Menggugat Kemerdekaan Indonesia


oleh Ardiannur Arroyya

Merdeka, Merdeka

Mungkin itulah kata-kata yang ramai diteriakkan dua hari yang lalu. Memang benar, dua hari yang lalu adalah tanggal 17 Agustus, tanggal yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ya, pada tanggal itulah Indonesia mendapatkan sesuatu yang dikatakan sebagai sebuah “Kemerdekaan” dan bebas dari penjajahan. Dua hari yang lalu, 17 Agustus 2010, genap lah 65 tahun kemerdekaan Indonesia itu. Secara sederhana, kemerdekaan artinya sebuah kebebasan dan bisa jadi sebuah kemakmuran yang didapatkan oleh sebuah negara. Kebebasan untuk mengatur administrasi dan birokrasi negaranya sendiri, kemakmuran dan kesejahteraan yang bisa didapatkan oleh para rakyatnya. Itulah sedikit dan sederhana dari definisi sebuah kemerdekaan. Namun, jika melihat keadaan Indonesia sekarang, benarkah Indonesia sudah merdeka? Benarkah keadaan yang sekarang layak disebut sebagai sebuah kemerdekaan? Atau kalaupun sekarang ini diartikan sebuah kemerdekaan, benarkah kemerdekaan yang seperti ini yang diharapkan oleh para pejuang kemerdekaan itu sendiri?

Bidang Ekonomi

Indonesia, negara yang sangat tidak bisa dipungkiri bahwa Negara Indonesia merupakan negara yang mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah. Lihat saja, di berbagai belahan daratan-lautan Indonesia terbentang berbagai macam kekayaan. Minyak, batu bara, emas, gandum, padi, dls. Indonesia yang dianugerahi Allah sebuah iklim, keadaan tanah, dls yang mendukung berkembangnya berbagai macam sumber daya alam berupa tumbuhan dan juga hewan memang menjadi salah satu keistimewaan bagi Indonesia.

Selain kekayaan dari sumber daya alam, Indonesia pun cukup menjadi sebuah negara yang kaya dengan hanya mengandalkan pungutan pajak terhadap rakyatnya. Melihat data 2010 ini pun, pajak merupakan penopang utama sekitar 70 persen bagi APBN Indonesia seperti yang dikatakan oleh Sri Mulyani sebelum ia pergi keluar Indonesia. Sehingga, cukup dengan pajak ini pun seharusnya negara ini sudah mampu untuk memberikan pelayanan yang baik kepada rakyatnya. Bahkan jika melihat begitu banyaknya kekayaan alam Indonesia, tentu semuanya lebih dari cukup untuk bisa memakmurkan rakyat Indonesia. Namun sangat disayangkan kenyataan berbicara lain.

Faktanya, kekayaan Indonesia yang sangat melimpah itu justru digunakan untuk memuaskan para kapitalis, para pemodal, para orang-orang asing nan rakus, dan para wakil rakyat yang sangat tidak bertanggung jawab terhadap amanahnya. Begitu banyak kejadian yang menyedihkan di bumi Indonesia, ambil saja contoh kejadian sumber daya alam emas di Papua yang dikelola oleh PT. Freeport dari Amerika Serikat. Pembagian keuntungan antara Indonesia dan perusahaan asing ini sangatlah tidak adil bagi Indonesia selaku pemilik sumber daya alam yang dikelola. Keuntungan dibagi 90% bagi PT. Freeport sedangkan Indonesia hanya mendapat 10% dari pengelolaan sumber daya alam berupa emas itu. Ditambah lagi, Indonesia harus menanggung biaya produksi seperti alat-alat pabrik dalam hal perawatan, pembeliaan, dls. Bukankah hal ini sangat tidak adil bagi Indonesia? Bahkan, pimpinan PT. Freeport pernah berkata bahwa hanya dengan penghasilan dari PT. Freeport ini saja, maka mereka bisa membangun gedung putih kembali jikalau saja gedung putih itu dihancurkan. Sungguh menakjubkan artinya penghasilan yang didapat dari pengelolaan emas di Papua sana.

Selain itu, jika kita melihat kondisi rakyat Indonesia, tentu begitu menyedihkan. Hasil sensus BPS 2010, menunjukkan bahwa dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta, yang masuk pada kategori miskin adalah sekitar 13% atau sekitar 30 juta lebih. Dan jika kita menggunakan standar yang tidak manusiawi maka akan mendapat hasil yang sangat mengejutkan. Dengan standar dari bank dunia, yakni pendapatan perorang adalah 2 dolar AS/hari atau sekitar Rp 18.000/hari maka kita akan menemukan bahwa lebih dari 100 juta penduduk Indonesia miskin. Sangat menyedihkan, Indonesia yang sangat kaya akan sumber daya alam, penduduknya justru sangat miskin.

Ironisnya, walau penduduknya miskin, tingkat tindak korupsi di Indonesia masih sangat tinggi. Riset PERC (Political & economic Risk Consultancy) yang berbasis di Hongkong merilis bahwa Indonesia memiliki indek korupsi hampir “sempurna”; 9,07 dari angka maksimal 10. Padahal sumber APBN negeri ini 70%-nya dari pajak rakyat. Artinya, para koruptor di negeri ini banyak mengkorupsi uang rakyat.

Sangat menyedihkan, 65 tahun sudah merdeka namun seburuk ini keadaan Indonesia. Patut dipertanyakan apakah benar bahwa keadaan sekarang pantas disebut sebagai sebuah kemerdekaan?

Bidang Politik

Berkali-kali sudah Indonesia berganti sistem pemerintahan. Mulai dari demokrasi terpimpin hingga reformasi saat ini, namun sayangnya perubahan sistem pemerintahan yang berkali-kali itu tidak diiringi dengan kinerja dan pelayanan terhadap rakyat yang meningkat. Justru permasalahan semakin bertambah di tubuh pemerintahan kita.

Akhir-akhir ini permasalahan yang ada semakin besar bahkan sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Kasus Bank Century, Anggodo, Gayus, rekening gendut Polri, salah tangkap kasus terorisme, dls senantiasa menghiasi dunia perpolitikan Indonesia. Seolah masalah yang ada terus saja bergulir tanpa ada penyelesaian yang jelas. Bahkan disinyalir bahwa memang perangkat-perangkat pemerintah tidak mau menyelesaikannya. Ambil saja contoh pansus yang dibentuk pemerintah untuk menyelesaikan kasus century, ternyata hingga sekarang kasus ini sama sekali belum selesai, pelakunya belum diberikan hukuman sesuai undang-undang di Indonesia bahkan perlahan masalah ini pun mulai menghilang entah kemana.

Bahkan, masih jelas dalam ingatan kita ketika Mpok Minah yang hanya karena tiga buah biji kakao senilai Rp 2000 akhirnya harus sampai masuk pengadilan, bahkan beliau masuk pengadilan tanpa didampingi oleh pengacara pembela karena beliau tidak mempunyai uang. Sedangkan Rudi S. yang jelas sekali besar nilai pencuriannya, justru dengan bebasnya berkeliaran hingga keluar negeri. Aneh memang, hukum Indonesia ini lebih memilih pihak yang tidak mempunyai banyak uang untuk diproses dengan proses hukum yang sebenarnya daripada mereka yang mempunyai banyak uang. Inikah namanya keadilan dan kemerdekaan hukum?

Dunia perpolitikan Indonesia memang layak disebut sebagai politik uang karena dengan uang maka kebijakan politik apapun bahkan yang nyeleneh sekalipun bisa jadi sebuah peraturan. Karenanya, sangatlah wajar jika melihat banyaknya kebijakan politik Indonesia yang sama sekali tidak pro terhadap kepentingan rakyat namun justru sejalan dengan kepentingan para kapitalis, para pemodal agar urusan mereka di Negara Indonesia ini menjadi lancar dan mudah tanpa ada hambatan hukum. Menyedihkan…

Para partai politik hanya sibuk mengkampanyekan dirinya, menjanjikan sebuah kebohongan agar mereka bisa masuk dan duduk di kursi pemerintahan namun ketika sudah duduk di kursi itu, semua janji yang pernah mereka janjikan seolah-olah menguap tanpa bekas. Tak terlihat sedikit pun keinginan serius dari mereka semua untuk menyejahterakan Indonesia. Buktinya, Indonesia terus-menerus dijadikan tumbal kepada para kaum kapitalis demi kepentingan nafsu dunia mereka semata dan parahnya, pemerintah kita hanya diam bahkan mengamini tindakan ini.

Sosial Budaya

Baik, sekarang jika kita melihat berbagai macam fakta di kehidupan sosial-budaya kita, tentu kita pun akan menemukan betapa menyedihkannya keadaan Indonesia dewasa ini. Para remaja sudah sangat lekat dengan yang namanya budaya hedonisme, pornografi-pornoaksi, konsumtivisme, dls. Masyarakat kita pun sudah sangat lekat dengan tindakan-tindakan kriminal kecil hingga tindakan kriminal yang besar.

Remaja, yang diharapkan merupakan generasi penerus pembangun Indonesia, agaknya kita sudah tidak bisa berharap banyak pada mereka lagi. Remaja sekarang sudah sangat jauh dari apa yang diharapkan sebagai calon pemimpin, calon ilmuwan, calon pemikir, dls. Kerusakan moral, tawuran, buruknya prestasi, dls acap kali menjadi cap yang tidak bisa dilepaskan dari remaja. Budaya hedonisme agaknya memang sudah bercokol kuat dalam pemikiran remaja, ditambah lagi dengan budaya pornografi dan pornoaksi yang juga erat kaitannya dengan remaja.

Coba kita cermati fakta berikut ini, seperti yang dilansir dari detik.com, di Kediri terjadi sebuah tindak pemerkosaan terhadap seorang siswi SMA yang dilakukan oleh dua orang siswa SMA serta satu orang siswa SMK. Seperti keterangan yang diterima oleh polisi, mereka melakukan itu setelah melihat video porno artis (Ariel-Luna Maya-Cut Tari) sehingga mereka melakukan hal tersebut. Belum lagi fakta mengejutkan ketika kita dihadapkan pada sebuah angka yang sangat besar yakni 95% mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan lagi, Yogyakarta yang notabene adalah sebuah kota pendidikan ternyata moralnya pun sangat ambruk.

Jika dicermati, kejadian seperti ini terjadi tentu karena input yang diterima oleh para remaja merupakan input yang tidak baik dan sayangnya lagi mereka belum punya filter yang benar untuk bisa memilah yang baik ataupun yang buruk. Di samping itu, pemerintah juga tidak mampu memberikan penjagaan yang baik kepada remaja Indonesia dari serangan-serangan budaya barat bahkan justru sebagian besar tindakan serta kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah justru kebijakan yang malah mendukung masuk dan berkembangnya budaya buruk itu sendiri. Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana pemerintah memperbolehkan beredarnya majalah-majalah porno, ketidakmampuan untuk menutup situs-situs porno, ketidaktegasan pemerintah untuk menutup bisnis esek-esek, dls. Sangat jelas terlihat bahwa pemerintah tidak mampu memberikan penjagaan yang baik terhadap remajanya bahkan terkesan menjual remajanya kepada budaya asing dengan dalih keuntungan yang akan didapatkan, dan sudah pasti keuntungan berupa uang.

Masyarakat pun sudah sangat menyedihkan. Karena kemiskinan yang kian hari bukannya berkurang malah bertambah justru memotivasi sebagian besar masyarakat untuk melakukan tindakan kriminal seperti judi, pencurian, bahkan pembunuhan. Sudah menjadi hal biasa ketika ada seorang ibu menjual anaknya untuk mendapatkan uang, ibu membakar dirinya bersama kedua anaknya karena tidak punya uang, dls. Ketidakmampuan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya membuat masyarakatnya sendiri merasa legal untuk melakukan tindakan kriminal.

Jika sudah seperti ini, benarkan kemerdekaan yang dimaksud adalah seperti keadaan sosial-budaya remaja dan masyarakat kita sekarang?

Benarkah ini sebuah Kemerdekaan?

Sederet fakta sudah ada di depan mata kita, sungguh keterlaluan jika fakta yang sedemikian banyak itu tidak membuat kita berpikir mengenai Indonesia dan sesuatu yang dinamakan kemerdekaan itu sendiri. Di sisi lain, selayaknya juga kita seharusnya memikirkan, benarkah sistem demokrasi ini merupakan sistem terbaik untuk Indonesia, benarkah apa yang diperjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia dahulu adalah agar Indonesia merdeka dan memakai sistem demokrasi seperti sekarang ini, benarkah?

Mari sama-sama memikirkan dengan pemikiran yang cemerlang, bukan pemikiran yang mendalam apalagi dangkal namun berpikirlah yang cemerlang (Fikr Al-Mustanir) sehingga jelaslah semua permasalahan yang ada di Indonesia ini serta solusinya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: