Pengalaman Saya dengan Bekam (Kisah Nyata)


oleh Muhammad Amda Magyasa

Petunjuk membaca: Bacalah dengan urut, dari kiri ke kanan, atas ke bawah.

*Kisah ini adalah kisah nyata. Apabila ada kesamaan kejadian, itu hanya kebetulan semata*

***

Lokasi: Di Rumah

Waktu itu, saya, adik saya dan bapak saya sedang asyik makan ‘kolak gumbili’ alias kolak singkong. Kebetulan mama saya yang gak makan. Trus waktu lahap lahapnya makan kolak, mama saya bertanya:
“Nda, yang pengobatan becucuk-cucuk (tusuk-tusuk,banjar) yang mengeluarkan darah tuh dimana tempatnya? Katanya di Sultan Adam…”

“bekam, Ma maksudnya..?” jawab adik-ku

“iyo..tadi bu graha ngomong tentang itu, di sultan adam jar..yang di kadar ini kah?”kata mamaku.

“Di Komplek Kadar? Kada tau mun di situ (Nggak tahu kalau disitu,banjar), kalo yang dekat komplek Mandiri tau.. Nama tempatnya itu Rumah Sehat El-Iman (promosi ne..-_-) di depan orang jualan tahu sumedang (promosi lagi.-_-).” Jawabku.

“itu kaya disedot sedot kaya gitu tha darahnya..?” Tanya mamaku.

“Gak ngerti juga sih…pokoknya katanya dibuang darah kotornya” Jawabku.

*Lalu bapak saya menimpali,

“Itu sudah ada pengalaman.. di kandangan pernah ada kejadian gara-gara di sedot darahnya kaya itu di bagian pelipis kepala, orangnya akhirnya jadi buta. Awalnya sih katanya ringan…ringan…gitu jar kepalanya, eh akhirnya jadi buta.”

*Jeng jeng… akhirnya suasana memihak pada kontra dengan pengobatan bekam. Apalagi setelah mamaku berucap ngeri…ngeri…Tapi tak didiamkan begitu aja, adik-ku bak pahlawan kesiangan berucap suatu hal yang boleh lah dikatakan cerdas (memujinya kada ikhlas neh):

“Tapi kan misalnya aja melahirkan dengan teknik cesar(bujur ja gin lah tulisannya). Misalkan pas make teknik ini, rupanya si terjadi kegagalan. Yang salah kan belum tentu teknik cesarnya. Bisa aja dokternya yang khilaf…” kata adikku.

“Nah, bekam gin bisa jua kaya itu, bisa aja orang di kandangan tadi tidak ahli, jadi belum tentu gara-gara teknik bekamnya orangnya jadi buta. Masih banyak faktor lain yang menyebabkan orang tuh malahan jadi buta…”. Katanya tegas.

*Kondisi berbalik, akhirnya bapak saya tetap membela diri:

“Tapi kalau dipikirkan secara logis, mana bisa darah disedot berapa liter kaya itu malahan bagus..” Kata bapak saya membela ‘kontra bekam’

“Tapi secara medis udah terbukti kok kalau bekam itu memang bagus…” Kata adik saya mantap.

*Skor 2-0 untuk pro bekam.. Semakin terjepit dengan ‘kontra bekam’, akhirnya bapak saya berujar:

“Kalau aku, tetap gak setuju.. masa darah disedot?” ujar bapak saya.

“Tapi kalau itu sunnah rosul? Rosul menganjurkan pengobatan dengan bekam. Masa kita meragukan Rosul? Masa Rosul bohong?.. Lagian kenyataannya bukan darah, tapi kotoran dalam darah alias racun yang keluar…” Jawab saya.

*…………..Akhirnya tidak ada lagi jawaban………….*

***

Pembaca yang budiman,

Obrolan saya dan keluarga tadi semoga menjadi ibroh atau hikmah buat kita semua bahwa apa saja,
Apa saja,
Yang dibawa oleh Rosul kita. Muhammad SAW adalah benar. Adalah hal yang tak terbantahkan. Tidak layak apabila seorang muslim mendebat dengan keras hati terhadap apa yang sudah dibawa oleh Rosul kita. Muhammad SAW. Allah SWT berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (T.Q.S Al-Ahzab: 36).

Pembaca yang budiman,
Tentang pengobatan bekam tadi adalah salah satu saja dari sekian banyaknya sunnah warisan Rosulullah. Catatan: itu baru tentang yang dianjurkan. Masih banyak sunnah sunnah Rosul lainnya yang hukumnya adalah wajib untuk ada dan dilaksanakan. Apakah kita adalah orang yang terus mendebat dengan keras hati terhadap sunnah Rosul? Na’udzubillah.

Sedih ketika saya dengar dan lihat, justru penolakan risalah Rosul datang dari ummat beliau sendiri…ummat Islam. Masih jelas dalam memori saya penolakan penolakan yang justru datangnya dari ummat Rosulullah:
“Apa? Mau negakin syariah? Bikin aja sono noh ke arab…”
“Mau mengganti sistem Negara indonesia? Seenaknya sendiri aja!”
“Kalo mau negakin syariah Islam, silakan keluar dari Indonesia!”

dan masih banyak lagi yang lain…

Seorang muslim sejati, atas apa yang sudah ditetapkan oleh Rosulnya ia tentu akan berkata:
“Sami’na wa atha’na”
(kami dengar dan kami taat)

Inilah seorang muslim, dengan kerelaan hati dengan membuang semua rasa angkuh dan fanatisme kebangsaannya, ia akan ridho seridho ridhonya atas tegaknya risalah nabinya tercinta di bumi tempat ia berpijak, tanah Indonesia.
Tidak akan ada kata kata seperti ini bagi seorang muslim yang ridho akan risalah nabinya:
“Saya memang cinta dan junjung tinggi islam…TAPI…..Saya lebih cinta pada demokrasi dan undang undang kufur yang di bawanya.”

Moga jadi renungan,
Akhir kalam,
Mohon maaf atas salah khilaf.

Wassalam,

Iklan
    • M. Rosyid Ridho
    • November 26th, 2011

    ASSALAMU’ALAIKUM
    TOP TOP MARKOTOP
    ARTIKEL YANG SANGAT MENGENA
    SALAM KENAL ana Rosyid

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: