CHAPTER I: MENYELIDIK KEMBALI DEMOKRASI


oleh Muhammad Amda Magyasa

KASUS 2: Pusat Alam Semesta

***

“Sekarang, yang penting kamu fokus sama sekolah kamu saja dulu…Jangan disibukkan dengan kegiatan macam macam yang enggak menunjang sekolahmu… Nanti, kalau kamu sudah jadi orang sukses, terserah kamu…mau sibuk organisasi itu lah, ini lah…” kata ibu saya.

Saat itu saya dilanda bimbang yang amat sangat. Prestasi saya di sekolah jatuh. Akibatnya saya diminta oleh ibu saya untuk lebih berkonsentrasi pada belajar agar bisa mendapat kerja di masa yang akan datang. Tidak cukup sampai disitu, saya juga diminta meninggalkan aktivitas organisasi keislaman sekolah. Karena dianggap, inilah penyebab prestasi saya turun. Saya dinilai lebih banyak menghabiskan waktu disana. Siang hingga sore. Bahkan tidak jarang malam.

Bagi ibu saya, ini adalah masalah sederhana saja. Tinggal bilang selamat tinggal pada teman teman, kakak kakak pengurus. Selamat tinggal pada aktivitas dakwah dan menuntut ilmu islam. Beres. Sayangnya tidak semudah itu bagi saya yang memahami bahwa aktivitas dakwah itu wajib ‘ain. Wajib buat tiap muslim. Sama wajibnya seperti sholat yang ditinggalkan adalah dosa. Ya, dosa.

“Tapi bu…” Kalimatku terpotong berusaha memberi penjelasan.

“Sudah. Pokoknya semester dua ini pulang sekolah kamu langsung pulang. Di rumah aja. Jangan keluyuran kemana mana.” Ibu saya memotong.

Tiba tiba terlintas di pikiran saya, mungkin benar juga. Nanti kalau saya sudah punya kerjaan, saya bisa punya uang banyak. Bisa infaq dan bantu bantu biaya dakwah. Saat itu, mungkin juga saya bisa leluasa dakwah tanpa beban. Sekarang stop dulu. Toh masih banyak teman teman yang berdakwah di sana. Hilangnya saya saja mungkin tiada artinya.

Namun pikiran lain saya mengatakan, siapa bilang kewajiban boleh ditunda? Siapa yang jamin umurmu masih ada untuk menjalankan kewajiban ini jika ditunda nanti? Bayangkan jika bukan hanya kamu yang berfikir seperti ini, akan jadi apa nantinya aktivitas dakwah jika semua orang menunda dakwah hingga masa tuanya. Itupun kalau tidak lupa. Tidak ada kesibukan lain? Sekarang saja dengan ujian kecil sudah lemah seperti ini, apalagi tua nanti yang sibuk ngurus anak dan istri? Bisa jadi gak dilaksanain sama sekali…!!

***

Mesin Uang

Itulah cerita hidup salah seorang aktivis Islam tingkat sekolah, sebutlah ia bunga (entahlah kini dia seperti apa). Pada tulisan ini, saya tidak ingin mengomentari tentang pilihan yang akan ia ambil. Ataupun memberi saran tentang pilihan mana yang harus ia ambil. Tujuan saya mengutipkannya hanyalah agar pembaca mengamati tentang jalan fikir si ibu : orientasi kesuksesan duniawi. Dan inilah pola fikir yang mendominasi planet bumi saat ini.

Mari kita saksikan fenomena yang terjadi saat ini. Ketika seseorang menyebut kata ‘sukses’, umumnya langsung tafsirannya adalah orang yang secara ekonominya diatas rata rata. Ketika mau masuk SMP, berbicara tentang melanjutkan ke Madrasah justru ditertawakan. “Hahaha, kamu besarnya mau jadi ustadz apa?”. Sederhananya, seolah olah antara ‘bidang agama’ dan ‘bidang dunia’ itu terpisah. Lihat kebanyakan pelajar tingkat SMA sekarang. Kalau backgroundnya adalah SMK atau SMA seolah olah ia diperbolehkan ‘lepas’ dari kehidupan agama. Sibuk dengan full belajar lah aktivitasnya. Sibuk dengan hobinya basket atau bermain game lah, dan sebagainya. Tapi background Madrasah, ia dituntut seolah olah ‘terpaksa’ harus ‘alim’. Toh nyatanya background madrasah tak menjamin ‘output alim’ tadi. Banyak juga diantara mereka yang punya pola fikir sama dengan remaja remaja ‘gaul’ lainnya.

Organisasi Islam sekolah diposisikan hanyalah sebuah ekskul yang posisinya tak jauh beda dengan eksul futsal, basket atau PMR yang hanya jadi wadah ‘penyalur’ bagi siswa. Kalo hobi main basket, yok gabung ke ekskul basket. Yang hobi ngaji, ya udah deh gabung aja ke ekskul keislaman. Dalil wajibnya dakwah dan menuntut ilmu islam pun kadang hanya jadi omong kosong. Tak ada perubahan. Hanya kesuksesan materil yang ada diotak. Selebihnya? Hanya pengiring. Akhlak dan Ilmu Islam cukup hanya menjadi selingan di kala bulan ramadhan atau moment moment islami lainnya.

Memang begitulah orientasi orang pada umumnya sekarang. Orang mau menikah biasanya harus siap ditanya,

“Anda kerja di mana?”

atau

“Berapa kira kira gaji tiap bulannya?”

Bandingkan dengan pertanyaan orang orang dahulu,

“Berapa juz yang sudah anda hafal?”

atau

“Tolong jelaskan cara baca ayat ini!”

Yah, orientasi keduniawian membuat perubahan drastis pada generasi masa kini. Dulu, anak anak usia tiga tahun sangat egois dan banyak keinginan, tapi menginjak usia tujuh tahun kelihatan “lebih stabil emosinya”. Saat ini anak usia tujuh tahun hanya naik keinginannya. Dari mobil mobilan kecil ke mobil mobilan besar. Adapaun tingkat emosinya, sama saja. Remaja tujuh belas tahun inginnya mobil beneran. Tapi tingkat emosinya sama.

Pola fikir seperti inilah tampaknya yang terjadi pada ibu ‘bunga’ di atas. Anaknya hanya dituntut maju secara materil. Yang lain? Hanya sampingan.

Dunia adalah Milik Saya

Orientasi duniawi inipun ditopang dengan faham kebebasan ‘yang bertanggung jawab’. Saya beri tanda kutip pada kata ‘bertanggung jawab’. Karena standar yang digunakan oleh faham kebebasan ini adalah fikirannya sendiri. Perasaannya sendiri.

Seorang aktris yang beradegan panas kalau tidak kita katakan porno, berujar:
“Ini kan hanya tuntutan pekerjaan. Kalau bukan karena pekerjaan mana mau mas saya beradegan seperti itu.. yang penting kerjaan saya halal. Tidak mencuri, atau korupsi..” katanya biasa saja.

Bagaimana bisa coba, hanya karena alasan pekerjaan, pornoaksi dikatakan halal?? Hahaha… ini bahkan lebih lucu dari opera van java.

Yang mesum bilang yang penting saya gak korupsi. Yang korupsi bilang yang penting saya gak mesum. Ya sudah, dunia pun ngawur ke arah kebebasan yang ‘bertanggung jawab’ yang menghalalkan segala cara sekalipun membabat habis norma agama.
Pusat Alam Semesta

Akhirnya tulisan ini sampai pada akhirnya. Fakta yang bisa ditangkap, kapitalisme menjadikan tiap tiap manusia menjadi sangat individualis. Ya, sangat individualis. Yang ia fikirkan bagaimana nilai materi bisa ia dapatkan sebanyak banyaknya. Sifat ini menjadikan manusia hanya memikirkan tentang hidupnya sendiri. Sedangkan liberalisme menjadi pendukungnya. Dimana orang bisa berbuat semau hatinya untuk mencapai tujuan orientasinya.

Kapitalisme memaksa orang berlari “ke depan” (ekonomi). Sedangkan liberalisme memutus energi “ke samping” (sosial).

Dalam kasus kedua ini, kita dapatkan catatan penting:
inilah “pendekar” kedua dan ketiga yang mengontrol karakter manusia planet bumi saat ini secara dominan.

Tentang posisi demokrasi, nampaknya harus kembali kita akui bahwa demokrasi belum bisa berbuat banyak untuk mengatasi “dua pendekar” berbahaya ini. Keadaan generasi muda kita dan watak para wakil rakyat kita saat ini sangat mencerminkan bagaimana demokrasi rupanya tak berdaya di hadapan dua pendekar ini. Demokrasi benar benar dalam posisi ‘dikuasai’ sepenuhnya oleh “Pak Kapit” dan “Pak Liber”.

Hasil pelacakan 2:
Penyebab individualisme: Kapitalisme dan Liberalisme
Posisi Demokrasi: Dikuasai oleh keduanya

to be continue

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: