Masjid Kampus Unlam


Aktivitas di Suffah Masjid Kampus Baitul Hikmah Unlam Banjarmasin

oleh Gilang Zulfairantama Al-Arsyad

Malam sejuk, tanpa bintang. Maklum, tetes-tetes hujan merintik. Menggetarkan genangan air, berbunyi senada.

Masjid kampus begitu hangat. Ya, dibandingkan cuaca luar yang membekukan kaki-kaki telanjang. Saya memilih untuk menginap. Inilah hotel berbintang lima yang dijamin sertifikat langit. Cukup asri pemandangan malamnya dari sini. Tidak sama dengan hotel megah yang didirikan menjadi tempat ibadah kejahiliyahan. Tidak sama dengan hotelnya para koruptor, hotel mewah berdinding penjara. Tidak sama dengan bangunan semegah apapun. Di sana ada keagungan yang menyelimuti, kemuliaan yang menerangi, kasih sayang yang tumbuh bagi peng-iman dan peng-amal. Di sana akan selalu nyaman dengan permadani sajadah dan buah-buahan pahala.

Di tengah area kampus. Gedung Rektorat terang oleh lampu-lampu putih. Kontras jugapemandangannya, tidak ada lagi fakultas yang menyalakan lampu-lampu di ruangannya. Sudah jam 11.30 malam. Entah ada acara mewah apa yang dirayakan hingga larut begini. Ah, mari kita lupakan sejenak dan nikmati malam ini bersama kucing tidur yang menggulung badan.

Saya sedikit mengganti suasana. Sekarang, saya ada di lantai atas masjid kampus. Lebih gelap. Suasana yang membelai lembut rasa kantuk, memijat keletihan untuk segera mengistirahatkan badan.

Ruang atas di sini kecil saja. Minimalis. Berbanding terbalik dengan jumlah jama’ah yang membludak. Ya, inilah tempat muslimah menunaikan shalat. Nah, di mana-mana kuantitas mereka selalu lebih banyak kan. Ah, saya tidak mau berlama-lama di sini.

Suffah. Beranda masjid. Di sini dingin lantai lebih menusuk-nusuk kaki. Apalagi ruangnya terbuka, tanpa penghalang. Dingin semakin menusuk, menembus baju.

Hanya hijab hijau yang bersusun, memisahkan suffah dengan perpustakaan masjid.

Duduk sendiri dengan tangan di atas meja. Melihat buku-buku perpustakaan yang bersusun serasi di lemari. Ternyata suasananya cukup menyeramkan juga.

Lebih baik saya beralih ke depan masjid. Memandangi dua anak kucing yang tidur berpelukan. Polos dan lugu. Kesan yang nampak dari kucing kuning dan hitam ini. Saya jadi terpikir negeri kita. Indonesia. Semoga tidak polos lagi. Kedewasaan itu akan mekar dengan bijaksana untuk membangun kembali reruntuhan negeri ini.

Mungkin harapan indah tentang negeri ini juga memerlukan istirahatnya. Istirahat sejenak, sebelum kembali lagi membangun puing-puing kedewasaan. Kita lihat nanti, menjadi apa Indonesia di tangan pemuda-pemudanya.

Nah, saya mulai iri dengan kucing yang semakin pulas. Lebih baik masuk ke dalam masjid. Menghindari angin dingin yang menembus baju basahku.

Tengah Malam. Masjid Kampus Baitul Hikmah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: