Banyak Yang Korupsi Kenapa Anda Tidak?


oleh Gilang Zulfairanatama Al-Arsyad

bismillahirrahmanirrahiim
assalamu’alaykum
alhamdulillah
shalawat & salam untukmu ya Rasulullah
jannah! untukmu pejuang-pejuang dahsyat
dan pembaca. kata terima kasih saja tidak kan cukup. maka terimalah doa ini. “Semoga kebaikan Anda, dibalas begitu banyaknya oleh ALLAH.”

Saya. Sebenarnya lebih tepat sebuah kata “kita” –saya dan Anda–. Jadi, anggaplah “saya” itu sebagai diri Anda. Ya, Andalah yang berbicara di sini …

Saya. Merindukan sebuah negara yang penuh kasih. Negara yang dipimpin seorang lelaki. Yang sempat memikul sendiri gandum untuk seorang ibu yang anak-anaknya tersedu menahan lapar. Atau lelaki yang memasak roti dan menghangatkan susu, menenangkan si calon ayah. Sedang istri tercinta “Ummu Kultsum binti ‘Ali” menolong kelahiran bayi si calon ibu. Atau lelaki yang nampak tertidur di atas kerikil. Atau lelaki yang sadar dengan perannya, lalu menangis. Karena umat yang dicintainya.

Atau lelaki paling mulia. Yang diusir. Dilempari batu. Dikejar hingga berdarah-darah. Namun doanya begitu indah. Berharap agar Allah mengampuni mereka karena ketidaktahuan. Berharap jika mereka tak beriman, kelak anak-anak mereka yang beriman. Rasulullah SAW.

Dan negara yang penuh kasih itu bernama Khilafah …

Sekarang. Mungkin saya masih berharap kepada Negara demokrasi ini. Ah, sebaiknya tidak. Negara terkorup ini bertahan dengan menanamkan utang 7 juta rupiah di setiap kepala yang lahir. Yang disurvei oleh Political and Economic Risk Consultanciy (PERC) menempati peringkat teratas korupsi di 16 negara Asia Pasifik tahun 2010. Bayi tak berdosa yang tersedu. Menangis di Indonesia.

Seperti yang dibocorkan pengamat ekonomi, Revrisond Baswir. “Utang luar negeri merupakan hasil konspirasi antara pemerintah dan lembaga kreditur.” Ya, skenario paling cerdas menurut saya. Anggaran Negara sengaja dibuat defisit. Lalu, dilakukanlah “utang luar negeri” itu. Utang najis. Beberapa kalangan menyebutnya.

Dan, saya terkesima dengan penuturan polos seorang Kwik Kian Gie, mantan Ketua Bappenas. Lebih dari 300 triliun rupiah masuk ke kantong para koruptor. Ah, negeri tercinta. Saya kira, selama ini Indonesiaku baik-baik saja. Seperti kurva y = 2x, yang terus menanjak. Utang negeri ini pun bertambah 20% setiap tahun.

Mari tepuk tangan. Masih ada yang memperjuangkan solusi, meski tak satu pun berhasil. Ada yang membentuk badan pemberantas korupsi. Cukup banyak jumlahnya, selain KPK. Nah, saya tidak mau memasukkan KPK. Saat KPK dipimpin Taufiequrachman. Indonesia menempati peringkat 137 dari 159 negara dalam hal “melayani umat”. Kasihan, umat Indonesia.

Saya pun masih bertepuk tangan. UU atau peraturan yang dibuat, tak satu pun cukup. Padahal ada sembilan UU/peraturan, jumlah yang tercatat di sejarah Indonesia.

Ada juga yang mewacanakan ini: hukuman mati, pembuktian terbalik, dan pemiskinan. Namun, wakil Indonesia, DPR tidak menghiraukannya. Ah, saya patut bertanya. Di mana wakil rakyat yang saya cintai?

Maka, yang saya rindukan. Adalah Khalifah Umar bin Al-Khaththab yang menyita seluruh harta pejabat yang korup. Atau Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang memberi hukuman cambuk dan penjara.

Atau paling tidak , sebuah hukuman ringan. Yang menurut Syaikh Abdurrahman al-Maliki. Di penjara 6 bulan sampai 5 tahun; tergantung besarnya korupsi. Nah, indahnya Islam!

Umat tidak lagi bersedih kala itu. Kala ayat luar biasa ini terwujud kedua kali.
“Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf 96)

Dan, yakinlah. Sebuah negeri thayyibah itu. Khilafah. Akan segera berjaya! Di negeri inilah pejuang-pejuang itu tumbuh dan menempa diri []

Mungkin ini, alasan saya untuk tidak korupsi. Hehe

wallahu’alam bi ash shawab.
afwan jiddan
jazakumullahu khayran. jazakillahu khayran

wassalam …

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: