”.

Kawan, engkau bilang kebaikan itu relatif, tapi jelas sekali bahwa kebenaran itu mutlak. Karena kita telah memiliki standar paling baku yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta kita Allah swt, yaitu hukum syara’. Mungkin anggapan baik dalam tata cara berpakaian itu berbeda, di sini pakai bikini itu tidak sopan tapi di Hawai itu menjadi pemandangan yang biasa. Namun bukankah dalam standar kita tadi, aturan Islam, jelas bahwa menutup aurat itu kewajiban? Artinya predikat dosa jika kita mengumbar aurat adalah suatu kebenaran. Sama juga yang lain. Berpacaran (baca: mendekati zina) adalah maksiat itu suatu kebenaran. Berbohong, berbuat curang termasuk dalam ujian merupakan perbuatan dosa, itu adalah kebenaran. Islam itu ideologi mulia dan demokrasi itu sistem busuk juga merupakan kebenaran. Surga itu ada dan neraka juga ada merupakan kebenaran.

Aku yakin kawan, aku cuma lebih dulu memahami kebenaran itu dibandingkan kalian dan aku hanya berusaha menyampaikan kebenaran-kebenaran tersebut. Dan aku lebih yakin lagi jika kalian mengetahuinya lebih dulu dariku maka kalian akan melakukan hal yang sama dengan yang ku lakukan. Karena kita tahu itu adalah kewajiban, kawan.

Ingatkah kalian Sayyidina Ali telah berujar bahwa janganlah kamu melihat kebenaran dari siapa yang menyampaikannya, tapi lihatlah kebenaran itu maka kamu akan melihat kebenaran orang yang mengembannya? Ya, aku memang bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa. Aku cuma orang biasa, tapi ide yang luar biasa itulah yang saat ini ku coba untuk ku emban, walau ku tahu aku terlalu hina untuk mengemban sesuatu yang terlampau mulia untuk diemban ini.

Kawan, bagaimana jika suatu saat seorang pengemis kumuh memberitahukan kalian bahwa di jalan yang akan kalian lewati terdapat lubang galian yang curam dan dan dapat membahayakan? Celakalah kita yang menyepelekan peringatan sang pengemis tersebut karena kita merasa ia adalah orang hina yang tak pantas memberikan nasihat kepada kita. Padahal sang pengemis tadi hanya berupaya menyampaikan kebenaran yang telah ia ketahui sebelumnya.

Kawan, jujurlah apakah kalian selalu merasa terganggu dengan apa yang coba ku sampaikan di tengah-tengah kalian? Apakah kalian tak suka dengan kalimat-kalimat yang kutuangkan karena itu bertentangan dengan hal yang selalu kalian pikirkan? Mari kita diskusikan itu untuk saling berbagi kebenaran, sebab siapa tahu memang aku yang salah dan kalianlah yang benar. Tapi ingat kawan, kebenaran yang bersumber dari aturan Sang Maha Kuasa tak bisa lagi kita ganggu gugat. Maka jika yang kusampaikan itu bertentangan dengan kebenaran-Nya, pantaslah aku yang salah.

Dan bila aku sudah menyampaikan kebenaran yang sesuai dengan kebenaran-Nya, dan kalian tetap tidak menyukainya, serta tak mau mencoba memahaminya, silakan hapus saja aku sebagai teman kalian di dunia maya ini. Tapi janganlah kalian hapus kebenaran yang telah begitu nyata adanya. Dan tenang saja, aku tak bakalan dendam kok, malahan ku berharap semoga kita mampu menjalin hubungan pertemanan kita di tempat terindah kelak, hehe.

***
“aku sedang jatuh cinta..

rasanya sakit sekali.

Tapi aku ingin merasakan sakit selamanya…”

Mereka, para pejuang kebenaran adalah orang-orang yang paling romantis, betapa tidak? Hidupnya di kelambui cinta. Cinta akan kebenaran. Tak ada yang sanggup menandingi kesediaan mereka dalam berkorban demi cintanya akan kebenaran. Mereka sanggup menahan perih dalam mencinta. Dari telapak tangan mereka mengepul asap dan tercium bau hangus daging terbakar karena menggenggam bara kebenaran. Di dada mereka, mendidih magma cinta yang mengguncangkan sekelilingnya. Hatinya dibakar api rindu, rindu akan berkibarnya kebenaran bagi semesta alam.

Di rasuki cinta akan kebenaran. Sakit. Tapi ingin merasakan sakit selamanya…
(dikutip dari Open Mind edisi 13)

***
Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, yang artinya: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar pada agamanya diantara mereka seperti orang yang menggenggam bara api”.

Menggenggam bara api di tengah kegelapan. Panas memang, dan terasa amat perih dan pedih. Namun sungguh pengecut jika bara api itu kita lepaskan, dan sayang karena itu sumber penerangan satu-satunya di tengah kepekatan nan hitam.

akhir bulan kedua,
oleh: saudaramu yang mencintaimu karena Allah

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: