Di Kampus/Sekolah, Kamu Termasuk Jenis Mana?


Bismillahirrahmanirrahim … Asssalamu’alaykum wr. wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Bukankah yang beryukur itu, nikmatnya akan ditambah. Wah, bayangkan nikmat itu adalah surga. Wuih!

Shalawat serta salam selalu tercurah buat Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umat manusia yang berjuang di jalanNya. Rasulullah, manusia paling mulia, bayangkan beliau yang menyambut kita di surga .. indah kan?
Pembaca, karena Anda, maka saya sangat berterimakasih. Tentu, Andalah orang yang diinginkan umat Muslim. Menjadi lebih baik.

KAUM AKHWAT (perempuan)

Student Business Centre (SBC). Kantin kampus. Seperti biasa, Aqua botol itu sudah bersiap untuk dibeli oleh saya. Eh, di salah satu meja ada akhwat. Sendiriankah? Sayangnya tidak. Ada laki-laki yang mendampingi. Ah, lebih baik saya berhusnudzon, mungkin suami-istri. Hehe.

Bukankah jika tidak sanggup mengubah kemunkaran dengan tangan; maka dengan lisan; atau yang paling lemah: dengan hati!

“Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak sanggup maka dengan lisannya; dan jika tidak sanggup juga maka dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)

Saya tulis catatan ini dengan tangan. Bukankah jari-jemari ini yang menari di atas keyboard? Hehe, bolehkan saya berpendapat seperti itu? Atau dengan hati saja. Mari yuks berdoa: “Ya Allah, bersihkanlah hati setiap manusia, hingga Islam berjaya di tangan mereka”

Sst, nih rahasia yah! Ada buku ” Membongkar Rahasia Ikhwan Nyebelin” karya “Koko Nata dan Denny P.” Wah! Kalau begitu, kita buat saja buku “Membongkar Rahasia Akhwat Nyebelin”. Nanti saja deh kita bahas … :p hehe

KAUM IKHWAN (laki-laki)

Wah, di Kartu Tanda Penduduk saya kan tertulis laki-laki. Jadi, tidak usah dibahas ya. Gak curang kan? Hehe.

KAUM HEDONISME

Secerah mentari. Mahasiswa merasakan hangatnya berkas-berkas cahaya hedonisme itu. Membagikannya dengan riang. Sepertinya perasaan bersalah itu bersembunyi; terkunci di salah satu sudut hati. Bukankah hedonisme itu hangat? Ya! Dan dia akan menghanguskan hati kecil manusia. Tentu, sesaat demi sesaat.

Seperti jilbab yang tadinya mengulur santai ke ujung kaki. Kemudian menaik hingga jilbab itu hangus. Ah, benang-benang hitam itu terurai; mahkota indah yang diobral kepada mata-mata jelalatan. Sesaat demi sesaat.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka!” (HR Abu Dawud)

Nah, haruskah muslim(ah) berbeda?

KAUM NETRAL

Mari kita berimajinasi. Siapkan otak kanannya ya … Eits, otak kiri juga deh … Bukankah netral itu berarti tidak bergerak? Atau kita sebut saja diam. Dia susah bergerak ke kanan atau ke kiri. Iya kan??Nah, cobalah berimajinasi yah … Cukup sedikit. Ketika derasnya sungai menghantam tubuh yang diam. “Gimana tanggapan Anda?” Tepat! Dia akan terhanyut ke dasar jurang.

Sekarang kita aplikasikan yuk imajinasinya … Mungkin saja kaum netral akan terhanyut karena arus-arus kejahatan yang menelisik lembut tanpa dirasa hati. Ah, mungkin Anda tertarik tuk mencobanya? Hehe. Tapi saya tidak jamin ya, “Ga mau ah!” … Ketika Anda terjatuh ke dasar jurang, akan menyulitkan tuk mendaki kembali ke puncaknya.

Saya mau tulis sebuah ayat yah … Tapi saya belum mengkaji lebih dalam. Gapapa kan?

“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan ‘uzur, yaitu orang-orang Arab Baswi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.” (At Taubah 90)

Lebih baik, Anda gerakkan saja roda yang tadinya diam itu. Putarlah meniti jalan panjang menuju surga. Ah, indahnya.

KAUM AKTIVIS

Kunjungi saja masjid-masjid itu. Bila terlihat lingkaran pengajian, majelis, ta’lim. Yuk! Ikut saja bergabung. Ya, Anda akan diterima dengan sambutan penuh cinta. Dan rasakan kebersamaan yang begitu hangat. Dan dengarkan saja kata-kata cinta yang didendangkan ustadz-ustadzahnya. Luar biasa bukan? Energi dan rasa kasih sayang yang mengalir, membasahi jiwa yang kering ditiup angin wedus kejahatan. Iya kan??

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Ar Rahman akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam 96)

Biarkan kasih sayang itu menyentuh hati. Lalu biarkan ia dikonversi oleh tangan tak terlihat, menjadi sebuah rindu. Tentu saja kita rindu, teringat firman Allah yang indah ini

” Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabbmu dengan hati puas lagi diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam jannahKu . . .” (Al Fajr 27-30)??

Mari yuks bergabung …

Wallahu’alam bishshawab
Alhamdulillah
Jazakumullahu khyaran katsiran
Jazakillahu khayran katsiran
‘Afwan jiddan ya
Wassalam …

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: