Conspiracy


oleh Ahmad Adityawarman.

Ketika selesai membaca sebuah karya fenomenal dari Dan Brown ini, otak saya begitu penuh dengan berbagai pemikiran. The Da Vinci Code, ah saya merasa seperti seorang tua yang terbiasa menggunakan pos untuk mengirim pesan yang takjub dengan fitur sms saja karena baru sekarang mampu membaca dan menyelesaikan novel ini, yang sudah menjadi buah bibir sebenarnya semenjak tahun 2005.

Saya memang bukan ahlinya dalam mengomentari sebuah karya seseorang, bahkan saya kurang tahu apakah karya ini merupakan fiksi atau nonfiksi tapi biarlah saya ingin menebak bahwa karya yang dianggap membongkar konspirasi luar biasa ini merupakan karya fiksi yang dibawakan secara non fiksi. (bingung? Saya memang tak pandai dalam hal ini ternyata. Jadi silakan baca sendiri) Namun pikiran saya terpusat pada satu kata, yaitu konspirasi. Begitu banyak memang konspirasi-konspirasi bertebaran di muka bumi, ada yang terlalu cantik hingga sulit untuk diungkap tabir yang menyelubungi fakta yang sebenarnya, dan ada pula yang sangat rapuh sehingga rekayasanya terlalu mudah untuk diketahui bahkan dengan pemikiran yang awam.

Konsili Nicea yang memutuskan penetapan sifat ke-Ilahian seorang nabi biasa yang sebenarnya hanya karena ambisi kekuasaan Kaisar Konstantine. Tragedi 11 September 2001 yang dikaitkan dengan tindakan ‘jail’ yang keterlaluan dari al-Qaida, padahal itu alasan yang dibuat-buat lalu dianggap rasional untuk menyerang Afghanistan. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Kebanyakan manusia memang senang dengan hal seperti ini, siapa yang tak suka konspirasi? Manusia memiliki akal yang membedakannya dengan makhluk lain, yang dengan itu ia akan mengkritisi segala fakta yang ada, tak mau pasrah begitu saja dan bereaksi apa adanya sesuai insting liar. Dengan kemampuannya ini, akan ada dua jenis manusia, pembuat konspirasi dan pembongkar konspirasi. Eh, mungkin juga ada golongan ketiga yaitu mereka yang enggan berepot-repot memutar otaknya dan menerima apa adanya yang terjadi.

Sebenarnya sesuatu itu bisa disimpulkan sebagai konspirasi atau bukan hanya bisa diketahui setelah ada fakta-fakta yang menjadi bukti bahwa sesuatu memang benar direkayasa sedemikian rupanya. Yah, umumnya seperti itu. Kalau memang begitu adanya kita sendiri pun ternyata adalah hasil konspirasi yang luar biasa. Angka-angka PHI Fibonacci yang dapat ditemukan dalam berbagai pengukuran dalam tubuh kita, kerja organ-organ yang saling bersinergi melanjutkan kehidupan, bahkan proses perkembangan dari janin sampai dilahirkan, semuanya memiliki keteraturan, keterkaitan satu sama lain yang sangat luar biasa.

Allah SWT pastinya adalah Sang Maha, termasuk pastinya juga dalam masalah konspirasi ini, kan. Apa susahnya bagi-Nya untuk mengalahkan makar-makar mereka yang begitu tidak menginginkan Islam tegak kembali.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: