Ruang 16 : Kewarganegaraan


oleh Gilang Zulfairanatama Al-Arsyad

Assalamu’alaykum

Sst .. jangan bersuara dulu ya, ngintip sedikit yuk .. Hehe. Lucu ya, mengintip sikap teman-teman di kampus, hehe. Ada yang suka menukar-nukar kursi kalau mau duduk. Unik ya. Yang asyik dengan novel-novel. Ah, novel, menikmatinya begitu menghanyutkan ke negeri indah lain. Mungkin Anda pernah terhanyut? Nah! Pun yang membaca komik. Juga membaca buku pelajaran. Applause yuk. Atau membaca “Palestine Emang Gue Pikirin”. Di pojok, yang curhat-curhatan. Nah, semoga sukses ya curhatnya.

Mata kuliah PKn. Asyik ya, mahasiswa di kelas ini sedang menikmati fragmen sejarah yang begitu heroik. “Siapa Anda?” Ah, pertanyaan ini tidak sesederhana itu. “Siapa Anda di dalam negeri ini?” Nah. Anda bisa menjawabnya sendiri ya ..

Gaswat nih, hehe! Mata kuliah ini mengandung racun tidak terlihat yang disuntikkan. Memasuki tubuh mahasiswa. Sayang sekali, tepat ke jantung. Racun nasionalisme.

Bisakah Anda merasakannya. Dicoba ya. Semakin kronis bukan?

Ideologi Pancasila? Mungkin Anda kenal dengan racun yang satu ini?

Sila 1. Ketuhanan YME dengan kewajiban menjalankan syariat Islam. “Seolah-olah umat selain Islam itu dinomorduakan”

Ah, benarkah dinomorduakan. Bukankah nonMuslim akan mendapat hak-haknya bila syariat Islam diterapkan. Tanyakan saja pada ahli sejarah sedunia. Bukankah Islam itu penuh cinta. Nah, apalagi yang Anda ragukan. Atau tanyakan saja ini “Apa yang didapat umat Islam dan nonIslam dari sila1?” Ah, retoris kan. Kita tidak perlu menjawabnya.

” … Islam radikal” Lagi, racun jiwa. Islam. Hanya itu. Tidak ada radikal. Islam sebenarnya. Aturan indahnya menginginkan atmosfer cinta Ilahi itu menyelimuti alam semesta. Nah, indahnya Islam. Hanya Islam.

“Kita sebenarnya mampu, kita bisa!” Nah benar. Indonesia mampu. Pernyataan yang membuat tersenyum kan? Setelah tersenyum. Anda kan menangis. Ah, bolehkah saya berpendapat seperti itu. Indonesia memang mampu. Terus, enggan melepaskan diri dari jerat penjajah zaman sekarang? Nah, saya ingat kata-kata Spongebob “Ironi di atas ironi”. Ironi yang membebankan 7 juta utang di setiap kepala yang lahir. Hehe, ada berapa ironi sudah?

“Masalah agama”. Waduh, kenapa yang satu ini selalu dibahas. Ah, kita perlu menyatukan suara nich. “Hanya Islam”

“Bendera merupakan identitas nasional dalam pergaulan internasional”
Jangan bo’ong. Masa bendera segitu hebatnya? Hehe, ‘afwan saya jadi ngawur. Kalau Indonesia hancur, bendera hanya menjadi penyemarak sejarah kan? Dunia hanya perlu satu bendera. Bendera Rasulullah.

“Pancasila, ideologi terbaik untuk Indonesia” Waw, pancasila katanya mencakup semua kebaikan. Wah-wah, kalau teorinya begitu rumit. Tentu saja, melaksanakannya kan menitikkan air mata. Nah, kita terapkan saja yang begitu mudah. Bukankah syariat Islam tidak kan menitikkan air mata?

Sepertinya sebentar lagi jam keluar. Saya cukupkan ya ..

Wallahu’alam bishshawab.
‘Afwan .. Jazakumullahu ..

    • Armin
    • Oktober 27th, 2015

    Saya mau brtanya gan, Bagaimana pengaruh Doktrin Demokrasi terhadap Perkembangan Hukum (Hukum Islam)..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: